Mengenal 4 Tarian Sakral di Manggarai Raya, Apa Saja? Berikut Ulasannya
Cari Berita

Mengenal 4 Tarian Sakral di Manggarai Raya, Apa Saja? Berikut Ulasannya

MARJIN NEWS
3 June 2018

Tari sakral adalah tari yang ditarikan oleh masyarakat di suatu daerah yang biasanya ditarikan pada upacara adat, dan menggunakan pakaian adat yang sudah ditentukan. (Foto:Istimewa)
Marjinnews.com - Tari sakral adalah tari yang ditarikan oleh masyarakat di suatu daerah yang biasanya ditarikan pada saat upacara adat, dan menggunakan pakaian adat yang sudah ditentukan

Tari sakral adalah sebuah tarian yang dipentaskan di bagian halaman atau di dalam rumah adat.

Dalam hal ini tari sakral tersebut dipentaskan di bagian dalam atau halaman pada bagian paling utama pada sebuah rumah adat, dan pementasan tersebut pun tidak sembarang, karena berhubungan dengan upacara adat.

Begitu juga di daerah tercinta Manggarai. Ada beberapa tarian yang dianggap sakral dan tidak boleh dipentaskan secara sembarangan.

Berikut ini adalah 4 tarian sakral yang ada di Manggarai antara lain;

1. Tarian Raga Sae( Congka Sae)

Tarian ini merupakan jenis tarian magis yang hanya dimainkan pada saat upacara besar seperti kenduri melalui upacara adat 'Kelas Paki Kaba' (Kenduri Besar), yang merupakan puncak dari semua ritual adat kematian orang Manggarai, dan acara Congko Lokap (peresmian rumah gendang, gedung besar).
Prosesi ini juga baru bisa digelar setelah seluruh warga sanggup membangun rumah adat yang baru di kampung yang baru dan juga telah selesai membuka atau membagi lahan pertanian yang baru.

Tradisi tarian sakral sae diiringi nyanyian dan doa bagi para leluhur desa yang mengiringi prosesi upacara paki kaba atau pengorbanan kerbau dan babi yang dilakukan warga desa untuk mengucap syukur atas selesainya rumah adat yang baru mereka bangun.

Tarian sae ditarikan pria dan wanita menggunakan sapu tangan dan selendang dengan tanpa alas kaki sebagai penghormatan kepada para leluhur di pelataran depan rumah adat yang baru. Sedangkan tokoh adat menari sambil melambaikan parang. Prosesi tari hingga paki kaba biasanya dilakukan selama 5 hari berturut-turut.

2. Tarian Caci

Tarian ini dilakukan pada acara khusus, seperti saat syukuran musim panen (hang woja), ritual tahun baru (penti), serta dalam beberapa upacara adat lainnya.
Caci merupakan ringkasan dari kata "Ca" yang bermakna satu, dan "Ci" yang berarti uji. Artinya untuk menentukan tingkat kematangan seorang laki-laki di masyarakat tersebut, mereka harus melalui uji ketangkasan dalam sebuah pertarungan satu lawan satu.

Makna Tari Caci

Di mata masyarakat Manggarai, laki-laki yang sudah pernah melakukan tarian ini berubah menjadi pria dewasa dan mendapatkan penghormatan, baik dari tetua adat maupun kaum wanitanya.

Uniknya, kebanggaan mereka justru terletak pada banyaknya luka bekas cambuk pada kulit. Semakin banyak bekas cambuk, maka derajat lelaki tersebut semakin diperhitungkan.

Sebagaimana fungsinya, Tari Caci merupakan media bagi para laki-laki Manggarai untuk membuktikan kejantanan mereka.

Walau tersaji dengan kandungan unsur kekerasan di dalamnya, kesenian ini memiliki pesan yang damai. Seperti semangat sportivitas, saling menghormati, dan, yang paling penting, tak meninggalkan rasa dendam di antara para petarung.

Tarian ini memiliki tiga makna, yakni Naring, Hiang, dan Mengkes. Naring artinya memuji, Hiang artinya menghormati, dan Mengkes artinya bergembira.

