Perempuan Manggarai dan Bhineka Tunggal Ika yang Hilang
Cari Berita

Perempuan Manggarai dan Bhineka Tunggal Ika yang Hilang

MARJIN NEWS
19 April 2018

Saya sebagai seorang Molas Manggarai (red-Perempuan Manggarai) yang berdomisili di ibu kota Provisinsi NTT tepatnya Kupang. 
Manggarai merupakan salah satu daerah di Indonesia Timur. (Foto: Novi Astuti)

Bhineka Tunggal Ika (BTI) yang bearti berbeda-beda tetapi tetap satu. Indonesia merupakan negara yang terdiri dari berbagai rupa diantaranya suku, agama, ras, dan budaya. Dari perbedaan itu, ada banyak ditemukan pernyataan terkait perbedaan dan hubungannya dengan kondisi sekarang ini.

Banyak pihak yang menilai perbadaan merupakan satu sarana untuk membentang tembok pemisah.
Kita bukan lagi satu dari berbagai rupa. Melainkan berjalan berdasarkan kotak perbedaan yang melekat dalam diri setiap pribadi.

Dari ulasan singkat di atas, saya tertarik untuk membahas Budaya dan lebih kompleksnya lebih ke perbedaan dialek-dialek yang berujung pada ajang saling menjatuhkan.

Dialek atau bahasa merupakan satu sarana untuk mempertahankan jati diri dan mempertahankan profil pribadi seseorang. "Bahasa merupakan tanda" itu salah satu pepatah yang sangat mendukung dari berbagai tuntutan perbedaan itu sendiri.

***
Lalu bagaimana hubungan budaya dengan dialek itu sendiri?

Budaya adalah wadah yang mengajarkan semua tentang tata dan cara kehidupan manusia, dan dialek merupakan salah satu hal yang paling utama yang di ajarkan dalam budaya.

Saya sebagai seorang Molas Manggarai (red-Perempuan Manggarai) yang berdomisili di ibu kota Provisinsi NTT tepatnya Kupang.
Manggarai merupakan salah satu daerah di Indonesia Timur.

Kata Enu dan Molas Manggarai justru tidak asing lagi di dengar lebih khusus untuk yang berada di area Kupang. Ya, tidak bisa di pungkiri, di Kupang lebih dominan di tempati oleh orang Manggarai, baik itu dari kalangan mahasisawa, maupun dari kalangan penggusaha asal Manggarai yang berdomisi di Kupang.

Molas Manggarai (Perempuan Manggarai) sangat terkenal dengan wajahnya yang menawan, kulitnya yang eksotis dan di imbangi dengan postur tubuh menambah sempurnanya ciptaan Tuhan di darat Manggarai.

Namun keberadaan orang manggarai di kota ini diasingkan karena faktor dialek, saya sempat berfikir: kalau dialek kami salah, lantas dimana letak kesalahannya? Apa mereka yang belum belajar tentang BIK? Yang di dalamnya mengajarkan tentang perbedaan di Indonsesia.

Menurut saya ini salah satu hal yang keliru, mengapa?

Karena sejatinya tidak ada seorangpun yang berhak mengatur budaya suatu Daerah, bahkan atas dasar UU sekalipun.

Hal ini terbukti ketika setiap orang Manggarai berdialek menggunakan dialek asli Manggarai, pasti ada sebagian orang memberikan penilaian negatif terhadap hal tersebut. Bahkan sudah menjadi bahan ejekan bagi mereka.

Budaya inilah yang menujukkan sebuah keunikkan dari daerah yang bermotif songket dan berlogo komodo, dan masih banyak lagi keunikan dari daerah Manggarai yang di juluki sebagai surganya NTT.

Keunikkan dan Kekhasan daerah Manggarai bukanlah sebuah hiperbola atau sebuah kiasan belaka apalagi di dukung dengan hadiran sosok Enu Molas Manggarai.

Baju Mbero, Kain Songket, dan Bali Belo sebagai mahkota yang di kenakan oleh seorang Molas Manggarai adalah aset yang menambah aurat kecantikan serta keanggunan Molas Manggarai. Selain itu, bukan hanya penampilan yang patut di puji, melainkan intelektual dan toleransi serta kinerja dalam bidang pekerjaan.

Jadi Kesaimpulannya : Hargai perbedaan itu, karena setiap budaya memiliki kelebihan dan keunikan tersendiri.

Oleh: Octavia Ariata Wagur
Mahasiswi Universitas Cendana Kupang