Rampas Papang, Pemberontakan Pertama Rakyat Manggarai Atas Penjajah Belanda

Foto para pejabat Kesultanan Bima, Naib (tengah) di depan Asi Pota-Manggarai tahun 1900 (Sumber Foto: Tropen Museum)
Kedatangan H. Christoffel tahun1905 ke Todo telah menimbulkan rasa antipati rakyat terutama para pemimpin, karena sikapnya tidak menghormati dan menghargai Raja Todo. Raja Todo waktu itu adalah Keraeng Talu yang dibantu saudara-saudaranya Keraeng Tamur dan Keraeng Bagung.

Beberapa pemimpin rakyat menolak perintah mengumpulkan bahan-bahan untuk membangun kantor dan rumah-rumah pegawai pemerintah Belanda sehingga pemerintah Belanda terpancing. Dugaan para pemimpin rakyat itu terbukti karena pemerintah Belanda mengirim pasukan untuk menindaki rakyat yang tidak membawa bahan-bahan yang diperintahkan para petugas pemerintah.

Di antara pemimpin rakyat yang melarang rakyatnya mengumpulkan bahan-bahan yang diminta itu adalah Tengku Rade (Pemimpin Gelarang Papang), Guru Ame Numpung atau Motang Rua (Tokoh masyarakay Beo Kina) dan Masang Pacar (Pemimpin rakyat Pacar).

Kepada para petugas penagih bahan-bahan mereka menjawab: "eme reweng de Raja Todo bas lami haju agu ri'i, maik eme one mai ata loke bakok toe mangas haju agu ri'i" (Kalau perintah itu datangnya dari Raja Todo kami akan menghantarkan kayu dan ilalang, tetapi kalau datangnya dari orang-orang kulit putih, kami tidak mempunyai kayu dan ilalang).

Berdasarkan laporan para petugas tentang sikap pemimpin rakyat yang menolak perintah itu, Pemerintah Belanda mengirimkan pasukan untuk menghukum pemimpin dan rakyat di desa-desa tersebut. Reaksi rakyat terhadap Belanda ialah di desa Papang (Kecamatan Satar Mese), Beo Kina (Kecamatan Rahong Utara) dan Pacar (Perwakilan Kecamatan Kuwus).

Perang Rampas Papang
Sikap rakyat Gelarang Papang menolak mengumpulkan bahan-bahan untuk kantor dan perumahan pegawai telah menimbulkan kemarahan pemerintah Belanda. Karena sikap rakyat tersebut maka pemerintah Belanda mengirim pasukan untuk memerangi Gelarang Papang yang dicap sebagai pemberontak.

Tetapi pihak rakyat di bawah pimpinan Tengku Rade berpendirian bahwa penolakan terhadap pemerintah disebabkan sikap pemerintah Belanda yang tidak menghargai dan menghormati raja mereka. Gelarang Papang tidak gentar sedikitpun menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi atas sikap menolak mereka tersebut.

Mereka telah memperhitungkan resiko yang harus dipikul akibat penolakan itu. Tengku Rade sebagai seorang pemimpin dan berpengalaman dalam perang mengumpulkan pasukannya serta mengatur siasat yang biasa dilakukan pada setiap menghadapi perang antar suku. Belanda menganggap bahwa pengiriman pasukan adalah tindakan menghukum sika rakyat Papang melawan pemerintah, sebaliknya rakyat menganggap sikap Belanda sebagai suatu sikap tidak menghargai Raja mereka yang masih diakui sebagai pemimpin rakyat.

Artinya, Belanda belum dikenal sebagai Pemerintah, karena Belanda adalah orang asing bagi mereka. Orang dari luar yang datang ke Manggarai adalah tamu yang harus menghormati tata cara dan etika pergaulan daerah sesuai dengan pola sikap dan tingkah laku rakyat daerah Manggarai.

Karena sikap Belanda yang berlawanan tersebut mereka berkomitmen apapun yang terjadi akan dipikul. Berdasarkan kemauan yang keras dan sikap antipati dari perlakuan Belanda itulah maka rakyat bersama pemimpinnya Tengku Rade menghadapi pasukan Belanda dengan semangat perang pantang mundur.

Pada saat pasukan Belanda datang mereka dihadapi pasukan rakyat Papang dengan menunjukkan sikap menantang musuh di medan perang. Dalam perang menghadapi pasukan Belanda yang bersenjata modern dan berpengalaman menghadapi musuh meski di beberapa tempat pasukan Papang menunjukkan kemampuan perang tinggi namun dengan hanya bermodal senjata tradisional seperti parang, tombak, dan keris mereka tak berhasil mengalah pasukan Belanda.

