Tantangan Fundamentalisme Keagamaan Dewasa Ini

Istilah fundamentalisme, sekalipun timbul jauh lebih dulu dalam abad ini dan suatu konteks yang berbeda, akhir-akhir ini dipungut oleh med...

Istilah fundamentalisme, sekalipun timbul jauh lebih dulu dalam abad ini dan suatu konteks yang berbeda, akhir-akhir ini dipungut oleh media barat untuk mendiskreditkan gerakan perlawanan terhadap Shak Iran, yang pada hekekatnya mulai sebagai suatu gerakan anti-imperialis yang diilhami oleh agama  (Gambar: Ilustrasi)
Konflik keagamaan dan etnis di banyak negara Asia, dan khususnya di Asia Tenggara, mengancam unsur pokok masyarakat agama yang seharusnya memberi penghiburan kepada massa yang menderita, telah berubah menjadi sebab penderitaan bagi banyak orang beberapa tahun belakangan ini. Beberapa tempat ibadah telah menjadi sasaran pengrusakan dan pengeboman, perlambang bagi perjuangan dengan kekerasan. Jiwa melayang dan darah tertumpah ketika kepercayaan dan sentimen keagamaan diselewengkan untuk mengabdi pada tujuan-tujuan yang menyesatkan dari para pemimpin tertentu.

Fundamentalisme timbul dari banyak proses, yang pada gilirannya merupakan produk dari sifat perkembangan di banyak masyarakat kita. Istilah fundamentalisme, sekalipun timbul jauh lebih dulu dalam abad ini dan suatu konteks yang berbeda, akhir-akhir ini dipungut oleh media barat untuk mendiskreditkan gerakan perlawanan terhadap Shak Iran, yang pada hekekatnya mulai sebagai suatu gerakan anti-imperialis yang diilhami oleh agama.

Namun demikian, tidak bisa dipungkiri bahwa jalan yang ditempuh oleh gerakan Iran telah beranjak ke suatu sikap fundamentalisme, yang sekarang mempengaruhi juga masyarakat-masyarakat lain di Asia, termasuk Indonesia.

​Maka, sebagian kalangan meyakini bahwa fundamentalisme menjadi sumber konflik dalam masyarakat yang beragam. Antropolog dari Universitas York, Toronto, Kanada, Judith Nagata (2005), mengatakan, keyakinan itulah yang menyebabkan seseorang atau sekelompok orang melakukan tindakan atas nama kelompok lain.

Mereka menganggap  kelompok lain bertentangan dengan kelompoknya. Ini bisa saja hidup dibenak suku bangsa atau ras tertentu juga pemeluk agama apapun agamanya. Maka kurang tepat jika  kemudian fundamentalisme hanya disematkan kepada sebuah agama tertentu..

​Judith Nagata, menegaskan, fundamentalisme tidak hanya ada dalam komunitas Islam, tapi juga di Kristen, Budha, Katolik, Hindu, Yahudi, maupun Sikh.

Ia mengungkapkan, fundamentalisme, khususnya fundamentalisme agama, tidak hanya dipengaruhi oleh penafsiran atas teks suci saja, melainkan juga terkait kelindan dengan kebanyakan pemerintah di mana sejumlah komunitas agama tersebut hidup dalam masyarakat atau negara yang begitu plural.

​Judith Nagata mencontohkan bagaimana pemerintah Kanada memiliki kemauan politik yang bagus dalam hal ini. Sebagai sebuah negara yang multikultural dan multikeyakinan, pemerintah Kanada  terus mendorong masyarakatnya yang plural tersebut untuk memahami komunitas yang berbeda dengan dirinya. Komunitas yang majemuk itu dibiasakan untuk saling menghormati dan menyadari adanya perbedaan.

Pada saat negara tidak mendorong komunitasnya mengakui perbedaan, maka mereka akan kesulitan menyatakan identitasnya. Dalam kebingungan itu maka hal paling mungkin untuk dilakukan adalah kembali kepada identitas tradisional yang mereka miliki. Biasanya mereka akan menonjolkan identitas agama atau suku bangsa, meski mungkin saja ini menjadi sebuah ancaman bagi komunitas lainnya. Tetapi dengan identitas tradisionalnya itu mereka nyaman diantara ketidakpastian yang dihadapi.

Namun, hal demikian tak terjadi di setiap negara yang memiliki pluralitas dimana setiap komunitas agama tak ada keinginan mengganggu keinginan lainnya.Mereka saling menghormati keyakinan agamanya masing-masing.

