Rayakan Hari Kartini, Mahasiswa Dwijendra Denpasar Asal Manggarai Menggelar Lomba Tarian Adat
Cari Berita

Rayakan Hari Kartini, Mahasiswa Dwijendra Denpasar Asal Manggarai Menggelar Lomba Tarian Adat

MARJIN NEWS
20 April 2018

Acara ini sengaja digelar untuk menghargai perjungan Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita. (Foto: Marjinnews Bali)

Denpasar, Marjinnews.com – Menyambut Hari Kartini yang jatuh pada Sabtu 21 April, Mahasiswa Universitas Dwijendra asal Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur menggelar tarian adat khas Manggarai. Hal tersebut disampaikan Dekan Fakultas Pertanian, Universitas Dwijendra, Denpasar, Bali pada, Jumat (20/4) di Denpasar.

Sedana mengapresiasi sikap Mahasiswa asal Manggarai ini yang begitu semangat saat mementaskan tarian adat khas Manggarai.

“Mereka antusias sekali. Padahal persiapan mereka hanya satu minggu. Tetapi mereka begitu semangat mempersiapkan dari perlengkapan busana adat dan lain lain,” ujarnya.

Saat Mahasiswa Manggarai mementaskan tarian adat di atas panggung, justru banyak dosen dan mahasiswa yang menyaksikan ikut bergoyang. Hal ini, kata dia, karena tariannya cukup menarik perhatian dan semangat mahasiswa yang luar biasa.

Menurutnya, acara ini sengaja digelar untuk menghargai perjungan Kartini dalam memperjuangkan emansipasi wanita. “Momenya hari Kartini. Kartini ini salah satu tokoh yang memiliki konsep emansipasi wanita,” ujarnya.

Gede Sedana sengaja memberikan kesempatan kepada mahasiswa asal NTT untuk mementaskan tarian adat Manggarai dalam menyambut Hari Kartini sebaga bagian dari sikap toleransi. Selain itu, tarian adat Bali juga sudah terbiasa. “Kalau tariam (adat) Bali kan sudah biasa. Selain itu inikan yayasan Hindi tetapi kita memberikan kesempatan kepada saudara kita yang bukan hindu,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa ditengah situasi Negara yang sedang kacau oleh karena munculnya kelompok intoleransi yang ingin memecahbelah bangsa, maka sangat diperlukan kepekaan dari kampus untuk menentang sikap kelompok tersebut dengan cara menghargai perbedaan. “Perbedaan tidak bisa disatukan. Tetapi bagaimana perbedaan ini bisa berjalan bersama karena satu tujuan yakni yang di atas (Tuhan),” ujarnya.

Yayasan Dwijendra sebagai yayasan Hindu tetapi memberikan kesempatan kepada orang-oranh yang non-Hindu untuk berekspresi dengan cara mempertunjukan tarian adatnya masing-masing. Hal ini, kata dia, sebagai bentuk sikap toleransi yang menghargai perbedaan. Menurutnya, ada begitu banyak mahasiswa asal Manggarai, Flores, NTT yang mengenyam pendidikan di Universitas Dwijendra.

Laporan: Saverinus Suryanto
Editor: Remigius Nahal