Mensos Rahasiakan Tempat Penampungan 7 Anak Bomber Surabaya di Jakarta, Ini Alasannya!
Cari Berita

Mensos Rahasiakan Tempat Penampungan 7 Anak Bomber Surabaya di Jakarta, Ini Alasannya!

13 June 2018

Meski merahasiakan, namun Idrus memastikan bahwa ketujuh anak tersebut mendapatkan tempat yang layak untuk mengembalikan kondisi psikologis mereka (Foto: Istimewa).
Feature, marjinnews.com - Tindak lanjut soal nasib anak-anak bomber di Surabaya sudah mencapai tahap berikutnya yaitu perbaikan kondisi psikologis mereka agar bisa kembali hidup seperti anak-anak normal lainnya. Sebelumnya, pasca serangkaian aksi teror di Surabaya, ketujuh anak ini menjalani perawatan dan pendampingan psikologis di RS Bhayangkara Polda Jatim sejak 13 Mei 2018.

Kini mereka akan dilakukan perawatan dan pendampingan lanjutan oleh Kemensos dengan tujuan utama mereka mendapatkan pemahaman keagamaan yang benar. Setelah itu ditentukan siapa yang berhak mengasuh dan merawatnya. Selama dirawat di RS Bhayangkara Polda Jatim, Kapolda Jawa Timur, Irjen Machfud menegaskan kondisi mereka cukup baik dan secara psikologis terus menunjukkan hal positif.

Sementara itu Menteri Sosial, Idrus Marham, merahasiakan tempat penampungan tujuh anak dari pelaku pemboman Surabaya yang dipindahkan ke Jakarta dari Jawa Timur. Idrus beralasan hal ini dilakukan karena faktor keamanan dan psikologis dari ketujuh anak tersebut.

"Jadi saya kira demi kepentingan bersama demi keamanan saya mohon maaf kepada wartawan dan bangsa Indonesia untuk sementara tidak saya sampaikan di mana. Karena tentu secara psiko sosial dan keamanan perlu dilindungi perlu ada dijaga keamanannya," ujar Idrus kepada wartawan di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Selasa (12/6/2018).

Meski merahasiakan, namun Idrus memastikan bahwa ketujuh anak tersebut mendapatkan tempat yang layak untuk mengembalikan kondisi psikologis mereka.

"Kita tempatkan di tempat yang baik yang layak dan saya punya keyakinan nanti anak-anak setelah satu dua hari melakukan adaptasi dengan pendampingan yang edukatif," jelas Idrus.

Idrus optimis kondisi psikologis anak-anak tersebut akan kembali pulih setelah menjalani rehabilitasi di bawah Kemensos.

"Saya punya keyakinan mereka akan bisa tinggal di tempat yang kami siapkan dengan baik dan penuh kegembiraan," kata Idrus.

Tanggapan Menteri Sosial tersebut kita harapkan bisa benar-benar mengakomodir proses pendampingan hingga penyembuhan 100 persen anak-anak bomber tersebut. Mengingat selama ini proses rehabilitasi medis dan psikis yang ditangani pemerintah masih banyak korban yang belum tertangani dengan baik.

Masalah administrasi dan birokrasi rumah sakit termasuk pula beban biaya rumah sakit bagi para korban Pemerintah Indonesia dalam beberapa kasus tersebut terlihat lebih banyak memberikan bantuan medis di awal-awal kejadian dan pemberian santunan yang belum merata Setelah itu pemerintah cenderung lepas tangan dengan kondisi korban.

Menurut pemerintah sendiri, berdasarkan peraturan yang ada, penangan medis bagi korban terorisme menggunakan dasar hukum sama dengan undang-undang bencana yang mempunyai kewenangan untuk memberikan bantuan kepada korban di RS. Kepmenkes 145/ Menkes/ SK/I/ tahun 2007 tentang pedoman penanggulangan bencana bidang kesehatan.

Yang tidak secara khusus bagi penanganan korban, namun dapat digunakan bagi penanganan media korban terorisme yang bersifat gawat darurat dan kedaruratan. Dengan dasar itulah maka semua korban terorisme adalah tanggungjawab pemerintah, namun dalam prakteknya diakui pemerintah memiliki banyak kendala. (AA/MN)