Pesan Terakhir Michael, Dokter Lulusan UNAIR yang Bunuh Diri di TP

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Pesan Terakhir Michael, Dokter Lulusan UNAIR yang Bunuh Diri di TP

MARJIN NEWS
12 April 2018

Sosok Michael mengagetkan banyak pihak. Dia seorang dokter umum alumnus Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga Surabaya. (Foto: Istimewa)
Surabaya, marjinnews.com - Peristiwa tragis terjadi di Tunjungan Plaza (TP) 6 Surabaya bersamaan dengan kebakaran yang melanda pusat pertokoan terbesar di Surabaya, Rabu (11/4/2018).
Seorang lelaki bernama Michael Mulyono (29) ditemukan tewas usai meloncat dari lantai 8 TP 6.

Sosok Michael mengagetkan banyak pihak. Dia seorang dokter umum alumnus Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga Surabaya.

Sebelumnya, Micheal membuka praktek di sebuah klinik di daerah Tandes, Surabaya. Polisi pun akhirnya menyimpulkan penyebab tewasnya pria kelahiran tahun 1989 itu murni bunuh diri.

Unit Indonesia Automatic Fingerprint Indentification System (INAFIS) atau Unit Identifikasi Polrestabes Surabaya, Aiptu Pudji Hardjanto mengungkapkan jatuhnya Michael bukan kecelakaan.

Pasalnya lantai atas Tunjungan Plaza terdapat pembatas setinggi dada orang dewasa.

"Kalau kecelakaan ngapain kecelakaan di situ masak main-main disitu, " jelasnya.

Luka yang diderita juga luka akibat terjatuh tanpa adanya kekerasan disengaja. Dalam artian luka terjadi karena benturan akibat terjatuh dari ketinggian.

"Pastinya saat jatuh masih dalam kondisi sadar, karena dalam CCTV juga terlihat kakinya jatuh lrbih dulu, tangannya berusaha menahan kemudian tidak sadar," tegasnya.
Menurutnya, luka yang dialami Michael umum ditemui pada jenazah akibat bunuh diri.

Barang Bukti dan Pesan Michael
Polisi menemukan barang yang diyakini milik Michael Mulyono yang ditemukan tewas setelah terjun dari lantai 8 Tunjungan Plasa (TP) 6 Surabaya. Barang milik pria berusia 29 tahun itu berupa tas.

"Kami menemukan tas yang diduga milik korban (Michael Mulyono). Tas itu ditemukan tergeletak di parkiran lantai 8 TP 6," sebut Kapolsek Tegalsari Surabaya, Kompol David Triyo Prasojo kepada SURYA.co.id, Kamis (12/4/2018).

David menerangkan, tas itu berisi barang bawaan korban. Ada buku, beberapa kertas dan polpen.
Tas itu ikut diamankan penyidik dan sudah dikonfirmasi ke keluarga, dibenarkan.

"Kalau HP tak disimpan di tas, dibawa korban dan ditemukan sudah hancur," jelas David.

Peristiwa ini, lanjut David, penyidik masih terus mengumpulkan keterangan saksi dan barang bukti. Termasuk memeriksa rekaman CCTV di sekitar lokasi kejadian.

"Kami masih dalami, termasuk mempelajari rekaman CCTV dari beberapa obyek," tutur David.
Saksi yang dimintai keterangan penyidik, tak hanya dari orangtua dan keluarga korban, tapi juga saksi di lokasi dan orang yang pertama melihat korban tergeletak di loading dock TP 6.

David menerangkan, dugaan kuat korban terjun dari lantai 8 TP 6, sebelum akhirnya ditemukan tewas.
"Sebenarnya kami ingin ada otopsi, tapi keluarga tidak mengizinkan. Keluarga meminta dibawa pulang setelah dari kamar jenazah RSUD Dr Soetomo," beber David.

Pihak keluarga membawa jenazah Michael Mulyono. Selanjutnya jenazah dikeremasi dan disemayamkan di Adi Jasa Jl Demak Surabaya.
Sementara keterangan lain menyebutkan, almarhum Michael Mulyono ini berangkat dari rumah di Kedungdoro, Sawahan Surabaya dengan tujuan TP, Rabu (11/4/2018) sekitar pukul 13.00 Wib.

"Korban pamitan ke adik kandungnya untuk jalan-jalan ke TP," sebut salah satu petugas yang menolak disebutkan namanya

Petugas itu mengatakan, keterangan dari ayah almarhum Michael Mulyono, korban dari rumah naik taksi online yang dipesannya guna pergi ke TP.
Setelah itu, korban tidak ada komunikasi dengan keluarga.

Ternyata, korban ditemukan tewas di loading dock TP 6 Surabaya.
Saat ditemukan korban yang mengenakan baju batik, posisi tertelungkup dan mengalami luka patah tulang bagian tangan kiri, pinggul kiri serta kaki kiri.

Bagaimana bisa seorang berpendidikan tinggi bisa nekat bunuh diri?

Tim penyidik Polsek Tegalsari Surabaya menduga dokter berusia 29 tahun itu nekat mengakhiri hidup lantaran mengalami tekanan psikis.
Menurut Kapolsek Tegalsari, Kompol David Triyo Prasojo, dari saksi-saksi yang dimintai keterangan menyebutkan korban sedang memiliki tekanan psikis yang luar biasa.

"Korban (Michael Mulyono) ini lulus sarjana kedokteran dengan nilai cumlaude pada enam atau tujuh tahun lalu. Dia dua kali mengambil spesialis jantung, tapi gagal," sebut David menjawab Surya.co.id, Kamis (12/4/2018) pagi.

"Itu keterangan dari saksi-saksi yang sudah dikumpulkan, kami belum membuat kesimpulan. Kami terus dalami sampai selesai," terang David.
Menurut mantan Kapolsek Tegalsari Surabaya ini, keterangan saksi orangtua korban belum banyak.

Penyidik belum bisa mengorek keterangan lebih dalam, lantaran keluarga masih suasana berduka.
"Kami belum bisa tanya lebih dalam, harus hati-hati dan pelan-pelan. Semampunya keterangan keluarga, karena masih berkabung dan juga beberapa kali menangis," cetus David.
Hal serupa disampaikan, Unit Identifikasi Polrestabes Surabaya, Aiptu Pudji Hardjanto mengungkapkan sempat berdialog dengan pihak keluarga terkait riwayat pendidikan Michael.

Diketahui Michael sempat mengikuti Seleksi Calon Mahasiswa Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis ( PS PDS ) FK UB.

"Katanya ambil PDS Bedah di UB, nggak tahu sudah selesai apa masih proses," ujarnya, Kamis (12/4/2018) pagi.

Masih menurut Aiptu Pudji, pihak keluarga juga mengetahui Michael sempat mengambil PDS Jantung di Universitas Airlangga namun gagal.

"Selebihnya saya nggak tahu, karena nggak ngobrol banyak tentang itu sama keluarga," pungkasnya.

Andi Mulyono, ayah Michael hingga pemulangan jenazah enggan berkomentar banyak. Ia mengungkapkan sempat bertemu anaknya pagi ini.

"Tiap hari ya ketemu. Tapi saya sedang berduka, nggak mau ditanya lagi ya," urainya. (AA/TC/SC/MN)