Penindasan Terhadap Lingkungan adalah Penindasan Terhadap Perempuan
Cari Berita

Penindasan Terhadap Lingkungan adalah Penindasan Terhadap Perempuan

31 May 2018

Usaha yang menekankan kesadaran bahwa alam adalah bagian dari kita sehingga manusia yang harus tunduk terhadap hukum-hukum alam bukan sebagai penguasa alam (Foto: Dok. Pribadi)
Perjalanan pembebasan lingkungan terhadap tindak kriminal, bukanlah perkara yang mudah apalagi di era modernisasi dan industrialisasi sekarang ini di mana sistem kapitalis menjadi raja penguasa ekonomi. Tanpa mengenal belas kasih, semua diperdagangkan atas nama kejayaan dan kemakmuran yang bernilai materi. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Yang berjaya semakin bertahta, yang melarat semakin sekarat. Pembangunan menjadi prioritas haluan negara di seluruh penjuru dunia.

Perempuan pun ikut serta menjadi korban komersil melalui produk-produk yang dihasilkan dengan merusak alam. konstruksi ukuran kecantikan membuat para perempuan berlomba-lomba untuk memenuhi panggilan kaum borjuis kepada perilaku overconsumtive. Hal inilah yang memicu ekploitasi sumber daya alam yang terjadi. Konsep yang mengunggulkan perilaku konsumtif yang menghilangkan sisi humanis manusia untuk berbelas kasih kepada sesama makhluk.

Memang dalam kriteria negara maju, persoalan lingkungan masih kasat mata. Akan tetapi tidak demikian yang dirasakan pada negara berkembang terutama pada negara tertinggal. Pada negara berkembang, problematika yang sering dijumpai berkenaan tentang persoalan akses air bersih, kemiskinan, dan kesehatan.

Sementara pada negara dengan tingkat kemiskian yang tinggi seperti di Afrika, kerusakan lingkungan benar-benar membawa bencana bagi mereka. Persoalan lingkungan dapat berujung pertikaian dan perperangan.

Dengan karakteristik simbolik yang dimilikinya, perempuanlah yang dapat merubah wajah dunia ke arah yang lebih baik. Kesadaran akan reformasi wajah bumi dimulai dengan pemberian status moral tidak hanya kepada manusia akan tetapi juga kepada non-manusia. kesetaraan dan persamaan hak berlaku kepada semua makhluk hidup tanpa terkecuali.

Usaha yang menekankan kesadaran bahwa alam adalah bagian dari kita sehingga manusia yang harus tunduk terhadap hukum-hukum alam bukan sebagai penguasa alam. Inilah yang dilakukan ekofeminis terhadap lingkungan. Ekofeminisme melihat bumi sebagai figur ibu yang harus selalu dilindungi dari segala bentuk kriminalisasi.

Ekofeminisme mensyaratkan adanya kesadaran etika lingkungan untuk merespon segala problematika ekologis secara humanis. Ikon ‘Go green’ atau ‘Green Life Style’  Green Grabing (proses legitimasi yang menggandeng tokoh agama) terdengar di berbagai belahan dunia. Akan tetapi transformasi dibutuhkan tidak hanya pada sisi paradigma dan pranata sosial aja, namun terlebih pada implementasinya. Transformasi tersebut seyogyanya tersebar hingga ke level grassroot.

Semua akan dapat berjalan apabila setiap individu memiliki potensi dan rasa tanggung jawab untuk mempergunakan otoritasnya ke arah perbaikan yang ramah lingkungan pada setiap lini seperti penghentian perilaku over consumtive, daur ulang sampah, pengembangan pertanian dan pupuk organik, Terutama pada perempuan, yang baik secara eksternal maupun internal memiliki ikatan yang erat terhadap lingkungan.

Ada banyak kearifan lokal dalam masyarakat yang beragam dapat menjadi rujukan, basis, fondasi dan logika dari teknologi dan produksi ekonomi bagi kaum perempuan agar tidak menjadikan perilaku konsumtif sebagai perilaku keseharian.  Memang, jika kita meneliti lebih dalam, kerusakan ekologi merupakan salah satu pencemaran atas budaya patriarki.

Ibarat sekali mendayung dua-tiga pulau terlampaui, feminis bergerak tidak hanya merentas problem ekologis saja, tetapi juga mencoba mendekontruksi penyimpangan gender yang turut larut didalamnya. 

Namun, yang perlu dipahami bahwa perjuangan ekologis bukanlah persoalan kaum perempuan atau laki-laki saja, akan tetapi persoalan lingkungan adalah persoalan manusia  dengan tidak mengkotak-kotakkan baik dari segi status sosial, seksualitas, ras, suku, kebangsaan atau agama.

Perempuan Hanya Simbol?
Sherry B. Ortner, seorang feminis, mengafirmasi bahwa perempuan secara simbolik diasosiasikan sebagai alam. Pemikirannya tersebut dimuat oleh Rosemarie Tong dalam bukunya berjudul ‘Feminist Though’,

“It will not be easy for women to disassociate themselves from nature, since virtually all societies believe women are closer to nature from nature than men are. There are three reasons for the near universality of this belief. First, women’s physiology is “more involed more of time with the ‘species of life’; it is woman’s body that nurtures humanity’s future. Second, women’sprimary place remains the domestic sphere, where “animal-like infants”are slowly transformed into cultural beings and where plant and animal products are shaped into food, clothing, and shelter. Third, women’s psyche, “appropriately molded to mothering functions by her own socialization” tends toward more relational, concrete, and particular modes of thinking than do men’s psyches”.

Ortner berpendapat bahwa fisiologis dan fungsi reproduksi yang khas dimiliki perempuan membuat relasi antara dirinya dan alam begitu dekat. Perempuan yang mengandung, melahirkan, dan menyusui merupakan wujud dari pemberian kehidupan, pemeliharaan, perawatan, dan pengasuhan. Sebaliknya, term ‘culture humanbeing’ mengarah kepada laki-laki dimana subordinasi perempuan bukanlah kontruksi diversitas biologis, akan tetapi pada tingkat ideologi dan sistem kebudayaan.

Perempuan secara kultural patriarki ditempatkan pada urusan domestik rumah tangga yang berkaitan erat dengan alam melalui penyediaan pangan, sandang dan papan. Apabila lingkungan rusak, maka perempuan akan menjadi korban yang paling dirugikan terhadap fenomena tersebut. Sehingga sadar atau tidak bahwa penindasan terhadap lingkungan, sama halnya penindasan terhadap kaum perempuan.

Oleh: Andi Andur