Obrolan Politik Di Kalangan Masyarakat Awam
Cari Berita

Obrolan Politik Di Kalangan Masyarakat Awam

MARJIN NEWS
30 May 2018

Di kalangan awam, Caleg potensial masih saja diasosiasikan dengan modal finansial seorang kandidat (Foto: Dok. Pribadi).
Menjelang pemilu 2019, berbagaia gosip politik di kalangan kelompok menengah dengan basis pikiran rasional justru gagal memicu terwujudnya pemilih rasional dan berkualitas. Masyarakat awam yang belakangan diklaim mulai cerdas berpolitik justru memiliki asumsi tersendiri yang masih negatif.

​Salah satu yang paling kuat adalah gosip seputar Caleg potensial.

Di kalangan awam, Caleg potensial masih saja diasosiasikan dengan modal finansial seorang kandidat. Mayoritas pemilh kita masih meyakini bahwa politisi yang memiliki uang banyak baik itu untuk mebiayai tim suksesnya, maupun persiapan money politic, masih berpotensial menang. Asumsi ini kemudian membawah demikian luas, dan pelan-pelan akan menjadi preferensi masyarakat dalam memilih.

​Menguatnya wabah politik uang justru diendus pula oleh para politisi. Politisi yang bertarung dalam pilkada ini tentunya sangat mengetahui hal tersebut. Dan pekerjaan pertama mereka adalah memperbesar kantong-kantong pendanaan. Sebagian besar para Caleg memperoleh dananya dari dana-dana pribadi, sumbangan keluarga, dll. Itu atrtinya, para caleg akan menghabiskan uang dengan nominal yang tidak terbatas karena kebutuhan memperoleh suara yang sangat mahal.

​Karena variabel pendanaan diyakini sebagian besar para kandidat dapat mendongkrak perolehan suaranya, maka pertarungan dikalangan awam akan menjadi lebih panas. Masyarakat awam juga memanfaatkannya sebagai lahan basah. Hal ini terbangun karena ada presepsi dikalangan bawah bahwa politik itu adalah apa dan berapa yang bisa diperoleh dari “mereka para politisi” menjelang pemilihan.

​Kalau para caleg tidak cerdas mengelola basis dan jaringan pemilihannya, maka mereka dengan mudah dipermainkan. Karena potensi basis pemilih palsu sangat besar. Pemilih palsu akan memanfaatkan akses ke beberapa caleg. Dalam istilah sehari-hari “ambil uangnya semua dan pilihlah satu diantaranya yang paling banyak uangnya, atau kalu perlu pilih semuannya biar adil”.

​Tidak hanya itu, para caleg akan direpotkan dengan ajakan dari sejumlah toko masyarakat yang mempunyai basis masa. Para caleg kemudian diminta untuk membiayai disetiap pertemuan-pertemuan atau kegiatan, atau dana-dana pengamanan basis. Padahal, sebagian besar ajakan itu belum tentu benar dan hanya akan menghabiskan dana dari para caleg yang bersangkutan.

​Parahnya lagi, sebagian para caleg tidak mengerti dan paham kondisi sosiologis masyarakat, demografi pemilih dan pemetaan politik. Para caleg cendrung lebih senang pada klaim-klaim suara yang membuatnya berangan-angan ketimbang perhitungan basis masa secara ril. Bahkan ada beberapa caleg yang mulai mendatangi praktik pendukungan untuk menerawang potensi kemenangannya. Ahhhh, ini lebih tragis lagi.

​Apapun itu, menjelang pemilu 2019, semua caleg akan melakukan apa saja untuk bisa menang. Dan itu berarti bahwa secara psikologis, sesungguhnya sebagian besar caleg lebih siap menderita kalah dari pada menang. Karena kekalahan akan membuatnya lebih fokus membenahi pengorbanan besar yang telah dikeluarkan. Sementara seandainya mereka menang dalam setiap pertarunagan politik tersebut, mereka akan menikmati dua penderitaan sekaligus, yang pertama mereka memikirkan, apakah dirinya sanggup menghadapi beban besar sebagai wakil rakyat.

​Singkatnya, kita membutuhkan wakil rakyat yang memang sudah siap untuk menghadapai dalam segala hal. Terutama siap menang dengan pola-pola pemenangan yang baik, lebih bermartabat, dan dipilih karena kapasitas kepemimpinannya. Dan yang lebih penting adalah, politisi harus mengetahui apa sebenarnya gejala psikologis pemilih.

Sebaliknya masyarakat pemilih juga harus pandai menilai serta mengambil keputusan utnuk memilih pemimpin yang cerdas dan paham akan apa yang diinginkan oleh masyarakatnya.

Semoga  pemilu 2019 tidak sekedar melahirkan aktor-aktor politik yang hanya akan pandai bergosip di parlemen.

Oleh: Jhon Jerudin