$type=carousel$cols=3

Cintaku Bersemi di Pulau Dewata-Sebuah Cerpen Karya Remigius Nahal

Hari ini saya mau langit, laut, pantai ini, dan semua orang yang ada di pantai Sanur ini menjadi saksi bahwa saya sayang banget sama kamu....

Hari ini saya mau langit, laut, pantai ini, dan semua orang yang ada di pantai Sanur ini menjadi saksi bahwa saya sayang banget sama kamu. (Foto: Chinly)

Namaku Leo, nama pemberian orang tuaku sejak lahir. Menurut cerita mereka, pemberian nama itu berdasarkan zodiak bulan kelahiranku yaitu Agustus. 


Teman-teman di sekolah sering memanggilku Leo, dan nama panjangku Leonardi Stefanus Agung. Kadang, mereka panggil aku Nardi, ada juga yang panggil Ardi. Bahkan, tak sedikit juga panggil diriku Agung.

Bagi saya, semua itu adalah nama panggilanku. Entah panggil apa saja, terserah mereka, yang terpenting jangan sampai mereka memanggil diriku Kiri. Sebab, kiri adalah arti bahasa Indonesia-nya "Leo" kalau bahasa Manggarai.

Oh ya, hampir lupa, saya bersekolah di SMA Karya, satu-satunya sekolah di kota Ruteng yang terletak persis di jantung kota Ruteng, ibu kota Kabupaten Manggarai. 

Tepat tiga minggu yang lalu, kami baru saja kabar lulus. Betapa senangnya hatiku sebab aku lulus bersama dengan teman-teman yang lainnya. 

Sedikit memutar ke belakang dari kisahku ini ya, tidak apa-apa kan?

Semenjak aku duduk di kelas dua belas, aku sudah mempunyai cita-cita, agar kelak lulus sekolah nanti aku ingin melanjutkan studiku ke luar daerah. Seperti teman-temanku yang lainnya yang sudah memilih daerah di luar Manggarai bahkan luar propinsi untuk melanjutkan pendidikan aku memilih Bali. 

Bagiku, ke Bali ibarat ke Inggris. Karena, aku sering melihat di televisi bahwa Bali sudah seperti di Eropa. Hanya satu alasannya yaitu banyak wisatawan mancanegara yang mengunjung ke  tempat ini.

Ternyata bukan hanya saya yang punya niat melanjutkan studi ke Bali, Aleks temanku yang beda kelas denganku juga punya rencana untuk melanjutkan studinya ke Bali. 

Saya dengan Aleks sama-sama anak jurusan bahasa di SMA Karya. Dia di kelas Dua Belas Bahasa Dua, sedangkan saya di kelas Dua Belas Bahasa Satu. 

Aleks ke Bali ternyata dipanggil oleh kakaknya yang sudah lama merantau disana. Menurut ceritanya waktu duduk nongkrong di taman kota waktu istrahat, kakaknya itu sudah lima belas tahun merantau di Bali. Kakaknya itu sudah punya rumah sendiri di Bali.

Saya dengan Aleks teman akrab. Biasa, teman sama-sama join rokok. Satu batang berdua, bahkan bisa berempat atau lebih sudah lumrah di masa putih abu-abu. Dan itu semua menjadi sebuah kenangan yang tidak bisa terlupakan diantara kami.

Aleks sudah punya pacar, namanya Lina. Ternyata, Lina juga punya rencana yang sama dengan Aleks. Mereka berdua sudah janjian untuk melanjutkan kuliah di Pulau Dewata. 

Lina sekolah di SMA Setia Bakti. Anaknya cantik, sering jadi mayoret drumband di sekolahnya. Kalau saya, memang sih punya pacar. Namun masih SMP. Dia sekarang baru kelas dua. Bukan sombong, bisa diakui anaknya cantik, manis dan manja juga serta sedikit cerewet.

Persiapan untuk ke Bali telah rampung. Tas ransel, sampai pada kardus barang titipan orang sudah diamankan. 

Dari rumah saya berangkat dengan mobil travell. Sudah janjian sama Aleks temanku itu, agar sama-sama satu mobil dari Ruteng ke Labuan Bajo.

Kami naik mobil travell yang dikemudi om Lamber. Ternyata om Lamber, punya sopir tembak namanya Luis. 

Om Lamber hanya bawa itu mobil travell sampai di Ka dekat Tuke sedikit juga rumahnya masuk wilayah Mena.

Kami yang ada di dalam mobil travell itu semuanya kaget. Dikira ada penumpang yang mau naik. Pada hal, om Lamber yang turun. 

Luis sopir tembaknya itu yang melanjutkan mengemudi mobil travell yang kami tumpangi itu sampai ke Labuan Bajo.

Ada satu bapa tua yang numpang satu mobil dengan kami bertanya, "nana, kenapa sopir yang tadi turun?" 

Jawab Luis sambil memencet tombol tape di mobil itu, " ada kesibukan katanya tadi bapak, istrinya mau dibawa ke puskesmas, mungkin mau lahir," jelas Luis sambil memencet tombol next di tape mobil itu, mencari lagu pop Ambon.

Mobil travel yang kami tumpangi melaju kencang. Lantunan lagu Ambon, dan pop Indonesia lainnya dicampur juga oleh ganda-ganda (cerita) dari om-om di dalam travell tak terasa, ternyata kami sudah sampai di Lembor. 

Saya kaget, ketika Aleks membangunkan saya. 

"Bangun sudah, kita turun makan siang dulu," tangan Aleks memukul pahaku.

Aku kaget, "hae, emangnya kita sudah sampai dimana," jawabku kepada Aleks.

"Kita sudah sampai di Lembor, e,cepat sudah, yang lain sudah pada di warung," terang Aleks, sambil memencet HP-nya.

"Siap," jawabku, sembari melangkah ke warung makan yang ada di Lembor.

Tubuhku kembali segar setelah makan siang di warung itu. Aku lupa nama warungnya. Kata om sopir oto yang kami tumpangi, warung itu sudah menjadi langganan para oto taravel. 

Memang sih, pelayanan di warung itu lumayan bagus. Pelayannya cantik-cantik. Ramah dan yang paling penting, mereka paham dan mengerti dengan selera orang kita, yaitu porsi nasinya harus seimbang dengan yang itu, bincang-bincang si Valens salah satu penumpang juga yang sama naik mobil dengan kami, yang ketika ditanya ternyata Valens mau ke Lombok.

"Maksud, dari yang itu gimana ta, nana?" Tanya om Niel yang duduk dibelakang saya, waktu ngobrol-ngobrol   dalam perjalanan kami.

Jawab Valens, "oleh, om. Gunung Ranaka pe," sontak semua seisi mobil terbahak-bahak. Ketika Valens sebut Gunung Ranaka.

Belum lagi ganda-nya (cerita-red) dari tanta Sebina, yang tidak kalah kocak. Apalagi obrolan kocaknya om Rius, yang membicarakan tentang, bagaimana dulu mereka pergi pesta sekolah. 

Obrolan om Rius, katanya, "kami dulu, belum ada HP seperti sekarang ini. Surat menjadi media satu-satunya untuk beri kabar ke pacar," lanjutnya, " nana ewm, mereka konjak ka, (Kernek-red) suatu waktu hampir saja saya pukul."

"Kenapa sampai mau pukul itu konjak om," tanya om Luis, sopir oto travel itu.

Jawab om Rius, "jadi ceritanya begini, dulu itu saya punya pacar. Dia SMA di Mano. Sementara saya SMA di Ruteng. Saya, titip surat lewat itu konjak. Ternyata, surat saya tidak diberikan kepada orangnya yang dituju".

"Menarik om, terus-terus ge om," sontak Aleks meminta kepada om Rius untuk melanjutkan ceritanya.

Om Rius melanjutkan ceritanya, "jadi begini nana ewm, ternyata itu surat yang saya titip sama itu konjak (Kernek-red) dia menaruhnya di saku celananya. Waktu di Poka, datang hujan lebat, konjak itu lupa kalau di saku celananya ada surat saya. Dia asyik menikmati hujan itu dan duduk gantong di bagasi mobil," cerita om Rius.

"Ole, om, terus-terus om, semakin seru," timpal saya yang dari tadi serius menyimaknya.

