$type=carousel$cols=3

Parenting Perilaku Toleran, Solusi Mencegah 0,3 Persen Anak Sekolah Berpotensi Jadi Teroris

Keterlibatan anak-anak sebagai ekesekutor bom bunuh diri entah sengaja atau tidak sudah seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Bukan...



Keterlibatan anak-anak sebagai ekesekutor bom bunuh diri entah sengaja atau tidak sudah seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Bukan hanya pemerintah dan pihak terkait tetapi juga siapa saja yang bernurani dan melihat hal ini sebagai sesuatu yang sangat terkutuk untuk diamini apapun alasannya. (Foto : Dok. Pribadi)

Siapa yang menyangka bahwa mayoritas pelaku peledakan bom bunuh diri di Surabaya adalah anak-anak usia sekolah. Ini menjadi pukulan telak untuk kita semua sebagai bagian dari orang yang menyaksikan bagaimana mereka begitu menjadi sangat berani berlaku seperti barbarian di tengah kemewahan dan kondisi keseharian mereka jika ditilik secara kasat mata.

Keterlibatan anak-anak sebagai ekesekutor bom bunuh diri entah sengaja atau tidak sudah seharusnya menjadi bahan refleksi bersama. Bukan hanya pemerintah dan pihak terkait tetapi juga siapa saja yang bernurani dan melihat hal ini sebagai sesuatu yang sangat terkutuk untuk diamini apapun alasannya.

Menelisik kondisi kita sekarang ini terutama pasca tragedi Surabaya dan Riau selama seminggu terakhir hampir semua energi kita habis untuk saling menyalahkan satu dengan yang lain, berdebat soal sesuatu yang sedang ditangani pihak-pihak berkompeten, dan bahkan ada juga yang nakal mempolitisasi hal tersebut untuk kepentingan eksitensi diri sendiri.

Kita lupa bahwa hal yang paling fundamental, mendesak dan substansial saat ini adalah mencari solusi konkrit agar semua pihak terutama anak-anak tidak lagi terkontaminasi oleh paham-paham radikalisme yang semakin bobrok dan tidak bisa dibendung.

Berdasarkan penelitian Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tahun 2017, didapati 25 persen siswa dan 21 persen guru menyatakan Pancasila tak relevan lagi. Selain itu ada 84,8 persen siswa dan 76,2 persen guru setuju penerapan syariat Islam di Indonesia.

Bahkan riset itu Juga mengemukakan 52 persen siswa setuju dengan kekerasan demi solidaritas agama. Sedangkan 14 persen di antara responden itu membenarkan serangan bom.

Pada tahun 2011 hasil survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP) terhadap 59 sekolah swasta dan 41 sekolah negeri melansir opini Retno Listyarti berjudul "Ketika Radikalisme Masuk ke Sekolah" di harian Kompas edisi Jumat, 18 Mei 2018 menuai hasil yang sangat mencengangkan.

Ada sekitar 48,9 persen siswa bersedia terlibat aksi kekerasan yang terkait dengan agama dan moral. Sialnya 63,8 persen siswa mengaku bersedia terlibat dalam penyegelan rumah ibadah penganut agama lain.

Survei Setara Institute pada 2015 di 171 SMU Negeri, dengan sampel 114 sekolah, menemukan 8,5 persen anak sekolah setuju dasar negara pancasila diganti dengan negara berbasis agama dan 7,2 persen siswa setuju eksistensi gerakan ISIS.

Survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan Desember 2015, terindikasi dukungan terhadap ISIS menguat. Terdapat 4 persen warga berusia 22-25 tahun dan 5 persen warga yang masih sekolah dan kuliah mengenal ISIS dan menyatakan setuju dengan apa yang diperjuangkan ISIS.

Juga pada tahun 2016 berdasarkan hasil survei Setara Institute terhadap siswa SMA di Jakarta dan Bandung menunjukkan bahwa 2,7 persen siswa masuk dalam kategori inteloran aktif atau radikal dan 0,3 persen siswa berpotensi menjadi teroris.

Data-data itu sangat mencengangkan dan tentu membuat banyak orang menggelengkan kepala membacanya. Artinya pada kondisi ini sebenarnya sudah mencapai puncak kekwatiran bersama terkait perilaku anak-anak atau adik-adik kita.

Sehingga bagi penulis penting untuk kita tidak hanya menyoal RUU Antiterorisme namun juga turut meminta pemerintah memperhatikan terkait kurikulum toleransi dalam pendidikan Indonesia.

Meski demikian walau penulis juga agak ragu dengan upaya pendekatan secara hukum akan membuat teroris tidak akan berkembang biak, saya mencoba menawarkan solusi kecil dalam upaya menangkal perilaku radikal yang berimbas pada adanya aksi terorisme melibatkan anak-anak seperi bom bunuh di Surabaya.

Landasan dasar penulis menyampaikan solusi tersebut memang tidak berdasarkan kajian ilmiah yang mumpuni, namun terlepas dari kesemuanya itu bukankah segala bentuk masukan dan itikat baik perlu diakomodir juga? Lalu menelisik akar penyebaran radikalisme pada anak usia sekolah yang bermula dari adanya pemahaman atau input soal prilaku intoleran, berikut solusi dari penulis untuk para orang tua yang berkesadaran menyelamatkan anak-anaknya di masa depan:
1. Tunjukkan Cinta
Tunjukkan kepada anak bahwa cinta Anda tidak bersyarat. Tunjukkan rasa cinta dan hormat Anda, bahkan pada orang-orang yang berbeda dari Anda. Tunjukkan rasa cinta juga pada diri Anda sendiri (misalnya dengan tidak terus menerus berkomentar bahwa Anda sedang gendut, rambut keriting Anda jelek sekali), dan biarkan anak-anak melihat bahwa Anda tidak menghakimi siapa pun.



2. Membangun Harga Diri Anak
Anak yang memandang positif dirinya cenderung memandang positif orang lain. Mereka tidak mudah merasa terancam jika orang lain berbeda dengannya. Anak yang bahagia, gembira, dan diperlakukan penuh hormat juga cenderung memperlakukan orang lain dengan hormat. Anak-anak yang merasa nyaman dengan dirinya juga lebih senang bereksplorasi dan tidak ragu berdebat dengan sehat.


3. Tidak Menilai Pihak Lain
 Kita hidup dalam dunia yang tidak sempurnya. Tidak ada  manusia yang sempurna. Siapa saja dari suku apa saja, dan dari agama apa pun bisa melakukan kesalahan. Tahan diri Anda untuk berkomentar menyangkut perbedaan (ras, suku, agama) dengan hal salah yang mereka lakukan. Dengan demikian anak pun belajar dari Anda untuk selalu memaafkan dan menghargai perbedaan.
  

4. Menghargai Tradisi Keluarga dan Belajar Tradisi Lain
Rayakan tradisi dalam keluarga Anda dengan gembira dan penuh hormat. Diskusikan makna tradisi itu bagi Anda dan keluarga. Cobalah mengeksplorasi tradisi lain, hari raya lain, di luar zona nyaman Anda. Ajak anak memperhatikan bagaimana tradisi dan hari raya yang berbeda memberi makna bagi pelakunya. 



5. Biarkan Anak Terpapar Keragaman
Ketika Anda hendak memilih sekolah untuk anak, kegiatan usai sekolah, atau kegiatan selama liburan seperti holiday camp, pertimbangkan keragaman yang akan ia temui. Salah satu cara terbaik untuk membuat anak mau memahami orang lain adalah dengan mengalaminya sendiri. Pengalaman menjelajah dan berkenalan dengan ragam budaya dan masyarakat akan membuat anak bisa menghargai dan menghormati orang lain dan tetap bisa mengekspresikan pandangan, nilai-nilai, atau budaya. Ajari anak bahwa kita tak harus setuju atau mengadopsi perbedaan itu, tapi kita bisa selalu menghargai orang lain yang berpegang teguh pada nilai yang dianutnya.



6. Pilih dan Pilah Media untuk Anak
Tanpa kita sadari, media yang ditonton, dibaca, dan didengar anak juga turut serta memberi masukan mengenai stereotipe, kesetaraan, dan rasa hormat kepada sesama. Mama perlu jeli membaca pesan tersirat dari alur cerita, penokohan, dialog atau sudut pandang penceritaan dari media yang dinikmati anak. Meski demikian, dunia tidak mungkin steril dari semua hal yang berseberangan dengan nilai keluarga Anda. Sekali lagi, kebiasaan berdiskusi menjadi kuncinya.



Bila orang tua mendorong sikap toleran pada anak-anaknya, membicarakan nilai-nilai dalam keluarga dan mencontohkan perilaku serta ucapan yang menunjukkan bahwa kita menghargai semua orang, anak-anak akan mengikuti jejak kita.

Oleh: Andi Andur

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahok,25,Aktivis,1,Alam,2,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,211,Asmat,4,Asusila,5,Badung,7,Bali,94,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,12,BBM,1,Bencana Alam,1,Berita,2,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,39,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Camilian,1,Cerpen,135,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,433,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,21,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,E-KTP,4,Editorial,38,Edukasi,1,Ekonomi,3,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,27,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,5,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,3,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,20,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,29,Human Trafficking,4,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,6,Imlek,2,Indonesia,1,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,14,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,1,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,2,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,2,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,222,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,1,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,65,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,4,Kepemudaan,121,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,13,Komodo,5,Komunikasi,1,Komunitas,5,Korban,1,Korupsi,57,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,45,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,40,Lakalantas,7,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,1,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,13,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,35,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,79,Manggarai Barat,1,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,Narkoba,5,Nasional,222,Natal,19,Ngada,1,Novanto,1,Novel,15,NTT,104,Nyepi,2,Olahraga,10,Opini,320,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,20,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,1,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,80,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,22,Peristiwa,783,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,Pilgub,41,Pilkada,100,PKRI,1,PMII,1,PMKRI,21,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,59,Politikus,4,POLRI,6,Pristiwa,18,Prosa,1,PSK,1,Puisi,51,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,7,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,21,Sajam,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,Somasi,1,Sosial,1,Sosok,3,Sospol,35,Start Up,1,Sumba,11,Surabaya,31,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,Tokoh,14,Tol Laut,1,Toleransi,2,traveling,3,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Parenting Perilaku Toleran, Solusi Mencegah 0,3 Persen Anak Sekolah Berpotensi Jadi Teroris
Parenting Perilaku Toleran, Solusi Mencegah 0,3 Persen Anak Sekolah Berpotensi Jadi Teroris
https://4.bp.blogspot.com/-qTvuaYh9wgQ/Wv8vtPVx2vI/AAAAAAAABSE/XWnOJq51T6ca0ev33DtgBB6MvrOtd95DACLcBGAs/s320/IMG-20180519-WA0012.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-qTvuaYh9wgQ/Wv8vtPVx2vI/AAAAAAAABSE/XWnOJq51T6ca0ev33DtgBB6MvrOtd95DACLcBGAs/s72-c/IMG-20180519-WA0012.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/05/parenting-perilaku-toleran-solusi.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/05/parenting-perilaku-toleran-solusi.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy