Meninggalnya Ferdinandus Taruk Bukti Buruknya Pelayanan Publik di Manggarai

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Meninggalnya Ferdinandus Taruk Bukti Buruknya Pelayanan Publik di Manggarai

MARJIN NEWS
7 April 2018

Pihak Rumah Sakit dan Polres Manggarai sama-sama lalai terhadap kewajiban untuk menyelamatkan korban bahkan keduanya bersikap pasif dan hanya menunggu ajal tiba, sehingga dengan demikian layak dimintakan tanggung jawab hukum. (Foto: Istimewa)
Ruteng, Marjinnews.com - Korban penembakan oleh orang tak dikenal yang menimpa Ferdinandus Taruk warga Karot, Langke Rembong beberapa hari yang lalu menyisahkan banyak pertanyaan bagi sebagian kalangan di Manggarai Raya.

Hingga korban meninggal dunia, sampai saat ini pelaku penembakan itu belum juga berhasil diungkap oleh pihak kepolisian Resort Manggarai yang menangani kasus penembakan ini.

Petrus Selestinus adalah salah satu yang mempertanyakan kinerja dari aparat kepolisian yang menangani kasus ini.

Menurut Selestinus, Kapolres Manggarai harus bertanggung jawab atas meninggalnya Ferdinandus Tarok, warga Karot, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai.

"Mengapa Kapolres harus bertanghung jawab, karena sejak terjadi penembakan hingga sekarang Ferdinandus Taruk (korban) dan Peluru yang bersarang di Kepala korban merupakan barang bukti untuk keperluan penyidikan Polres Manggarai," ujar Petrus Selestinus kepada Marjinnews.com pada Sabtu (7/4) siang hari tadi.

Lanjutnya, kematian Ferdinandus Taruk, menjadi bukti bahwa Polres dan Rumah Sakit tidak menjalankan fungsi pelayanan publik dengan baik, mereka melalukan pembiaran karena tidak ada upaya yang dilakukan berupa tindakan medis berupa mendatangkan dokter ahli untuk operasi mengeluarkan peluru, baik untuk kepentingan penyidikan maupun untuk kepentingan medis (penyembuhan).

Tambahnya, ada dua instansi yang harus bertanggung jawab yaitu pihak RSUD Ban Mboi dan pihak Polres Manggarai, karena diduga telah membiarkan korban tetap menderita hingga ajal menjemputnya dengan peluru tetap bersarang di Kepala.

"Apapaun alasannya, RSUD Ben Mboi dan Polres Manggarai harus bertanggung jawab atas meninggalnya Ferdinandus Taruk. Pihak Rumah sakit dianggap melakukan pembiaran karena, tanpa upaya maksimal mengeluarkan peluru dari kepala Ferdinandus Tarok hingga ajal menjemput. Sedangkan pihak Polres Manggarai tanggung jawabnya terkait dengan kepentingan penyidikan dan menciptakan ketertiban unum. Kepentingn penyidikan mengharuskan Penyidik mengemuarkan peluru yang bersarang di kepala korban Fredinandus Tarok harus untuk mengurangi rasa sakit atau menyembuhkan dan dijadikan barang bukti, sedangkan korban Ferdinandus Taruk sendiri sangat diperlukan keterangannya untuk mengungkap motif-motif dan siapa sesungguhnya menjadi pelaku penembakannya. Ini butuh kerja sama antara RSUD Ben Mboi dan Polres Manggarai, tapi hal itu tidak terdengar dilakukan," jelas Selestinus.

Koordinator TPDI itu menjelaskan, Polres Manggarai dan Pihak RSUD Ben Mboi terkesan hanya mau menunggu datangnya ajal, padahal waktu untuk mencari solusi sebagai upaya untuk menyelamatkan korban masih tersedia cukup.

"Tidak ada upaya untuk mendatangkan dokter ahli dan peralatan yang memadai dari luar untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di kepala Ferdinandus Taruk, mengindikasikan sikap pembiaran itu ada," tukasnya.

Lanjutnya lagi, Pihak Rumah Sakit dan Polres Manggarai sama-sama lalai terhadap kewajiban untuk menyelamatkan korban bahkan keduanya bersikap pasif dan hanya menunggu ajal tiba, sehingga dengan demikian layak dimintakan tanggung jawab hukum.

Pelayanan Publik Terburuk.

Ini merupakan salah satu model "pelayanan publik" yang paling buruk di Manggarai, ketila rakyat kecil di Flores yang jadi korban, pihak RSUD dan pihak Polres hanya bersikap menunggu dan mengeluh sedangkan kewajiban hukumnya untuk menyelamatkan korban tidak pernah diperlihatkan.

Kewajiban hukum yang menjadi kewajiban utama adalah upaya bersama untuk menyelamatkan jiwa Ferdinandus Taruk.

Problem hukum yang muncul sekarang adalah soal autopsi melalui operasi untuk mengeluarkan peluru dalam rangka pengungkapan sebab-sebab kematian dan siapa yang menjadi pelaku penembakan gelap, karena faktor ijin dari keluarga korban Ferdinandus Tarok. Pungkas Anggota Peradi itu.

Untuk diketahui, warga asal Sondeng, Kelurahan Karot, Kecamatan Langke Rembong, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) meninggal dunia setelah ditembak pekan lalu. Hingga menembuskan nafas terakhir, peluru masih bersarang di kepalanya.

Ferdinandus Taruk, pemuda 24 tahun ini tutup usia di Ruangan Dahlia RSUD Ben Mboi Ruteng, Sabtu, 7 April 2018 sekitar pukul 09.30 Wita.

Laporan: Oswaldus Junas
Editor: Remigius Nahal