Lanjut om Rius, "Akhirnya, saya tanya itu konjak, sudah dikasih suratku ya teman? Jawb konjak itu, sate sa, suratnya sudah saya kasih. Besok baru balas, soalnya si enu dite (Pacar anda), masih sibuk kerja PR. Sudah sampai besoknya, saya tunggu-tunggu sampai sore surat balasan itu juga belum datang. Pada hal, konjak itu membohongi saya. Saya mengetahui dia bohong ketika ada temannya pacar saya itu datang ke Ruteng. Dia yang menjelaskan, bahwa surat saya itu tidak sampai ke pacar saya itu. Remuk jantungku saat mendengar penjelasan itu. Inginnya pada waktu itu saya hantam itu konjak," begitulah ceritanya om Rius, yang membuat kami seisi mobil terhanyut dalam setiap aliran kata-kata yang dia bangun.

Tepat pukul 16 sore lewat 12 menit, mobil yang kami tumpangi tiba di Labuan Bajo, ibu kota Manggarai Barat. Hiruk pikuk sebuah kota yang baru mulai bergerak dalam usaha parawisata di kota ini sudah mulai terasa. Dari sepajang pengamatan saya, bule-bule sudah mulai ramai mengunjungi Labuan Bajo. Tentunya, bukan Labuan Bajo semata yang mereka datangi dengan pulau Komodo-nya, akan tetapi akan mengunjungi juga tempat-tempat pariwisata lainnya di Manggarai Raya, seperti Wae Rebo di Manggarai tengah, atau Rana Mese di Manggarai Timur.

Di Labuan Bajo kami menginap di salah satu penginapan yang dekat dengan dermaga Labuan Bajo. Saya sudah lupa nama penginapan itu. Pokoknya tepat di depan pintu gerbang masuk menuju pelabuhan.

Ada informasi dari pertugas pelabuhan, bahwa kapalnya sebentar malam baru tiba dari Makassar. Artinya, kami besok pagi atau bisa saja siang baru berangkat ke Bali.

Bunyi sirene dari Kapal Tilong Kabila terasa kencang di telingaku. Lihat jam, ternyata sudah tengah malam sekali yaitu jam menunjukan pukul 00 malam.

Saya sudah tidak bisa tidur lagi. Bersama temanku kami duduk nongkrong di dekat pelabuhan sembari melihat para penumpang yang turun dari kapal. Silih berganti para penjemput datang, tak terasa waktu sudah menunjukan jam 3 malam. Kami kembali ke penginapan. Untuk istirahat biar besok pagi bisa cepat-cepat naik ke  kapal untuk mencari tempat tidur yang bagus.

Selamat tinggal Manggarai, selamat tinggal Labuan Bajo, da...., lambaian tanganku dari atas kapal Tilong Kabila.

Tetesan air mata mengiringi perjalananku di atas Kapal Tilong Kabila. 

Di Denpasar, sudah ditelpon sebelumnya dari Labuan Bajo pada malam hari sebelum keberangkatan. 

Anus, kakak sepupuku siap menjemputku di pelabuhan Benoa Bali. Di atas kapal kami ramai sekali. Para penumpangnya ketika saya tanya ada yang mau ke Malang, ada yang mau ke Surabaya, Jakarta dan Jogja. Pokoknya banyak sekali.

Pengumuman dari Kapten kapal, bahwa 30 menit lagi kapal penumpang tilong kabila akan bersandar di pelabuhan Benoa. Betapa senangnya diriku. Ternyata aku sebentar lagi akan tiba di Bali.

Hand Phoneku berdering, ternyata yang telpon ialah Anus, kakak sepupuku yang akan menjemputku di pelabuhan. Dia padahal sudah di pelabuhan.

Kapal Tilong Kabila akhirnya sandar juga di pelabuhan Benoa Bali. Dari atas kapal aku melihat lautan kepala berjejer di depan gerbang pintu penjemputan. 

Satu persatu para penumpang turun dari kapal untuk keluar. Anus ternyata sudah berada di depan gerbang.

Tidak perlu waktu lama bagiku untuk mencarinya. Ketika saya sudah mau tiba di gerbang, dirinya langsung memanggiku. Berpapasan, Anus menanyakan mana saja barang yang saya bawa. Saya menunjukan kalau barang bawaanku tidak banyak, hanya tas yang ku gendong, dan satu kardus serta satu kofer.

Dia langsung mengarahkanku menuju motornya. Kami akhirnya langsung pergi ke tempat tinggalnya. 

Aroma bau dupa menyambut kedatanganku. Belum lagi alunan angklung dari banjar seakan mereka tau kalau saya datang. 

Gumamku dalam hati. "Oh, ternyata inilah Bali. Adat budaya serta agamanya bagus. Pantasan orang-orang banyak yang datang ke daerah ini".

Sudah seminggu diriku berada di Pulau Dewata. Rencanaku untuk mendaftarkan di perguruan tinggi akhirnya tiba.

Leo!!!! Cepetan bangun, kita bakalan terlambat ke kampus kalau kamu masih malas-malasan di tempat tidur gitu,” ujar Anus. 

“Ia kaks, saya bangun, jangan terlalu bawel, lagian kita tidak bakal telat kok, ini khan baru jam 7  pagi, daftarnya khan mulai buka jam 8 pagi , kenapa harus buru-buru sih ke kampus," jawabku.

 “Leo, dari pada kamu banyak ngoceh mendingan kamu sekarang siap-siap karena kamu kalau siap itu bisa berjam-jam, lagian kamu khan yang daftar kuliah bukan saya,” balas Anus. 

“jadi kalau saya yang kuliah memangnya kenapa?” tanya saya. 

“Ya ampun Leo kamu bego banget sih, dimana-mana calon mahasiswa baru itu harus semangat, jangan malah malas-malasan di tempat tidur Leo,” ujar Anus gemes. 

“Ia kaks, saya tau kok,” ujarku.

 “Kalau kamu udah tau berarti sekarang kamu udah harus mandi, saya bakal nunggu kamu di bawah ok, ingat jangan lama-lama,” ujar Anus, sambil menutup pintu kamar.

 “Siap bos," jawabku.

Anus, dia itu kakak sepupu saya. Dari kecil, kami sudah biasa gitu. Apalagi kalau saat masih di kampung kami berdua sering berantem gara-gara rebutan buah-buahan. Dan sebagainya.

Akhirnya saya selesai bersiap-siap dan turun ke bawah, di tempat parkiran motor.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 30 menit kami pun sampai di kampus.

“Menurut saya ni ya kaks, kayaknya kampus ini kampus terbesar di Bali deh. Liat aja bangunannya bersejarah banget, kayak kerajaan kuno gitu loh,” komentarku. 

“Ia Leo, saya sependapat juga, ini kampus betul-betul kayak kerajaan masa lampau, lihat aja masa zaman udah canggih gini nggak renovasi sih, katanya nih kampus terbaik di Bali.

Saya akhirnya masuk ke dalam  kampus, kakaku tunggu di luar. Di kantin, menungguku sampai selesai mendaftar .

Dilihat dari luar memang tidak bagus sih, tapi, begitu masuk kedalam, hijau banget nih kampus, tidak disangka kampus ini udah kayak hutan hijau.

Saya pun mengikuti serangkaian pendaftaran di kampus ini, menyenangkan sih, tapi saya belum ketemu sama orang yang bisa saya ajak ngobrol.

Saya lagi asik ngobrol sama kakaku Anus di kantin, tiba-tiba ada yang manggil saya.

 “Leo, ngapain kamu di sini” ujar cewek dari sebelah sana.

“ Hae, Angela, “Ya ampun, kamu juga daftar disini,” ucapku. 

Ia ewm, kamu ambil jurusan apa Leo?" Tanya Angela.

"Saya ambil Komunikasi, kamu?" Tanyaku balik.

" Ae, saya ambil Sastra Indonesia," jawabnya.

"Cie, nanti buatin puisi untuk aku yach?"

"Tenang saja, nanti saya buatin puisi buah tomat untukmu," lirihnya.

"Hahahaha," rengeku, menertawakan omongan Angela.

 “Saya tidak nyangka bakal ketemu kamu di sini, padahal saya mau nyari keberadaan kamu. Ternyata kita ketemu di sini, ucapku kembali. 

“Udah kangen-kangennya? Kalian lupain saya yah, jadi saya hanya liati in kalian kangen-kangenan,terus saya jadi patung di sini," protes Anus. 

"Ia deh, Leo. Itu temanku udah datang jemput. Saya duluan pulang yach," ucap Angela, pamit.

"Ok, enu. Nomor WA kamu mana? O yach, nanti kirim lewat Inboks aja di FB yach. Hati-hati di jalan ya kalian berdua, nanti saya main ke kos kalian,” ucapku.

Hari-hari di Bali saya lewati dengan indah semenjak saya ketemu dengan Angela. 

Dia adalah temanku waktu SMP dulu. Namun ketika SMA dia ikut ayahnya pindah ke Manggarai Timur tepatnya di Lambaleda. Anaknya cantik, imut dan manis.