​Fundamentalisme keagamaan sekalipun tidak tepat telah digunakan secara longgar untuk menggambarkan semua gerakan, yang besifat mempertahankan kelangsungan hidup atau yang memberikan tekanan pada penggunaan agama dalam percaturan politik.

Penggunaan istilah ini secara luas, dibarengi dengan kenyataan sesungguhnya serta fanatisme dan gerakan-gerakan ini telah cenderung untuk mengaburkan, maupun menggeneralisirkan bebarapa diantara kecenderungan-kecenderungan lebih dalam yang terdapat di belakang munculnya gerakan-gerakan fundamentalisme keagamaan.

Fundamentalisme keagamaan dalam kenyataan jauh menyimpang dari asas-asas sesungguhnya dari agama yang mereka sebarkan secara agresif. Fundamentalisme keagamaan mengambil bentuk-bentuk yang berbeda dalam agama yang berbeda-beda. Namun demikian, kecenderuangan fundamentalisme seringkali mengambil bentuk fanatik. Apabila demikian, maka menjadi suatu ancaman bagi keserasian sosial, keadilan dan hak asasi manusia.

Fundamentalisme: Anti-Ekumenis
​Secara historis fundamentalisme keagamaan telah mengambil bentuk suatu tradisional revolusioner yang dianut oleh para pemimpin agama yang, dalam kenyataannya, tidak kembali kepada ajaran pokok agama-agama mereka. Sebaliknya, mereka bersandar pada penafsiran sektarians dan memberikan penekanan lebih besar pada ritual, bentuk dan simbol ketimbang pada hekekat dari agama.

Proses mempolitikkan agama dan sekaligus menginjeksikan agama dalam percaturan politik adalah telah memberi warna tersendiri dari gerakan fundamentalisme itu.

Di satu pihak pemimpin-pemimpin semacam itu meminta “keduniawian lain” tapi mereka sendiri tidak ragu-ragu untuk memperturutkan kata hati dalam kegiatan politik keduniawian.

Kepemimpinan semacam itu menjadi semakin demagogis dalam membangkitkan para perusuh, semakin militan, dalam mencari pengikut baru, dan semakin tak toleran terhadap orang-orang yang tidak “bersama mereka” dan oleh karena itu perlu ditindas. Suatu aspek yang terutama menggelisahkan dari fundamentalisme keagamaan terjadi apabila kecenderungan semacam itu. Sekalipun terus merembes, namun tak kentara dan tidak dapat dideteksi dengan mudah pada tahap-tahap awal kecuali dengan kewaspadaan ganda.

​Fundamentalisme yang berakar pada fanatisme dan primordialisme agama mencuat kegiatan eksplosif dan mengeras sebagaimana terlihat di berbagai belahan dunia. Kita menyaksikan radikalisme penganut Hindu di India, konflik berdarah di Balkan, di Indonesia (kasus Ambon, Poso dan terorisme di Indonesia), kebangkitan suku Kurdi di Turki, dan menjamurnya agama kultus di Amerika, Kanada, Swiss dan Jepang.

Dari perspektif sejarah fundamentalisme keluar dari gerakan-gerakan reaksioner umat protestan di Amerika. Awalnya fundamentalisme merupakan gerakan konservatif di kalangan Protestan Amerika yang dengan tegas menentang sekularisme dan liberalisme dalam teologi dan kehidupan gerejani.

​Karen Armstrong (2001) mengatakan, banyak sekali peristiwa yang dikaitkan dengan aktivitas gerakan kelompok fundamentalis. Berbagai media dipenuhi oleh kejadian-kejadian yang mencerminkan hal tersebut. Peristiwa 11 September di Amerika, bom bunuh diri yang mewarnai konflik Israel-Palestina adalah contoh dari sekian banyak reaksi berbahaya kelompok fundamentalis terhadap dunia modern. Meskipun para pelakunya dari beragam kepercayaan, mereka memiliki satu karakteristik umum: over fanatism in religious faith. Ketaatan yang berlebihan dalam beragama.

Karen Armstrong dalam Berperang Demi Tuhan (1991) memaparkan fenomena fundamentalisme dalam tiga agama monoteistik: Kristen, Yahudi, dan Islam. Penelusuran Armstrong terhadap sejarah ketiga agama besar ini sepanjang perubahan yang dimulai dari masa pencerahan Eropa (renaissance, Aufklärung) menunjukkan bagaimana fundamentalisme pada akhirnya muncul sebagai reaksi logis yang melawan ide-ide modernisme.

Fundamentalisme  adalah suatu penolakkan terhadap pandangan-pandangan ilmu pengetahuan modern yang seakan-akan memojokkan keberadaan agama. Misalnya, pandangan Charles Darwin tentang perkembangan alamiah semua jenis organisme. Meski bukan seorang ateis, Darwin bilang bahwa makluk hidup berkembang secara alami, tanpa campur tangan Allah yng diimani kaum beragama sebagai pencipta.

​Dalam arti lebih luas fundamentalisme adalah pendangan konservatif sempit, fanatik, dan anti-ekumenis. Gerakan ini biasanya menuntut para  pengikutnya hidup saleh. Kaum fundamentalisme adalah penganut gerakan keagamaan yang bersifat ketat dan reaksioner, yang selalu merasa perlu kembali keajaran agama yang asli ( ortodoksis) seperti tersurat dalam Kitab Suci.

​Gerakan fundamentalisme yang akhir-akhir ini yang semakin meluas di Indonesia, menekankan satu agama (atau ideologi) dalam arti dasar historis maupun ajaran iman sedemikian sehingga menyempitkan pandangan pada yang fundamental semata-mata, menolak perkembangan dan pembaruan, kolot, tertutup, eksklusif dan fanatik.

​Fundamentalisme agama sebetulnya merupakan suatu gerakan tandingan terhadap trend-trend yang dinilai bersifat destruktif terhadap keyakinan yang sudah mendarahdaging. Motivasi dasarnya  adalah pembaruan kehidupan beragama atau gerakan kembali ke akar, yaitu Kitab Suci. Pada tataran ini  fundamentalisme agama menjadi suatu kekuatan yang positif.

Fundamentaslisme menjurus pada tindakan yang negatif karena ia keluar dari rasa tidak puas, cemas, curiga, dan sakit hati terhadap perkembanga agama yang ada. Kaum fundamentalisme mengupayakan suatu pembaruan total lewat suatu tindakan revolusioner. Tindakan kaum fundamentalis semakin destruktif terutama kalau mulai berorientasi kepada kepentingan atau ideologi lain seperti ekonomi, sosial dan politik.

​Fundamentalisme terdapat di semua ajaran agama.

Karen Armstrong (2001), pakar sejarah agama-agama secara tegas menyatakan bahwa fundamentalisme adalah warisan inheren dan absah dalam tradisi agama-agama, khususnya agama semitik, Yahudi, Kristen, dan Islam. Karena itu, menguatnya arus fundamentalisme agama-agama di belahan dunia meruntuhkan pelbagai macam tesis dan pandangan. Kemodernan dianggap akan dapat menggeser posisi fundamentalisme, tapi pada akhirnya harus menerima fundamentalisme sebagai fakta sosial. Bahkan boleh dibilang bahwa posisi fundamentalisme dan kemodernan bersifat sejajar.

​Fundamentalisme dalam tradisi Kristen Amerika, misalnya, merupakan sebuah perlawanan atas mereka yang ingin menyimpang dari doktrin dari teks keagamaan. Begitu pula fundamentalisme dalam tradisi Islam juga merupakan upaya untuk mempertahankan sejarah, doktrin, dan teks keagamaan. Oleh karena itu, fundamentalisme tidak lebih sebagai suatu fenomena historis.

​Kaum fundamentalisme di semua agama memandang diri mereka sebagai satu-satunya pewaris yang sebenarnya dari kebenaran dan tradisi agama mereka. Mereka menganggap orang-orang lain dalam agama mereka sendiri dengan pandangan tipologi yang lain, sebagai golongan ajaran sesat, dan mencoba menekan atau bahkan melenyapkan mereka. Sikap tidak toleran semacam itu menyebabkan timbulnya konflik antara agama (sekte) dan kekerasan antara berbagai kelompok yang menganut agama yang sama. Inilah sebagai akar dari gerakan fundamentaslisme di Indonesia.

Demikian pula, sikap fanatik juga diungkapkan terhadap agama lain yang menyebabkan timbulnya konfliks sosial diantara kelompok-kelompok masyarakat tadi.

Jadi, fundamentalisme keagaman menyebarkan benih-benih ketegangan sosial pada tingkat lokal.

