Membangun Sektor Pertanian Jika Anda Enggan Menganggur
Cari Berita

Membangun Sektor Pertanian Jika Anda Enggan Menganggur

MARJIN NEWS
4 April 2018

Kondisi pertanian kita saat ini tengah mengalami diskursus serius. Pertumbuhan sektor pertanian terhambat karena keterbatasan akses petani, nelayan dan peternak pada proses permodalan. Pemerintah dan pihak terkait harus mencari terobosan baru agar sektor hang menyerap 35,9 juta tenaga kerja ini bisa tumbuh maksimal. (Foto: Ilustrasi)
Editorial, marjinnews.com - Polemik ketenagakerjaan terus saja berlangsung hingga sekarang tanpa henti. Beberapa waktu lalu regulasi soal penekanan bisnis transportasi daring (dalam jaringan) menjadi sorotan. Selain karena persoalan kemacetan, minimnya pantauan keamanan pihak perusahaan dan para pegawai karena hanya sebatas mitra kerja membuat salah satu penyedia lapangan kerja terbesar itu berada di ujung tanduk.

Polemik tersebut hanya menjadi contoh kecil dari sekian banyak persoalan ketenagakerjaan di Indonesia. Kejadian lain yang tidak kalah penting adalah tentang regulasi pemerintah soal tenaga kerja migran atau TKI kita yang bekerja di luar negeri. Fokus perhatian kita baru terfokus kesana ketika salah seorang TKI dihukum mati di Arab Saudi dan beberap peti mati dipulangkan ke tanah air dengan kondisi yang sangat mengenaskan dan menikam nurani.

Kembali Fokus ke Pertanian
Tidak ada cara lain untuk bisa segera keluar dari polemik berkepanjangan seperti disebutkan di atas. Indonesia sudah harus mengenal identitasnya sebagai pemilik kekayaan alam yang melimpah ruah untuk dikembangkan menjadi sebuah sumber lain dalam menyerap tenaga kerja seperti bidang pertanian.

Kondisi pertanian kita saat ini tengah mengalami diskursus serius. Pertumbuhan sektor pertanian terhambat karena keterbatasan akses petani, nelayan dan peternak pada proses permodalan. Pemerintah dan pihak terkait harus mencari terobosan baru agar sektor hang menyerap 35,9 juta tenaga kerja ini bisa tumbuh maksimal.

Berdasarkan hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pada tahun 2015, hanya sekitar 15 persen petani yang mengakses kredit perbankan, 33 persen mendapat akses Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri dan Kredit Usaha Rakyat (KUR).

Adapun 52 persen sisanya mengandalkan modal sendiri, koperasi, kerabat dan lembaga keuangan nonbank. Kredit bank umum di sektor pertanian tahun 2015 hanya mencapai 9 persen.

Data tersebut menandakan bahwa sektor pertanian masih kurang menarik minat perbankan untuk membiayainya. Kendala yang sering dihadapi petani dalam menarik minat perbankan adalah soal budidaya dan pemasaran. Kecenderungan tidak tetapnya prospek petani soal dua kendala tersebut diakibatkan minimnya perhatian para pakar dan pihak terkait untuk bisa mendatangkan modal yang cukup untuk pemodalan awal petani.

Ini berimbas pada pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan, dan peternakan yang kian galau setiap tahunnya. Pada tahun 2014 pertumbuhan ketiga sektor itu mencapai 4,2 persen, lalu turun lagi pada tahun 2015 yaitu 3,8 persen. Bukannya naik, pada tahun 2016 tingkat pertumbuhannya turun menjadi 3,4 persen dan naik lagi menjadi 3,8 pada tahun 2017.

Mengatasi masalah permodalan diperlukan kerja sama antara petani, koperasi, perusahaan, asuransi dan perbankan. Hal ini akan menjadi modal bagus untuk mulai membina sumber daya manusia, membaca pangsa pasar dan paling penting adalah menyerap tenaga kerja yang cukup banyak.

Selain itu kemitraan akan membuat sebuah siklus baru yang akan memotong mata rantai tengkulak. Meminimalisir aksi saling peras dan upaya pemerasan terhadap petani untuk keuntungan pribadi.

Investor baru akan menamkan modal jika sebuah sektor itu benar-benar potensial. Petani membutuhkan para pemerhati sektor tersebut agar bisa benar berdaya saing di pasar nasional dan internasional.

Sobat muda siap menjadi bagian dari pelopor-pelopor perubahan itu? Yuk pulang kampung...

Penulis: Andi Andur