$type=carousel$cols=3

MENGULANG WAKTU

Mesin waktu yang dapat mengembalikan suasana kembali ke masa lalu (Foto: Ilustrasi) Oskar menghela napas panjang. "Hhhh... Ak...

Mesin waktu yang dapat mengembalikan suasana kembali ke masa lalu (Foto: Ilustrasi)




Oskar menghela napas panjang.

"Hhhh... Akhirnya selesai juga!" batinnya berseru lega seraya menatap mesin di hadapannya dengan penuh kepuasan.

   "Wah! Akhirnya jadi juga mesin waktunya, Prof!" Edo, asistennya, berseru penuh kekaguman.

   "Tinggal diuji coba saja," sahut Oskar seraya merapikan mesin tersebut.

   "Bagaimana cara mengujinya, Prof?"

   "Aku sendiri yang akan mencoba. Dengan alat remote kontrol ini, aku akan masuk ke tabung mesin waktu. Lalu menekan tombol hijau pada remote untuk membawaku ke waktu yang kuinginkan, dan menekan tombol merah untuk berhenti dan kembali ke waktu sekarang," jelas Oskar seraya memperlihatkan sebuah remote di tangan.

   "Hebat, Prof!" puji Edo.

"kalau mesin ini berhasil, anda bisa menjadi milyuner, Prof! Orang - orang akan berlomba - lomba membayar mahal untuk mesin waktu ciptaanmu ini!"

   Oskar menghela napas, "kau tahu, bukan itu tujuanku menciptakan mesin waktu ini."

   Sesaat Edo tertegun, "Lantas, untuk apa Prof?"

"Untuk mengembalikan kehidupan istriku tercinta," ucap Oskar seraya menerawang jauh, "Ia meninggal karena salahku. Ia memiliki penyakit lemah jantung. Semestinya waktu itu ia tak kubawa keluar untuk jalan - jalan. Siapa menyangka, ada bom meledak di gedung pusat perbelanjaan di mana kami berada. Istriku sangat terkejut, hingga jantungnya terpukul hebat. Ia tak tertolong lagi saat dilarikan ke rumah sakit. Andai waktu itu aku tak mengajaknya keluar, mungkin ia masih hidup hingga kini, mendampingiku."

   Edo tertegun diam.

   "Jadi, anda bersusah payah bekerja mati - matian siang malam menciptakan mesin waktu ini, dengan tujuan untuk mencegah kematian istri anda?"

   Oskar menghela napas panjang.

   "Aku amat mencintainya. Dia satu - satunya wanita yang kupuja seumur hidupku. Dia adalah semangat hidupku. Aku benar - benar tak bisa menerima kepergiannya, karena salahku itu," ucap Oskar sendu.

"Kini dengan mesin waktu ciptaanku, aku akan mengulang waktu saat bersama istriku. Aku akan mencegah kematiannya!"

   Si asisten diam tertegun.

   "Ayo, bantu aku! Kita coba sekarang mesin ini. Aku sudah tak sabar untuk bertemu istri tercintaku kembali," perintah Oskar.

   Mereka pun menyiapkan mesin itu. Penunjuk waktu disetel ke masa tiga tahun silam. Profesor Oskar masuk ke dalam sebuah tabung kaca di samping mesin tersebut. Edo menyalakannya. Terdengar bunyi gemuruh lembut. Lampu-lampu indikator menyala. Energi mesin terisi penuh. Mesin telah siap untuk perjalanan mengulang waktu.

 Edo mengacungkan jempolnya ke arah Sang Profesor. Oskar mengangguk. Perlahan ia tekan tombol hijau pada remote di tangannya. Seketika ruangan dalam tabung itu nampak bergelombang seperti riak air di telaga. Terus bergelombang ... semakin cepat. Hingga tubuh Sang Profesor nampak membuyar tertutup gelombang itu. Semakin lama, semakin cepat! Lalu, tiba-tiba menghilang begitu saja bersama tubuh Sang Profesor!

***

   'Di mana aku?' batin Oskar bertanya.

   Sesaat ia menatap ruangan di mana ia kini berdiri.

   'Ini ... ini kan ruang tengah rumahku!' batinnya memastikan, 'iya, betul! Ini ruang tengah rumahku! Sepertinya aku berhasil!'

   Tiba - tiba terdengar langkah perlahan mendekati.

   "Papa sayang, ayo kita berangkat sekarang. Mama sudah selesai nih!" seorang wanita cantik muncul di ruang itu.

   Oskar terpana ..., 'Laura! Is ... istriku ...!' seru batinnya.

   Wanita itu balas menatap Oskar.

   "Iih, Papa! Kenapa melihat Mama seperti itu? Kayak yang baru pernah ketemu saja!" ucapnya setengah tersipu, "ayo! Jadi gak kita jalan - jalannya?"

   Oskar bersorak gembira dalam hati. Namun ia segera bisa menguasai luapan emosinya. Sesaat ia berpikir ....

   "Mmm, maaf Mama sayang. Kita gak jadi saja jalan - jalannya, ya! Percayalah sama Papa. Ini demi kebaikan Mama," katanya membujuk.

   Laura nampak cemberut, "yah ... kok gak jadi?"

   "Pliiss .... Papa mohon sama Mama. Sekali ini saja kita batalin keluar jalan - jalan. Kita di rumah saja menikmati malam. Untuk kali ini saja. Papa janji, besok Papa akan ajak Mama jalan - jalan ke mana saja Mama mau!"

   "Hhmm .... Ya sudah, tidak apa - apa. Tapi besok kita jalan - jalan ya, Pa?" akhirnya Sang istri mau menerima.

   "Terima kasih, Mama sayang. Terima kasih," sahut Oskar gembira.

   "Ya sudah. Mama ganti baju saja lagi ya, Pa," ucap Laura seraya melangkah ke kamar tidur, "oh ya, Pa. Itu ada kabel terlepas dekat mesin cuci. Bahaya tuh, Pa. Di situ kan sering kena air dan becek!"

   "Iya! Nanti Papa betulkan."

   "Dari kemarin juga sudah dikasih tahu. Masa seorang bergelar profesor ahli mesin, membiarkan ada kabel terlepas di rumahnya?" ucap Laura lagi setelah berganti baju. Ia kini melangkah menuju dapur.

   "Iya, iya, Mama sayang. Kan tahu sendiri kalau Papa sibuk sekali dengan pekerjaan. Jadi sering terlupa. Apalagi ...."

  Ucapan Oskar terhenti seketika saat terdengar suara benda jatuh.

   Buuuk!

   Rasa terkejutnya semakin menjadi ketika terdengar jerit melengking kesakitan!

   Aaaaaaaa ...!

   Seketika Oskar menghambur ke ruangan dapur dengan panik.

   "Mamaa! Mama kenapa? Maa!" serunya memanggil.

   Dan kakinya terpaku gemetar. Matanya membelalak tak percaya, saat dilihatnya Laura tengah tergeletak di lantai dengan tubuh berkelojotan oleh setruman arus listrik bertegangan tinggi! Nampak genangan air membasahi tubuh Sang Istri, dan sebuah kabel besar menempel pada lantai di mana ia tergeletak. Laura terus berkelojotan hingga asap mengepul dari sekujur tubuhnya yang mulai menghitam.

   Oskar jatuh terduduk dengan sekujur tubuh gemetar hebat!

   "Tidak! Tidaak! Tiidaaaak!" teriaknya nyaring! "mengapa jadi begini? Ini tidak boleh terjadi! Aku harus mengulanginya lagi!"

   Dengan tergesa - gesa, Oskar mengeluarkan remote waktu dari sakunya. Lalu dengan tangan gemetar, ia menekan tombol merah. Seketika muncul gelombang bagai riak air di sekitar tubuh Oskar. Semakin lama, semakin cepat. Seakan menelan tubuhnya, hingga kemudian menghilang dari ruangan itu.

***

  Oskar kembali menekan tombol hijau. Gelombang itu perlahan mereda. Lalu hilang begitu saja.

   Sesaat Oskar menatap ke sekelilingnya. 'Ini ..., aku kembali ke ruang tengah rumahku!' batinnya bergumam.

   Tiba - tiba terdengar langkah perlahan mendekati.

   "Papa sayang, ayo kita berangkat sekarang. Mama sudah selesai nih!" Laura muncul di ruangan itu.

   Oskar termangu menatap istrinya ..., 'Ah, ia telah kembali!' seru batinnya.

   Laura balas menatap Oskar.

   "Iih, Papa! Kenapa melihat Mama seperti itu? Kayak yang baru pernah ketemu saja!" ucapnya setengah tersipu, "ayo! Jadi gak kita jalan - jalannya?"

   Oskar gembira tak terkira. Ia segera berpikir cepat untuk mencegah kejadian yang barusan ia alami ....

   "Tentu jadi dong, Mama sayang!" jawabnya kemudian, "yuk!"

   Mobil pun melaju ke jalan raya.

   "Lho, Pa? Kok belok ke kiri? Bukannya pusat perbelanjaan itu ke arah kanan?" tanya Laura heran.

   "Kita jangan ke pusat perbelanjaan itu. Kita ke mall yang lain saja. Sesekali kita jalan - jalan, merasakan tempat perbelanjaan yang lain," jawab Oskar.

   "Ooh. Ya sudah, Mama ikut Papa saja, maunya ke mana."

    Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Saat melintas di sebuah perempatan, tiba - tiba sebuah sepeda motor menerobos traffic light, meluncur ke arah mobil yang dikendarai Oskar. Oskar terkejut! Seketika ia membanting setir, menghindari motor itu! Malangnya, dari arah berlawanan, sebuah truk tangki meluncur dengan cepat! Oskar hanya mampu ternganga!

   Brruuaaaak!

   Tabrakan keras pun tak dapat dihindari! Mobil yang dikendarai Oskar terlempar, berguling - guling di aspal jalan. Jerit Laura terdengar nyaring melengking! Saat mobil berhenti berguling dalam posisi terbalik, jeritan Laura pun menghilang. Oskar menatap Sang Istri yang terkapar diam dengan berlumuran darah di wajah dan sekujur tubuhnya.

   "Tidaak!"Tidaak! Tiidaaak!" jerit Oskar parau, "mengapa ini terjadi lagi? Tidaak! Aku mesti mengulanginya lagi!"

   Dengan susah payah, Oskar mengambil remote mesin waktu dari saku celananya. Ia langsung menekan tombol merah. Seketika muncul gelombang bagai riakan air menelan tubuhnya!

***

   Saat Oskar menekan tombol hijau, iapun kembali di ruang tengah rumahnya. Kembali terdengar langkah perlahan mendekati.

   "Papa sayang, ayo kita berangkat sekarang. Mama sudah selesai nih!" Laura muncul di ruangan itu.

   Oskar menatap istrinya dengan gembira, 'sekarang tak boleh gagal!' seru batinnya.

   Laura balas menatap Oskar.

   "Iih, Papa! Kenapa melihat Mama seperti itu? Kayak yang baru pernah ketemu saja!" ucapnya setengah tersipu, "ayo! Jadi gak kita jalan - jalannya?"

   "Iya, jadi kok!" sahut Oskar.

   Mobil pun melaju membelah jalan.

   "Lho, Pa? Itu pusat perbelanjaannya sudah terlewat!" seru Laura kaget.

   "Tidak apa - apa. Kita karaokean saja yuk! Sudah lama Papa tidak mendengar suara merdu Mama menyanyi," sahut Oskar.

   "Iih, Papa, ada - ada saja. Ya sudah, terserah Papa saja."

   Mereka pun menghabiskan waktu di sebuah karaoke keluarga. Hingga saat bom meledak di pusat perbelanjaan itu, tanpa terdengar oleh mereka yang sedang asyik bernyanyi.

   'Berhasil! Lauraku sayang telah selamat! Ia tak jadi meninggal!' seru batin Oskar gembira.

   Setelah larut malam, mereka pun pulang. Oskar menjalankan mobilnya dengan sangat hati - hati, hingga sampai di rumah mereka.

   Dan esoknya, kehidupan mereka berjalan seperti biasa. Oskar sangat bahagia. 'Mesin itu benar-benar telah berhasil mengulang waktu, mengembalikan hidup istriku tercinta!' pikir Oskar, 'aku akan membuatnya lagi. Memproduksinya sebanyak - banyaknya. Aku akan menjadi kaya dan terkenal. Lalu hidup bahagia dengan istriku tercinta.'

   Mulailah Oskar kembali bekerja lebih giat untuk mewujudkan pemikirannya itu. Tak terasa tiga bulan telah terlewati. Suatu hari, Oskar menemukan istrinya terbatuk - batuk hingga mengeluarkan darah. Ia segera membawa Laura ke rumah sakit. Dan hasil pemeriksaan dokter membuatnya terpana!

   "Maaf, Pak. Istri anda positif mengidap penyakit HIV," kata Dokter.

   'Mustahil! Bagaimana bisa ia terkena penyakit AIDS itu?' batinnya bingung.

   Disertai isak tangis penuh penyesalan, Laura bercerita ...,

   "Ampuni aku, Pa. Aku telah terjerumus ke dalam dosa. Papa selama ini terlalu sibuk dengan pekerjaaan. Hingga aku terabaikan. Aku rindu dan haus kasih sayangmu. Dan aku tak berdaya menahan hasrat itu saat seorang pria muda menggodaku. Aku terperangkap dalam rayuannya, hingga kuserahkan seluruh tubuh dan hartaku. Ternyata, ia seorang bajingan penipu! Ia hanya menginginkan tubuh dan uangku. Kini ia telah pergi, namun dengan meninggalkan penyakit terkutuk ini padaku. Ampuni aku, Pa ...!"

   Oskar terpana dalam kebingungan. Tak tahu apa yang mesti ia perbuat. Dan penyakit Sang Istri semakin menyerang hebat! Laura tersiksa hingga di detik - detik akhir hidupnya. Oskar terpuruk dalam kagalauan. 'Akhirnya ... ia tetap meninggal juga. Namun kini, ia meninggal dalam keadaan berdosa dan tersiksa di akhir hayatnya. Ya, Tuhan! Masih jauh lebih baik bila ia meninggal akibat serangan jantung itu, tanpa dosa ia bawa serta,' pikirnya menerawang jauh, 'andai aku tak mengulang waktu, mungkin Laura tak akan terjerumus dalam dosa. Mungkin ia akan meninggal dalam damai seperti yang telah terjadi sebelumnya. Semua ini salahku!'.

   Dengan tangan gemetar, Oskar mengeluarkan remote mesin waktu. Perlahan, jarinya menekan tombol merah dengan penuh kepastian.

***

   Gelombang muncul dalam tabung mesin waktu. Oskar telah kembali ke masanya. Perlahan ia melangkah keluar dari tabung itu.

   "Bagaimana, Prof? Berhasilkah mesin waktu itu? Apa yang terjadi di sana?" Edo memberondongnya dengan pertanyaan beruntun.

 
     Oskar diam tak menjawab. Ia meraih sebuah palu besar, lalu berjalan mendekati mesin waktu. Dengan sekuat tenaga, ia hantamkan palu itu ke mesin tersebut.

   Duuaakk! Duuuaakk! Duuaaarr!

   Mesin waktu hancur berkeping - keping! Tinggal tersisa puing rongsokan yang mengepulkan asap tebal. Edo terpana bingung.

   "Kenapa kau hancurkan mesin waktu itu, Prof?"

   Dengan senyum getir, Oskar menjawab penuh keyakinan,

   "Aku telah beberapa kali mengulang waktu dengan cara yang terbaik menurutku. Semua tidak ada yang berjalan sesuai rencana dan keinginan. Hingga akhirnya aku tersadar .... Dan, percayalah! Tuhan adalah Maha Perencana. Waktu yang Ia berikan pada kita, adalah rencana-Nya yang terbaik! Tinggal bagaimana kita menjalani sebaik - baiknya sesuai petunjuk-Nya."

Oleh : Heribertus Kandang
Marjinnews Makassar

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,2,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,227,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,2,Berita,3,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,42,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,141,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,22,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,5,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,44,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,241,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,2,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,139,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,58,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,55,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,41,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,36,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,86,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,6,Nasional,238,Natal,19,Ngada,4,Novanto,1,Novel,15,NTT,116,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,341,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,24,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,87,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,859,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,21,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,80,Politikus,6,POLRI,6,Pristiwa,25,Prosa,1,PSK,1,Puisi,63,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,9,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,23,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,15,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: MENGULANG WAKTU
MENGULANG WAKTU
https://1.bp.blogspot.com/-0L19GglhSfI/WwtnD3OTYMI/AAAAAAAABWo/TKhZgZWQXEcYaWeNTB4W3-nfn4scb-NKgCLcBGAs/s320/images.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-0L19GglhSfI/WwtnD3OTYMI/AAAAAAAABWo/TKhZgZWQXEcYaWeNTB4W3-nfn4scb-NKgCLcBGAs/s72-c/images.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/05/mengulang-waktu.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/05/mengulang-waktu.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy