Surat Untuk Ibu
Cari Berita

Surat Untuk Ibu

16 May 2018

Ibu, Lihatlah di sana, diujung Timur pulau Jawa, Bom meluluhlantakkan tempat-tempat ibadah, banjir darah dan jasad-jasad terpanggang oleh ganasnya ledakan, daging manusia berhamburan menghiasi pelataran gereja.
 (Foto : Dok. Pribadi)

Ibu, engkau baik-baik saja?
Aku tidak.
Ibu, Hari-hari ini adalah hari yang begitu memilukan.
Situasi kian mencekam.

Riuh rendah tangisan menggelegar, membahana memecah kedamaian negeri.
Anak-anak negeri berulah memecahkan kesunyian malam.

Ibu, Lihatlah di sana, diujung Timur pulau Jawa, Bom meluluhlantakkan tempat-tempat ibadah, banjir darah dan jasad-jasad terpanggang oleh ganasnya ledakan, daging manusia berhamburan menghiasi pelataran gereja.

Sementara di sisi barat Jawa diliputi rasa takut.
Semua terusik atas ulah anak negeri.
Jubah agama dicoreng, atasnama kebenaran utopian, lalu menyisahkan phobia.

Sementara disisi lain, Aksi solidaritas mengema di seluruh pelosok negeri.
1000 lilin untuk kemanusiaan.
Doa untuk keselamatan negeri.
Aparat tak tidur.

Bhineka tunggal Ika katanya.
Mayoritas serasa minoritas.
Minoritas semakin tertekan.
Kedamaian hanyalah sebuah ilustrasi belaka.

Ketakutan, kekhawatiran menjadi santapan empuk siang dan malam dan segala rasa berbaur menjadi satu dalam sebuah ketidak pastian.

"Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakkan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai

Walaupun banyak negeri kujalani
yang mahsyur permai di kata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Disanalah ku rasa senang
Tanah ku tak kulupakan
Engkau kubanggakan

Tanah air ku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidakkan hilang dari kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai"

Ibu, ini lagu yang kau ajarkan dulu kepadaku.
Banyak negeri telah dilalui, tapi pulang membawa keresahan, bukan kebanggaan.

Luka lama belum sembuh, kini terkoyak lagi.
Darah lama belum mengering, kini mengalir darah baru.
Bau amis bangkai belum hilang, kini terendus lagi.
Air mata belum sempat diseka, kini duka memporak-porandakan hati.
Seburuk ini kah negeri ini?

Bagai sembilu menyayat hati, belati menghujam di dada.
Bara api memanggang tubuh, sakit tak terkira
Entahlah, dimana lagi air mata kan berlinang.
Membasahi pelupuk mata anak negeri.
Semoga, ini adalah akhir dari segalanya.

Ibu.
Kami tidak takut.
Kami bersatu lawan teroris.
Suroboyo wani.

Salam Anakmu

Oleh : Esradus
Aktivis PMKRI Surabaya