Mengenal Esra, Perempuan Perintis Perpustakaan di Asmat
Cari Berita

Mengenal Esra, Perempuan Perintis Perpustakaan di Asmat

21 May 2018

Tidak semua dari kita dapat melakukan hal-hal besar. Namun kita dapat melakukan hal kecil dengan cinta yang besar. Inilah kutipan yang mengilhaminya. Kutipan ini berasal dari Bunda Teresa, seorang biarawati yang sangat humanis dari India, Kalkutta (Foto : Dok. Pribadi)


Papua, Marjinnews.com - Berangkat ke Papua dan merintis perpustakaan di Asmat adalah langkah yang diambil Esra Silitonga. Ia mantap menancapkan misinya ke Papua.

Nama lengkapnya Esra Zuita Silitonga. Wanita kelahiran Sibolga, 31 Januari 1994, sudah lama mencita-citakan menjadi pelayan kemanusiaan, terutama orang-orang tertinggal. Karena itu, selepas wisuda dari salah satu sekolah tinggi theologia di Jawa, Esra langsung memutuskan untuk pergi ke Asmat, Papua.

Faktor utama Esra karna Kasih. Lulusan teologi ini mewujudkan cinta kasihnya kepada kaum tertinggal. Kini, Esra sedang merintis perpustakaan di Asmat, Papua. Namanya Sola Gracia. Dia dibantu seorang dokter asal Manado, Sterren Samberi. Mengapa Sola Gracia? “Karena semua berjalan semata hanya karena anugerah Tuhan.

"Kita ini semua anugerah. Saya  anugerah Tuhan. Karena itu, saya dan kita harus berkarya dan memberkati, meski dengan hal kecil seperti ini,” terangnya.

Menurutnya, Asmat salah satu kota yang tertinggal. Banyak anak yang belum mengecap pendidikan.

Melalui pesan singkatnya kepada marjinnews.com, Esra menengaskan "semua ini dilakukan karna kasih terhadap sesama. Tuhan sangat mengasihi saya, jadi sudah sepantasnya kita juga mengasihi mereka " tutupnya.

Tidak hanya itu, Esra juga menceritakan niat baiknya ini sejak ia berada di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP).

"Ya... saya memang punya kemauan untuk membantu kaum tertingggal sejak saya duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP), sejak saya mengenal sosok bunda Teresa. Saya kan lulusan dari teologi, jadi sejalanlah untuk melayani, "pungkasnya.

Bagi Esra, melayani itu sejatinya kewajiban setiap orang. “Sebenarnya, sederhana saja agar kita melayani dan berkarya setulus hati. Cukup pandang mereka seperti bagaimana kita bercermin dan memandang diri kita sendiri. Jika itu berhasil, maka itu bukan untuk kita sendiri, tetapi untuk mereka,” sahutnya. “Kebahagiaan itu adalah ketika kita mampu melihat dan membuat mereka berhasil,” tambahnya lagi.

“Tidak semua dari kita dapat melakukan hal-hal besar. Namun kita dapat melakukan hal kecil dengan cinta yang besar, ” inilah kutipan yang mengilhaminya. Kutipan ini berasal dari Bunda Teresa, seorang biarawati yang sangat humanis dari India, Kalkutta.

“Saya ingin memberikan cinta saya yang besar dengan hal-hal kecil. Saya tak punya uang. Dan, jujur saja, saya bahkan tidak digaji untuk melakukan ini, tetapi selalu dicukupkan. Saya hanya memberikan pelayanan dengan hal-hal kecil, Sudah saatnya perempuan juga harus bergerak, apalagi kalau masih muda,” tuturnya dengan sangat bersemangat seperti yang dilansir dari sorotdaerah.com

“Banyak juga anak yang tidak peduli pada pendidikannya,” tuturnya.

 Karena itu, bagi Esra, sebagai sesama manusia, kita harus hadir dan menghadirkan pendidikan kepada mereka. Memang, diakuinya, kini, di Asmat, sudah  banyak sekolah. “Tapi itu, banyak yang tidak mau sekolah. Karena biaya, juga karena hal-hal lain.” Dia juga mengimbuhkan, di Asmat, masih banyak kelas 6 SD yang tidak tahu membaca.

Ketika ditanya kendala, Esra tak menampik, banyak kendala. Selain itu, Esra juga harus jauh dari keluarganya, Sibolga.

“Kadang kita rindu pulang kampung, apalagi orangtua sudah mulai tua. Tetapi, pulang kampung butuh waktu, juga dana yang tak sedikit” katanya. Diakuinya, keluarganya sangat mendukung misinya.

Selain itu, ada juga kendala di lapangan. “Kita masih kekurangan buku, Bang. Karena itu, kita mengandalkan niat-niat baik siapa tahu ada orang yang punya buku lalu mengirimkannya ke kita,” jawabnya penuh harap.

Sola Gracia baru saja mendapatkan buku dari Yayasan Pancar Pijar Alkitab. Namun, menurut Esra, mereka masih membutuhkan lebih banyak buku.
Kendala lainnya adalah karena banyak anak di Asmat tidak mau belajar.

“Bayangkan, mereka sering kali hanya akan mau belajar setelah diberi makan. Kalau ga diberi makan, bisa-bisa mereka malah ga belajar” katanya.
Namun, Esra tetap semangat. Karena baginya, melihat anak-anak terluar berkembang adalah salah satu mimpinya. “Mumpung masih muda, Nanti, pas udah berkeluarga, saya masih ingin melanjutkan. Tapi, siapa bisa menduga, jangan-jangan suami kurang mendukung,” tambahnya lagi.

Lebih lanjut, anak kedelapan dari sepuluh bersaudara ini mengharapkan uluran tangan dari Tanah Air. Donasi buku bisa dikirimkan ke Jalan Frans Kaisepo Rt. 1 kampung/Desa Bis Agats, Kec/Distrik Agats, Kab. Asmat, Prov. Papua, kode pos 99777. “Buku jenis apa pun boleh, yang penting mendidik,” tegasnya.

Saat ini, Indonesia sedang menggalakkan budaya literasi. Presiden Jokowi bahkan sangat berkomitmen untuk mengembangkan budaya literasi. Karena itu, setiap tanggal 17, PT POS menggratiskan pengiriman buku. Karena itu, menurut Esra, supaya tidak memberatkan donatur buku, sebaiknya pengirim buku mengirimkannnya pada tanggal tersebut. “Kami tunggu buku bacaan umum, cerita rakyat/dongeng, buku pengetahuan umum, buku kerajinan dan keterampilan, buku psikologi dan kepribadian, buku agama, buku kesehatan, dan buku-buku atau bacaan yang bermanfaat lainnya, ya,” tutupnya dengan sangat berharap. (OS/MN)