Selalu Ada Engkau Dalam Setiap Cangkir Kopiku

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Selalu Ada Engkau Dalam Setiap Cangkir Kopiku

MARJIN NEWS
18 June 2018

Suatu saat, jika rasa kopimu, mendadak hambar. Bawa kepulnya menari disampingku, kemudian nikmati. Manis mulai terasa ketika kita membuka percakapan seperti biasa (Foto: Istimewa)
Untuk engkau yang membuatku selalu merindu, adakah rasa yang dulu masih tersisa untukku? Pagi ini waktu aku menulis ini, pikiranku sebenarnya tengah dilanda kebingungan sebab sampai kopi di cangkir ini hampir habis, mendekati ampas yang terkadang tertelan dan membuat aku terbatuk-batuk, percakapan kita tak pernah selesai dalam ilusi.

Engkau mengusikku dengan pertanyaan konyol tentang cinta yang tersembunyi di balik cangkirku. Engkau mengatakan cinta kita dipertemukan dalam cangkir itu, yang dituang dengan cara sederhana dan tersenyum padamu seperti biasa.

Banyak orang bilang, bahwa Tuhan menciptakan kopi, agar banyak hal satu persatu kelak mampu kita pahami, bahwa setiap rasa pasti — bisa dinikmati. Atau bisa saja kita diijinkan untuk menjadi melankolis sementara, sekedar mencari rindu dalam secangkir kopi yang hilang dipermukaan. Sampai pada akhirnya cinta menguatkan kita pada hal itu.

Di jari semua tertulis segalanya. Ada wangi kopi robusta yang aku telan lekat-lekat. Berharap seiring waktu percakapan kita tak pernah menjadi mahal. Namun, engkau seperti filosofi kopi yang selalu egois. Ingin menang sendiri dan menyiksaku dalam kerinduan kenikmatan yang tiada tara.

Jika engkau ingat masa itu, kala bunyi adzan dari surau Kampung Ujung di Bajo begitu keras menggema hingga gendang telinga tak lagi bisa mendengar apapun kecuali desah halus napasmu, aku sebenarnya telah melantunkan larik-larik kebahagiaan bersama semburat cahaya matahari yang kemerah-merahan ditelan lautan. Bersama mereka yang tengah sembahyang aku berjanji untuk selalu menjagamu sampai kapanpun.

Lagi-lagi aku berbicara dalam ilusi, mengikuti jejak cerita fiktif tentang engkau yang selalu hadir dalam cangkir kopiku pagi ini. Jangan menyiksaku dengan itu, aku tidak kuat. Aku lemah ketika rindu itu kembali merajuk.

Untuk engkau yang selalu membuatku merindu;

"Suatu saat, jika rasa kopimu, mendadak hambar. Bawa kepulnya menari disampingku, kemudian nikmati. Manis mulai terasa ketika kita membuka percakapan seperti biasa". 

"Suatu saat, jika rasa kopimu mendadak hambar. Bawa pekatnya kehadapanku. Rasa getirnya akan merubah segala yang pahit di matamu. Lalu tunggu, sampai waktu menarik kita ketempat manis yang baru".

"Suatu saat, jika rasa kopimu mendadak hambar. Bawa cangkirnya didekatku. Harumnya akan merebut jiwamu sampai angin menuntun kita, untuk sama-sama menikmati dengan cara kita sendiri".

"Suatu saat, jika rasa kopimu mendadak hambar. Biarkan ia menjadi pahit sesuai kodratnya. Sebab, tak selamanya yang bernama pahit, juga harus kita nikmati. Pahit dalam hidupmu yang seperti ampas kopi itu, sesekali perlu dibuang. Kecuali rindu yang selalu tertuju padaku..."

Karena selalu ada engkau dalam setiap cangkir kopiku...

Oleh: Andreas Pengki