GMNI dan PMII Jawa Timur Lawan Terorisme dengan Spirit Reformasi
Cari Berita

GMNI dan PMII Jawa Timur Lawan Terorisme dengan Spirit Reformasi

MARJIN NEWS
21 May 2018

pasca 20 tahun reformasi, dapat direfleksikan ada pihak atau oknum yang masih mendukung ideology yang bertentangan dengan Pancasila dan mengganti system Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan system Khilafah. (Foto: Marjinnews Surabaya)
Surabaya, Marjnnews.com - Perjuangan reformasi adalah wujud identitas bangsa Indonesia dalam kebebasan demokrasi yang berdasarkan ideologi Pancasila, dimana dalam reformasi tersebut memiliki nilai perjuangan elemen mahasiswa dan seluruh bangsa saat menjatuhkan rezim orde baru.

Namun pasca 20 tahun reformasi, dapat direfleksikan ada pihak atau oknum yang masih mendukung ideology yang bertentangan dengan Pancasila dan mengganti system Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan system Khilafah.

Dalam rangka memperingati 20 tahun reformasi 1998, puluhan mahasiswa dari berbagai kampus di Suraaya yang tergabung dalam wadah PMII dan GMNI Jatim menyatakan perlu adanya suatu barisan massa yang bersatu melawan kepentingan-kepentingan elit politik atau oknum yang mencoba memanfaatkan kekacauan yang terjadi di masyarakat yang memantik munculnya konflik horizontal.

“Mari kita jaga akal sehat kita untuk menjaga dan mempertahankan keutuhan NKRI. Demokrasi harus dikembalikan pada essensinya yakni demokrasi yang berlandaskan pada Pancasila dan Undang Undang Dasar 1945,” ujar Ketua PKC PMII Jatim Zainuddin saat dikonfirmasi di sela-seala aksi di depan kantor DPRD Jatim, Senin (21/5/2018).

Di tegaskan Zainuddin, elemen mahasiswa yang tergabung dalam PMII dan GMNI Jawa Timur mengajak masyarakat untuk ikut serta bersuara. Adapun aspirasi dan tuntutan yang kami sampaikan adalah sebagai berikut;

Pertama, Menolak lupa tragedi 1998. Kedua, Usut tuntas kasus HAM tragedi 1998. Ketiga, Mengajak semua elemen untuk bangkit selamatkan bangsa dari provokasi pemecah belah bangsa. Keempat, Mengecam kelompok yang secara terang mendukung paham khilafah yang bertentangan dengan Pancasila dan berpaham radikalisme. Kelima, Menuntut pemerintah untuk tegas dan tidak berkompromi kepada partai politik atau elit politik pendukung khilafah.

Kemudian keenam, Mengutuk keras bentuk Terorisme dan radikalisme yang membunuh rasa kemanusiaan. Ketujuh, Mendukung aparatur Negara untuk mengusut tuntas dan menangkap otak terorisme peledakan bom di Surabaya dan di Sidoarjo. Kedelapan, Perkuat payung hukum untuk memberantas terorisme sampai ke akar rumputnya. Kesembilan, Mendesak dan menuntut DPR RI untuk segera mengesahkan revisi undang-undang terorisme, dan terakhir (10), Kami siap menyisir masjid dan musholah yang terindikasi paham khilafah dan radikal

“Demikian pernyataan sikap kami, saatnya mahasiswa bangkit dan melawan oknum atau kelompok yang ingin mengganti system Negara Indonesia dengan sistem khilafah. serta melawan terorisme di Idonesia,” pungkas Zainuddin. (AA/MN)