Pojok Aquinas : Pendidikan Indonesia Kehilangan Nyawanya
Cari Berita

Pojok Aquinas : Pendidikan Indonesia Kehilangan Nyawanya

Marjin News
26 April 2018

Foto bersama, pemateri dan beberapa peserta diskusi yang hadir usai melakukan diskusi (foto : Mas Atan)

Yogyakarta, Marjinnews.com - Pendidikan sebagai alat reproduksi sosial dan sosial kontrol, kini masih terkapar dalam cengkraman kekuasaan dominan yang ironinya turut mereproduksi dan memperdalam ketimpangan sosial.

 Pendidikan yang dilihat dan diharapkan sebagai jalur emansipasi, masih belum mampu membawa keluar masyarakat dari keadaan terpuruk dan tertindas. 

 Kerja kekuasaan itu, tampak dalam bangunan sistem pendidikan yang sentralistik dan belum akomodatif terhadap kebutuhan masing-masing daerah.  Ditambah, kebiasaan ganti menteri ganti kurikulum. Hal tersebut diungkapkan oleh Roy Nabal yang menjadi pemantik dalam diskusi Pojok Aquinas PMKRI Jogja  yang bertemakan "Pendidikan". Pada, Rabu (25/4)

Lebih lanjut, Mahasiswa Magister Manajemen tersebut menilai kondisi pendidikan nasional saat ini telah kehilangan nyawanya. Corak pendidikan kolonial yang ekspolitatif dan kapitalistik masih terawat baik. Lembaga pendidikan berlomba-lomba mengais profit ekonomi ketimbang menghasilkan penelitian, pengabdian dan pembinaan. 

Lebih ironinya, ia melihat situasi pendidikan di Indonesia terjangkit virus mistisfikasi politik isue SARA. Menurutnya, begitu banyak peristiwa di lingkungan pendidikan terjangkit isue SARA. Mulai dari masalah penolakan ketua OSIS beda agama, penolakan guru beda agama dan sebagainya. Situasi ini baginya sangat mencedrai kebinekaan Indonesia.

Ia mengharapkan agar lembaga pendidikan tetap inklusif, tetap menjadi laboratorium demokrasi dan upaya pengawasan dari pemerintah melalui penambahan jumlah tenaga pengawas menjadi hal yang dibutuhkan. 

Selain itu, Tilda Galo yang juga adalah pemateri dalam diskusi Pojok Aquinas dalam menyoal kondisi pendidikan nasional terhadap perjuangan emansipasi perempuan dinilainya belum menyediakan kondisi yang kondusif. Masih lekatnya praktik patriarkal dalam dunia pendidikan saat ini.

Tak hanya itu, ia menilai persoalan emansipasi perempuan juga turut lahir dari dalam diri perempuan sendiri. Hal tersebut, dilihatnya tampak pada miskinnya kesadaran diri dan laku yang kurang pro-aktif dalam melibatkan diri pada urusan-urusan di ruang publik. Ditambah, beban kerja domestik yang dipasung padanya oleh dunia patriarkal.

Menutup diskusi, moderator Astra Tandang mengungkapkan bahwa kebutuhan mendesak kita adalah bagaimana menemukan alat kontra narasi sistem pendidikan yang eksploitatif dan kapitalistik. Sambil menyulam gerakan bersama  dalam mencerdaskan kehidupan anak bangsa ekstra lembaga pendidikan formal.

Baginya, saat ini kita butuh kembalikan roh pendidikan yang memebaskan dan memerdekakan yang tak hanya terpenuhi di dalam institusi formal pendidikan. Karena sekolah itu adalah "waktu luang atau senggang" yang dalam bahasa latin yakni  schola.*

  (Filemon/MN)