​Minoritas agama dan minoritas etnis, kaum pendatang dan kelompok-kelompok tersisih lainnya juga menjadi korban kecenderungan-kecenderungan fundamentalisme dalam agama mayoritas. Seringkali, minoritas-minoritas semacam itu diperlakukan sebagai warga kelas dua di dalam sebuah negara.

Mereka harus mengikuti sistem hukum dan kebiasaan sosial dari golongan mayoritas dan untuk hidup dalam suatu negara teokratis yang sistem hukum, organisasi  sosial dan organisasi ekonominya mencerminkan pandangan teologis dari golongan mayoritas yang dominan. Fundamentalisme keagamaan lebih memandang pluralisme sebagai suatu kerugian ketimbang suatu modal. Karena negara kita semakin bersifat pluralistik, maka kecenderungan ini merupakan ancaman nyata terhadap perdamaian, keserasian sosial dan masa depan negara kita.

Fundamentalisme Dalam Tubuh Agama Kristen
Lacakan geneologis kelahiran istilah dan gerakan fundamentalisme di atas sekaligus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kesejarahan Kristen di Amerika yang pertama kali mengenalkan dan memakai term tersebut. Dari sini bisa dilihat bahwa fundamentalisme sejatinya adalah gerakan keagamaan dengan spirit purifikasi untuk memposisikan teks suci secara sakral, tak tersentuh, dan tak boleh disangsikan kebenarannya. Karenanya, teks suci itu menjadi tertutup dan dipertahankan dengan strategi defensif.

Dalam catatan yang lain, seperti yang dituliskan oleh Agung Primamorista, gerakan ini mengimani kembalinya Almasih A.S. secara fisik dan materi ke dunia untuk yang kedua kalinya, guna mengatur dunia ini, selama seribu tahun sebelum datangnya hari perhitungan manusia.

Prototipe pemikiran yang menjadi ciri khas fundamentalisme ini adalah penafsiran Injil dan seluruh teks agama secara literal dan menolak secara utuh seluruh bentuk penakwilan atas teks-teks manapun, walaupun teks-teks itu berisikan metafor-metafor rohani dan simbol-simbol sufistik, serta memusuhi kajian-kajian kritis yang ditulis atas Injil dan Kitab Suci. Dari penafsiran Injil secara literal ini, orang-orang fundamentalis Protestan mengatakan akan datangnya Almasih kembali secara fisik untuk mengatur dunia selama seribu tahun yang berbahagia karena mereka menafsirkan “mimpi Yohana” (kitab Mimpi 20-1-10) secara literal.

Ketika fundamentalisme Kristen itu menjadi sebuah sekte yang indipenden pada awal abad ke-20, terkristallah dogma-dogma yang berasal dari penafsiran literal atas Injil itu melalui seminar-seminarnya, lembaga-lembaganya, serta melalui tulisan-tulisan para pendetanya yang mengajak untuk memusuhi realita, menolak perkembangan, dan memerangi masyarakat-masyarakat sekuler yang baik maupun yang buruk sekaligus.

Misalnya, mereka mengklaim mendapatkan tuntunan langsung dari Tuhan, cenderung untuk mengisolasi diri dari kehidupan bermasyarakat, menolak untuk berinteraksi dengan realitas, memusuhi akal dan pemikiran ilmiah serta hasil-hasil penemuan ilmiah. Oleh karenanya, mereka meninggalkan universitas-universitas dan mendirikan lembaga-lembaga tersendiri bagi pendidikan anak-anak mereka.

Untuk mengenali lebih jelas lagi, Pdt. Dr. Ioanes Rakhmat membuat beberapa ciri terhadap fundamentalisme Kristen dewasa ini.

Pertama, “Mempertuhankan Alkitab”. Kedua, “Literalisme Biblis”. Ketiga, “Bermental triumfalistik ekspansionistik”.

Keempat, “Berkolaborasi dengan kapitalisme Barat dunia”. Fundamentalisme injili Kristen di Indonesia berafiliasi dengan kapitalisme global yang berpusat di EU dan USA, yang menjadi penyuntik dana besar gerakan-gerakan Kristen Barat yang mempunyai misi ekspansi sivilisasi Barat, antara lain ke Indonesia.

Kelima, “Penyusupan ke gereja-gereja arus utama”. Keenam, “Narcissisme radikal”. Ketujuh, “Berfisi apokaliptik sangat politik radikal”. Kedelapan, “Sangat anti terhadap pendekatan kritis historis terhadap Kitab Suci”. Kesembilan, “Gerakan kebudayaan yang sangat berbahaya”.

Sebab mereka bukan hanya suatu gerakan religius kultural –yang ingin mengembalikan dunia dan gereja-gereja ke dalam kehidupan dunia zaman kuno, zaman kejayaan para nabi, dan zaman para rasul Kristen di abad-abad perdana dalam sejarah gereja, zaman keemasan bagi karya nyata Roh Kudus– tapi sebuah gerakan yang sangat modern karena menggunakan cara-cara dan strategi yang modern untuk keperluan pengkristenan dalam program sedunia “evangelism explosion” mereka.

Pengembangan Teologi Pluralisme
Fenomena fundamentalisme timbul sebagai produk modernitas yang telah menyebabkan situasi hidup manusia berubah. Fundemantalisme terkait erat dengan upaya kelompok atau masyarakat tertentu yang terkait dengan upaya pencarian identititas diri. Kelompok-kelompok fundamentalisme memiliki ciri tertentu antara lain: konservatif, liberal, etnosentris, integratif, dogmatik, fanatik, militan dan sebagainya.

Akhir-akhir ini fundamentalisme menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kenyataan hidup religius di seluruh dunia. Beberapa dari antara kelompok fundamentalis yang terkenal adalah kaum muslim Shiite di Iran, Sudan, Pakistan, Liberia, juga sekarang sudah masuk ke Indonesia; kelompok-kelompok fundamentalis Kristen Protestan seperti: Religious Right di Amerika Utara, Gush Emumin, champions of Hindutva di India, Soka Gokkai Budhis di Jepang, Temple Mount dan Heredim di Israel, Dukwah di Malaysia, Sikh di Punjabi.

Fundamentalisme adalah fenomena multidimensional. Ia merupakan produk dari lingkungan sosio budaya dan politik ekonomi yang khas dengan perwujudan yang spesifik serta ditandai dengan faktor-faktor, psikologis, kultural, religius, ekonomi, politik dan sejarah. Fundamentalisme merupakan akibat dari simptom ketertutupan identitas sosial atau individual manusia.

Seorang fundamentalis memandang nilai atau ideologi tertentu sebagai non negotiable yang harus dilindungi secara sempurna dalam perubahan situasi apapun. Mereka takut kehilangan nilai-nilai primordial.

Dalam praktek untuk mempertahankan nilai atau ideologi kaum fundamentalis seringkali bertindak agresif dan destruktif.

Untuk menghambat perkembangan fundamentalisme, Gereja Katolik (di) Indonesia pertama, mengembangakan teologi pluralisme. Teologi ini berpendapat bahwa perbedaan agama tidak ada tetapi perbedaan tanggapan pada misteri Ilahilah yang ada.

Manusia dalam perbedaan budaya, situasi dan waktu mengalami dan mengekspresikan hubungan antara yang terbatas dan tak terbatas secara berbeda. Maka pluralitas termasuk bagian dari struktur realitas yang dirasakan oleh manusia selama hidup. Realitas tidak bisa tidak berdimensi plural sekaligus singular.

Kedua dimensi ini dalam tataran realitas selalu berada dalam ketegangan dialektis. Singularitas hanya bisa dipahami bersama pluralitas dan pluralitas hanya dipahami dalam singularitas. Namun demikian singularitas tidak sama dengan pluralitas. Ketegangan antara pluralitas dan singularitas inheren pada aspek sosialitas manusia terutama budaya dan Agama.

Problem pluralitas terjadi ketika singularitas dipertahankan dan problem singularitas terjadi ketika pluralitas dipertahankan.

Gereja (di) Indonesia perlu menampilkan teologi inklusif dan merelativir pernyataan-pernyataan yang ekslusif. Dalam masyarakat pluralistik religius, orang harus menerima dimensi kesadaran diri yang baru bahwa semua manusia berelasi sebagai ciptaan Tuhan. Meskipun banyak agama cenderung membentuk sebutan-sebutan eksklusif bagi Kebenaran Ilahi.

Eksklusivitas semacam ini mempersempit hubungan Tuhan dengan semua orang dalam pluriformitas dan membangun benteng bagi masa depan agama.

Tuhan bersifat absolut karena itu manusia dapat mengalami, menangkap dan mengekspresikan Tuhan itu secara relatif. Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa apa yang relatif tidak dapat diabsolutkan. Kenyataan pluralisme agama hendaknya mengarah pada dialog yang kreatif untuk saling memperkaya dan membentuk masyarakat yang manusiawi.

Ketiga, Gereja Katolik (di) Indonesia hendaknya mempertimbangkan kembali metodologi-evangelisasi. Dalam konteks perkembangan fundamentalisme, kaum kristiani perlu memahami evangelisasi sebagai shering iman atau pengalaman akan Allah dan injil dengan penganut agama lain. Evangelisasi bukan berarti mengkristenkan orang yang sudah beragama, melainkan sebagai upaya tranformatif bagi manusia. Pewartaan injil hendaknya bersifat dialogis.

Keempat, Gereja Katolik (di) Indonesia hendaknya terlibat dalam keprihatinan dunia. Agama yang benar adalah agama yang mampu menuntun semua orang pada keterlibatan dan kerjasama yang kreatif dalam memecahkan problem-problem hidup. Tujuan keterlibatan Gereja dalam wilayah sosial, pendidikan dan politik harus menjadi pembebasan masyarakat yang total. Memperjuangkan hak asasi dan keadilan menjadi praksis pembebasan Gereja dalam dunia.

Gereja Katolik (di) Indonesia dalam kondisi plural dan ancaman fundamentalisme agama harus mengambil sikap lebih terbuka, dialogis terhadap kelompok iman lain. Dialog merupakan tindakan yang tepat dalam relasi antara kristianitas dengan agama lain. Namun tindakan dialogis Gereja Katolik (di) Indonesia perlu berorientasi pertama-tama bukan demi dirinya sendiri tetapi bagi kepentingan manusia secara universal (Bonum Commune).

Karena itu sikap dialog Gereja mesti dibangun di atas dasar, antropologis, sosiologis, budaya, dogma dan teologi. Dengan demikian Gereja Asia dapat diterima oleh agama lain dan dapat menyumbangkan nilai-nilai positif yang mengarah pada hidup bersama yang lebih baik (Henrikus Pedor, 2011)

Berhadapan dengan pluralitas, tantangan bagi kristianitas adalah komitmen pada imannya sendiri dan terbuka pada iman lain. Bagaimana kaum kristiani sungguh-sungguh mengikatkan diri pada Kristus dan terbuka pada agama-agama lain? Kaum kristiani dituntut untuk terbuka pada sapaan Allah melalui penganut dan tradisi agama lain.

Dengan kata lain kemuridan (discipleship) kristiani membutuhkan dialog. Konsili Vatikan II telah menyatakannya dengan jelas bahwa keterbukaan pada iman lain sebagai bagian esensial dari Gereja yang bersifat global.

Hendrikus Pedor menegaskan komitmen Gereja ini membuka pintu yang lebar bagi agama-agama lain di Indonesia untuk berdialog. Lantas bagaimana genesis dialog ini bisa terjadi? Genesis dialog paling konkret terjadi di Indonesia (locus dialog). Tidak ada cara lain bagi Gereja Katolik (di) Indonesia untuk hidup selain dengan upaya genesis dialog.

Teologi di Indonesia punya peran besar dalam genesis dialog. Teologi -sebagai refleksi sistematis atas pengalaman iman-harus mempunyai orientasi pada genesis dialog. Teologi kristiani di Indonesi berjuang untuk merefleksikan pengalaman imannya (genesis iman ) dan sekaligus terbuka pada iman lain (genesis dialog).

Sebagai bagian dari pembentuk identitas manusia sebagaimana halnya etnis, budaya, dan bahasa, agama menempati posisi yang paling sublim dalam kehidupan manusia. Agama patut ditempatkan dalam posisi yang demikian karena salah satu bagian fundamental dalam cara mengada (mode of existence) manusia adalah, pencarian terhadap agama.

Bahwa agama menjadi bagian penting dalam cara manusia mengada, bisa dibuktikan dari objek yang paling banyak dicari oleh manusia sepanjang hayatnya. Agamalah yang paling banyak dicari. Proses pencarian manusia terhadap agama adalah kelanjutan belaka dari karakter manusia yang sejatinya merupakan makhluk religius.

Dari sudut pandang kajian keislaman, agama pertama-tama diposisikan sebagai fitrah majbulah. Maksudnya, dalam diri manusia terdapat potensi beragama, sehingga manusia dalam pandangan Islam mudah menerima agama.