Mungkin ini yang namanya jatuh cinta, serasa nyaman kalau ada dia di sampingku.

Saya sudah yakin sama perasaan saya sendiri tapi saya tidak tahu apakah Angela juga punya perasaan yang sama seperti saya.

Saya sudah cerita sama Anus, dia bilang kalau Angela juga punya perasaan yang sama kayak saya.

"Yang benar saja ta kaks," timpalku ketika Anus bilang Angela suka sama saya.

"Benar ewm, lihat aja kemistrinya," ujar Anus.

"Yang benar aja, emang nya apa itu kemistri kaks," tanyaku mencobanya.

"Bodoh sekali dirimu, kemistri itu sama seperti gerakan tubuhnya dia itu.  Sepertinya suka kamu," jelasnya dengan dahi mengekerut.

"O, gitu yach kaks," jawabku singkat. Biar darahnya tidak naik apa lagi samapi tinggi. Biasa, dia orangnya darah tinggi.

Semenjak saya di Bali, Angela selalu jalan bersamaku. Kalau saya ngajak dirinya ke pantai, dia tidak pernah tolak.

Tidak tau kenapa saya merasakan kalau hari ini Angela beda banget. Tidak seperti biasanya. Hari ini dia terlihat semakin anggun dan cantik sekali.

Hmhmp, mungkin ini kesempatan saya untuk mengungkapkannya.

“Angela, kamu percaya tidak istilah sahabat jadi cinta?” tanyaku. 

“Saya sih percaya-percaya aja kok, mangnya kenapa Leo?” Tanya Angela balik. 

“Ngel, sebenarnya ada yang mau saya omongin sama kamu, penting banget,” kataku sambil mandang dirinya.

Saya merasa, jantungku berdebar kenceng banget. 

“Kamu mau ngomong apa Leo?” Tanya Angela. 

“Sebenarnya saya udah menyimpan rasa sama kamu lama Ngel, saya sayang sama kamu dari dulu, tapi saya tidak berani buat ngutarainnya karena saya takut kalu kamu bakal tolak saya, tapi hari ini saya mau langit, laut, pantai ini, dan semua orang yang ada di pantai Sanur ini menjadi saksi bahwa saya sayang banget sama kamu. Dan saya mau kamu jadi pacar saya sekarang dan sampai kapanpun juga, jadi kamu mau tidak jadi pacar saya Ngel?” Tanyaku sambil pegang tangan Angela. 

“Leo, saya sayang bangat sama kamu juga. Saya mau jadi pacar kamu selamanya," jawab Angela.

 “Jadi sekarang kita resmi pacaran ya sayang,” kataku sambil meluk Angela.

Saya bahagia banget karena sekarang sudah tau kalau cintaku tidak bertepuk sebelah tangan dan saya akan selalu mencintai Angela sampai kapanpun dan Bali menjadi saksi.

Oleh: Remigius Nahal

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,2,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,227,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,2,Berita,3,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,42,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,141,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,22,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,5,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,44,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,241,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,2,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,139,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,58,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,55,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,41,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,36,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,86,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,6,Nasional,238,Natal,19,Ngada,4,Novanto,1,Novel,15,NTT,116,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,341,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,24,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,87,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,859,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,21,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,80,Politikus,6,POLRI,6,Pristiwa,25,Prosa,1,PSK,1,Puisi,63,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,9,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,23,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,15,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Cintaku Bersemi di Pulau Dewata-Sebuah Cerpen Karya Remigius Nahal
Cintaku Bersemi di Pulau Dewata-Sebuah Cerpen Karya Remigius Nahal
https://2.bp.blogspot.com/-uYlGAPv-Wlo/WxGj2wi2RXI/AAAAAAAABaQ/Nf9ey7UPpNYJUgcjz2J8NFmUK8os9Y5tACLcBGAs/s320/20180602_035044.png
https://2.bp.blogspot.com/-uYlGAPv-Wlo/WxGj2wi2RXI/AAAAAAAABaQ/Nf9ey7UPpNYJUgcjz2J8NFmUK8os9Y5tACLcBGAs/s72-c/20180602_035044.png
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/06/cintaku-bersemi-di-pulau-dewata-sebuah.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/06/cintaku-bersemi-di-pulau-dewata-sebuah.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy