Dia Bersemi di Musim Gugur

Sekali-kali mereka mereguk satu dua teguk minuman keras; mengernyit lalu tertawa puas (Foto: Dok. Pribadi).
Bar di tengah kota malam ini begitu ribut. Pelayan berjas merah maron memegang cangkir kosong lalu perlahan menuangkannya dengan secangkir bir lagi di tempat pemesanan minuman. Sementara pemuda yang baru saja masuk terlihat mengangguk menikmati dentuman musik atau memang tergoda dengan bikini yang dikenakan wanita-wanita yang memainkan pinggul mereka di bawah lampu malam.

Sekali-kali mereka mereguk satu dua teguk minuman keras; mengernyit lalu tertawa puas.
Di sudut bar yang diisi sofa-sofa berwarna biru muda terlihat hidup saat diduduki dengan empuk oleh dua bersaudara kembar, Diana dan Ana. Diana sibuk menarik gaunnya yang agak melorot sambil melanjutkan perbincangan perjodohan yang direnacanakan ayahnya.

“Tidak akan Ana. Aku liar dan tidak mematuhi sistem. Siapa yang mau pergi ke desa itu hanya untuk mendapat gelar bangsawan dan hidup bak ratu yang harus disangggul rambutnya setiap hari, duduk makan bersama dengan anggun dan santun tanpa memperbincangkan sesuatu ketika makan dan berakhir dengan basa-basi yang pasti membosankan. Itu bukan aku. Kau tau  itu Ana!” Tegas Diana setengah berteriak dalam dentuman musik.

Ana kakak kembar Diana  yang sudah mendengar ocehan dan makian Diana sudah sering mendengar kosakata tidak terima perjodohan itu dari adiknya. Ana hanya mengangguk, tersenyum kecil dan mengatupkan bibirnya lagi. Diana sudah benar-benar mabuk dan pasti tidak akan mendengar Ana. Ana pun tidak ingin menjelaskan apa-apa.

Mereka bak pinang dibelah dua. Kulit putih mulus tanpa cela dengan leher jenjang juga postur tinggi ideal dan tubuh yang padat membuat pria manapun pasti ingin melahap mereka. Pipi keduanya merona jika ditempa sinar matahari dengan rambut hitam kecoklatan yang bergelombang dan melambai-lambai dibawah tiupan angin. Sementara gigi mereka hanya perlu dipoles sedikit tawa kecil untuk memamerkan gigi putih bersih yang rapi. Benar-benar menggoda.

Semua hampir sama. Benar-benar sama. Hanya mata mereka memantulkan sinar yang berbeda. Diana penuh dengan tatapan liar dan siap menerkam siapapun yang tidak disukainya. Dia akan melakukan apa saja demi kenyamanannya sendiri. Sementara Ana adalah pemilik tatapan yang syahdu dengan kelembutan yang terpancar.

Dia banyak menghadirkan suasana damai dan setiap yang melihatnya pasti akan merasa teduh. Meskipun begitu keduanya saling menyayangi. Diana tidak akan mampu membuat kakaknya mendapat tatapan tidak pantas darinya dan Ana pun tidak kalah takjub akan selalu mencintai adiknya.

Menyadari sikap Diana tersebut sang ayah yang penuh dengan harta melimpah; villa dan penginapan dimana-mana dan aset yang tak terhitung lainnya merasa perlu menjodohkan putrinya Diana dengan pria bangsawan sehingga bisa dibentuk agar kelakuannya setidaknya bisa normal seperti kakaknya Ana. Diana sangat mempermasalahkan itu beberapa bulan terakhir ini. Dia mengajak Ana pergi ke bar untuk menghilangkan sedikit kegalaunnya.

Ana menepuk bahu Diana dengan lembut dan berkata, “jangan kemana-mana, aku ke toilet sebentar. Jaga gaun minimu itu agar tidak mengundang masa. Hanya 5 menit” kata Ana walau tidak yakin Diana mendengarnya sambil sempat merapikan gaun Diana yang lagi-lagi melorot dan berlalu.

Kembali dari toilet Ana merasa ada yang aneh. Wajahnya  menoleh. Mata Ana membesar karena kaget ketika keadaan tiba-tiba menjadi begitu sangat menarik, di belakang punggungnya ada seorang pria dengan mata biru gelap dengan alis tebal berjas rapi. Seakan-akan jas hitam beralas baju putih hanya diciptakan bagi pria tersebut yang tidak bisa menyembunyikan bentuk maskulin tubuh pria itu. Benar-benar formal untuk ukuran tempat hiburan seperti ini tetapi juga sangat menawan.

 “Jangan coba-coba membalikkan badanmu ke arah lain.” Diana kelihatan bingung mendengar arahan pria tersebut. Pria itu mendekati telinganya. Ana tiba-tiba merasa risih. Dia hendak melangkah pergi tetapi dia ingin  meyakinkan sekali lagi setelah menjauhkan punggungnya. “ada masalah?”

Pria tersebut tanpa ragu-ragu mendekati dan menarik Ana. “yah, kancing gaunmu terlepas” bisiknya. Ana merasa malu dan melanjutkan “tidak mungkin. Aku baru saja kembali dari toilet.” Aku Ana.
“Ada tahi lalat 10 inci dibawah punggungmu”. Akh, Ana benar-benar malu sekaligus menjadi percaya. Pria itu lalu mengikuti arah Ana dan menghalau pandangan orang ke arah punggung indah wanita tersebut sampai di depan toilet.

“Aku melihat seseorang yang sangat mirip, bukan, bukan mirip tetapi benar-benar sama denganmu di sudut sana. Barusan dia menampar pria-pria yang mengganggunya.” Terang pria itu. Ana yang baru keluar dari toilet terkejut dan langsung berlari ke arah adiknya. Namun dia sempat menoleh, “terimakasih. Itu kembaranku. Namaku Ana Derek.” Jelasnya berlalu dan menghampiri tempat duduk mereka.

Dari jauh pria itu melihat bagaimana Ana menghalau adiknya dari kerumunan orang dan tiba-tiba wanita yang teduh itu menjadi liar menunjuk pria-pria tadi dan  membela adiknya. Dia membopong tubuh Diana keluar dari bar.

Puncak-puncak yang membumbung dan pinus-pinus yang mencuat dari tebing dengan sudut yang kelihatan tidak mungkin dipanjat membuat Ana terhentak dan menyadari bahwa disinilah dia sekarang menggantikan Diana untuk menemui keluarga bangsawan di sebuah pedesaan diantara bukit dengan padang yang luas.

“Kak, sekali ini aku mohon padamu gantikan aku. Tidak ada yang bisa mengetahui perbedaan kita.  Aku tidak mungkin bisa beradptasi disana. Itu bukan aku. Lagian ayah tidak akan benar-benar marah padamu jika kakak kembali ke kota karna tidak betah disana. Well, walaupun aku mengakui pasti ayah akan sedikit kecewa jika mengetahui kebohongan kita. Tetapi itu tidak akan sebanding dengan aku mencampakkan pria itu di depan keluarganya dan tidak akan kembali kesana. Jika kaka bosan, kembalilah. Terima kemarahan ayah sedikit dan semua akan menjadi seperti biasa lagi.” Begitulah kata-kata Diana merayu kakaknya.

Diana benar-benar ular tetapi Ana jugA  benar-benar merinding membayangkan Diana yang tidak pernah main-main dengan ancamannya selama ini. Mencampakkan anak bangsawan dengan otomatis meremehkan keluarga itu dan mempermalukan ayahnya yang sudah begitu terkenal tidak akan pernah dibiarkan Ana. Dia lebih percaya bisa mengatasi hal ini daripada Diana. Jika bosan dan tidak merasa cocok dengan calon tunangannya dia bisa meminta dengan baik untuk pulang dan membicarakannya sebijak mungkin. Dia bisa. Dia mengenal dirinya.

Rumah itu memiliki ukiran-ukiran yang terpahat dengan indah di pintu masuk. Halaman luas di depan rumah seperti dibelah dua dengan jalan masuk ditengahnya; masing-masing berisi mawar, anggrek cymbidium hingga melati yang Ana pastikam sudah dirawat dengan baik dan hati-hati. Ana mengambil napas dalam, tersenyum kecil dan menghirup aroma-aroma segar.

Pintu rumah terbuka dan tiba-tiba sekumpulan orang menghambur kearahnya lalu memeluk Ana hangat dan dekat. Ana agak canggung menerima sambutan hari itu ketika membayangkan betapa bodohnya dia sempat berpikir sama dengan Diana bahwa keluarga bangsawan pasti membosankan.

Dia memperhatikan warna-warna yang begitu tegas dari matahari yang tenggelam di balik bukit belakang rumah besar dan megah bangsawan itu. “hidup baru dimulai.” Desahnya.

Ana diarak masuk ke dalam rumah. Tidak disangka-sangka di dalam rumah lebih banyak lagi yang menunggu dan menatapnya kagum. Diantara banyak orang dia tidak yakin dengan tatapanya sendiri tetapi dia melihat pria yang membantunya di bar kota seminggu yang lalu. Dia tidak menyangka laki-laki itu tambah menakjubkan di luar lampu bar.

Dia tidak mencerna mengapa pria itu tiba-tiba ada disini. Ana hanya menatapnya pasrah. Terpesona. Bibir laki-laki itu melengkung, membentuk senyum menggoda yang membuat dada Ana terlalu kecil untuk menampung hatinya. Dia ingin meledak.

“Nah nak, ini  adalah anakku Joy Grant calon tunanganmu.” Tegas pria bersahaja di samping Ana dengan bangga sambil mengarahkan pandangan ke arah pria tadi. “Joy Grant”pria itu mendekati Ana sambil menyalaminya.  “Diana Derek”. Aku Ana. Dia yakin suaranya terdengar wajar menyebut dirinya sebagai Diana.

Seakan-akan keluarga besar itu mengerti mereka ditinggalkan berdua di atas balkon selepas makan malam bersama. Ana dan Joy dilepas dalam keremangan malam ditaburi secangkir bintang di langit sana dengan pemandangan padang luas yang terlihat bergerak bagai ombak dari lantai 3 rumah tersebut. 

“Aku dengar kamu memiliki kembaran, namanya Ana Derek jika tidak salah.” Tanya pria itu. Ana kaget dan berpikir bahwa pria ini hanya ingin memulai perbincangan dengannya. “yah, itu adalah kakakku. Aku kira semua orang tahu itu.” Jawab Ana santai. “apakah kamu mengenalnya?” lanjutnya.

“Aku bertemu dengannya di bar kota seminggu lalu.” Ana mulai merasa takut jika pria ini mmembincangkan kekonyolan seorang Ana Derek kepada setiap orang yang dijumpainya. “bagaimana kalian bertemu? Apa yang sudah kalian lakukan?” Ana mulai kedengaran panik.
“tidak, tidak ada yang aneh atau istimewa. Kami hanya berpapasan dan kebetulan berkenalan.” Aku Joy santai. Ana bernapas lega ‘bagus’. Pria terhormat.

Joy mengulurkan tangan dan Ana menyambutnya dengan bergetar.

“Malam sudah larut tunanganku. Kamu pasti kecapaian. Saatnya istirahat.” Ana mengangguk dan berjalan disamping pria itu menuruni tangga. Dia tidak pernah setakut, sebergetar sekaligus sesemangat ini disamping seorang pria.

Joy mengantar Ana di sebuah kamar dan mengucapkan selamat malam dan berlalu menempati kamar di sebelah Ana. Ana sekarang terbaring di sebuah kamar asing, menduga-duga apa yang dilakukan Joy dan mulai berpikir apakah malam ini Joy tidur lebih nyenyak daripada dirinya sendiri. Tidak ada yang lebih berat baginya kali ini selain hati yang meronta tengah malam.

“Rumah ini dulu mempunyai kebun yang kering tetapi kakek buyutku menghabiskan banyak waktu disana, mencabuti rumput-rumput dan menggantikannya dengan tanaman yang bisa kau lihat sekarang.” Jelas Joy saat mereka berjalan menyisiri kebun di belakang rumah Joy.

Pohon bambu, sayur mayur dan sejumlah tanaman lain yang penuh pesona dibawah sibakan mentari pagi terlihat mengagumkan.

“Lalu danau disana?” tanya Ana sekaligus tersentak melihat benar-benar ada danau cantik di bagian timur kebun.

