Pasca Jalani Operasi, Kondisi Mahasiswa Asal NTT Korban Bom Surabaya Sudah Membaik
Cari Berita

Pasca Jalani Operasi, Kondisi Mahasiswa Asal NTT Korban Bom Surabaya Sudah Membaik

MARJIN NEWS
13 May 2018

Berdasarkan hasil pantauan marjinnews.com ketika mengunjungi korban yang tengah dirawat di Rumah Sakit Premiere, Nginden Surabaya, Jawa Timur kondisi Rober sudah membaik. Ada bekas operasi di bagian leher dan tangannya akibat pecahan logam dari ledakan. (Foto: Istimewa)
Surabaya, marjinnews.com - Ledakan bom di tiga gereja di Surabaya terus bertambah. Terakhir berdasarkan data dari pihak kepolisian ada sekitar 8 orang yang meninggal dunia dan menyebabkan 38 orang luka-luka.

Jumlah korban tersebut total dari tiga lokasi terjadinya ledakan bom pagi ini di Gereja Santa Maria Ngagel, Gereja Kristen Indonesia di Jalan Diponegoro, dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno.

Hal ini dikatakan oleh Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Frans Barung Mangera. Menurut Frans, korban jiwa dan luka-luka telah bertambah menjadi dua kali lipat.

"Sekarang 8 korban meninggal dunia dan 38 orang luka-luka," kata Frans kepada marjinnews.com Minggu (13/5/2018).

Korban di GKI Diponegoro ada 2 orang, di Gereja Santa Maria ada 4 orang meninggal, dan 2 orang meninggal di Gereja Pantekosta Arjuno. Korban luka-luka saat ini sudah dibawa ke rumah sakit.

Salah satu korban peristiwa kemanusiaan itu adalah Robertus V. Ditu, mahasiswa asal Lembor, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur yang saat ini tengah menyiapkan diri untuk mengikuti sidang proposal skripsi pada Rabu, 16 Mei 2018 mendatang.

Berdasarkan hasil pantauan marjinnews.com ketika mengunjungi korban yang tengah dirawat di Rumah Sakit Premiere, Nginden Surabaya, Jawa Timur kondisi Rober sudah membaik. Ada bekas operasi di bagian leher dan tangannya akibat pecahan logam dari ledakan.

Dia sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa pasca operasi setelah sebelumnya dipisahkan dari korban lainnya yang dibawa ke rumah sakit bedah karena penuh.

"Tadi di sekujur tubuh korban (Rober) itu ada banyak potongan daging pelaku pengebomam. Jarak yang sangat dekat membuat darah kelepotan di badannya" ujar salah satu perawat yang enggan disebutkan namanya kepada marjinnews.com.

Sementara itu, salah satu dosen di Universtias 17 Agustus Surabaya, Kristoforus Kleden yang selalu setia mendampingi korban menjelaskan bahwa dari pihak Universitas sangat proaktif menanggapi peristiwa naas yang menimpa salah satu mahasiswa Fakultas Teknik itu.

"Tadi pagi pasca operasi pihak fakultas sudah datang menjenguk korban. Rektor UNTAG juga sudah tahu sehingga segala urusan perkuliahan korban akan diatur semuanya oleh pihak universitas" terang Kristoforus.

Pihak keluarga juga menerangkan bahwa korban pada saat kejadian hendak mengikuti misa kedua di Paroki Santa Maria Tak Bercela.

"Dia sementara hendak memarkir kendaraan sebelum masuk ke dalam Gereja. Di belakangnya ada dua orang membonceng sambil mengklakson cukup panjang. Rober sempat berpikir bahwa klakson itu tidak seperti biasanya, sehingga ia buru-buru memarkir kendaraannya sampai kemudian ada ledakan cukup hebat membuat dia terjatuh dan banyak daging dan darah manusia di badannya" ujar keluarga korban.

Sampai berita ini diturunkan Rober sementara beristirahat dan terlihat masih sangat trauma. Pihak keluarga diminta untuk tidak cemas dan banyak berdoa terkait kondisi dia. Berdasarkan informasi yang dihimpun marjinnews.com seluruh biaya rumah sakit korban ditanggung oleh pihak Gereja dan Kampus tempatnya kuliah. (AA/MN)