$type=carousel$cols=3

Bara Raka dan Kematian Naluri Manusia

Di dalam dirinya, hanya ada harimau jantan yang besar. Di dalam dirinya pula, hanya ada iblis yang kejam. “Sang Pembunuh Militan” itu adal...

Di dalam dirinya, hanya ada harimau jantan yang besar. Di dalam dirinya pula, hanya ada iblis yang kejam. “Sang Pembunuh Militan” itu adalah julukan untuk dirinya. (foto : istimewa)


Kami telah lama di tindas bak seekor anjing. Mereka membunuh dan menikam lengan kami yang kekar. Legam dan memar. Mereka menerkam dengan ganas. Sesekali, kami di injak dari kepala sambil berteriak dengan keras di telinga kami,”Sampah! Budak! Jelek! Miskin!” Dan segala kesan-kesan busuk lainnya yang mengiringi kekejaman mereka.

Kami di sikat habis-habisan. Wanita dan anak-anak penuh darah di atas ranjang. Mereka menerkam bagai peluru yang menembus dada waktu. Bilur yang keluar dari bibir kami, dikira sebuah permainan. Mereka tidak peduli! Kami ditikam hingga ke ratapan terdalam di setiap harinya. Tidak peduli penyiksaan itu terjadi. Entah pagi, entah petang, atau entah malam, mereka menindas kami bagai binatang. Binatang!

Setiap malam, seperti yang merangkak keluar dari setiap ingat-ingatku, mereka menjilat dengan rakus wajah gadis-gadis kami. Mereka melumat habis setiap air liur yang membucah keluar dari dalam mulut wanita-wanita itu. Dalam raungan yang tidak tertahan, mereka menjerat harta tahta wanita yang tersembunyi jauh di dalam kerahasiaan, demi kepuasan napsu birahi mereka.

Dalam rumah susun, dengan tembok berwarna merah darah, telah lama mencerminkan bahwa keberaniaan mereka merenggut perawan. Mereka tidak takut akan azab dari Allah, atau neraka yang pernah dijanjikan oleh Alkitab untuk orang-orang berdosa. Bagi mereka, hidup adalah kegilaan, penindasan dan kekejaman. Mati atau hidup, itu urusan yang tidak masuk dalam daftar refleksi mereka.

Seseorang yang berdiri terbungkus kulit beruang, dengan kumis lentik dan rambut gondrong tak teratur itu, merupakan pimpinan mereka. Lihat saja bagaimana sorot matanya, tajam dan mempunyai naluri membunuh. Dia adalah salah satu pria di dunia ini yang telah mati sebelum dirinya hidup. Dia adalah manusia dengan naluri kemanusiaan yang telah digorok oleh berbagai aktivitas pembunuhan.

Di dalam dirinya, hanya ada harimau jantan yang besar. Di dalam dirinya pula, hanya ada iblis yang kejam. “Sang Pembunuh Militan” itu adalah julukan untuk dirinya. Semua pengikutnya yang berjumlah hampir 300 orang, yang tercerai-berai di berbagai benteng tersebut, juga sangat ketakutan padanya. Mereka tidak pernah membantah apapun suruhannya, walaupun anak atau istri mereka menjadi korban.

Setiap bulan purnama ke tiga, menurut adat istiadat yang mereka anut, yang sering mereka sebut dengan nama “Bara Raka”, merupakan sisi lain pengorbanan yang tidak berprikemanusiaan. Seorang gadis berusia 16 tahun, akan di gorok lehernya di atas batu bertuah, kemudian darahnya dibagikan diantara mereka untuk diminum bersama.

 Ini merupakan pesta tahunan untuk merayakan kemurahan hati ratu iblis dari jurang neraka, karena mewarisi kharisma kekejaman pada mereka. Pesta itu bisa berlangsung selama satu minggu lamanya. Para wanita akan ditelanjangi di depan batu bertuah, lalu mereka akan dilacuri bergantian oleh batang-batang bejat milik mereka.

Para wanita tawanan mereka biasanya diambil dari hasil dagangan dengan kaum Girjit yang merupakan kaum perampok dari Atlantik Tengah. Jiwa para perampok ini telah dikurbankan lama untuk raja iblis. Mereka selalu terhubung dengan kaum penindas, sebut saja kaum Bara Raka, sesuai dengan adat istiadat mereka, melalui jantung petang dewi pembunuh. Doa-doa mereka akan saling bersahutan dan terdengar di telinga-telinga iblis.

Setiap tiga tahun sekali, mereka akan menukarkan hasil buruan para gadis mereka dengan logam, emas dan berlian yang diproduksi di tanah Bara Raka. Mereka telah lama menjadi pembunuh, menjadi pembantai terhebat sepanjang sejarah, sebelum hadirnya kaum Sparta sebagai salah satu pasukan terkuat yang hidup pada abad ke 6 dan abad ke 4 SM serta kaum pembunuh dari daratan eropa lainnya.

Prestasi pembunuhan mereka telah lenyap lama dalam sejarah manusia dan aku ingin mengangkatnya kembali ke dalam sebuah lukisan. Melalui panjangnya cerita tentang kaum-kaum mereka, Bara Raka dan pemimpinnya, sang Pembunuh Militan, kini bisa disaksikan melalui lukisan-lukisan hasil karya terbesar para penjejak.
Para wanita itu, telah lama menjadi bagian tertua dari peradaban yang sempat terlupakan karena tertutup napsu Cleopatra dan dewi-dewi Yunani Kuno. Kini mereka seharusnya dibangkitkan kembali agar kita tidak gagap ketika membaca sejarah yang terlampau sempit oleh pikiran orang-orang yang telah lama menuliskan ini.

Kita telah lama berada pada peradaban yang gagap, gagu dan dungu dalam melihat sejarah. Sebagian harus dipenggal karena kehausan beberapa generasi yang selalu ingin berada di permukaan, sebagian catatan sejarah harus hilang karena mereka ingin disebut sebagai raja peradaban.
Pada setiap bisu yang akan lenyap sebentar lagi, kita telah sampai pada pengungkapan terbesar untuk melihat lebih jauh, bagaimana sebuah sejarah yang sebenarnya. Atlantik tidak luput dari itu. Bara Raka, para budak, bahkan kaum Sirjit, pernah mencatat itu dari balik kekelaman. Mereka berbaur, jauh menghilang dalam masa-masa sulit perebutan tanah.
Bilamana kita menjadi cerah akan semua susunan sejarah yang rapi dan teratur, ada kemungkinan kita bisa mengatur tatanan dunia yang baik dan rapi pula. Jika kita tidak berusaha menjadi buta akan kehilangan-kehilangan yang jauh berada dalam diam, kemungkinan besar kita akan lebih mudah berbaur dan tidak saling menindas.

Kira-kira seperti itu inti dari lukisan yang aku gali dari dalam setiap kehilangan-kehilangan, dari dalam setiap perenungan akan alam semesta, dari dalam setiap luka-luka manusia. Kita tidak siap untuk tidur, maka kita tidak akan pernah siap untuk bermimpi. Lalu bagaimana dengan setiap lukisan tentang darah dan batu bertuah? Semua harus jadi bagian dari sejarah kaum Bara Raka, meskipun naluri manusia mereka telah lama mati.

*****
“Lalu dari mana asal semua lukisan itu mas Bara?” Tanya wanita yang selama satu jam lebih berkeliling dengan sang pelukis.
“Dari namaku. Dan yang pasti, dari dua sisi diri manusia. Kebaikan dan keburukan. Telah lama lahir bersama, tumbuh bersama, bahkan mati bersama kita”
“Kalau begitu, bagaimana dengan para wanita tersebut? Dari mana datangnya mereka sehingga mampu menjadi bagian dari cerita lukisan yang mas buat?”
“Dari sebuah misteri yang paling komplit. Kamu termasuk di dalamnya” Ujar pelukis itu pada wanita di hadapannya.



Oleh : Tonny Tokan

(Penulis adalah seorang penyendiri yang aktif. Suka melupakan dirinya sendiri dan suka bepergian ke ruang imajinasi. Suka menghilang sendiri dalam kesunyian dan menyukai hal-hal yang bersifat metafiksi.)


Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahok,25,Aktivis,1,Alam,2,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,211,Asmat,4,Asusila,5,Badung,7,Bali,94,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,12,BBM,1,Bencana Alam,1,Berita,2,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,39,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Camilian,1,Cerpen,135,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,433,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,21,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,E-KTP,4,Editorial,38,Edukasi,1,Ekonomi,3,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,27,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,5,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,3,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,20,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,29,Human Trafficking,4,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,6,Imlek,2,Indonesia,1,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,14,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,1,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,2,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,2,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,222,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,1,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,65,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,4,Kepemudaan,121,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,13,Komodo,5,Komunikasi,1,Komunitas,5,Korban,1,Korupsi,57,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,45,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,40,Lakalantas,7,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,1,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,13,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,35,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,79,Manggarai Barat,1,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,Narkoba,5,Nasional,222,Natal,19,Ngada,1,Novanto,1,Novel,15,NTT,104,Nyepi,2,Olahraga,10,Opini,320,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,20,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,1,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,80,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,22,Peristiwa,783,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,Pilgub,41,Pilkada,100,PKRI,1,PMII,1,PMKRI,21,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,59,Politikus,4,POLRI,6,Pristiwa,18,Prosa,1,PSK,1,Puisi,51,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,7,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,21,Sajam,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,Somasi,1,Sosial,1,Sosok,3,Sospol,35,Start Up,1,Sumba,11,Surabaya,31,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,Tokoh,14,Tol Laut,1,Toleransi,2,traveling,3,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Bara Raka dan Kematian Naluri Manusia
Bara Raka dan Kematian Naluri Manusia
https://4.bp.blogspot.com/-93rMWEKbad0/WvyOHJ9DTII/AAAAAAAAAL8/uZJR-9pEZYkkt1Ide8Pv0pw-o80-T29jgCLcBGAs/s320/cropped-rrr.jpg
https://4.bp.blogspot.com/-93rMWEKbad0/WvyOHJ9DTII/AAAAAAAAAL8/uZJR-9pEZYkkt1Ide8Pv0pw-o80-T29jgCLcBGAs/s72-c/cropped-rrr.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/05/bara-raka-dan-kematian-naluri-manusia.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/05/bara-raka-dan-kematian-naluri-manusia.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy