Sajak Panjang Untuk Lentera Jiwa-Karya Remigius Nahal
Cari Berita

Sajak Panjang Untuk Lentera Jiwa-Karya Remigius Nahal

MARJIN NEWS
3 June 2018

Rasa tertempa pahit getir
Menanati dewi penyembuh lara
Akulah sang pengikut waktu
Setia selalu menanti damai. (Foto: Rati Dimung)
Merengkuh angan sekelumit asa

Sang surya jelita melepas menyambut malam

Senyum  dewi rembulan pancarkan cahaya

Tertindih insan menyambut sunyi sekam

Tersirat laksa embun menyapa

Bayu menyambut menanti pagi

Lintas damai bianglala tersirap makna,

Sunguhkan indahnya alam tanpa cela

Setiap masa berawal akar

Jalani hidup dengan tegar

Arian sukam lentera cinta

Lelah tiada terasa sambut bahgia,

Merindu damai menyapa cinta,

Hati bergema goresan kalbu,

Jiwa pupus hati terbuka.

Jauh kan ego dari hatimu

Duka nestapa kan menjauh

Pantang menyerah bertabir sukma

Rasa tertempa pahit getir
Menanati dewi penyembuh lara

Akulah sang pengikut waktu
Setia selalu menanti damai

Mulia terbaik rasa kurengkuh
Damai cinta yang selalu kunanti

Darah ku bergejolak
Hatiku berdesir perih

Kala kau bercerita
Tentang nya yg hiasi mimpi

Tentangnya yang temani hari
Tentangnya yang kau bagi duka

Tentangnya yang kau bagi tawa
Mata mu berbinar bahagia kala kau bercerita

Kala kau sebut nama nya bangga
Aku hanya dapat tersenyum pahit

Entah mengapa hatiku sakit
Aku mengharapkan mu tujukan itu padaku

Bukan dia kekasihmu
Salahkah aku bila memendam cinta

Acuhkan diriku bila kau tak suka

Namun cinta, biarkan dia tetap merajah dalam jiwa

Dalam kebisuan penuh harapan
Kutundukkan segala keangkuhan

Sejenak kutatap langit yang tanpa
Keindahan kerlipan bintang

Aku terdiam duduk ditengah taman
yang berhiaskan temaram kerlipan lampu dijalan dan tiap sudut perkotaan

Kubayangkan andai ada rembulan yang menjadi teman

Agar tak kurasa kesepian
Juga tenggelam dalam rasa rindu yang bersahabat

Dengan gelisah yang terus berada difikiran

Andai kulihat senyummu
Yang bagai lengkungan bulan sabit diatas sana

Namun seketika kubuyarkan semua lamunan

Bukankah hari itu semakin datang dalam penantian yang setia pada putaran jarum jam

Senyumku kembali mengembang
Walau gundah masih terus meracuni
naluriku

Sayang akankah dirimu rasakan yang kini kurasakan

Rindunya akan belaianmu
Juga pelukan hangatmu

Dan kini aku berlindung dihatimu
Aku bingkai hatiku dengan amanahmu

Kau laksana bintang yang jauh disana
Meski redup namun kau menjadi satunya lentera kelamnya hatiku

Tuhan izinkan ku menyayangi hambamu

Atas ridhomu juga atas petunjuk menuju cahaya terangnya jalanMu

Karena ku ingin dia menjadi kekasihku
Dan menjadi pelindung setiap langkahku

Oleh: Remigius Nahal