Perang itu dimenangkan Belanda dan Tengku Rade gugur bersama pasukannya. Meski demikian Rampas Papang memberi pengaruh psikologis bagi pemerintah Belanda. Perang Papang menjadi pengalaman pahit bagi pasukan Belanda sehingga membuat mereka tersadar bahwa pasukan rakyat tidak dapat dianggap remeh.

Perang Papang itu telah dapat merubah konsep pusat pemerintah Belanda yang semulanya di Todo akhirnya diputuskan harus dipindahkan ke tempat lain. Alasan yang menjadi pertimbangan adalah keadaan geografis daerah Todo yang berbukit-bukit, gunung, jurang dan sebagainya sangat sulit dipertahankan apabila terjadi serangan pasukan rakyat berikutnya.

Oleh karena itu pusat pemerintahan Belanda untuk daerah Manggarai dipindahkan, calon tempat pertama adalah Cancar. Setelah diteliti keadaan di daerah Cancar memang baik, tetapi nyamuk malaria sangat banyak, sehingga perhatian untuk mencari daeah baru sebagai pusat pemerintahan diarahkan ke Ruteng.

Tempat pertama yang dipilih adalah Lempe. Keadaan daerah di Lempe cukup bagus untuk dijadikan pusat pemerintahan tetapi ternyata jauh dari sumber mata air. Akhirnya terpilih di daerah Puni sebelah selatan pekuburan lama. Selain Puni memiliki tempat yang rata, tempat itu juga dekat dengan sumber mata air Wae Rowang.

Lokasi pembangunan kantor dan rumah-rumah pegawai serta pasukan terletak pada komplek pertokoan dari Wae Locak hingga Wae Gogol sekarang. Ketika pusat pemerintahan Belanda untuk daerah Manggarai dilaporkan kepada Raja Todo, Keraeng Talu akan dipindahkan ke Ruteng, Keraeng Talu berkeberatan untuk meninggalkan Niang Todo. Karena itu kedua saudaranya Keraeng Tamur dan Keraeng Bagung diusulkan sebagai Pemimpin pemerintahan tradisi untuk ditempatkan di Ruteng.

Walaupun Keraeng Talu mengetahui bahwa pemerintah Belanda telah menguasai daerah Manggarai, namun beliau tetap mengutus kedua saudaranya sebagai pemimpin tradisional. Pemerintah Belanda tidak berani memaksa Kraeng Talu berpindah ke Ruteng, karena itu usul menunjuk Kraeng Tamur dan Keraeng Bagung diterima.

Keraeng Bagung sebagai wakil raja, sedangkan Keraeng Tamur sebagai raja Kerajaan Manggarai. Setelah Kraeng Tamur meninggal, Kraeng Bagung diangkat sebagai pejabat Raja Kerajaan Manggarai sambil menanti Keraeng Alexander Baruk menyelesaikan pendidikan di Maumere. *)

Catatan:
*) Artikel ini merupakan serangkain dari upaya redaksi marjinnews.com dalam menyajikan tulisan bermutan sejarah bertajuk, "Membaca Kembali Sejarah Manggarai di Tangan Drs. Doroteus Hemo". Semua artikel yang kami tulis bersumber tunggal dari buku berjudul "Sejarah Daerah Manggarai, Propinsi Nusa Tenggara Timur" yang ditulis oleh Bapak Drs. Doroteus Hemo pada tahun 1988. 

Selain untuk mengingatkan kita akan sejarah daerah Manggarai, ini merupakan bagian dari bentuk penghormatan kami kepada beliau. Karena berkat ketekunan beliau, kita bisa membaca lagi sejarah Manggarai pada masa sekarang. Semoga bermanfaat, jika ada masukan dan sumber sejarah yang tidak dapat kami jangkau silahkan hubungi kami melalui alamat email: marjinnews@gmail.com. Wasalam..


COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,108,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,143,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,529,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,199,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1022,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,84,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,18,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,44,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,43,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Rampas Papang, Pemberontakan Pertama Rakyat Manggarai Atas Penjajah Belanda
Rampas Papang, Pemberontakan Pertama Rakyat Manggarai Atas Penjajah Belanda
https://1.bp.blogspot.com/-n9z_mQyPS8w/Wyjbs_331nI/AAAAAAAABjQ/_WWiWSJe52YvaNkPST1AH2EcgVTxIn96wCLcBGAs/s320/Manggari%2BTempo%2BDulu.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-n9z_mQyPS8w/Wyjbs_331nI/AAAAAAAABjQ/_WWiWSJe52YvaNkPST1AH2EcgVTxIn96wCLcBGAs/s72-c/Manggari%2BTempo%2BDulu.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/06/rampas-papang-pemberontakan-pertama.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/06/rampas-papang-pemberontakan-pertama.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy