Surat Cinta untuk Dik Cindy
Cari Berita

Surat Cinta untuk Dik Cindy

27 April 2018

Parasmu terlampau ayu untuk sekedar aku kagumi dik. Decak kagum yang keluar malu-malu dari bibirku bahkan membuatku merasa berdosa karena mencederai kesucianmu bukan hanya sebagai  bidadari bagiku (Foto: instagram/cindysupartan)
Selamat petang dik, perkenalkan nama saya Pondik. Lelaki bangsat yang diam-diam memuja dan mengagumimu sejak lama. Aku seorang buruh pabrik, tepatnya kuli tinta bermata bulat bola ping pong. Rambutku ikal, sengaja dipotong pendek biar pengiklan shampo tidak menindasku dengan tipuan mata silau rambut mbak Anggun yang ogah pakai shampo lain.

Bibirku sumbing, mungkin karena telah sekian lama aku diamkan. Terlalu banyak orang yang suka banyak omong dik, mereka lupa kalau panca indera itu ada lima. Satu untuk melihat engkau tersenyum, dua untuk mendengar desah napasmu yang tersisa usai tertawa, tiga untuk merasakan belai lembut tanganmu, empat untuk meraba jantungku yang berdetak kencang saat denganmu, lima untuk mengecap seperti apa rasanya jika cintaku terbalas oleh dirimu.

Itu ilmu Biologi dasar dik, tetangga saya yang masih SD bahkan pernah bilang kepada ayahnya sewaktu melarang dia main tik tok dengan berkata demikian: "nilai IPA ayah berapa sih waktu di Sekolah Dasar? Anaknya mau hits tetap aja tidak peka!" Katanya meniru Lucinta Luna yang orang bilang adalah transgender.

Maaf dik, saya terlalu banyak omong. Biasalah dik, laki-laki. Meski dia dikenal sebagai buaya tetapi di depan perempuan dia hanyalah cicak. Putus pula ekornya.

Jadi begini dik Cindy, aku ini begitu saja adanya. Mungkin dik Cindy akan bertanya seperti apa gerangan tampangku ini. Tidak masalah, itu hakmu untuk mencari tahu. Aku hanya menjalankan kewajibanku sebagai laki-laki. Berbicara berani tanpa banyak basa-basi. Berteriak lantang bersama derai angin untuk mengungkapkan isi hati. Tentu dengan harapan, dik Cindy tidak keberatan membaca surat ini sampai selesai.

Waktu aku menulis surat kecil ini, jujur saja butuh bercangkir-cangkir kopi untuk ku minum. Berbatang-batang rokok ku hisap hanya untuk sekedar menumbuhkan rasa percaya diri. Kita itu bak langit dan bumi. Atau mungkin bak minyak dan air. Tetapi bukan itu juga, aku lebih suka memakai istilah seperti punuk merindukan bulan.

Parasmu terlampau ayu untuk sekedar aku kagumi dik. Decak kagum yang keluar malu-malu dari bibirku bahkan membuatku merasa berdosa karena mencederai kesucianmu bukan hanya sebagai  bidadari bagiku. Virgoun dalam lagu Bukti itu pun tidak mendapat tempat untuk menggambarkan betapa dasyat rasa ini untukmu.

Kamu adalah orang yang pertama aku pikirkan di saat aku membuka mata dan yang terakhir aku impikan sebelum menutupkan mata ini.

Saat aku melihat bintang, lalu aku mengingatmu, di dadaku juga ada bintang yang berkedip, itu adalah kamu dik.

Seperti air hujan membasahi tanah yang gersang, seperti itulah kehadiranmu dengan cinta dan kasih sayang tulus untuk ku. Setiap aku berdoa, aku selalu selipkan namamu dan aku berharap kelak kau jadi jodohku.

Aku tidak tau sampai kapan usiaku, tapi aku yakin sekali kalau cintaku selamanya untukmu.  Dalam angan yang menggebu aku bersimpug di bawah kaki langit dengan berkata:

"Tuhan, tolong jagalah ia nun jauh disana, lindungi setiap detik hidup yang ia lewati, dan sayangi dia melebihi engkau menyayangiku"

Dik, jangan engkau hiraukan doa para pendosa yang menyebut-nyebut namamu. Anggap saja mereka termasuk aku adalah butiran debu yang jika angin datang pasti akan berlalu. Tetapi, meski hanya sebatas untuk ku kagumi ada baiknya engkau paham bahwa menyayangi dan mencintai dengan tulus tanpa ada paksaan sedikitpun, itulah caraku mencintai orang lain termasuk kamu yang nomor satu.

Dapat mengenalmu adalah suatu anugerah, dan mencintaimu adalah suatu kebahagian bagiku. Percayalah, tidak ada seseorang pun yang bisa mengpengaruhi cinta dan perasaanku padamu.

Dik Cindy yang baik, aku meminta maaf telah mencatut namamu dalam aliran larik-larik cemas nada suaraku dalam surat ini. Jujur, aku hanya mau menunjukkan kepadamu bahwa aku diam-diam suka padamu.

Senyumanmu yang selalu merajuk membawaku ke alam damai suasana hati. Membayangkannya sepanjang waktu membuatku begitu sadar betap dungu diriku seperti kosa kata favorit bang Rocky Gerung.

Selamat petang dik, jika diberikan izin maka biarkan aku menikmati kekagumanku kepadamu seperi Rama kepada Shinta atau Romeo dan Juliet punyanya William Shakespiere. Atau bisa juga antara Maximilliem dengan kekasihnya dalam novel Cout of Monte Christo. Terserah dirimu saja dik, maafkan aku yang telah lancang mengagumimu.

Oleh: Andres Pengki