Meneropong Cacatnya Operasi Pembangunan Pabrik di Ohoi Letvuan
Cari Berita

Meneropong Cacatnya Operasi Pembangunan Pabrik di Ohoi Letvuan

8 June 2018


Sekian banyak perubahan yang ditemukan, bahkan banyak mahasiswa yang menyelesaikan studinya pada beberapa kota pendidikan di Indonesia hanya dengan hasil rumput laut tersebut. (Foto: Dok. Pribadi)

Mengakhiri masa jabatannya dengan duka dan luka yang mendalam yang kini masih menyayat perasaan masyarakat Ohoi Letvuan.

Dari rumput laut, kegagalan pembangunan pabrik dan akhirnya sistem operasi yang cacat.

Rumput laut di kabupaten Maluku Tenggara, merupakan salah satu komoditas yang sangat diunggulkan. Sebelumnya masyarakat setempat untuk membiayai kelancaran hidupnya dengan hasil hutan dan bercocok tanam, berkebun. Itupun banyak masalah ekonomi yang belum bisa untuk diselesaikan dengan keadaan demikian.

Namun dengan kehadiran Rumput Laut tersebut, masyarakat kian merasa puas dengan hasilnya. Sekian banyak perubahan yang ditemukan, bahkan banyak mahasiswa yang menyelesaikan studinya pada beberapa kota pendidikan di Indonesia hanya dengan hasil rumput laut tersebut.

Dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pemerintahan daerah, yang mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembangunan diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan, dan peran serta masyarakat.

Oleh karena itu, demi pengembangan industri rumput laut di tanah air,  sekaligus sebagai bagian dari penerapan wakil menteri perindustrian Alex Retraubun meresmikan tahap pembangunan gedung pabrik pengolahan rumput laut di Ohoi Letvuan, Kabupaten Maluku Tenggara.

Keberadaan pabrik ini diharapkan untuk dapat mensejahterakan masyarakat yang notabenenya sebagai pembudidaya rumput laut sekaligus sebagai bagian dari pemerataan di bidang ekonomi, ketenagakerjaan dan pembangunan.

Dengan demikian, pada hari Senin tanggal 31 Oktober 2011 tepatnya di Ohoi Letvuan, Kabupaten Maluku Tenggara dilangsungkan acara peresmian. Acara peresmian diawali dengan seperti biasanya peletakan batu pertama sebagai simbolis bahwa pembangunan resmi dibuka.

Peletakan batu pertama dilakukan secara bergantian oleh wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun, Bupati Maluku Tenggara Anderias Rentanubun, dan Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Kementerian Perindustrian Dedi Mulyadi.

Namun sayangnya, pabrik yang dibangun di atas lahan seluas 5 hektar dan sekaligus telah menghabiskan dana yang begitu besarnya kini diabaikan, dengan artinya bahwa pabrik rumput laut sampai saat ini belum beroperasi.  Sejatinya pabrik ini dibangun dari akhir tahun 2011 namun sampai saat ini, jika dikalkulasikan maka sudah tujuh tahun setengah lamanya pembangunan ini.

Sebelumnya sempat terjadinya konflik klaim kepemilikan lahan antara dua desa menyangkut lokasi pembangunan pabrik tersebut. Konflik yang akhirnya menelan korban jiwa kini hanya tinggal cerita tanpa tindak lanjut dan penyelesaian yang jelas. Akibatnya lokasi yang awalnya telah ditetapkan kini harus  dibatalkan dan dipindahkan kembali berdasarkan persetujuan masyarakat Ohoi Letvuan dan pihak terkait.

Salah satu permasalahan yang sampai saat ini menjadi momok untuk masyarakat sekitarnya dan khususnya masyarakat Ohoi Letvuan adalah terkait transparansi antara Pemerintah setempat dan masyarakat sangat minim. Untuk saat ini, dengan kondisi pabrik yang saat ini dikatakan cacat beroperasi maka ini dinilai sebagai salah satu kegagalan pembangunan dan penerapan hak daerah otonom serta asas desentralisasi yang diatur dalam UU No 32 tahun 2004 Pemerintah Daerah.

Ketidakjelasan dan minimnya informasi dari  pemerintah, terkait keberlanjutan pembangunan pabrik ini, mengakibatkan kekecewaan masyarakat yang begitu besar hingga pada saat ini.

Lalu dimanakah orang-orang ini? Setelah lama selang beberapa tahun tak pernah untuk bersuara mengenai pabrik tersebut. Mengapa sampai saya dengan kasar dan terbuka untuk langsung kepada manusiawi, karena ini adalah musim panasnya pesta demokrasi dan sudah tidak memiliki waktu untuk mengkritisi sistem dan kebijakan. Yang ditanyakan disini adalah apakah orang-orang tersebut masih bernafas atau tidak? Jika mereka masih hidup, dimanakah mereka?.

Oleh: Fransiskus Tawurutubun