$type=carousel$cols=3

Obrolan Politik Di Kalangan Masyarakat Awam

Di kalangan awam, Caleg potensial masih saja diasosiasikan dengan modal finansial seorang kandidat (Foto: Dok. Pribadi). Menjelang pemil...

Di kalangan awam, Caleg potensial masih saja diasosiasikan dengan modal finansial seorang kandidat (Foto: Dok. Pribadi).
Menjelang pemilu 2019, berbagaia gosip politik di kalangan kelompok menengah dengan basis pikiran rasional justru gagal memicu terwujudnya pemilih rasional dan berkualitas. Masyarakat awam yang belakangan diklaim mulai cerdas berpolitik justru memiliki asumsi tersendiri yang masih negatif.

​Salah satu yang paling kuat adalah gosip seputar Caleg potensial.

Di kalangan awam, Caleg potensial masih saja diasosiasikan dengan modal finansial seorang kandidat. Mayoritas pemilh kita masih meyakini bahwa politisi yang memiliki uang banyak baik itu untuk mebiayai tim suksesnya, maupun persiapan money politic, masih berpotensial menang. Asumsi ini kemudian membawah demikian luas, dan pelan-pelan akan menjadi preferensi masyarakat dalam memilih.

​Menguatnya wabah politik uang justru diendus pula oleh para politisi. Politisi yang bertarung dalam pilkada ini tentunya sangat mengetahui hal tersebut. Dan pekerjaan pertama mereka adalah memperbesar kantong-kantong pendanaan. Sebagian besar para Caleg memperoleh dananya dari dana-dana pribadi, sumbangan keluarga, dll. Itu atrtinya, para caleg akan menghabiskan uang dengan nominal yang tidak terbatas karena kebutuhan memperoleh suara yang sangat mahal.

​Karena variabel pendanaan diyakini sebagian besar para kandidat dapat mendongkrak perolehan suaranya, maka pertarungan dikalangan awam akan menjadi lebih panas. Masyarakat awam juga memanfaatkannya sebagai lahan basah. Hal ini terbangun karena ada presepsi dikalangan bawah bahwa politik itu adalah apa dan berapa yang bisa diperoleh dari “mereka para politisi” menjelang pemilihan.

​Kalau para caleg tidak cerdas mengelola basis dan jaringan pemilihannya, maka mereka dengan mudah dipermainkan. Karena potensi basis pemilih palsu sangat besar. Pemilih palsu akan memanfaatkan akses ke beberapa caleg. Dalam istilah sehari-hari “ambil uangnya semua dan pilihlah satu diantaranya yang paling banyak uangnya, atau kalu perlu pilih semuannya biar adil”.

​Tidak hanya itu, para caleg akan direpotkan dengan ajakan dari sejumlah toko masyarakat yang mempunyai basis masa. Para caleg kemudian diminta untuk membiayai disetiap pertemuan-pertemuan atau kegiatan, atau dana-dana pengamanan basis. Padahal, sebagian besar ajakan itu belum tentu benar dan hanya akan menghabiskan dana dari para caleg yang bersangkutan.

​Parahnya lagi, sebagian para caleg tidak mengerti dan paham kondisi sosiologis masyarakat, demografi pemilih dan pemetaan politik. Para caleg cendrung lebih senang pada klaim-klaim suara yang membuatnya berangan-angan ketimbang perhitungan basis masa secara ril. Bahkan ada beberapa caleg yang mulai mendatangi praktik pendukungan untuk menerawang potensi kemenangannya. Ahhhh, ini lebih tragis lagi.

​Apapun itu, menjelang pemilu 2019, semua caleg akan melakukan apa saja untuk bisa menang. Dan itu berarti bahwa secara psikologis, sesungguhnya sebagian besar caleg lebih siap menderita kalah dari pada menang. Karena kekalahan akan membuatnya lebih fokus membenahi pengorbanan besar yang telah dikeluarkan. Sementara seandainya mereka menang dalam setiap pertarunagan politik tersebut, mereka akan menikmati dua penderitaan sekaligus, yang pertama mereka memikirkan, apakah dirinya sanggup menghadapi beban besar sebagai wakil rakyat.

​Singkatnya, kita membutuhkan wakil rakyat yang memang sudah siap untuk menghadapai dalam segala hal. Terutama siap menang dengan pola-pola pemenangan yang baik, lebih bermartabat, dan dipilih karena kapasitas kepemimpinannya. Dan yang lebih penting adalah, politisi harus mengetahui apa sebenarnya gejala psikologis pemilih.

Sebaliknya masyarakat pemilih juga harus pandai menilai serta mengambil keputusan utnuk memilih pemimpin yang cerdas dan paham akan apa yang diinginkan oleh masyarakatnya.

Semoga  pemilu 2019 tidak sekedar melahirkan aktor-aktor politik yang hanya akan pandai bergosip di parlemen.

Oleh: Jhon Jerudin

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahok,25,Aktivis,1,Alam,2,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,211,Asmat,4,Asusila,5,Badung,7,Bali,94,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,12,BBM,1,Bencana Alam,1,Berita,2,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,39,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Camilian,1,Cerpen,135,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,433,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,21,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,E-KTP,4,Editorial,38,Edukasi,1,Ekonomi,3,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,27,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,5,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,3,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,20,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,29,Human Trafficking,4,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,6,Imlek,2,Indonesia,1,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,14,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,1,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,2,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,2,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,222,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,1,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,65,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,4,Kepemudaan,121,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,13,Komodo,5,Komunikasi,1,Komunitas,5,Korban,1,Korupsi,57,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,45,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,40,Lakalantas,7,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,1,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,13,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,35,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,79,Manggarai Barat,1,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,Narkoba,5,Nasional,222,Natal,19,Ngada,1,Novanto,1,Novel,15,NTT,104,Nyepi,2,Olahraga,10,Opini,320,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,20,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,1,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,80,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,22,Peristiwa,783,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,Pilgub,41,Pilkada,100,PKRI,1,PMII,1,PMKRI,21,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,59,Politikus,4,POLRI,6,Pristiwa,18,Prosa,1,PSK,1,Puisi,51,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,7,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,21,Sajam,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,Somasi,1,Sosial,1,Sosok,3,Sospol,35,Start Up,1,Sumba,11,Surabaya,31,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,Tokoh,14,Tol Laut,1,Toleransi,2,traveling,3,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Obrolan Politik Di Kalangan Masyarakat Awam
Obrolan Politik Di Kalangan Masyarakat Awam
https://4.bp.blogspot.com/-HmpAe_Kzy04/Ww2jjh3ONBI/AAAAAAAABYA/rKa1IQYEA3ATj_-YktzM6fT2_nEYbEjvACLcBGAs/s320/81728602-f411-4ad2-bd34-28cf02136f55.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-HmpAe_Kzy04/Ww2jjh3ONBI/AAAAAAAABYA/rKa1IQYEA3ATj_-YktzM6fT2_nEYbEjvACLcBGAs/s72-c/81728602-f411-4ad2-bd34-28cf02136f55.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/05/obrolan-politik-di-kalangan-masyarakat.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/05/obrolan-politik-di-kalangan-masyarakat.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy