Quo Vadis Buruh Indonesia

Boleh dikatakan bahwa eksistensi para buruh Indonesia dari masa silam hingga saat ini adalah proyek besar membangun raksasa dehumanisasi.(foto : dok. Pribadi)

​Setiap peringatan hari Buruh Nasional kita masih dihadapkan problema ketidakadilan terhadap para pekerja yang masih menjadi masalah kompleks di Indonesia. Kehidupan para pekerja Indonesia masih jauh dari standar kesejahteraan. 

Tindakan kekerasan majikan terhadap para pekerja yang terpampang di beberapa media ialah realita kejahatan konkret yang tidak dapat dibantah. Seperti yang kita ketahui bahwasanya watak dasar dari pengusaha dan majikan yang tidak memiliki nurani adalah ingin memperoleh surplus secara signifikan sembari melupakan tanggungjawabnya terhadap pekerja. 

Pengusaha tak bernurani menggunakan segala macam cara untuk memperoleh keinginannya tersebut seperti menekan upah pekerja, tidak memenuhi hak–hak pekerja, melakukan pelarangan tidak logis bagi pekerja, dan memasung hak-hak pekerja lainnya.

Segala bentuk perundangan dan peraturan di negara ini selalu menempatkan pekerja pada posisi yang lemah (Prof. Uwiyono). Untuk keluar dari polemik tersebut, para pekerja seharusnya memiliki Perjanjian Kerja Bersama (PKB). 

Namun, untuk beberapa kabupaten di Indonesia hal demikian belum pernah terjadi. Pertanyaannya, sampai kapan para pekerja di Indonesia terkubur dalam ketidakadilan? Apakah selamanya di Indonesia, majikan selalu menganggap pekerja adalah budak belian?

PERSPEKTIF EKONOMI
Tuntutan kebutuhan ekonomi secara individu maupun kelompok menyeret manusia ke dalam jurang ketidakadilan. Demi keberlangsungan hidupnya, cara yang salah kerap dihalalkan walaupun terkadang mereka mesti menjual nilai – nilai luhur kemanusiaan. 

Boleh dikatakan bahwa eksistensi para buruh Indonesia dari masa silam hingga saat ini adalah proyek besar membangun raksasa dehumanisasi. Mereka dibutakan oleh kebutuhan ekonomi yang kian hari kian meningkat. Para pekerja yang termarjinalisasi merupakan salah satu gerbong meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia. 

Regulasi yang mengatur tentang hak dan kewajiban pekerja Indonesia seolah-olah menjadi imperialisme baru kemudian dijadikan mesin produsen perbudakan oleh pengusaha.

Sebagai sampel, kita boleh melihat kondisi para pekerja di kabupaten Sikka provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Perbudakan secara halus yang dilangsungkan oleh para pengusaha di Sikka tidak mendapat perlawanan oleh pihak mana pun, apalagi para pekerja itu sendiri. 

Hak untuk memperoleh upah dengan kisaran rupiah sesuai dengan Upah Minimum Regional (UMR) tidak diberlakukan bagi buruh di Sikka. Persoalan ekonomi dijadikan senjata untuk meruntuhkan daya kritis para pekerja. 

Ditambah dengan keterbatasan lapangan pekerjaan, mereka dipaksa untuk bertahan dalam belenggu ketidakadilan.

Dalil-dalil yang dimainkan oleh pengusahan dalam merampas hak para pekerja tidak mendapat perhatian dari pemerintah setempat. Sementara Pemerintah, dalam hal ini Dinas Ketenagakerjaan tidak mengoptimalkan fungsinya dalam memelihara hak dan kewajiban para pekerja secara efektif sesuai dengan regulasi yang berlaku. 

Pertanyaan sederhananya, ada apakah gerangan dibalik itu? Apakah kekuatan ekonomi penguasa telah membungkam pemerintah, agar tetap bertahan dengan pola keji pengusaha dalam memperlakukan para buruh? 

Jika benar demikian, maka ativitas penindasan secara ekonomi yang digarap oleh kedua raksasa (Pemerintah dan Pengusaha) tersebut akan terus menerus  berlangsung di bumi Indonesia.

AKTUALISASI DEHUMANIS
​Logika humanisasi yang lahir dari berbagai pemikiran para ahli dunia, misalnya Erich Fromm, bahwa tidak ada manusia yang tumbuh dan berkembang secara ilmiah tanpa ada intervensi-intervensi dunia luar yang berada dalam lingkup internal manusia itu secara pribadi dan individual. 

Dalam posisi ini manusia harus mendapatkan rasa nyaman dan aman dalam perkembangannya. Melalui pendekatan logika ini, maka sangat jelas bahwa proses menonmanusiakan manusia atau dehumanisasi adalah dengan membalikkan kenyataan, yakni dengan membiarkan beberapa orang, ataupun kelompok untuk berkembang. 

Sementara itu, di sisi lain manusia yang kuat mengambil keuntungan dari posisi tersebut. Dari analisis demikian lahirlah ketimpangan-ketimpangan sosial, baik dari segi relasi, modal, pendapatan, alat produksi, sampai pada kesehatan dan pendidikan.

Dalam beberapa literature proses dehumanisasi, berjalan sangat linear dengan proses alineasi atau keterasingan manusia dari sumber-sumber alat produksi, pengahargaan diri oleh negara dan pengakumulasian kapital di pihak lain, serta kemiskinan permanen di pihak yang lain lagi. 

Negara dalam hal ini sebagai alat kekuasaan telah meredukasikan peran dan fungsinya semata-mata hanya sebagai mesin penyusun bagi kaum mapan (Pengusaha) untuk leluasa mengeksploitasi kekayaan, mengeksploitasi hak-hak dasar untuk dijadikan sebagai bagian dari bagan mengkayakan diri secara sepihak. 

Maka melalui pendekatan ini nyatanya memang secara prinsip sebagian besar manusia Indonesia pada umunya telah terdiskriminasi dan secara langsung dinonmanusiakan. Contohnya perusahaan-perusahaan swasta yang beroperasi di bumi Indonesia. Ironisnya adalah, Negara malah melapangkan para pemilik modal beroperasi tanpa menjadikan regulasi yang buat pemerintah sebagai rujukan. Alhasil, tindakan ketidakadilan menjamah para buruh di Indonesia.

Implikasi dari sebuah pemikiran yang holistik tentang humanisasi mengantar segenap orang (bangsa Indonesia) untuk bersikap respektif terhadap nilai-nilai luhur kemanusian dan saling berbagi kasih sebagaimana terkandung di dalamnya. Sikap serakah para pengusaha yang mencerminkan penindasan tidak dibenarkan dalam konstelasi Negara demokrasi. Kaum pekerja mestinya diperhatikan secara intensif dari pihak pemerintah agar proyek dehumanisasi tidak leluasa menjalar ke plosok-plosok negeri. 

Jika pendekatan sosial tidak efisien oleh karena kekuatan ekonomi pengusaha serta hasrat memperkaya diri yang begitu besar, maka pendekatan humanisasi adalah solusi, menjadi tombak penembus sekat – sekat diskriminatif dan memberi perlawan masif pada majikan berhati batu yang harusnya segera diperangi oleh pemerintah Indonesia.

KEMERDEKAAN PEKERJA INDONESIA
​Telah menjadi rahasia umum, bahwa kaum buruh di Indonesia masih amat jauh dari standar kesejahteran. Ihwal kemerdekaan ekonomi sungguh – sungguh dirindukan. Keberadaan Upah Minimum Regional (UMR) adalah indikator dalam menggapai kemerdekaan ekonomi para pekerja. Anehnya, UMR telah diatur sejak dulu, namun kemerdekaan tersebut masih jauh dari genggaman para pekerja Indonesia. 

Titik krusial penyelesaian persoalan ini ada pada diri pembuat regulasi dan nurani para pematuh. Ketegasan dari pihak pemegang kuasa regulasi adalah kunci utamanya. Sedangkan para pengusaha mesti melihat ini menggunakan hati nurani.
Chambers (1983) pernah mengemukakan bahwa sebenarnya orang-orang yang memiliki ekonomi lemah tidaklah malas, fatalistik, boros, dungu ataupun bodoh, melainkan mereka sebenarnya adalah pekerja keras, tekun dan ulet. 

Argumennya dilandasi bahwa mereka memiliki sifat-sifat tersebut karena meski lahir dengan kondisi ekonomi yang lemah, mereka sanggup mempertahankan hidupnya dan melepaskan diri dari belenggu rantai kelaparan. Bagaimana jadinya, jika para pengusaha yang lahir dalam kondisi demikian? belum tentu mereka dapat survive dan hidup lama. Kiranya mata nurani para penguasa dan pengusaha segera terbuka, sehingga kehidupan kolektif sesama manusia dapat terwujud.*


Oleh: Rendy Stevano
PMKRI Cabang Maumere

Diskusi Bupati Manggarai Barat Mencari Pemimpin

Name

anak muda,2,Badung,1,Bali,135,Ben Senang Galus,2,Bencana Alam,2,Berita,186,Bhineka,2,Birokrasi,2,BNI,1,Bola,3,bom,1,Bom Bunuh Diri,3,Borong,4,BPJS,1,Budaya,34,Bung Karno,1,Bunuh Diri,4,Bupati Mabar,2,Camilian,1,Celoteh,7,Cerpen,202,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,647,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,19,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,3,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,5,Editorial,30,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,35,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,10,Focus Discussion,1,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,8,Gedged,1,Gempa,7,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,2,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,27,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,68,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,9,Imlek,1,In-Depth,18,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,17,Internasional,17,Internet,2,Investasi,1,IPD,3,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,4,JK,1,Jogja,2,Jogyakarta,3,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,308,Kata Mereka,2,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,4,kebudayaan,3,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,6,Kemanusiaan,55,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,7,kerohanian,2,Kesehatan,5,Ketahanan Nasional,1,Keuangan,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,55,KPK,11,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,52,Kritik Sastra,3,Kupang,25,Labuan Bajo,51,Lakalantas,11,Larantuka,1,Legenda,1,Lembata,2,Lifestyle,3,Lingkungan Hidup,13,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,15,Mahasiswa,47,Makasar,6,Makassar,4,Malang,4,Manggarai,121,Manggarai Barat,21,Manggarai Timur,27,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,1,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,104,MMC,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,351,Natal,18,Ngada,8,Novanto,2,Novel,16,NTT,346,Nyepi,2,Olahraga,13,Opini,554,Orang Muda,7,Otomotif,1,OTT,2,Padang,1,Papua,16,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,25,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,19,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,19,Perindo,1,Peristiwa,1386,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Petrus Selestinus,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,40,Pilkada,98,Pilpres 2019,25,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,32,Polisi,24,politik,89,Politikus,6,POLRI,8,PP PMKRI,1,Pristiwa,39,Prosa,1,PSK,1,Puisi,100,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,9,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,2,Ruang Publik,26,Ruteng,30,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,14,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,1,Sekilas Info,42,Sekolah,2,seleb,1,Selebritas,28,selingkuh,1,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,31,Sospol,35,Spesial Valentine,1,Start Up,1,Suara Muda,229,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,10,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tentang Mereka,68,Tenun Manggarai,1,Terorisme,14,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,11,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,Ujian Nasional,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,21,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
MARJINNEWS.COM: Quo Vadis Buruh Indonesia
Quo Vadis Buruh Indonesia
https://3.bp.blogspot.com/--_ED4bLh9Ac/WufUSsAmK6I/AAAAAAAAAKk/wk7xQkKbv54VbrVKj214vw6YeUYzUX7iACLcBGAs/s320/IMG-20180501-WA0007.jpg
https://3.bp.blogspot.com/--_ED4bLh9Ac/WufUSsAmK6I/AAAAAAAAAKk/wk7xQkKbv54VbrVKj214vw6YeUYzUX7iACLcBGAs/s72-c/IMG-20180501-WA0007.jpg
MARJINNEWS.COM
http://www.marjinnews.com/2018/04/quo-vadis-buruh-indonesia.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/04/quo-vadis-buruh-indonesia.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy