Bangga, 2 Tarian Kebesaran Dari Manggarai Raya Ditampilkan Pertama Kali di Festival Bunkasai STIBA Saraswati Denpasar 2018

Festival Bunkasai ini merupakan agenda tahunan dari program studi Sastra Jepang STIBA Saraswati Denpasar yang menjadi wujud eksistensi jurusan sebagai wadah pembelajaran bahasa asing, yaitu bahasa Jepang. (Foto: Marjinnews Bali)
Denpasar, Marjinnews.com -  Bangga, mungkin kata itu yang layak dan pantas ditujukan kepada para mahasiswa ini.

Bagaimana tidak, dengan penuh rasa antusias yang tinggi, mereka berhasil membawakan dua tarian kebesaran milik bumi Nuca Lale, Manggarai, Flores, NTT yaitu tarian Caci dan tarian Ndundu Ndake (red-Raga Sae/Congka Sae).

Dua tarian kebesaran milik Manggarai itu dipentaskan untuk mewakili tarian dari Nusantara dalam ajang festival tahunan yang diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STIBA) Saraswati Denpasar yaitu festival "Bunkasai".

Festival Bunkasai ini merupakan agenda tahunan dari program studi Sastra Jepang STIBA Saraswati Denpasar yang menjadi wujud eksistensi jurusan sebagai wadah pembelajaran bahasa asing, yaitu bahasa Jepang.

Bercermin pada kebudayaan Jepang yang ada, serta kebudayaan Indonesia yang beragam, kegiatan Bunkasai  ini diselenggarakan sebagai ajang kreativitas mahasiswa  program studi Sastra Jepang STIBA Saraswati Denpasar untuk mengimplementasikan bagian-bagian dari budaya Jepang yang dipadu dengan budaya Indonesia kepada masyarakat luas.

Dari pantauan Marjinnews, bukan hanya para mahasiswa atau dosen yang hadir dalam menyaksikan festival ini. Namun para wisatawan asal negeri gingseng yang berlibur di Bali ikut juga menyaksikan festival budaya Jepang ini.

Tarian kebesaran milik Manggarai Raya ini dibawakan oleh para Mahasiswa yang tergabung di dalam organisasi Ikatan Mahasiswa Timor (IMT) yang dipimpin oleh Vicki Datus.

Dalam narasinya, Rolando, yang berlaku sebagai narator menjelaskan kedua tarian kebesaran milik Manggarai Raya itu di depan para penonton yang hadir, sebelum para penarinya bermain.

Walaupun bukan putra asli Manggarai, Rolando, terlihat lugas menjelaskannya.
Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris Ini memaparkan bahwa, Ndundu Ndake (red- Tarian Raga Sae/Congka Sae) merupakan salah satu jenis tarian  yang terdapat dalam tarian magis di Manggarai yaitu Sae/Congka Sae.

Congka Sae sendiri hanya bisa dimainkan pada saat upacara besar seperti kenduri melalui upacara adat 'Kelas Paki Kaba' (Kenduri Besar), yang merupakan puncak dari semua ritual adat kematian orang Manggarai, dan acara Congko Lokap (peresmian rumah gendang, gedung besar).

Prosesi ini biasanya baru bisa digelar di sebuah kampung di Manggarai setelah seluruh warga sanggup membangun rumah adat yang baru di kampung yang baru dan juga telah selesai membuka atau membagi lahan pertanian yang baru.

Tradisi tarian Ndundu Ndake ini diiringi nyanyian dan doa bagi para leluhur desa yang mengiringi prosesi upacara paki kaba atau pengorbanan kerbau dan babi yang dilakukan warga desa untuk mengucap syukur atas selesainya rumah adat yang baru mereka bangun.

Tarian Ndundu Ndake ditarikan pria atau wanita menggunakan sapu tangan dan selendang dengan tanpa alas kaki sebagai penghormatan kepada para leluhur di pelataran depan rumah adat yang baru. Sedangkan tokoh adat menari sambil melambaikan parang. Prosesi tari hingga paki kaba biasanya dilakukan selama 5 hari berturut-turut.

Sementara Tarian Caci lanjut Rolando dalam narasinya, yaitu tarian yang dilakukan pada acara khusus, seperti saat syukuran musim panen (hang woja), ritual tahun baru (penti), serta dalam beberapa upacara adat lainnya.

Caci merupakan ringkasan dari kata "Ca" yang bermakna satu, dan "Ci" yang berarti uji. Artinya untuk menentukan tingkat kematangan seorang laki-laki di masyarakat tersebut, mereka harus melalui uji ketangkasan dalam sebuah pertarungan satu lawan satu.

Makna Tari Caci di mata masyarakat Manggarai, laki-laki yang sudah pernah melakukan tarian ini berubah menjadi pria dewasa dan mendapatkan penghormatan, baik dari tetua adat maupun kaum wanitanya.

Uniknya, kebanggaan mereka justru terletak pada banyaknya luka bekas cambuk pada kulit. Semakin banyak bekas cambuk, maka derajat lelaki tersebut semakin diperhitungkan.

Sebagaimana fungsinya, tari Caci merupakan media bagi para laki-laki Manggarai untuk membuktikan kejantanan mereka.

Walau tersaji dengan kandungan unsur kekerasan di dalamnya, kesenian ini memiliki pesan yang damai. Seperti semangat sportivitas, saling menghormati, dan, yang paling penting, tak meninggalkan rasa dendam di antara para petarung.

Tarian ini memiliki tiga makna, yakni Naring, Hiang, dan Mengkes. Naring artinya memuji, Hiang artinya menghormati, dan Mengkes artinya bergembira.

Jadi tarian ini adalah sebuah tarian yang dilakukan dengan perasaan gembira untuk menghormati lawan sekaligus menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan.

Tarian ini juga mengombinasikan antara Lomes, Bokak, dan Lime.

Lomes merupakan perpaduan keindahan gerak tubuh dan busana yang dipakai para petarung.

Sementara Bokak adalah keindahan seni vokal yang dilakukan petarung dan pengiring sekitarnya, serta Lime yang merupakan ketangkasan dalam mencambuk atau menangkis cambukan lawan.

Para petarung pun dibekali kemampuan olah vokal untuk bernyanyi. Mereka secara spontan akan bernyanyi ketika menangkis cambukan untuk menyampaikan Paci --tantangan untuk memengaruhi lawan serta untuk memotivasi atau menggelorakan semangat dalam diri.

Para petarung yang melakukan serangan dengan lecutan cambuk disebut Paki, sementara bagi petarung yang menangkis dengan perisai dijuluki Ta'ang.

Karena berpotensi mencederai fisik, atraksi para petarung pun dibentengi dengan beragam aturan. Mereka hanya boleh menargetkan cambukan pada bagian tubuh atas lawannya, seperti lengan, punggung, atau dada.

Para petarung pun akan menggunakan kostum layaknya prajurit yang akan maju ke medan perang. Mereka bertelanjang dada, hanya menggunakan penutup kepala yang disebut Sapu dan topeng yang terbuat dari kulit kerbau untuk melindungi bagian vital pada muka yang disebut Panggal.

Pakaian bawah yang dikenakan pun terdiri atas celana panjang sebetis dengan kelengkapan sarung khas dari Manggarai berwarna hitam yang disebut Songke.

Selain itu, sebagai aksesori tambahan, para petarung juga memakai gelang giring-giring pada bagian dibawah punggung yang berbunyi mengikuti gerakan tarian dalam pertarungan.

Salah satu pemain akan dinyatakan kalah jika terkena cambuk pada bagian mata atau kepala. Tentunya pada bagian kepala terdapat aksesori seperti kanopi untuk melindungi mata dan dahi.

Usai permainan, kedua petarung dan kelompok pendukungnya dikumpulkan untuk berjabat tangan, sebagai simbol tak ada dendam di antara mereka.

Sontak seketika tepuk tangan meriah dari para penonton, setelah narator menjelaskan kedua tarian kebesaran Manggarai ini.

Para penonton terlihat larut dan senang menyaksikan ketika para mahasiswi cantik asal Manggarai ini melenggokan badannya mengikuti irama gong dan gendang.

Setelah pementasan tarian Ndundundake, tibalah tarian kedua dipentaskan. Irama gong dan gendang berdendang membuat para mahasiswa yang dilengkapi aksesoris pakaian perlengkapan Caci mulai beraksi.

Adu ketangkasan, lomes dan bokak mereka tampilkan dihadapan para penonton.

Balas membalas pukulan menambah semarak pementasan mereka. Ditambah "Kelong" (red-goyang) para mahasiswa ini berhasil membius ratusan penonton yang menyaksikan. Ditambah lagi hiburan "nenggo" (red-nyanyi) mampu memukau seluruh penonton yang hadir.

Setelah kedua tarian kebesaran ini dipentaskan, Vicki Datus sekaligus koordinator dari para mahasiswa ini mengaku senang  bisa menampilakn kedua tarian ini dengan sempurna.

Daktus juga bangga sebab, baru kali ini tarian dari Manggarai raya ditampilakan dalam ajang festival Bunkasai Stiba saraswati.

"Kami semua anggota IMT sangat bangga dan senang, sebab dua tarian dari Manggarai dipercaya menjadi perwakilan tarian nusantara di Festival Bunkasai ini, ini yang pertama," tegas Datus.

Untuk diketahui, festival Bunkasai ini berlangsung selama dua hari yaitu mulai tanggal 5 sampai 6 Mei 2018.

Beragam acara ditampilkan dalam acara Bunkasai tahun ini. Mulai dari atraksi budaya Jepang, budaya Indonesia, dan perlombaan-perlombaan lainnya.

Hal ini di sampaikan oleh ketua panitia I Putu Wipayana. Dirinya menjelaskan bahwa, sesuai tema Bunkasai 2018 yaitu “ Festival Jembatan Penghubung antara Indonesia dan Jepang ”, Bunkasai ini diharapkan bahwa kami mahasiswa/i Program Studi Sastra Jepang ke depannya dengan ilmu yang kami dapatkan, dapat menjadi jembatan penghubung antara Jepang dengan Indonesia untuk lebih meningkatkan jalinan persahabatan, pemahaman budaya, cara berpikir dan dalam hal lainnya," pungkas  Wipayana.

Laporan: Remigius Nahal

Simak Video Berikut

Diskusi Bupati Manggarai Barat Mencari Pemimpin

Name

anak muda,2,Badung,1,Bali,135,Ben Senang Galus,2,Bencana Alam,2,Berita,186,Bhineka,2,Birokrasi,2,BNI,1,Bola,3,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,4,BPJS,1,Budaya,34,Bung Karno,1,Bunuh Diri,4,Bupati Mabar,2,Camilian,1,Celoteh,7,Cerpen,202,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,647,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,19,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,3,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,5,Editorial,30,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,10,Focus Discussion,1,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,7,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,2,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,68,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,9,Imlek,1,In-Depth,18,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,17,Internasional,17,Internet,2,Investasi,1,IPD,3,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,4,JK,1,Jogja,2,Jogyakarta,3,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,308,Kata Mereka,2,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,4,kebudayaan,3,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,6,Kemanusiaan,55,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,7,kerohanian,2,Kesehatan,5,Ketahanan Nasional,1,Keuangan,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,55,KPK,11,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,52,Kritik Sastra,3,Kupang,25,Labuan Bajo,51,Lakalantas,11,Larantuka,1,Legenda,1,Lembata,2,Lifestyle,3,Lingkungan Hidup,13,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,15,Mahasiswa,47,Makasar,6,Makassar,4,Malang,4,Manggarai,121,Manggarai Barat,21,Manggarai Timur,27,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,1,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,104,MMC,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,351,Natal,18,Ngada,8,Novanto,2,Novel,16,NTT,346,Nyepi,2,Olahraga,13,Opini,554,Orang Muda,7,Otomotif,1,OTT,2,Padang,1,Papua,16,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,25,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,19,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,19,Perindo,1,Peristiwa,1386,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Petrus Selestinus,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,40,Pilkada,98,Pilpres 2019,25,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,32,Polisi,24,politik,89,Politikus,6,POLRI,8,PP PMKRI,1,Pristiwa,39,Prosa,1,PSK,1,Puisi,100,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,9,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,2,Ruang Publik,26,Ruteng,30,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,14,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,1,Sekilas Info,42,Sekolah,2,seleb,1,Selebritas,28,selingkuh,1,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,31,Sospol,35,Spesial Valentine,1,Start Up,1,Suara Muda,229,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,10,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tentang Mereka,68,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,11,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,Ujian Nasional,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,21,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Bangga, 2 Tarian Kebesaran Dari Manggarai Raya Ditampilkan Pertama Kali di Festival Bunkasai STIBA Saraswati Denpasar 2018
Bangga, 2 Tarian Kebesaran Dari Manggarai Raya Ditampilkan Pertama Kali di Festival Bunkasai STIBA Saraswati Denpasar 2018
https://3.bp.blogspot.com/-tS5mdWYNs5M/Wu9aJJg5sdI/AAAAAAAABDs/726_Abr5LOUjPyVNIajHZqTAwe_Z88CIgCLcBGAs/s320/20180507_033906.png
https://3.bp.blogspot.com/-tS5mdWYNs5M/Wu9aJJg5sdI/AAAAAAAABDs/726_Abr5LOUjPyVNIajHZqTAwe_Z88CIgCLcBGAs/s72-c/20180507_033906.png
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/05/bangga-2-tarian-kebesaran-dari.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/05/bangga-2-tarian-kebesaran-dari.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy