Kenali, Ini Empat Stadium Proses Evolusi Seseorang Menjadi Teroris

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Kenali, Ini Empat Stadium Proses Evolusi Seseorang Menjadi Teroris

MARJIN NEWS
22 May 2018

Aksi terorisme yang selama ini kita ketahui hanyalah rupa dari sebuah proses sangat panjang, dan sudah menghantui banyak masyarakat di pelosok tanah air.(Foto : Ilustrasi)

Surabaya, marjinnews.com - Siapa yang menyangka bahwa aksi terorisme yang selama ini kita ketahui hanyalah rupa dari sebuah proses sangat panjang. Ahmad Faiz Zainuddin salah satu teman Dita Oepriyanto, pelaku teror bom di gereja Surabaya, banyak bercerita soal bagaimana seseorang bisa bersedia jadi pengantin bom bunuh diri seperti yang telah dilakukan Dita bersama keluarga beberapa waktu lalu.

Lulusan psikologi Universitas Airlangga (Unair) ini mengaku mengetahuinya, karena sudah mengikuti beberapa kelompok pengajian, dengan berbagai ideologi ajaran agama Islam.
Salah satunya pengajian yang diikuti oleh Dita Oepriyanto.

"Mana ada sekarang orang yang mau dipakai alat untuk negara tertentu, Israel misalnya, disuruh bunuh diri dengan bom? Kalau dirinya sendiri tidak meyakini itu benar?!" kata Faiz, seperti dilansie Surya.co.id di rumah sang teman kawasan Jalan Manyar Sabrangan, Surabaya, Selasa (22/5/2018).

Faiz melanjutkan bahwa orang tak ujug-ujug (tiba-tiba) menjadi seorang teroris. Ada proses evolusi, meski ada beberapa kasus seseorang bisa berubah menjadi teroris dalam waktu satu hari saja.

Pada proses evolusi tersebut, Faiz melanjutkan ada empat tahap stadium seseorang bisa berubah menjadi teroris.

"Stadium empat sekarang jumlahnya masih kecil, tapi kalau stadium satu sudah banyak. Terorisme itu tidak serta-merta langsung membuat seseorang jadi teroris. Mereka berevolusi," tegasnya.

Stadium satu terang Faiz dimulai dari seseorang mempercayai bahwa kepercayaan yang benar adalah 'golongan saya', selain itu salah. Di sana mulai ada dikotomi antara golongan kami dengan mereka.

Stadium dua, mereka mulai menganggap bahwa sistem negara tidak benar. Saat itu keyakinan ini hanya ada di dalam hati saja, tidak pakai kekerasan. Faiz mencontohkan organisasi yang ingin mengganti dasar negara dengan konsep keagamaan versi sendiri dan teman-temannya, semua mulai dari gerakan di bawah tanah.

Stadium tiga, mulai mengumpat atau menggunakan kekerasan verbal untuk mengungkapkan ketidaksukaanya. Terkahir stadium empat, mereka mulai kekerasan fisik. Proses evolusi itu lanjut Faiz terjadi tanpa mereka sadari.

"Tapi ada juga yang jangankan 1 tahun 2 tahun, sehari juga ada. Ali Imron pernah diwawancara oleh Wahid Fondation dia mengatakan bahwa 'beri saya anak yang ghiroh Islamnya sedang tinggi-tingginya, dalam waktu 24 jam dia bisa jadi pengantin'. Syaratnya satu itu, ghiroh islam yang sangat tinggi, misalnya mantan preman baru sadar, punya dendam banyak lainnya," terang Faiz.

Apa yang menjadi pengetahuan Faiz merupakan sebuah informasi berharga untuk tidak hanya sekedar untuk diketahui, namun juga dapat diartikan sebagai sebuah bahan pembelajaran bagi kita agar tidak terjebak pada sebuah ajaran yang membikin kita lupa bahwa hidup sesungguhnya merupakan karunia dan dia tidak pernah datang dua kali. (AA/MN)