Pelacur Sajak

Tia mengambil tas hitam miliknya yang agak berat hari ini karena berisi buku-buku baru yang dia beli di jalanan sepulang dari Rumah Sakit. (Foto: Dok.Pribadi)

Pelacur Sajak


Wanita yang menggunakan rok warna cokelat kehitaman dengan baju biru lengan panjang itu tampak bersinar di malam hari di antara lampu taman yang kemayu.

Dia bekerja seharian di rumah sakit Hati Kudus. Senyum yang habis dalam keramahannya kepada pasien membuat perawat mungil itu kelihatan lelah sekaligus berbahagia.

Yah begitulah, dia menyebut pekerjaan yang selalu dicintainya sebagai pekerjaan yang selalu menghasilkan satu kepastian. Bahwa dia memang lelah. Tetapi lelah berkualitas.

Lelah. Berkualitas. 

Dia membuang nafas, menoleh ke kanan dan ke kiri.  Mencari alasan untuk beranjak dari kursi di taman kota yang sudah dia tempati  satu jam lebih.

Di pinggir toko tidak jauh dari taman kota Tia, nama gadis itu melihat seorang nenek menjinjing sepatu berwarna coklat tua. Kakinya telanjang. Matanya terlihat gelisah di antara tatapan kebingungan.

Tia mengambil tas hitam miliknya yang agak berat hari ini karena berisi buku-buku baru yang dia beli di jalanan sepulang dari Rumah Sakit.

Dia berlari kecil dan menghampiri nenek tua tersebut.
"Nek, kenapa?"

"Sepatu nenek putus nak. Ini sepatu 3 tahun lalu. Aku tidak selalu memakainya. Ini pemberian suamiku yang sudah meninggal.  Tetapi hari ini sepertinya aku berjalan terlalu jauh. Nenek, nenek tersesat sepertinya." Kata nenek itu terbata-bata.

"Tapi nenek masih ingat alamat rumah nenek nak. Jalan Tlogo Suryo Gang 5." Tutup nenek yang ingin dibantu.

Tia melepas sepatu dan memakaikannya pada kaki nenek yang sudah Tia ajak duduk lesehan di atas karpet kusam bekas jualan mas Ami. Tia mengambil hp dan memesan grab car.

Nenek tua yang letih itu hanya terlihat tersenyum berterimakasih.

Nenek itu berlalu dengan tenang. Tia sudah menitipkannya dengan mas driver grab setelah nenek yang bernama Bibi itu menolak Tia antar serta.

Tia berjalan pulang. Kini kakinya yang telanjang.

Dia berbaring dengan tenang di kamar kontrakannya.  Baginya kesuksesan adalah dia bisa tidur dengan damai.

Ritual Tia sebelum tidur adalah merasakan betapa dia menyukai segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya dengan mengingat beberapa hal ketika dia begitu berguna bagi orang lain dan bagi dirinya sendiri pada satu hari yang sudah dia lewati. Dia bisa berbunga-bunga karena hal itu.

Tia dilahirkan pada tahun anjing. Setiap orang menyukai anjing. Seekor anjing paham bagaimana menyesuaikan diri dengan orang lain dan bagaimana menjilati tangan seseorang.

Wanita anjing adalah orang yang loyal. Dia pintar menyelamatkan orang seperti yang sudah diketahui semua orang.

"Sekarang tentang perasaanmu Tia. Apakah kamu butuh diselamatkan?" Tiba-tiba Tia diusik sisi lain dirinya sendiri. Dia terjebak. Kacau.

"Yeah, l need to talk with him. Aku hanya ingin tahu hidup macam apa yang kau jalani setelah aku pergi? I want to know!!" Teriaknya sambil menggigit selimut.

Lalu tentang pergi tidur dengan damai? Sepertinya sudah tidak lagi. Dia hanya damai ketika bukan berbicara tentang Rio. Pria yang dia kirimi chat sebulan terakhir tetapi tak pernah dibalas. Hanya memandangi chat yang dicentang dua dan berwarna biru.

Tia sakit. Padahal terang-terangan dia menyatakan cinta dan penyesalannya.

Tia butuh diselamatkan. Tiada yang bisa diandalkan selain dirinya sendiri.
Tetapi dia selalu berkutat pada rindu-rindu panjang, yang hanya memiliki jeda ketika dia bekerja.

Kerja membuat Tia tetap sibuk sampai dia berpura-pura meyakini bahwa pertemuannya dengan Rio selanjutnya bukan hasil desah tangis kepada malam atau kerinduan diantara patahan rintik yang mengusik.

Tia berharap pertemuan itu akan alami. Mampu menempatkannya sebagai seseorang yang lebih berharga.

Tia menuntut dalam hatinya bahwa pertemuan itu harus beralasan karena Rio merasakan kegelisahan yang sama dan merasa perlu menemui Tia.

Tia kelelahan.
Pada rindunya yang berserak berantakan dihatinya atau tubuh mungilnya yang remuk ingin menuju pulau mimpi. Disambut Rio mungkin ketika sampai disana...

Akh, dia tertidur.
Pulas.
---
Setiap akhir pekan Tia mendapat jatah libur dari RS. Akan tetapi dia mengambil kerja part time di sebuah kedai kopi di pagi hari.

Pagi hari itu Tia seperti biasa melayani setiap meja yang ingin memesan menu. Tapi hari ini agak ramai. Kampus UNITRI yang tidak berada jauh dari kedai kopinya merayakan pesta wisuda.

Kedai kopinya penuh.
Pelanggan yang tak asing dengan raut ramah Tia dan kegesitannya selalu meminta untuk Tia layani.

Seorang bapak paruh baya memanggil Tia. Senyum sumringah membawa Tia menghampirinya.

"Kenalkan ini anak saya  yang baru diwisuda hari ini." Kata bapak tersebut dengan bangga sambil menunjuk seorang wanita disampingnya. Sungguh menawan. Elegan.

Tia kaku. Bukan karena wanita itu tetapi ada Rio tepat disampingnya.

Bukankah Rio ada di Surabaya? Bukannya Dia bekerja sekarang? Lalu siapa wanita ini sehingga dia datang dari jauh? Sudah pasti mereka ada hubungan spesial.

Pada akhirnya moment itu berlalu. Tia mencoba mengalihkan fokus. Bersikap tanpa menyinggung bapak tua yang sudah menyusul memperkenalkan Rio sebagai calon menantunya. Rio terlihat tanpa merasa bersalah ataupun menikmati pertemuannya dengan Tia. Rio biasa-biasa saja.
Entahlah. Hambar.

---
Wanita tangguh itu kali ini mengenakan gaun berwarna merah terang. Dress yang menampilkan bahu jenjangnya yang terbuka semakin menegaskan leher panjang Tia dengan rambut yang disanggul.

Dia bercahaya dengan make up santai. Pipinya merona dibawah keremangan malam. Lipstiknya bagai minyak zaitun yang melumuri bibir tipis dan senyum manis.

Sungguh beraura dia diatas panggung dengan pencahayaan lilin-lilin yang memang menjadi tema minggu ini.

Yah, Tia bekerja lagi pada malam hari di Cafe Molas. Ditemani beberapa teman bandnya mereka tampak tampil berbeda dengan pengunjung yang ramai di akhir pekan.

Dia menyanyikan lagu Calum Scot "Cause You're the Reason".Dia tersenyum.  Menuruni tangga dan bernyanyi di antara tamu. Tangan mungilnya memegang microphone dengan matanya yang bercerita banyak kepada penonton dengan lagunya. Dia menjiwai lagu.

"I'm loosing my sleep, please come back now." Semua bernyanyi.
Tersisa kecuali,  seorang pria di sudut sana dengan kekasihnya. Rio. Rio hanya memandang Tia tanpa kesan apa-apa.
---

"Aku ataupun dia sama-sama menyenangkan ketika berbicara mengenai kagum juga harap akan keberadaan kami berdua. Tetapi satu hal yang ku syukuri adalah bahwa dia tidak menetap dikepalaku untuk menangkap basah setiap pikir.

Agar dia tidak sadar konyolnya aku ingin mempertanggungjawabkannya suatu saat nanti diantara ketiadaanku sekarang.

Satu lagu untuk pejuang masa depan,

 "Aku Cinta Kamu"

Tia pening mendengar temannya yang berbicara di depan panggung setelah giliran Tia. Temannya disoraki banyak orang.

Tia tidak bisa membayangkan hal yang sama jika Rio menetap di kepala Tia dan menyerbu pikiran-pikirannya.
Menertawakan pikiran-pikiran bodoh Tia.

Sementara jawaban Tia  atas pertanyaan bagaimana hidup Rio berjalan setelah Tia meninggalkannya sudah terjawab, tetap saja wanita itu memikirkannya.

Ada sesuatu yang mau pecah di kepala Tia. Hatinya? Ada sesuatu yang mau terbakar disana. Lebih lagi dia rela terbakar tetapi lebih dulu dia harus pastikan Rio menetap disana dan melihatnya dengan serius. Akh, bodoh.

Tia beranjak. Kali ini dia tidak bisa berpura-pura baik.

---
Taman yang sudah sepi di larut malam  menjadi pelarian Tia.

Sebentar dia main di wahana olahraga lalu berpindah ke kursi taman. Di ayunan dia memegang erat pegangan tali. Tapi dia tidak tenang.

Dia berdiri dan berharap agar menemukan nenek-nenek tua yang bisa dibantunya lagi. Dia perlu merasa puas atas dirinya sekarang.

"Aku sudah melupakan kamu." Rio ada disampingnya. Tia tersentak.

Iya aku hanya mau datang bilang aku sudah melupakan kamu. Kamu kira merasa baik-baik saja itu gampang?

Setelah semua yang sudah kamu lakukan dan meninggalkan aku dalam kebingungan bodoh yang kau tinggalkan.

Mengapa? Kau merasa sah-sah saja meninggalkan seseorang yang sudah engkau buat jatuh padamu sedalam-dalamnya? Kamu salah besar.

Apa maksud kamu menjadikan kisah kita sebagai pemeran di tulisan-tulisanmu dulu?  Agar aku jatuh lalu kamu merasa berhasil dengan gampang buatku jatuh dan setelah itu pergi dengan kepuasanmu?

Atau tunggu, pelacur sajak. Yah pelacur sajak. Kau tahu kan kata-katamu di Chat saja sudah bisa menenangkan. Menyemangatiku. Seakan-akan ada yang benar memahami aku.

Merasuk ke dalam diriku dan menghempaskannya begitu saja.

Akh, kamu berhasil besar saat kau genggam tanganku dan menangis bersama aku  ketika dunia bahkan memilih pergi. Kau meremas jari-jariku dan memuntahkan sihir kata-katamu yang membuatku berpikir bahwa malaikat itu benar-benar ada.

Sudahlah, aku tak ingin membahas itu. Maaf aku tidak pernah membalas chatmu. Aku hanya mau bilang aku sudah bersusah payah merasa baik-baik saja.

Dan kamu pikir siapa kamu? Datang dan ingin buatku jatuh dipelukmu lagi?
Tidak.
Tidak.

Engkau tau aku sudah memiliki Ayu. Namanya Ayu.

Tia tersentak mendengar kata-kata Tio.  Pria yang sangat menghargainya dulu. Tia merapikan jaket yang menutupi bahunya.

 "Akuu..akuuu minta maaf." Kata Tia terbata-bata.

 "Benar katamu aku hanya ingin membuat diriku terkesan dengan diri sendiri yang bisa membuat pria yang dikenal paling angkuh bisa menunjukkan sikap manisnya kepada dunia. Aku berhasil. Kita berhasil.
Aku harus melacur dalam sajak untuk menyadarkan poin-poin berharga dalam dirimu yang sebenarnya ada di dalam kamu.

Tapi kamu tau? Aku dibunuh kata-kataku. Aku dikalahkan kata-kataku. Aku benar-benar mencintaimu. Tapi aku menyadari itu setelah memutuskan untuk mencari mangsa lain untuk ditolong.

Aku bodoh. Ternyata segala hal tidak bisa pakai logika. Urusan hati itu rumit. Aku tidak bisa benar-benar menolong orang lain ketika aku tidak bisa menolong hatiku sendiri.

Maaf Rio. Aku terlambat menyadari itu. Aku mengabaikanmu begitu saja.
Pindah ke Malang.  Bekerja dan tidak mengejarmu untuk hatiku sendiri. Ku dengar kau tidak mau diganggu dan dikasihani waktu itu.

Maaf karna aku tidak bisa menahan hatiku setelah tiga tahun ku kumpulkan keberanian meminta kabarmu lagi.

Tapi yah, aku ini siapa? Datang dan mau menemuimu lagi. Aku akan berusaha ikhlas untuk diriku sendiri". Tia tersentak mendengar kata-katanya sendiri.

Dia butuh diselamatkan.  Dia sudah membuat hati orang lain terluka. Hatinya apalagi.

Hanya sumbernya sama. Dia sendiri.

"Yah, kamu pelacur yang baik seharusnya. Pergilah dan jemput pulang seseorang yang tak akan kamu tinggalkan dengan teori bodohmu. Jika mungkin suatu saat aku jatuh lagi bersama sajak-sajakmu seperti yang dulu sering kau  kirimi di Jawa Pos dan marjinnews.com atau iseng membuka sosial mediamu hingga memintamu kembali, aku harap kamu sudah merasa baik-baik saja waktu itu. Dan kamu tau untuk menjadi baik-baik saja itu susah lalu kamu akan datang begini padaku dan mengatakan hal yang sama.

Aku sudah melupakan kamu.

Teruslah melacur bersama sajak-sajakmu Tia. Aku dengar kamu menjadi perawat yang baik di tempat kerjamu. Tapi tidak pernah lagi menulis setelah semua yang terjadi pada kita?

Kamu bodoh.
Jangan berhenti menulis karna kesalahan-kesalahanmu.

Menulislah lagi Tia.

Tulis apa yang kamu kerjakan dan kerjakan apa yang kamu tulis. Itu baru pelacur sajak sejati.

 Aku mengampuni untuk hatimu yang butuh diselamatkan. Tidak ada yang benar-benar bisa diandalkan selain dirimu sendiri. Minimal menulislah untuk kenikmatan dirimu sendiri."
Rio berkata tegas didepan pelacur sajak yang pernah dicintainya sungguh.
---

Mereka pulang. Berpisah di persimpangan jalan.

Rio membawa mobilnya ke arah timur jalan. Kaki Tia telanjang.

Dia berjalan ke arah barat. Kali ini dia menanggalkan sepatunya untuk pengemis di pinggir jalan. Dia butuh merasa penuh atas dirinya untuk semua yang dialaminya malam ini.

"Kau akan baik-baik saja pelacur sajak. Kau mengampuni dirimu sendiri. Kau akan baik-baik saja."

Tia berjanji. Untuk masa lalunya.
Untuk kesalahannya. Untuk dirinya kini. Untuk masa depannya.

Dia akan melacur dirinya sendiri dengan gairah menjangkau semua pribadi. Dia akan lakukan itu. Mengisi dirinya.

Mungkin juga menemukan seseorang yang akan dia jadikan pelepas dahaga.

Kakinya telanjang dan basah.

Dia pulang dibawah air hujan, air mata pada janji dan pengampunan akan dirinya sendiri.

Oleh: Tini Pasrin
marjinnews.com Malang

Diskusi Bupati Manggarai Barat Mencari Pemimpin

Name

anak muda,2,Badung,1,Bali,135,Ben Senang Galus,2,Bencana Alam,2,Berita,186,Bhineka,2,Birokrasi,2,BNI,1,Bola,3,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,4,BPJS,1,Budaya,34,Bung Karno,1,Bunuh Diri,4,Bupati Mabar,2,Camilian,1,Celoteh,7,Cerpen,202,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,647,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,19,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,3,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,5,Editorial,30,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,10,Focus Discussion,1,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,7,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,2,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,68,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,9,Imlek,1,In-Depth,18,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,17,Internasional,17,Internet,2,Investasi,1,IPD,3,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,4,JK,1,Jogja,2,Jogyakarta,3,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,308,Kata Mereka,2,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,4,kebudayaan,3,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,6,Kemanusiaan,55,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,7,kerohanian,2,Kesehatan,5,Ketahanan Nasional,1,Keuangan,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,55,KPK,11,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,52,Kritik Sastra,3,Kupang,25,Labuan Bajo,51,Lakalantas,11,Larantuka,1,Legenda,1,Lembata,2,Lifestyle,3,Lingkungan Hidup,13,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,15,Mahasiswa,47,Makasar,6,Makassar,4,Malang,4,Manggarai,121,Manggarai Barat,21,Manggarai Timur,27,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,1,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,104,MMC,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,351,Natal,18,Ngada,8,Novanto,2,Novel,16,NTT,346,Nyepi,2,Olahraga,13,Opini,554,Orang Muda,7,Otomotif,1,OTT,2,Padang,1,Papua,16,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,25,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,19,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,19,Perindo,1,Peristiwa,1386,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Petrus Selestinus,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,40,Pilkada,98,Pilpres 2019,25,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,32,Polisi,24,politik,89,Politikus,6,POLRI,8,PP PMKRI,1,Pristiwa,39,Prosa,1,PSK,1,Puisi,100,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,9,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,2,Ruang Publik,26,Ruteng,30,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,14,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,1,Sekilas Info,42,Sekolah,2,seleb,1,Selebritas,28,selingkuh,1,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,31,Sospol,35,Spesial Valentine,1,Start Up,1,Suara Muda,229,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,10,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tentang Mereka,68,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,11,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,Ujian Nasional,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,21,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Pelacur Sajak
Pelacur Sajak
https://2.bp.blogspot.com/-kndYMDwisr0/WulgS1mEveI/AAAAAAAABA4/0exYXBzJvEg0qTEPK_C9xg3K5Iz78A-3ACLcBGAs/s320/IMG-20180502-WA0010.jpg
https://2.bp.blogspot.com/-kndYMDwisr0/WulgS1mEveI/AAAAAAAABA4/0exYXBzJvEg0qTEPK_C9xg3K5Iz78A-3ACLcBGAs/s72-c/IMG-20180502-WA0010.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/05/tia-mengambil-tas-hitam-miliknya-yang.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/05/tia-mengambil-tas-hitam-miliknya-yang.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy