Menarik, Cerpen ‘Lelaki Kantong Sperma’ Menceritakan Penyimpangan Seksual Pada Mayat
Cari Berita

Menarik, Cerpen ‘Lelaki Kantong Sperma’ Menceritakan Penyimpangan Seksual Pada Mayat

MARJIN NEWS
1 November 2018

Kisah yang diceritakan dalam cerpen ini memang terasa aneh, karena sang penulis asal Klungkung-Bali tersebut menyuguhkan fenomena tentang seseorang yang memiliki penyimpangan atau gangguan seksual yang berbeda, yaitu terhadap mayat atau orang yang sudah meninggal. (Foto: Virgilius Gheryl Ngalong)
Denpasar, Marjinnews.com - Kisah yang diceritakan dalam cerpen ini memang terasa aneh, bagaimana tidak karya Juli Sastrawan yang tergabung dalam sebuah buku antologi cerpen bertajuk ‘Lekaki Kantong Sperma’ cukup memberikan pengetahuan kita tentang masalah seksual yang dialami manusia yakni pada mayat.

Dan berikut ini adalah sepenggal ilustrasi yang terdapat didalam cerita pendek itu;

“Betapa beruntungnya suamimu. Kini, aku pun juga berkesempatan merasakan keberuntungan itu.” Dibukanya sarung tangan yang masih melekat, kini tak ada sekat yang membatasi sentuhannya dengan si mayat. Dia menikmati setiap remasan yang dilakukan, bergerak acak tanpa pola. Dia kembali mengambil gunting dan seketika memotong celana dalam si mayat. Digenggamnya celana dalam itu dan ditempelkan dihidungnya. Matanya terpejam menghadap langit-langit dan menikmati aroma yang disuguhkan.

Dari penggalan ilustrasi cerita pendek (cerpen) berjudul ‘Aurat Si Mayat’ karya Juli Sastrawan yang tergabung dalam sebuah buku antologi cerpen bertajuk ‘Lekaki Kantong Sperma’ diatas diceritakan oleh sang penulis dengan menyuguhkan fenomena tentang seseorang yang memiliki penyimpangan atau gangguan seksual yang berbeda, yaitu terhadap mayat atau orang yang sudah meninggal.

Tentunya persoalan semacam ini masih sangat lazim dan tabu untuk dibicarakan disekitar lingkup kehidupan, namun pemilik nama lengkap I Putu Agus Juli Sastrawan ini mengfiksikan beragam kelainan gangguan seksualitas lewat kumpulan cerpennya itu.

Buku antologi cerpen cetakan pertama, maret 2018, setebal 103 halaman, terbitan Mahima Institute Indonesia tersebut berisikan 9 cerpen yang semuanya mengisahkan tentang beragam penyimpangan seksual sebagai ‘benang merahnya’.

Seperti diantaranya nekrofilia, pedofilia, parafilia, homoseksual dan lain-lain. Menariknya, lewat suatu bentuk karya sastra itu pula, Juli Sastrawan atau yang akrab disapa Pegok, ingin mengajak para pembaca atau siapa saja untuk tidak menafikan sesuatu hal yang tabu untuk dibicarakan.

Saat ditemui dalam acara Book Launch Party bertajuk ‘Santai Bersama: bincang Santai Buku Lelaki Kantong Sperma’ yang digelar oleh Sindikat Pesta Kebon, di Jalan Dewi Madri IV nomor 2, Denpasar, belum lama ini, Pegok menuturkan, jika antologi cerpennya tersebut menyimpan banyak pesan moran yang harus diketahui banyak orang.

“Ya disini aku membuat kumpulan cerpen yang memang sesuai dengan konsep aku sendiri. Dimana seksualitas itu memang harus dibicarakan. Tentu agar kita ‘patuh’ pada hal tabu dan jika mentabukan sesuatu, seperti masalah seksualitas ini akan semakin parah. Misalkan seperti kekerasan seksual dan kehamikan dini,” jelas Pegok.

Lebih jauh dari masalah minimnya pengetahuan banyak orang terhadap seksualitas, Pendiri Komunitas Literasi Anak Bangsa ini juga ingin menyampaikan pesan kepada pembaca, agar setiap orang juga bisa meninggalkan pandangan atau stiga buruk terhadap penderita kelainan seksual.

Secara garis besar, lewat cerpen-cerpen itu juga secara tidak langsung, Pegok ingin memperkenalkan beragam masalah seksual tersebut bahwa kelainan itu merupakan suatu penyakit dan bukan karena hal-hal yang lain seperti kerasukan roh jahat, disantet orang atau lain sebagainya.

Pembuktian tersebut dirinya mengisahkan lewat beberapa cerpen yang ditulisnya berdasarkan hasil riset dan penelitian yang cukup lama dari beragam media informasi.

“Seperti cerpen berjudul ‘Aurat Si Mayat’ dan ‘Parafilia’ itu tadi. Jadi dua cerpen ini aku ingin memfiksikan sesuatu hal yang ilmiah dari penderita seksual yang menyimpang seperti nekrofilia dan parafilia itu sendiri.

Dan saya pikir kelainan seperti ini jika dibahasakan lewat suatu karya fiksi, tentu akan lebih mudah dicerna dan tidak ‘menyeramkan’. Kedua cerpen ini yang sebenarnya paling lama saya riset dari internet dan media informasi yang mengulas tentang kasus tersebut,” jelas pengajar di Yayasan Gemah Ripah Pacung ini.

Sementara itu, disinggung tentang dari mana ide tema kelainan seksualitas tersebut ditulis, anak muda kelahiran Klungkung, 6 Juli 1993 ini menjelaskan jika dirinya terinspirasi dari kisah seseorang laki-laki yang mengalami kelainan jiwa di desa tempat tinggalnya, di Klungkung.

Pasalnya pria tersebut sering meresahkan warga sekitar, karena tingkah polanya yang tidak biasa, seperti berjalan keliling sembari memegang alat kelaminnya.

Tidak hanya itu, selain di anggap gila oleh sebagian orang, pria ini juga kerap mendekati perempuan yang tengah melakukan aktivitas mencuci ataupun mandi sambil onani.

“Nah berangkat dari hal itu, aku mulai berpikir hal apalagi yang mungkin akan terlintas di pikiran laki-laki itu. Memang perasaan takut sebelum menulis tentang kelainan seksual dari orang terdekat di tempat tinggal saya ini pastinya ada.

Tapi buat aku, dari kisah cerpen itu juga aku ingin orang lain bisa meninggalkan stigma buruk terhadap para penderitanya. Selain itu, juga agar pembaca bisa lebih mengetahui sejak dini beragam gangguan seksualitas,” pungkas Pegok.

Untuk diketahui, lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha ini pernah menciptakan karya yang masuk dalam kategori 10 esai terbaik mahasiswa se-Bali (2014).

Pegok juga pernah menjuarai lomba esai Festival Anti Korupsi di tahun 2017 yang diselenggarakan oleh Aliansi Jurnalis Independent (AJI) Denpasar dan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Laporan: Virgilius Gheryl Ngalong
Editor: Remigius Nahal