Desir Sang Volunter, Puisi Rendy Stevano
Cari Berita

Desir Sang Volunter, Puisi Rendy Stevano

19 June 2018

Rendy Stevano (Foto: Dok. Pribadi)
Kala jerit mengirimkan suara lewat angin
Langkah kaki bersama sejawat sontak bergerak

Menenteng prinsip kemanusia tanpa pamri
Melakoni lembar putih dengan tinta emas perjuangan
Sembari yang terlain terdiam

Terlelap dalam doa

Dan sang Tuan hanya sanggup memberi perintah

Sumber rinai yang jatuh ke muka bumi
Bukanlah persembahan dari langit
Itu butir keringat tubuh sang volunter
Lantaran matahari tak berhenti menyirami teriknya
Dan sang tuan
baru membukakan mata sembari berkata, "Pagi yang cerah"

Lutut memaksa tuk menekuk hingga pantat menyentuh tanah
Namun suara lantang terus berontak meminta pertolongan
Sinar mentari terus menggoda
Tapi pantang ucap kata capek
Demi mereka korban amarah sang alam
Meski tak terbiaya, hampa pilihan
Maju teraniaya, atau berhenti lalu mati
Sementara Sang puan tengah melukis
Bagaimana cara menghabiskan rupiah

Tiba di pucuk senja
Dikala ingin kembali bersua dengan sang anak
Ketika ingin berbagi cerita bersama sang istri
Rentetan comel mengirim laporan
Bergerililea menghempas kutukan
Senja tak mendatangkan malam
Melainkan siang, agar tetap kembali melayani

Sesaat teduh menghampiri
Dan rasa kantuk mengetuk kepala
Tangan dan kaki harus berani melawan
Sebab hati terus mengirim perintah
Kemurkaan alam tetap terjaga


Kemudian sejenak terlelap dalam tafakur
Beribu-beribu pertanyaan serobot dalam benak
Dimana keadilan bersembunyi?
Kemana janji-janji hangat sang regulasi itu pergi?
Akankah mata nurani sang tuan terbuka?
Tapi Kapan???

Yahh... barangkali itu hanya khayalan
Sebab sajak - sajak rindu itu hanya ada dipersimpangan jalan

Oleh: Rendy Stevano
Aktivis PMKRI Cabang Maumere