Joy tersenyum kearahnya, ”ayo kesana. Itu danau buatan. Dibangun ketika ayah ibuku memasuki usia pernikahan pertama dan atas kelahiranku di saat bersamaan. Ibuku lebih suka berkaca pada air daripada di cermin setelah itu. Dia selalu merasa keseluruhan kebun ini sudah benar-benar ada di dalam dirinya di bawah pantulan percikan danau.” Ana takjub dan mengikuti jejak Joy.

Pemandangan yang indah namun Ana berani bertaruh bahwa dia lebih takjub dengan calon tunangan disampingnya,bukan, bukan, bukan dia. Calon tunangan Diana. Tiba-tiba dia merasa frustasi dengan pemikirannya. Lagipula Diana tidak menginginkan perjodohan ini, lebih lagi Diana tidak menginginkanmu. Tapi bagaimana dengan kebohonganku? Akh, persetan. Ana berlari mendapati danau itu beberapa langkah lagi di depannya. Rambutnya bergerai ditiup angin.

“Oh Joy, aku kira pita rambutku jatuh” kata Ana ketika tiba di tepi danau. Pasti jatuh ketika dia berlari tadi. Joy mendekat ke arah punggungnya. Ana bingung bereaksi seperti apa. Apakah kancing bajunya terlepas lagi? Dia panik. Tahi lalat itu belum mau dia tunjukkan ataupun dilihat.

“Bukankah lebih baik jika rambutmu kau ikat dengan cara yang praktis, mengepangya?” kata Joy sambil tanpa enggan mengambil inisiatif mengepang rambut  wanita itu. Wangi rambutnya tak bercacat. Joy mengurainya perlahan dan lembut. Tetapi demi Tuhan, justru Ana yang tidak bisa bernapas. Laki-laki itu menguasainya tanpa mengganggu Ana. Joy terlalu yakin dan Ana menikmati itu.

Tanah bangsawan itu begitu besar dan dikelilingi lembah, taman dan bukit-bukit. Danau itu hanya terlihat seperti tempat tersembunyi yang cantik. Lalu Ana menyadari bahwa perasaannya dijebak berdua dengan pria yang wajahnya maskulin dan terpahat, berambut hitam dengan garis-garis berwarna seperti kopi di danau itu. Pria bangsawan yang pasti banyak meninggalkan wanita-wanita patah hati.

Pipi Ana merona, yang dia lihat sekarang dia berdiri dengan pria itu dan saling memandang. Entah ada kekuatan apa Ana tiba-tiba menangis dan merasa tidak sanggup membohongi pria itu lebih lama. Air matanya jatuh tapi dia tetap memandang ke arah Joy.

“Joy, aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Kata Ana bergetar. Joy maju ke arah Ana mengusap air matanya. Ana menunduk dan kemudian mendongak lagi mendapati wajah Joy benar-benar dekat dengan wajahnya. Entah dia menikmati atau tersiksa karna begitu dekat dengan Joy yang dia tahu dia ingin berlari jauh saja, tetapi dia ingin mengatakan semuanya. Setidaknya dia masih memiliki kejujuran. Dia bingung memulai darimana.

Joy meraih pinggul Ana dan menahan tubuh padat Ana tepat di dada bidang pria itu. Ana terkesiap dan mendapati Joy penuh dengan tatapan menginginkan dia seutuhnya. Joy merekatkan tangan kiri di leher jenjang Ana dan ingin menangkap bibir ranum wanita ini.

“Tidak Joy, aku  tidak pantas mendapat ini. Aku penipu. Aku adalah Ana. Aku berpikir tadinya bisa mengurus ini lebih lama dan tepat. Tapi aku tidak bisa membohongimu Joy. Keluargamu tidak layak mendapatkan ini. Aku akan pulang dan bicarakan semuanya. Kau layak mendapat wanita yang lebih baik. Iya,aku membenci diriku karna menipumu. Dan iya, aku akan jujur bahwa aku juga mencin...” tanpa memberi kesempatan Ana menyelesaikan kata-katanya, Joy menautkan bibirnya pada bibir gadis tersebut.

