Bukan Beras atau Daun Kelor! Tanaman Ini Dinilai Bisa Mewujudkan NTT Daulat Pangan
Cari Berita

Bukan Beras atau Daun Kelor! Tanaman Ini Dinilai Bisa Mewujudkan NTT Daulat Pangan

20 June 2018

Hasil kajian Balai Penelitian Tanaman Serelia memaparkan, komposisi kimia biji sorgum tidak banyak berbeda dengan beras atau terigu yakni mengandung karbohidrat sebesar 73,8 persen dan protein 9,8 persen (Foto: Istimewa)
Indonesia merupakan negara yang kaya dalam segala hal. Kekayaan Indonesia tidak seharusnya membuat kita bergantung pada negara lain untuk memenuhi kebutuhan pangan misalnya beras. Data yang didapat dari BPS Pusat menyebutkan Indonesia masih menjadi negara pengimpor beras dari dari 5 negara, yakni Thailand, Pakistan, Vietnam, India, dan Myanmar selama periode Januari-Juni 2015 sebesar 194.495.467 kg senilai USD 84,943 juta. Angka ini tercatat lebih tinggi dari periode tahun sebelumnya sebesar 176.277.496 kg, atau senilai USD 76,206 juta.

Dari data serupa sepanjang Januari-Oktober 2017, impor beras Indonesia mencapai 256,56 ribu ton dengan nilai US$ 119,78 juta. Jumlah tersebut jauh lebih rendah dibanding impor periode (Januari-Desember) 2016 seberat 1,28 juta ton dengan nilai US$ 531,84 juta.

Adapun ekspor beras Indonesia sepanjang Januari-November 2017 mencapai 3,5 ribu ton dengan nilai US$ 3,25 juta. Angka ini jauh lebih besar dibanding ekspor periode (Januari-Desember 2016) yang hanya mencapai 999 ton.

Angka-angka itu tampak sangat memusingkan kepala, belum lagi ketika hal-hal semacam itu sudah dipolitisasi tambah ruwet dan terbelit-belit. Akhirnya tenaga kita habis hanya untuk membahas soal ada kepentingan apa dibalik kebijakan impor beras yang dilakukan oleh pemerintah, tidak bisa merambah sampai kepada bagaimana agar masyarakat Indonesia tidak hanya bergantung pada satu komoditi saja untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Namun, kita beruntung. Di tengah hiruk pikuk soal kebijakan impor beras, ada anak emas bumi pertiwi mencari dan menemukan solusi agar Indonesia tidak terjerat langkah mengimpor beras secara terus-menerus dari negara lain. Alternatif yang bisa menggantikan posisi kebergantungan beras menurtu hasil kajian Balai Penelitian Tanaman Serelia adalah sorgum, serelia yang termasuk dalam keluarga rumput-rumputan.

Hasil kajian Balai Penelitian Tanaman Serelia memaparkan, komposisi kimia biji sorgum tidak banyak berbeda dengan beras atau terigu yakni mengandung karbohidrat sebesar 73,8 persen dan protein 9,8 persen.

Kesamaan dengan beras atau terigu merupakan indikasi bahwa sorgum dapat mensubtitusi beras karena nilai gizinya yang tinggi. Tepung sorgum juga dapat menjadi bahan dasar kue, kue kering dan bahan baku industri. Ampas batangdan daun sorgum pun dapat digunakan sebagai pakan ternak. Selain sebagai bahan pangan, nira dari batang sorgum dapat menjadi sumber bahan baku bioetanol.

Hasil kajian Balai Penelitian Serealia menyebutkan sorgum yang telah diolah menjadi etanol dapat dimanfaatkan sebagai pengganti bahan bakar minyak tanah dengan kadar etanol 40-60 persen, untuk kebutuhan laboratorium dan farmasi 70-90 persen, dan sebagai bahan substitusi premium 90-100 persen. Bahkan seperti varietas Sweet Sorghum Super 1 dan Super 2 (SUPER singkatan Sorgum Untuk Pangan dan Energi), yang dirilis Marcia dalam uji cobanya mampu menghasilkan 90- 97 persen ethanol.

Menurut Dr Marcia Buanga Pabendon, Peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Serelia, Balitbangtan Kementan RI seperti dilansir Mongobay Indonesia, kadar gula sorgum mencapai 15 sampai 17 tapi saat musim kemarau puncak kadar gulanya bisa 20 sampai 21. Kadar gula biji Sorgum mencapai 50.07 g/L. Sementra sweet sorghum jika kita fokus ke batangnya saja, bisa sampai 30-40 ton sekali panen per 3-3,5 bulan dan bisa dua kali panen lagi dengan totalnya bisa 70 sampai 80 ton per hektar.

NTT Bisa Daulat Pangan
Menurut catatan sumber serupa, wilayah NTT merupakan tempat paling bagus untuk mengembanglan sorgum sebagai salah satu pangan lokal andalan selain ubi dan beras. Iklim NTT dengan catatan musim kemaraunya cukup panjang dan hampir beberapa wilayahnya kering membuat sorgum mudah dan mampu memberikan hasil panen yang berkualitas.

Selain karena lahannya yang sangat potensial, para pakar dari Balai Penelitian Tanaman Serelia juga menegaskan bahwa ampas perasan batang sorgum dengan kadar gula yang tinggi bisa dipakai untuk pakan ternak. Ini ibarat sekali mendayung dua pulau terlampaui sebab NTT juga bagus untuk memelihara ternak.

Keunggulan sorgum tidak hanya sampai disitu. Dia juga dapat ditanam tanpa dipupuk dan tumbuh maksimal di NTT karena cuacanya yang panas, memiliki sinar matahari yang penuh sepanjang hari yang mendorong proses fotosintesisa sorgum maksimum sehingga efisien dalam menghasilkan biji dan gula di dalam batang.

Dalam satu hektar lahan, di NTT berpotensi untuk menghasilkan 3-4 ton sorgum dalam sekali panen yang dapat dilakukan untuk 2-3 panen lagi, lewat sistem pengairan tetes dan pembuatan model embung sehingga ratun (akar) yang tumbuh dapat berkembang.

Dengan potensi yang ada, ketika semua angkat tangan kala berhadapan dengan alam kering anugerah Tuhan di NTT ternyata Dia juga memberikan tanaman Sorgum sebagai tanaman pangan yang cocok untuk dikembangbiakan di NTT. Oleh karena itu, perlu adanya gerakan bersama untuk membumikan sorgum sebagai pangan lokal di NTT. Jangan takut tidak makan beras, katong punya sorgum sumber karbohidrat lebih kaya dari beras yang makin hari makin mahal saja. (AA/MN)