Pemimpin Antikritik, Sampah Demokrasi: Catatan untuk Kades Nanga Mbaur

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Pemimpin Antikritik, Sampah Demokrasi: Catatan untuk Kades Nanga Mbaur

MARJIN NEWS
4 June 2018

Fenomena kades anti kritik dan suka mengancam serta mencaci maki rakyatnya di Nanga Mbaur merupakan preseden buruk bagi nilai-nilai & budaya demokrasi yang telah mendarahdaging didalam bangsa ini. (Foto: Dok. Pribadi)

Akhir-akhir ini jagat maya ramai memperbicangkan soal skandal seorang Kades Nanga Mbaur yang memaki salah satu warganya di social media/facebook tanpa alasan yang jelas.

Beritanya telah dirilis di dua media online www.lensapos.com dengan judul “dicaci maki di fb, warga akan lempar kades nanga mbaur ke jalur hukum” dan indotimnews.com dengan judul “kades nanga mbaur dinilai anti kritik, aktivis mungkin butuh sekolah demokrasi”.

Setelah saya mengikuti perkembangan kasus ini tibalah pada satu kesimpulan bahwa tindakan caci maki yang dilontarkan oleh Kades tersebut dikarenakan oleh sindrom anti kritik yang menggrogoti dimensi batin kepemimpinannya.

​Dalam kultur politik demokratis keberadaan oposisi adalah keniscayaan. Oposisi yang gencar melakukan kritik konstruktif terhadap jalannya pemerintahan merupakan maujud dari demokrasi yang sehat dan mencerdaskan. Kultur politik demokratis inilah yang hilang dari perpolitikan di desa Nanga Mbaur.

Fenomena kades anti kritik dan suka mengancam serta mencaci maki rakyatnya di Nanga Mbaur merupakan preseden buruk bagi nilai-nilai & budaya demokrasi yang telah mendarahdaging didalam bangsa ini. Demokrasi yang memutlakan kerja check and balance rakyat kepada pemerintah kini telah  dipangkas secara membabibuta oleh Kades Nanga Mbaur.

​Jika telah seperti ini adanya kultur demokrasi di Desa Nanga Mbaur alon-alon asal kelakon menuju kematian. Terbitlah kultur politik yang despotic dan lalim. Keberadaan pemimpin yang anti kritik seperti ini merupakan sampah demokrasi. Sampah Republik. Sampah Pancasila.

Sebagaimana sampah dalam kehidupan sehari-hati kita, haruslah dibuang dan dibakar? atau dengan mendaur ulang agar dapat kembali digunakan. Hanya saja pilihan terakhir ini cocok bagi mereka yang tak punya alternative lain. Bagi mereka yang mencutikan akal sehat dan memperturut hawa nafsu.

Oleh: Sulatin