Jadi tarian ini adalah sebuah tarian yang dilakukan dengan perasaan gembira untuk menghormati lawan sekaligus menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan.

Tarian ini juga mengombinasikan antara Lomes, Bokak, dan Lime.

Lomes merupakan perpaduan keindahan gerak tubuh dan busana yang dipakai para petarung.

Sementara Bokak adalah keindahan seni vokal yang dilakukan petarung dan pengiring sekitarnya, serta Lime yang merupakan ketangkasan dalam mencambuk atau menangkis cambukan lawan.

Para petarung pun dibekali kemampuan olah vokal untuk bernyanyi. Mereka secara spontan akan bernyanyi ketika menangkis cambukan untuk menyampaikan Paci --tantangan untuk memengaruhi lawan serta untuk memotivasi atau menggelorakan semangat dalam diri.

Para petarung yang melakukan serangan dengan lecutan cambuk disebut Paki, sementara bagi petarung yang menangkis dengan perisai dijuluki Ta'ang.

Karena berpotensi mencederai fisik, atraksi para petarung pun dibentengi dengan beragam aturan. Mereka hanya boleh menargetkan cambukan pada bagian tubuh atas lawannya, seperti lengan, punggung, atau dada.

Para petarung pun akan menggunakan kostum layaknya prajurit yang akan maju ke medan perang. Mereka bertelanjang dada, hanya menggunakan penutup kepala yang disebut Sapu dan topeng yang terbuat dari kulit kerbau untuk melindungi bagian vital pada muka yang disebut Panggal.

Pakaian bawah yang dikenakan pun terdiri atas celana panjang sebetis dengan kelengkapan sarung khas dari Manggarai berwarna hitam yang disebut Songke.

Selain itu, sebagai aksesori tambahan, para petarung juga memakai gelang giring-giring pada bagian dibawah punggung yang berbunyi mengikuti gerakan tarian dalam pertarungan.

Salah satu pemain akan dinyatakan kalah jika terkena cambuk pada bagian mata atau kepala. Tentunya pada bagian kepala terdapat aksesori seperti kanopi untuk melindungi mata dan dahi.

Usai permainan, kedua petarung dan kelompok pendukungnya dikumpulkan untuk berjabat tangan, sebagai simbol tak ada dendam di antara mereka.

Usai bertarung mereka pun duduk bersama, menikmati sopi --tuak khas Flores. 

3. Tarian Danding 
Tarian ini biasanya dilakukan seebelum para penari Caci dipertandingkan dalam sebuah arena pertunjukan, acara ini terlebih dahulu akan diawali dengan Tari Danding khas Manggarai. Tarian ini juga bisa lakukan saat pementasan caci itu berlangsung dengan tujuan untuk menambah semarak dari upacara Caci itu sendiri.

Tarian ini kerap dilakukan para lelaki dan wanita sebagai pembuka dalam sebuah acara adat.

Pada saat kedua petarung memasuki arena, mereka terlebih dahulu melakukan pemanasan dengan menari sembari menyuarakan tantangan yang diringi lagu-lagu adat.

4. Tarian Sanda
Tarian Sanda adalah tarian melingkar sebagai lambang kebersamaan yang diikuti pria dan wanita dan hanya boleh dilakukan di dalam rumah adat.

Tarian ini biasanya dilakukan saat menjelang upacara penti yaitu upacara syukur orang Manggarai terhadap hasil panen.

Sanda biasanya dinyanyikan tanpa diiringi dengan alat musik gong atau gendang.

Demikianlah sejumlah tari sakral yang sering dipentaskan pada saat upacara adat di tanah Manggarai Raya. 

Tarian-tarian tradisional ini masih berkembang dengan baik sampai saat ini. Diyakini pementasan masing-masing tarian tersebut disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari pihak-pihak penyelenggara.

Catatan; Seiring perkembangan jaman lebih khusus tarian caci dan danding kerap kali dilaksanakan tanpa harus ada upacara adat. Kedua tarian ini sering dipentaskan dalam upacara syukuran atau pementasan dalam penyambutan tamu.

Penulis: Remigius Nahal