Mata Ana membesar kaget, tubuhnya menegang dan ia hendak  berontak kebingungan, tetapi Joy mengambil tangan Ana dan meremas jari wanita itu. Ana perlahan menjadi tenang dan membalas ciuman Joy Grant. Demi Tuhan, lagi, itu benar-benar nikmat.
 ---------
“Aku mengenal kalian berdua sejak lama. Tanpa kamu jelaskan pun aku tahu engkau adalah Ana Derek. Diana tidak akan sesantun kamu dalam menanggapi perbincangan aneh orangtua dan  kamu melakukannya dengan baik pada keluargaku juga Diana tidak akan pernah bergetar hanya dengan sentuhan laki-laki. Dia sudah mengenal banyak pria di luar sana.” Ana malu menyadari bahwa Joy ternyata tahu kepanikannya di balkon kala itu.

 “Tahi lalat di punggungmu juga sudah aku lihat lagi ketika engkau belajar menenun di beranda belakang dengan nenek. Rupanya kancingmu terbiasa terlepas.” Ana malu mendapati bahwa dia benar-benar telanjang akan kebenaran yang dia coba sembunyikan selama ini. sekaligus lega bahwa dia diterima sebagai Ana Derek sejak awal.

“aku ke bar untuk melihat bagaimana tingkah calon tunanganku. Aku berniat membatalkan pertunangan ini sebelum aku bertemu denganmu malam itu. Aku baru saja yakin Diana pasti tidak akan mengambil resiko untuk menjalani kehidupan yang jauh dari kebiasaannya sekaligus membatalkan perjodohan ini. Tetapi ternyata kamu datang kepadaku. Aku kira kamu lebih berani dan liar untuk berpetualang lebih dari Diana.” Ana tersipu malu dan mengangkat bibirnya tertawa kepada pria ini.

“Tapi aku rindu adikku.” Aku Ana polos.

“Aku tahu Ana, kbar baik bagimu Ana akan segera menyusul. Aku mendapat kabar bahwa dia jatuh hati dengan pria bangsawan. Keluarga jauhku. Mereka pasti akan kesini untuk meminta restu dari leluhur tertua. Leluhur kita.” Ana tersenyum nakal, bangga mendapati ada terselip kata kita di penghujung kalimat Joy. Dia juga menahan rasa geli dan menyiapkan beberapa pertanyaan bagaimana adiknya jatuh cinta seperti itu.

“Tidak seserem itu Diana.” Senyum Ana dalam hati sambil melenggang pulang dengan calon tunangannya. Dia lega mendapati dia yakin dengan yang baru dialaminya. Diantara padang luas ada bunga dimana-mana. Ana merasa seperti bunga yang bersemi di musim gugur. Kesalahan-kesalahan menyenangkan ini justru membuatnya menemukan dan ditemukan keindahan. Bencana yang membawa cinta.

Tiba-tiba membayangkan menjadi nyonya Ana Grant dengan anak-anak yang berlari di padang luas ini menghabiskan waktu yang luar biasa menyenangkan hati Ana. Dia menggenggam erat tangan Joy. Joy menatapnya dan memberi penguatan yang Ana tidak tau dari mana asalnya. Mereka terlalu manis untuk dilewatkan dibawah jingga senja belatar padang yang melambai-lambai. Manisnya..

Oleh: Tini Pasrin
marjinnews.com Malang



COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,108,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,143,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,175,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,529,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,2,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,34,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,3,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,25,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,59,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,154,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,112,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,275,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,199,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,400,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1022,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,34,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,84,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,26,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,18,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,44,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,43,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,5,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Dia Bersemi di Musim Gugur
Dia Bersemi di Musim Gugur
https://2.bp.blogspot.com/-5EyLSY-o5Mc/WyixPZVfT4I/AAAAAAAABjE/upjMneXGJwgHi_-JMUEZr0nhcVaGZM5EwCLcBGAs/s320/tini%2Bpasrin.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-5EyLSY-o5Mc/WyixPZVfT4I/AAAAAAAABjE/upjMneXGJwgHi_-JMUEZr0nhcVaGZM5EwCLcBGAs/s72-c/tini%2Bpasrin.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/06/dia-bersemi-di-musim-gugur.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/06/dia-bersemi-di-musim-gugur.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy