Lestarikan Budaya Daerah, Siswa SDI Baja Elar Selatan Matim, Praktik Menganyam Tikar
Cari Berita

Lestarikan Budaya Daerah, Siswa SDI Baja Elar Selatan Matim, Praktik Menganyam Tikar

MARJIN NEWS
14 April 2018

Peran aktif pendidik dan pemerintah daerah sangat dituntut dalam meningkatkan prestasi belajar dan menumbuhkan rasa kedaerahan dalam melestarikan budaya daerah. (Foto: HSK/MN)

Borong, Marjinnews.com - Demi menjaga kelestarian budaya daerah, Siswa-siswi kelas VI (Enam) Sekolah Dasar Inpres (SDI) Baja praktik membuat prakarya anyaman tikar dan kandang ayam, Kamis (12/04/2018) di halaman sekolah SDI Baja, Desa Benteng Pau, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur.

Praktik membuat anyaman tersebut dibagi dalam dua kelompok.
Kelompok siswa perempuan, membuat anyaman tikar dengan bahan dari daun pandan, kelompok siswa laki-laki membuat anyaman kandang ayam dengan bahan dari rotan.

Guru mata pelajaran Seni Budaya dan Keterampilan (SBK), Eldis Inat mengaku senang dengan adanya kegiatan seperti ini.

"Saya selaku guru mata pelajaran senang karena dapat membangkitkan semangat kreativitas siswa dalam berbagai bentuk teknik anyaman". Katanya.

Praktik membuat anyaman ini adalah sebagai bentuk pelestarian budaya daerah kepada peserta didik sejak dini untuk mengimbangi masuknya budaya modern yang mampu mengikis budaya nenek moyang kita.

"Kegiatan ini sangat membantu siswa agar mendapat pengetahuan dan keterampilan serta mampu bersaing dalam menerapkan  budaya-budaya lokal Manggarai Timur". Kata Eldis.

Lebih lanjut Ia mengatakan, bahwa peran aktif pendidik dan pemerintah daerah sangat dituntut dalam meningkatkan prestasi belajar dan menumbuhkan rasa kedaerahan dalam melestarikan budaya daerah.

"Harapan kami semoga pemerintah dapat memfasilitasi peserta didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar dan pelestarian budaya".

Salah seorang siswi, Modesta mengatakan sangat senang.

"Kami senang. Dengan adanya praktik seperti ini, kami bisa belajar menganyam tikar". Tuturnya.

Laporan: Heribertus Kandang
Editor: Remigius Nahal