Bersama OMK St. Filipus Neri Weetebula, JRUK Sumba Adakan Baksos di Stasi Kalouwa
Cari Berita

Bersama OMK St. Filipus Neri Weetebula, JRUK Sumba Adakan Baksos di Stasi Kalouwa

MARJIN NEWS
2 June 2018

Pancasila telah menjadi tumpuan utama kehidupan bernegara republik Indonesia. Pikiran dan gagasan yang diramu tersebut menjadi pemersatu kehidupan bermasyarakat di seluruh wilayah Indonesia (Foto: Istimewa)

Sumba, marjinnews.com - Sejak 1 Juni 1945, Ir. Soekarno memperkenalkan Pancasila, sejak itulah pancasila lahir dan menjadi ideologi bangsa Indonesia. Pancasila telah menjadi tumpuan utama kehidupan bernegara republik Indonesia. Pikiran dan gagasan yang diramu tersebut menjadi pemersatu kehidupan bermasyarakat di seluruh wilayah Indonesia.

Kelima poin yang tertuang dalam pancasila menegaskan bahwa bangsa Indonesia adalah satu kesatuan yang harmonis dengan segala keunikan yang ada dalam setiap daerah karena itu Pancasila pantas dimaknai dengan berbagi semangat dan motivasi antar putra putri bangsa dengan memanfaatkan setiap potensi dan peluang yang ada.

Dalam rangka ikut merayakan hari lahir Pancasila pada tanggal 1 Juni 2018, komunitas Jaringan Relawan untuk Kemanusiaan (Jruk) Sumba menggandeng orang muda katolik (OMK) Santo Felipus Neri Katedral - Weetebula untuk melakukan bakti sosial pemeriksaan dan pengobatan gratis di Stasi Kalouwa - Desa Weerena kabupaten Sumba Barat Daya, NTT.

Adapun komunitas Jruk Sumba adalah komunitas yang sudah berdiri selama hampir empat tahun dengan berfokus pada perlawanan terhadap perdagangan manusia sambil turut mengambil bagian dalam peningkatan sumber daya manusia serta berperan dalam berbagai aksi social sesuai dengan donasi yang diberikan.

Salah satunya adalah mengadakan kegiatan bakti sosial ini mengingat beberapa potensi yang ada di Jruk Sumba adalah orang-orang yang mempunyai basic dunia kesehatan serta anak muda dengan semangat kerjasama yang tinggi.

Sementara itu, OMK Santo Felipus Neri Katedral - Weetebula adalah kumpulan orang muda katolik yang turut mengambil bagian sebagai bentuk pelayanan dan kepedulian mereka terhadap masalah sosial yang telah menjadi realitas dalam kehidupan masyatakat serta sebagai bentuk pemberian diri dan pengamalan ilmu dan keterampilan yang mereka miliki.

Ketika rombongan tiba di tempat kegiatan masyarakat sudah terlihat ramai berdatangan. Ada yang datang membawa orang tua mereka yang sakit, ada pula yang juga menggendong anak-anak mereka. Masyarakat terlihat antusias dengan pengobatan gratis ini.

Di meja pendaftaran nampak Evangelie S. Maga, Yohanita Konsita Manulena, Yuliana M. N. Juang, Bernadethe Marlin Kaza, serta Dominika R. Ina, sibuk mendata para pasien. Dengan latar belakakang ilmu kesehatan yang mereka punya, mereka dengan sigap mendata, melakukan pemeriksaan tensi dan menuliskan keluhan para pasien.

Usai dari meja pendaftaran, salah seorang relawan akan memanggil pasien dan mengarahkan mereka ke dokter yang sudah siap.

Kegiatan ini melibatkan empat orang dokter yakni dokter Roslin Yape, dokter Intan Permata Sari, dan dokter Alvin Johan sebagai dokter penyakit umum serta dokter Silvanus Adventisimus sebagai dokter gigi. Sementara itu, di bagian pembagian obat, yang bertugas sebagai apoteker adalah Neldi Manulena yang dibantu dengan beberapa relawan.

Untuk mensiasati keadaan dimana masih terdapat masyarakat yang belum bisa berkomunikasi dalam bahasa indonesia, maka beberapa OMK dari stasi Kaloawa dengan sigap dan cekatan membantu menjadi penerjemah bagi percakapan antara para dokter dan pasien.

Meskipun keluhannya beragam, namun keluhan pasien yang berjumlah 125 orang itu mampu diobati dengan ketersediaan obat yang ada, beberapa pasien juga melakukan pencabutan gigi. Sementara itu ada juga yang mengalami luka bakar namun selama ini lukanya dibiarkan saja sehingga dalam kegiatan ini, lukanya dibersihkan.

Beberapa pasien lainnya dianjurkan untuk kembali melakukan pemeriksaan di rumah sakit atau puskesmas di wilayah mereka.
Arius Dowa Bili yang merupakan seorang guru di SDK Kadekap sekaligus ketua stasi di Stasi Santo Gabriel Kalouwa mengapresiasi kegiatan ini.

"Mewakili umat di stasi ini, saya mengucapkan terima kasih untuk Jruk Sumba dan Omk Santo Felipus Neri. Kegiatan ini sesungguhnya sangat bermanfaat. Meski waktu terbatas namun masyarakat sangat antusias" ujarnya.

Pernyataan yang senada juga datang dari Yohanes Umbu Pati seorang mahasiswa STKIP Weetebula yang juga menemani keluarganya berobat.

Menurutnya, kegiatan ini sangat positif dan sangat membantu sehingga ia berharap kegiatan seperti ini akan kembali terlaksana. Ia juga mengapresiasi pojok baca yang disediakan dalam kegiatan ini. Yohanes terlihat sangat fokus menghabiskan satu buku bacaan sambil menunggu keluarganya diobati.

Selain pengobatan gratis yang juga menyediakan pojok baca, dalam kegiatan ini juga anak-anak diajak bermain dan mendongeng bersama Jelin Tamu Ina, Opan Pala dan Gheny Theedens. Anak-anak juga dibekali dengan pengetahuan tentang PHBS oleh dokter Intan sebelum dibagikan donasi berupa sikat gigi dan pasta gigi serta beberapa donasi lain yang tersedia.

Neldi Manulena selaku apoteker yang terlibat dalam kegiatan ini sekaligus perwakilan dari Omk Santo Felipus Neri mengungkapkan perasaan senang karena bisa terlibat dalam kegiatan ini.

“Saya senang karena bisa terlibat bersama dengan beberepa OMK lainnya. Ini membuat pelayanan kami sebagai omk tidak saja terbatas hanya dalam lingkup gereja tapi juga bisa terjun langsung dalam aktivitas bersama masyarakat" ucapanya.

Ke depannya, ia berharap kerja sama antara OMK dan Jruk Sumba tetap terjalin agar semangat kebersamaan yang telah terbentuk bisa menjadi berkat bagi sesama.

Untuk menutup kegiatan tersebut, Benyamin Manulena sebagai koordinator kegiatan ini sekaligus menjabat sebagai ketua OMK Santo Felipus Neri mengungkapkan rasa senang dan bangganya terhadap semua yang terlibat. Baginya kegiatan hari ini adalah wujud anak muda Sumba merayakan hari ulang tahun pancasila.

Walaupun kegiatan ini terkesan sederhana namun mampu menyatukan banyak potensi dari masing-masing anak muda yang terlibat untuk bisa berbuat sesuatu yang baik dan nyata bagi masyarakat, karena sebagai dasar negara, pancasila selalu menyatukan banyak perbedaan dan keunikan demi membawa kebaikan di setiap sudut tanah air ini. (AD/MN)