Aku yang Merindu
Cari Berita

Aku yang Merindu

23 July 2018

Malam selalu menghadirkan hembusan angin mengusik kesendirianku. Aku berusaha menepis dinginya malam, merangkul kesepihanku dan membalutnya dengan doa yang sederhana. Engkau tau, rindu tidak selamanya miskin dari cinta (Foto: Dok. Pribadi)
“Dalam heningnya malam kubawa segenggam rindu dan cinta yang dibalut doa sederhana” tulis Velari pada catatan hariannya.

Malam berbalut sepi dingin merayu hati, merambat perlahan dalam kesunyian yang seakan tiada akhir. Aku duduk di salah satu sudut asrama ditemani cahaya lampu jalan, rembulan dan bintang menjadi saksi. Dalam heningnya malam kulukiskan rinduku padamu.

Semilir angin yang hembus  menusuk sela-sela dedaunan belimbing yang ada di depan asramaku. Udara dingin terasa menusuk di sela-sela lapisan kulitku. Aku mengecek jam di ponselku, waktu masih menunjukan pukul 21.57. Teman-temanku satu persatu memasuki kamar masing-masing, sedangkan aku masih di sini dengan sekujur rindu yang tiada henti.

Malam selalu menghadirkan hembusan angin mengusik kesendirianku. Aku berusaha menepis dinginya malam, merangkul kesepihanku dan membalutnya dengan doa yang sederhana. Engkau tau, rindu tidak selamanya miskin dari cinta. Aku merindukanmu dengan kesederhanaanku. Agar kelak engkau tau jika aku pernah berusahan melawan sepihku.

Dalam putaran waktu aku terus menelusuri heningnya malam dalam mimpiku, walaupun kesunyian mencengkram sepiku. Entah mengapa, mataku tidak tidak bisa bekerjasama. Aku berusaha menutup kelopak mataku tapi rasanya susah. Bayangannya menyelimuti sepihku. 

Sosok laki-laki yang aku kenal beberapa minggu lalu di facebook. Seorang pria berkumis tipis, hidung mancung, kulit hitam manis, mata sipit dan berambut lurus. Kata-katanya yang meyakinkan dan mengajarku banyak hal yang tak pernah kupelajari sebelumnya. Kehadirannya menghadirkan tembang-tembang indah dalam hidupku.

Hal itu yang membuat aku  terkagum padanya. Ia sangat ramah, dan penuh kasih sayang. Ketulusan dan keikhlasan hadir lewat aura dan kata-katanya. Hal itulah yang membuat aku tidak pernah habis memikirkannya. Mungkin inilah yang namanya cintah. Entah..!!!. Dia membuatku tak berdaya. Jujur, aku sangat mencintaimu.

Aku mecintaimu bukan dalam hal apa tapi aku  mecintaimu karena semua hal itu. Aku sangat tertarik dengan semua hal yang padamu. Aku sulit untuk mengeja setiap rasaku dan membahasakannya dalam kata-kata. Tapi Kata-katamu membuatku tak berdaya.

Tak terasa malam semakin larut hingga aku bangkit dari sudut itu menuju kamar, sambil mendengar sebuah lagu yang dia kirim untuk pertama kalinya dikala itu. Lagu berjudul “Tercipta untukku”,  Lagu itu mengalun perlahan mengisi larutnya malam sebagai pengantar tidurku dan menghantarkanku pada mimpi-mimpi tidurku.

Segenggam rindu kubiarkan terbang bersama angin malam agar sampai padamu. Kepada sosok yang mendebarkan jiwa dan memberi sejuta kenyamanan. Kerinduanku menemani langit-langit kamarku dengan sejuta kegelisahanku, juga dengan seuntai doa agar esok aku masih bisa menikmati fajar dan jika mungkin bisa bersua denganmu.

Kepadamu sosok yang memberi kenyamanan dengan kata-kata indah menyentuh hati dan mendebarkan nadi. Seindah fajar di pagi hari di ufuk timur dengan keindahan dan kemilauan mentari yang memberi kenyamanan. Aku merindukan itu. Rinduku seperti fajar pagi menyapa bumi. Merindukan sinar cakrawala yang terhempas bebas di dinding langit. Merindukan udara segar di pagi hari dan pastinya aku selalu merindukanmu.

Pukul 11.49 aku masih dibalut dengan rasa rindu dan mataku masih menatap jarum jam yang berputar membawa waktu semakin merapat ke ujung hari. Aku bisa pastikan kamu telah lelap memeluk mimpi-mimpi indahmu. Tentang apakah mimpimu? Apakah aku salah satu episode dalam mimpimu? 

Aku tertawa sendiri membayangkan hal itu. Disitulah aku terperangkap. Terperangkap dalam angan dan khayal tentangmu. Namun rinduku tak ujung henti, rindu yang selalu menyiksaku, rindu yang selalu menusuk qalbuku, rindu yang kian menggebu seiring dengan larut dalam heningnya malam. Aku hanya bisa pejamkan mata menyampaikan rinduku lewat doa agar pesanku tersampaikan langsung melalui-Nya, menyelinap ke dalam relung hatimu.

Oleh: Valeria Undut
Mahasiswi STIK Stella Maris, Makassar