Nietzsche dan Gejala Cinta Narsistik Ala Jacques Lacan
Cari Berita

Nietzsche dan Gejala Cinta Narsistik Ala Jacques Lacan

MARJIN NEWS
2 April 2018

Setiap momen yang terjadi dan telah kita jalani selama ini adalah salah satu bentuk dari “keberulangan abadi”. Tak lebih dari sebuah dongeng ataupun cerita belaka bagi banyak orang, Nietzsche tetap ngeyel untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat dipercaya. (Foto: Dok. Pribadi)
“Obat yang paling baik untuk menyembuhkan cinta adalah obat yang telah diketahui sepanjang zaman: membalas cinta.” – Friedrich Wilhelm Nietzsche

Cuplikan pernyataan Nietzsche tentang “cinta” di atas adalah sebuah pengantar pada konsep pemikiran keharusan bertindak di mana kehidupan yang kita jalani selama ini seakan adalah kehidupan “berulang” yang terjadi selama-lamanya.

Dengan kata lain, setiap momen yang terjadi dan telah kita jalani selama ini adalah salah satu bentuk dari “keberulangan abadi”. Tak lebih dari sebuah dongeng ataupun cerita belaka bagi banyak orang, Nietzsche tetap ngeyel untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang dapat dipercaya.

Meski memiliki konsep yang bagus tentang cinta, Nietzche si pembunuh Tuhan itu tetaplah manusia biasa. Membalas cinta ternyata bukanlah hal yang mudah dilakukan. Dua kali lamarannya ditolak oleh perempuan yang dicintainya, Lou Salome, Nietzsche akhirnya memilih untuk gamang; pilihan yang sesungguhnya tepat untuk seorang individualis yang sanggup menguatkan dirinya tanpa pretensi dari pihak luar.

Ditolak cinta adalah satu gambaran tragis ala anak muda. Jika Anda pernah merasakannya, mungkin sedikit banyak Anda juga bisa memahami Nietzsche. Tapi Nietzsche sendiri menyarankan Anda untuk tidak memahaminya. Sebab, jika memang benar Anda memahami Nietzsche, berarti Anda punya pengalaman tragis yang sekurang-kurangnya mirip dengan Nietzsche. Dari sini, saya patut kasihan kepada Anda.

Barangkali gagal cinta bukan satu-satunya pengalaman tragis yang dialami Nietzsche. Secara afektif, ia juga mengalami beberapa kegagalan dalam membina, misalnya, persahabatan dengan Wagner, komposer dan musikus Jerman pada waktu itu. Kegagalan-kegagalan semacam ini sesungguhnya masih bersifat mikro. Hidup Nietzsche digrogoti oleh penyakit yang pada 10 tahun terakhir membikinnya gila.

Cinta Sebenarnya Sebuah Gejala Narsistik

Pengalaman mencintai seorang Nietzsche hanya merupakan salah satu dari sekian banyak persoalan mencintai yang dialami oleh manusia. Banyak spekulasi yang kemudian berkembang soal apa makna cinta itu yang sesungguhnya.

Psikoanalis Perancis Jacques Lacan pernah menulis bahwa: “is not possible to say anything meaningful or sensible about love, ia juga melanjutkan bahwa  “the moment one begins to speak about love, one descends into imbecility” (Lacan, 1990, Seminar VIII: ON Transferennce, (ed) Jacques Alain-Miller:  hlm, 57 dan Lacan Seminar XX, hlm 17.)

Kita tak mungkin mengucapkan sesuatu yang bermakna dan masuk akal mengenai apa itu cinta,  begitu kita membicarakannya maka kita mendadak bego. Ucapan Lacan ini sebenarnya dimaksudkan sebagai semacam retorik, karena pada kenyataannya ia salah satu orang yang paling banyak membicarakan dan menulis tentang cinta sebagai suatu gejala mental.  Lacan bisa kita katakan sebagai salah satu pemikir humaniora paling intens dalam membahas cinta.

Dalam tradisi psikoanalisa, Sigmund Fredu adalah yang mula-mula  menjelaskan apa itu cinta. Di dalam Freud, cinta dimengerti sebagai  fenomena instingtual, dorongan libidinal ke arah objek cinta.  Freud menyebut  insting erotis ini sebagai Eros. Eros adalah insting yang mempertahankan hasrat manusia akan persatuan. Eros adalah insting untuk hidup, insting yang bertanggung jawab untuk tersediannya kreasi dan proliferasi kehidupan yang menghasilkan proses peradaban yang berupaya mengkombinasikan individu, orang banyak, bangsa dalam satu kesatuan.

Lacan meneruskan pandangan cinta sebagai hasrat libidinal dari Freud, namun demikian ia menggeser elaborasi Freud mengenai daya kreasi cinta dan hasrat kesatuan dari cinta.  Ketimbang meneruskan analisis Freud mengenai daya kreasi dari cinta, Lacan menekankan pemikirannya pada ilusi yang diakibatkan oleh ideal kebersatuan antara subjek dengan objek di dalam cinta.

Cinta diposisikan sebagai hasrat imajiner (imaginary passion) yang menyangkut perasaan cinta kepada ‘the other’ yang citranya kita bangun berdasarkan pandangan tentang diri kita sendiri.  Dengan kata lain cinta bukan lain adalah suatu mekanisme narsisitik, dimana subjek mencintai citranya sendiri di dalam objek yang dicintainya (loving me in the other).  Pandangan Lacan mengenai cinta sebagai mekanisme narsistik ini secara tepat diringkas oleh RD. Laing dengan formulasi sebagai berikut:

Narcissus fell in love with his image, taking it to  be another.
Jack falls in love with Jill’s image of Jack, taking it to be himself. 
She must not die, because then he would lose himself.
He is jealous in case any one else’s image is reflected in her mirror.
Jill is a distorting mirror to herself. Jill has to distort herself to appear undistorted to herself.
To undistort herself, she finds Jack to distort her distorted image in his distorting mirror She hopes that his distortion of her distortion may undistort her image without her having to distort herself.  (RD Laing, KNOT, 2005, hlm 36-37)

Lacan mengatakan bahwa cinta adalah fenomena yang mengambil tempat di instansi ‘yang imajiner’. Cinta adalah perasaan akan ‘kesamaan’ dengan/bersama seorang lain. Dalam proses formasi subjek, the other yang dicintai oleh si subjek dipandang sebagai keseluruhan dimana si subjek ingin berada di dalamnya. Kita mencintai objek yang dapat kita fungsikan untuk mengompensasi ‘kekurangan’ kita.

Renata Selecl memperkuat pandangan narsisitik mengenai cinta Lacan ini dengan menambahkan:

When we fall in love, we position the person who is the object of our love in the place of the ideal ego. We love this person because of the perfection we have striven to reach for our own ego. However, it is not only that the subject loves in the other the image he or she would like to inhabit him or herself. (Renata Salecl, 2000, Perversions of Love and Hate (London and New York: Verso, 13.)

Ketika kita ‘jatuh cinta’, kita memosisikan orang yang kita cintai sebagai objek dari cinta kita, orang lain itu sebagai ‘ideal ego’. Kita mencintai orang itu persis karena kesempurnaan yang didambakan ego kita sendiri.  Lebih jauh lagi, Lacan mengatakan :
*  “as a specular mirage, love is essentially deception whose perspective is centered on the ideal point. I place somewhere in the other from which the other sees me, in the form I like to be seen. (Lacan, Seminar XI, 68 )

Di titik ini, penting juga untuk melihat cinta sebagai produksi yang simbolik, karena cinta tak mungkin menjadi cinta tanpa diungkapkan ke dalam yang simbolik. Cinta bukan cinta apabila tidak dinyatakan sebagai cinta.  Lacan mengatakan Without speech, inasmuch as it affirms being, all there is Verliebtheit, imaginary fascination, but there is no love. There is inflicted love, but not the active gift of love. (Lacan, Seminar I, 276-27 ).

Ketika seseorang (misalnya) seorang  gadis menyatakan bahwa ia mencintai si laki-laki, ada dua kemungkinan terjadi: pertama, dengan itu ia mengungkapkan kepada si laki-laki rasa kekurangannya (lackness). Kedua, pada saat yang sama ia menyatakan hasratnya akan respons dari si laki-laki kepadanya. Dengan demikian, pernyataan cinta adalah pernyataan akan lackness.  Di titik ini benar apa yang dikatakan Zizek  bahwa “hanya yang berkekuranganlah yang mampu mencintai”.

Analisa Lacan ini , memang secara khusus ditujukan untuk melihat cinta sebagai gejala narsistik. Pada titik ini, fungsi pandangannya mengenai cinta  berguna secara ‘klinis’ untuk menghadapi sisi gelap cinta. Dengan memosisikan cinta di dalam instansi yang imajiner (the imaginary),  maka Lacan mengenakan cinta sebagai elemen residual dari kontradiksi antara ‘yang nyata’ dengan ‘yang simbolik’. Cinta adalah lambang keterasingan di mana subjek ‘secara sadar’ tidak menyadari miss recognition yang ia kenali di dalam objek yang ia cintai.

Lalu bagaimana dengan kisah cinta Nietzsche dan kita yang pernah mengalami kisah tragis? Anda sendiri yang bisa menjelaskannya.

Oleh: Andi Andur