Sadis, Guru Komite di Lembor Ancam Murid Pakai Pisau, Gara-gara Hal Sepele
Cari Berita

Sadis, Guru Komite di Lembor Ancam Murid Pakai Pisau, Gara-gara Hal Sepele

MARJIN NEWS
22 April 2018

Hanya karena hal sepele itu, sang guru kalap dan memukul semua siswa kelas tiga dengan membabi buta. Akibatnya dua orang siswa mengeluarkan darah di telinga dan belasan lainnya mengeluarkn darah di mulut. (Foto: Ilustrasi)
Labuan Bajo, Marjinnews.com - Salah seorang guru di SMP Negeri VI, Kecamatan Lembor Selatan, Desa Nanga Bere mengancam salah seorang muridnya menggunakan pisau cutter.

Tak hanya itu belasan siswa lainya dipukul hingga mengeluarkan darah pada telinga dan mulut. Keberingasan oknum guru komite ini hanya dipicu oleh masalah sepele.

Salah seorang kakak kandung siswa yang menjadi korban keberingasan guru tersebut ketika dikonfirmasi, Minggu (22/4) mengaku kejadian itu terjadi pada, Rabu (18/4).

Berdasarkan penuturan dari adiknya masalah itu diawali saat semua siswa kelaa III diperintahkan untuk menimba air. Air tersebut untuk persiapan dalam menghadapi ujian nasional yang digelar, Senin (23/4) karena air keran disekolah macet.

Diceritakan 23 orang siswa kelas III yang tengah mempersiapkan diri menghadapi ujian itu seorang diantaranya sepulang menimba air tak membawa air karena jerigen yang dibawanya bocor.

Hanya karena hal sepele itu, sang guru kalap dan memukul semua siswa kelas tiga dengan membabi buta. Akibatnya dua orang siswa mengeluarkan darah di telinga dan belasan lainnya mengeluarkn darah di mulut.

Mendapat perlakuan kejam itu para siswa kompak untuk segera pulang dan menceritakan apa yang dialami kepada orang tua.

Anehnya guru yang menampar para siswa itu menaruh dendam dengan para siswanya. Keesokan harinya (Kamis 19/4) saat memulai pelajaran dia memanggil salah seorang siswanya bernama Alwi ke kantor. Sesampainya dikantor leher Alwi dipegang dan ditunjuk pakai pisau.

"Ini kejadian menggelikan. Hanya gara-gara hal sepele kok bisa emosinya membabi buta. Para siswa dipukul hingga berdarah. Yang diancam pakai pisau itu diancam tak akan meluluskanya pada ujian nanti. Dia memegang leher anak itu sambil berkata mau mati atau hidup. Dengan polos anak itu mengatakan saya ingin hidup pak," tutur pria yang enggan namanya ditulis pada media ini.

Mendapat laporan para siswa orang tua muridpun geram dan melaporkan masalah tersebut kepada ketua komite sekolah. Namun hingga kini pihak komite belum mengambil langkah mengingat sedang mempersiapkan ujian nasional.

"Sudah dilaporkan ke ketua komite namun belum ada tindakan. Kami memahami karena sedang mempersiapkan diri untuk unian nasional.

Tetapi kami mendorong agar komite mendorng agar persoalan ini tuntas. Kami meminta supaya guru tersebut dikeluarkan karena tak ada gunanya kalau guru mendidik siswa dengan cara kekerasan. Kalau komite tak menyikapi hal ini maka kami menempuh jalur lain," ungkapnya.

Dirinya menegaskan pembukaan SMP Negeri VI ini merupakan atas dukungan dari semua masyarakat Nanga Bere. Mengingat banyak tamatan SD di Nanga Bere yang tak melanjutkan sekolahnya.

"Saya heran, guru inikan warga asli di sini. Sekolah ini satu-satunya harapan untuk menampung para siswa lulusan dari tiga SD yang ada. Tahun ini SMP ini menamatkan angkatan pertamanya. Kalau didikan dari gurunya seperti ini bukan tak mungkin sekolah ini tak menjadi pilihan masyarakat untuk menyekolahkan anaknya. Jadi saya kira itu harus dipikirkan oleh komite sekolah. Kalau tak ada yang mau sekolah di sini, untuk apa dahulu diperjuangkan suaya ada SMP ?," pungkasnya.

Pada saat berita ini diturunkan pihak komite sekolah belum berhasil dimintai keterangannya terkait langkah yang diambil dalam penyelsaian persoalan ini.

Laporan: Wily 
Editor: Remigius Nahal