​Tidak perlu dipersoalkan wujud eksoteris agama yang dipeluk manusia. Sebab apa pun wujudnya, penemuan dan penerimaan manusia terhadap agama pasti berawal dari kenyataan "misteri yang menggentarkan" (mysterium tremendum), dan "misteri yang memesonakan" (mysterium fascinans).

Dalam semua agama yang dipeluk manusia, baik yang melalui proses budaya maupun wahyu, bisa dipastikan terobsesi dengan kedua hal tersebut. Hal itulah yang membuat manusia memandang agama sebagai sesuatu yang demikian bermakna, tidak saja bagi dirinya sebagai makhluk pribadi, tetapi juga bagi kehidupan kolektifnya dengan komunitas manusia lainnya. Berikutnya, agama secara sosiologis menjadi identitas kelompok yang sulit dihilangkan.

​Kontipendium Ajaran Sosial Gereja juga melarang kekerasan atas nama agama dengan menyatakan: Tindak kekerasan tidak pernah menjadi tanggapan yang benar. Dengan keyakinan akan imannya di dalam Kristus dan dengan kesadaran akan misinya, Gereja mewartakan “bahwa tindak kekerasan adalah kejahatan, bahwa tindak kekerasan tidak dapat diterima sebagai suatu jalan keluar atas masalah, bahwa tindak kekerasan tidak layak bagi manusia.

Tindak kekerasan adalah sebuah dusta, karena ia bertentangan dengan kebenaran iman kita, kebenaran tentang kemanusiaan kita. Tindak kekerasan justru merusakkan apa yang diklaim dibelanya: martabat, kehidupan, kebebasan manusia.

Kalau kita mau sempurna, tentu tidak puas dengan hanya bersikap toleran. Kalau kita mau realistis, mungkin malah harus belajar toleran. Sebab, jangankan mau sempurna mencintai sesama seperti diri sendiri, toleran pada sesama pun kita belum tentu dapat.

Menghentikan Kekerasan Agama

Ada beberapa skenario untuk mengakhiri kekerasan seperti ditawarkan oleh Marx Juergensmeyer dalam bukunya Terror in The Mind of God: The Global Rise of Religious Violence (2002). Skenario pertama merupakan salah sau dari solusi yang dilakukan melalui kekuatan. Ia meliputi contoh-contoh yang di dalamnya teroris-teroris dibinasakan atau dikendalikan dengan jalan kekerasan.

Cara yang dianggap solusi ini pada kenyataannya bukan solusi yang baik, karena setiap kekerasan yang dihadapi kekerasan akan menimbulkan kekerasan baru. Inilah yang dilakukan oleh Amerika ketika mendeklarasikan perang total melawan terorisme agama dan melaksanakannya selama bertahun-tahun. Penggunaan kekuatan untuk menghancurkan terorisme tidak jarang hanya merupakan manipulasi untuk membenarkan kepentingan di balik itu.

Misalnya apa yang dilakukan oleh Amerika  terhadap Osama bin laden bukankah ada kepentingan dibalik misi Amerika melakukan penyerangan terhadap Osama baik dari segi kepentingan ekonomi, politik dan lain-lain seperti yang disinyalir oleh surat-surat kabar belakangan ini? Karena itu, kekerasan yang dihadapi dengan kekerasan bukan merupakan solusi untuk mencegah kekerasan itu sendiri karena di samping akan menimbulkan kekerasan baru yang mungkin memakan korban lebih besar juga penggunaan sarat dengan nuansa kepentingan untuk menegakkan hegemoni seperti kasus Amerika itu.

Skenerio kedua seperti ditawarkan Marx Juergensmeyer adalah dalam bentuk ancaman pembalasan dengan kekerasan atau pemenjaraan untuk menakut-nakuti aktivis-aktivis keagamaan sehingga mereka ragu-ragu untuk beraksi. Cara ini pun dianggap tidak efektif, karena meski para aktivis itu diancam atau dipenjara, bahkan dibunuh sekalipun tidak akan berpengaruh terhadap para aktivis keagamaan lainnya.

Skenario ketiga adalah dengan melakukan kompromi atau negosiasi dengan para aktivis yang terlibat dalam terorisme. Cara ini pun seperti dikatakan oleh Marx Juergensmeyer sendiri merupakan penyelasaian yang tidak selalu berhasil. Beberapa aktivis barangkali menjadi lunak, tapi yang lain menjadi marah dikarenakan apa yang mereka sebut sebagai penjualan prinsip.

Kasus Arafat dan Hamas merupakan contoh dalam skenario ini. Setiap upaya kompromi yang dilakukan sekelompok aktivis Palestina akan membuat marah kelompok lainnya.

Skenario keempat pemisahan agama dari politik dan kembali pada landasan-landasan moral dan metafsikal. Politisasi agama dapat dipecahkan melalui sekulerisasi.

Solusi seperti ini telah dilakukan di beberapa negara di dunia ini, namun nampaknya belum menunjukkan keberhasilan alih-alih malah menimbulkan reaksi keras dari aktivis-aktivis keagamaan yang kadarnya semakin tinggi.

Skenario kelima adalah solusi-solusi yang mengharuskan pihak-pihak yang saling bertikai untuk, paling tidak pada tataran minimal, menyerukan adanya saling percaya dan saling menghormati. Hal ini ditingkatkan dan kemungkinan-kemungkinan ke arah penyelesaian dengan jalan kompromi semakin menguat ketika aktivis-aktivis keagamaan memandang otorits-otoritas pemerintahan memiliki integritas moral yang sesuai dengan, atau mengakomodir, nilai-nilai agama.

Hal ini, karena, merupakan cara penyelesaian yan kelima, ketika otoritas-otoritas sekuluer berpegang pada nilai-nilai moral, termasuk di dalamnya yang diasosiasikan dengan agama.

Menurut Marx Jurgensmeyer (2002), sangat menyedihkan bahwa pemerintah-pemerintah dari bangsa-bangsa modern begitu sering dipandang mengalami kebobrokan moral dan kehampaan spiritual sejak konsep-konsep pencerahan yang memunculkan negara-negara modern dicirikan dengan sebuah semangat moralistik yang begitu besar.

Jean-Jecques Rousseau menggunakan term agama sipil untuk menggambarkan apa yang dia sebut sebagai landasan moral dan spiritual yang esensial bagi masyarakat modern yang ingin menopang sebuah tatanan politik yang kokoh. “Agama” Rousseau ini tidak didasarkan pada dogma-dogma agama”, tapi pada apa yang dsebut “kesucian kontrak sosial”.

Bsam Tibi dalam bukunya The Challenge of Fundamentalism menawarkan solusi untuk mencegah fundamentalisme dengan menegakkan demokrasi sekuler dan HAM (that alternative is a based on seculer democracy and human right.

Barangkali solusi tambahan namun teramat penting untuk menghentikan fundamentalisme dan kekerasan agama adalah dengan menghentikan segala bentuk penindasan, menegakkan hak asasi tanpa pandang bulu, memberikan kekebasan kepada bangsa-bangsa terjajah, menumbuhkan sikap saling menghargai dan saling menghormati berdasarkan prinsip saling menghargai dan saling menghormati dalam pergaulan antar bangsa dalam suasana yang penuh persamaan dan persaudaraan.

Oleh: Ben Senang Galus
Penulis Buku, tinggal di Yogyakarta

COMMENTS

Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Agraria,1,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,3,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,231,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,2,Berita,10,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,46,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,159,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,23,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,6,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,2,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,45,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,4,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,261,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,6,Kepemudaan,151,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,59,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,56,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,42,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,41,Makanan Khas,1,Makasar,7,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,89,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,7,Nasional,240,Natal,19,Ngada,5,Novanto,1,Novel,15,NTT,117,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,356,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,22,Pariwisata,25,Partai Politik,24,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,PenaBiru,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,864,Peritiwa,2,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,2,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,22,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,81,Politikus,6,POLRI,6,PP PMKRI,1,Pristiwa,26,Prosa,1,PSK,1,Puisi,67,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,10,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,26,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,7,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Tantangan Fundamentalisme Keagamaan Dewasa Ini
Tantangan Fundamentalisme Keagamaan Dewasa Ini
https://3.bp.blogspot.com/-JDmbdysjr6Q/Ww2asfj1yDI/AAAAAAAABX0/6xk7-GXGwkk4A2hp2DjGfOSCixi-Fml6gCLcBGAs/s320/fundamentalisme%2Bagama%2Bmarjinnews.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-JDmbdysjr6Q/Ww2asfj1yDI/AAAAAAAABX0/6xk7-GXGwkk4A2hp2DjGfOSCixi-Fml6gCLcBGAs/s72-c/fundamentalisme%2Bagama%2Bmarjinnews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/05/tantangan-fundamentalisme-keagamaan.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/05/tantangan-fundamentalisme-keagamaan.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy
close