Uskup Surabaya Himbau Umat Katolik Nonton Film LIMA, Ini Sinopsisnya
Cari Berita

Uskup Surabaya Himbau Umat Katolik Nonton Film LIMA, Ini Sinopsisnya

MARJIN NEWS
30 May 2018

 Bukan cuma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan di dalam kehidupan setiap keluarga Indonesia Pancasila dapat diterapkan untuk mengikat persaudaraan juga menyelesaikan berbagai masalah (Foto: Dok. Pribadi).
Feature, marjinnews.com - Jelang peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni 2018, beberapa pihak di Kota Surabaya berinisiatif menggelar nonton bareng Film LIMA untuk membumikan PANCASILA dalam kehidupan sehari-hari.

LIMA merupakan film nasional bergenre drama yang diproduksi oleh Lola Amaria Production. Lola Amaria juga berperan sebagai sutradara film ini bersama dengan Shalahuddin Siregar, Tika Pramesti, dan Adriyanto Dewo. 

Skenario filmnya ditulis oleh Sinar Ayu Massie dan Titien Wattimena

Adapun para pemain yang tampil di film ‘Lima’ di antaranya Prisia Nasution, Yoga Pratama, Baskara Mahendra, Tri Yudiman, Ken Zuraida, Dewi Pakis, Aji Santosa dan Ella Hamid.

Film ‘LIMA’ yang rencananya dirilis pada 31 Mei 2018 ini, ceritanya seakan mengingatkan kembali pentingnya Pancasila. Bukan cuma dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, bahkan di dalam kehidupan setiap keluarga Indonesia Pancasila dapat diterapkan untuk mengikat persaudaraan juga menyelesaikan berbagai masalah.  Hal tersebut digambarkan melalui keluarga Maryam.

Pada Rabu (30/5) siang, marjinnews.com mendapat sebuah video berdurasi 1 menit 52 detik yang mempertontonkan Uskup Surabaya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono bersama beberapa orang lainnya mengajak semua pihak terutama masyarakat Katolik seluruh Indonesia untuk turut andil dalam membumikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut himbauan Uskup Vincentius dalam video tersebut:

"Saudara-saudara yang terkasih, dalam rangka menyambut bulan Pancasila yang dimulai dengan 1 Juni 2018 sebagai hari kelahiran Pancasila, kami mengajak kita semua untuk memerah-putihkan bioskop-bioskop di Kota Surabaya ini untuk menonton film Lima. 

Suatu persembahan untuk membumikan Pancasila sebagai dasar dan ideologi, landasan hidup berbangsa dan bermegara, menyambut juga kejadian akhir-akhir ini yang membuat kita sungguh tercabik-cabik, dalam rasa kebangsaan dan persatuan dan kesatuan kita. Saatnyalah kita untuk sungguh membuat Pancasila ini sungguh menjadi suatu dasar bagi kita semua untuk bersatu. 

Sudah saatnya kita semua untuk mengambil peran dan bertanggungjawab untuk membuat Pancasila menjadi dasar dan ideologi serta kekuatan hidup dalam berbangsa dan bernegara di tengah ancaman perpecahan di antara kita. Saya menghimbau umat katolik untuk tekun dalam berbangsa dan bernegara dengan landasan Pancasila ini. Salam Pancasila!"

Sinopsis Film Lima
Film ‘LIMA’ bercerita tentang Fara, Aryo dan Adi yang baru saja kehilangan ibu mereka, Maryam. Tak Cuma ketiga anaknya, Ijah, asisten rumah tangga, juga kehilangan Maryam. Bagaimana Maryam dimakamkan memicu perdebatan di antara ketiga anaknya.

Maryam adalah seorang muslim, sementara dari ketiga anak, yang muslim Cuma Fara. Namun, akhirnya segala sesuatu terselesaikan dengan damai.

Masalah lalu berkembang ke anak-anak Maryam setelah ditinggalkan.

Adi yang sering di bully, suatu ketika harus menyaksikan peristiwa yang tidak berperikemanusiaan. Adi berusaha membantu semampunya, walaupun untuk itu ia harus berhadapan dengan Dega, teman sekolah Adi yang kerap mem-bully-nya.

Sementara, Fara menghadapi masalah di pekerjaannya sebagai pelatih renang. Menentukan atlit yang harus dikirim ke Pelatnas, dengan tidak memasukkan unsur ras ke dalam penilaian. Ia menghadapi tantangan dari pemilik klub. padahal para muridnya tak pernah mempermasalahkan warna kulit mereka.

Lalu, Aryo. Sebagai anak kedua dan lelaki tertua di keluarganya, sepeninggal Maryam, ia harus menjadi pemimpin ketika masuk ke wilayah persoalan warisan yang ditinggalkan Maryam.

Dan, Ijah, ia memiliki masalahnya sendiri. Ijah terpaksa pulang kampung untuk menyelamatkan keluarganya sendiri. menuntut keadilan yang seringkali tak mampir ke orang kecil seperti dia.

pada akhirnya, keluarga ini cuma butuh kembali kelima hal paling dasar yang menjadi akar mereka: Tuhan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah dan Keadilan. (AA/MN)