Boros atau Inflasi?
Cari Berita

Boros atau Inflasi?

6 July 2018

Pada dasarnya Inflasi adalah kenaikan harga barang secara umum pada periode tertentu. Itu berarti tidak semua kenaikan harga barang bisa disebut inflasi (Foto: Dok. Pribadi)
Suatu malam pada momen lebaran, saya dan teman dekat  saya memesan nasi ayam goreng sebagai menu makan malam. Setelah makan saya cukup kaget ketika tagihannya sebesar Rp 50.000 rupiah. Hal ini tentu tidak biasanya. Dengan menu yang sama saya cukup mengeluarkan gocek Rp 25.000 untuk dua orang satu bulan sebelumnya. Seorang teman juga sempat mengeluh bahwa uang sebesar Rp 50.000 tidak cukup lagi makan sehari.

Beberapa warung pinggiran yang sering saya kunjungi ternyata mengalami perubahan harga. Situasi ini tentunya cukup rentan dan berpengaruh pada pola konsumsi masyarakat terutama para mahasiswa. Bisanya uang saku bulanan dikirim satu kali namun mungkin saat ini bisa lebih dari itu dalam sebulan. Orang tua memang sering menyalahkan anaknya, menuduhnya boros, tidak teratur menggunakan uang dan lain sebagainya. Tapi belum tentu justifikasi seperti itu benar karena bisa saja faktor lain yang mempengaruhi.

Perubahan harga dalam waktu relatif singkat itu coba saya selidiki. Pertanyaan mendasar saya ialah bagaimana perubahan harga dalam jangka pendek  terjadi?. Beberapa pedagang coba saya wawancarai jawabannya memang seperti apa yang saya duga yaitu harga bahan baku makanan di pasar naik. Kenaikan harga bahan baku memicu kenaikan harga makanan kesimpulan saya sementara. Lalau pertanyaan berikutnya ialah apa pemicunya?.

Saya mencoba membangun tiga hipotesis sederhana. Pertama, spekulasi harga sebagai bentuk motif ekonomi. Bisanya hal ini dilakukan oleh para makelar sebagai pedagang perantara untuk mencari keuntungan. Tindakan ini bisanya dilakukan dengan menimbun barang-barang yang akan masuk ke pasar sehingga terjadi kelangkaan yang memicu kenaikan harga. Selain menimbun, para spekulan juga bisa membangun semacam kartel sehingga memonopoli pasar dan menjadi penentu harga (Pirce taking). Pasar tradisional cukup rentan dengan tindakan -tindakan spekulatif. Ada dua penyebabnya, pertama informasi harga yang tidak seimbang, kedua mekanisme pengontrolan harga yang lemah.

Kedua, kelangkaan. Dalam hukum pasar kita mempelajari pengaruh jumlah barang yang diminta terhadap harga. Jika permintaan bertambah, sementara barang yang diminta langka maka harga akan  naik, demikian pun sebaliknya. Iklim yang tidak menentu tentu berpengaruh bagi cara bercocok tanam maupun hasil panen para petani. Indonesia hampir semua petaninya menggunakan cara bercocok tanam tradisional yakni menyesuaikan dengan perubahan iklim yang teratur. Model pertanian seperti ini tidak untuk menjawab kebutuhan pasar yang variatif apalagi dengan perubahan iklim. Pada situasi alamiah para pelaku pasar biasanya menyesuaikan diri dengan situasi lingkungan atau alam.

Ketiga, situasi pasar internasional. Secara makro Indonesia mengalami defisit transaksi berjalan yang berarti nilai  ekspor Indonesia menurun dan biaya impor meningkat. Untuk memenuhi kuota impor maka pemerintah maupun swasta harus berutang. Dengan kondisi Nilai rupiah yang melemah dan permintaan terhadap dollar dari dalam negeri meningkat, maka kenaikan bisa terjadi. 

Pada dasarnya Inflasi adalah kenaikan harga barang secara umum pada periode tertentu. Itu berarti tidak semua kenaikan harga barang bisa disebut inflasi. Misalnya jika harga ayam naik tapi komoditas yang lainnya maka itu hanya kenaikan harga ayam tidak bisa disebut inflasi harga ayam.

Pada tahun 2018 periode terakhir Juni inflasi  3,12%. Jika harga suatu komoditas  sebelum inflasi Rp 5.000 maka dengan inflasi 3,12% akan ada perubahan harga sebesar Rp 165 dalam. Meskipun angka ini kecil tapi dampaknya cukup terasa terutama pada komoditas makanan  impor  yang ada etalase pasar-pasar modern. Hal seperti inflasi ini memang tidak bisa kita hindari meskipun bisa dicegah. Namun untuk meminimalisir dampaknya pada pola konsumsi mahasiswa maka ada beberapa tips yang sekiranya bisa dilakukan.

Pertama, berhemat. Kenali pola konsumsi kita sendiri mana kebutuhan mana keinginan. Jangan hanya karena ingin berhemat hanya makan satu kali sehari atau bahkan hanya minum air saja. Ingat idealnya kita makan 3 kali sehari, dan minimal ada konsumsi buah segar.

Kedua, mesti bisa mandiri. Meski setiap barang di pasar tidak terhindar dari inflasi setidaknya kita bisa menekan biaya dengan mengembangkan kebiasaan yang baik seperti membuat masakan sendiri, menjaga kesehatan dengan berolahraga, tidak mengonsumsi barang -barang yang merusak tubuh.  Ketiga, sisihkan uang untuk menabung, untuk menghindari  potongan sebaiknya bergabunglah dengan koperasi yang anda  percayai.

Semoga bermanfaat..

Oleh: Stenly Jemparut
Aktivis Credit Union