$type=carousel$cols=3

Kenangan, Memori Tentang Seorang Gadis Biara

Samudera yang paling luas sekalipun masih ada tempat baginya untuk berbagi penat dengan membuih di sudut-sudut karang. (Foto: Rati Dimung)...

Samudera yang paling luas sekalipun masih ada tempat baginya untuk berbagi penat dengan membuih di sudut-sudut karang. (Foto: Rati Dimung)
Di sini hanya sebuah foto. Terpampang dua rupa. Juga sebuah surat dan pada ujungnya terdapat nama dan tanda tangan. Singkat. Bahkan tanpa tahun, bulan, tanggal, apalagi hari saat tanganmu menari di atas kertas putih ini.

Mataku tak tanggung-tanggung, menyipit, melebar dalam setiap kata-katamu huruf-demi huruf. Membuka dan membacanya berkali-kali. Hanya rindu yang membawaku untuk kembali ke sana. Meski kupaksakan untuk membayangkan ekspresimu juga menerka-nerka perasaanmu saat kau menulisnya untukku.

Aku tersentak juga sesimpul senyumku cetus. Ketika katamu mengingatkanku berkali-kali.
”Ingat Yanti tak pernah berubah!!! Simpanlah surat ini. Karena suatu saat aku akan menagihnya kembali.” Aku tertegun. Kadang merenung sendiri. Termangu. Betapa hebatnya sosokmu. Lalu aku kembali pada bait pertama suratmu. Di sana kau menyakinkanku.

”Sekarang aku harus pergi. Meninggalkan segala-galanya. Termasuk kamu. Aku tak akan pernah berhenti tuk mencintai dan mendoakanmu.”

Seakan ini menjadi cambuk yang mendorongku untuk tetap kuat dan bangun selalu dalam setiap hidupku.
Surat itu hingga kini masih utuh. Seturut kata-katamu. Aku menjaganya dengan segenap kepala dan saku bajuku. Meski kadang ada protes dalam benakku. Kenapa kau tidak menuliskan hari, tanggal, bulan, dan tahun saat kamu menulisnya untukku? Sulit bagiku menerkanya jika kau menulisnya dalam ketergesaan.

Aku tetap yakin kau menulisnya dalam waktu. Dengan segala perasaan yang ada padamu, jika semua kata-katamu lahir dari isi hati. Dari ketulusan. Dari segala yang ada padamu. Tentu aku tak harus selarut ini bergelayut dalam perasaan tiada bertepi.

Samudera yang paling luas sekalipun masih ada tempat baginya untuk berbagi penat dengan membuih di sudut-sudut karang. Atau ombak yang paling ganas pun tetap mempunyai cinta untuk senantiasa berbagi keteduhan saat menghempas butiran pasir. Namun di sini, seakan rindu itu kering dan tak ada tempat untukku.

Meskipun pada bait kedua dari suratmu tertulis indah dengan jelas
”satu hal yang perlu kamu ingat! Aku mencintaimu kapan dan di mana saja. Jangan bersedih karena kepergianku. Karena aku selalu menyanyangimu.”

Di sini ada daya hati yang melebihi pecahan ombak dan gemuruh lautan yang maha besar. Bahwa cinta itu di mana saja ada. Setidaknya ini yang aku mengerti meski kadang kau tak mengerti apa-apa tentang itu. Aku kembali dan sekan dikenakan mantel kumal dengan kekuatan  cinta tiada tara. Kamu telah menitipkan sebuah kesetiaan untukku.

Aku percaya sesungguhnya yang paling jauh di dunia ini adalah masa lalu. Dan aku tentu tak bisa mencapainya. Siapa pun juga. Demikian selama ini seperti mengembara di padang tandus menanti bait ketiga suratmu.  Tapi rupanya hanya sebuah penantian kosong. Hampa. Bahkan tak ada harapan sekalipun. Berkali-kali kuhubungi kontak lamamu yang masih tersimpan hingga detik ini meski kadang aktif, dan tidak sama sekali. Itu kulakukan bukan bermaksud mengganggumu tetapi letupan rindu akan kabarmu mendesakku selalu.

Hari-hari kini semakin  menua durja. Tatapan semakin menikam hampa. Hati seakan dipeluk resah. Jantung semakin memacu gelisah. Semua membaur bagai lautan maha luas dan serba buas. Melebur melebihi angin. Membatu dan tetap saja kosong. Kadang aku digiring dalam kubangan hipokrisi. Hanya saja hati sudah bermental karang. Sukanya keheningan tapi buas pada empasan ombak.

Dan bagi yang mencintai laut, letupan yang memecah karang adalah kenikmatan yang paling bergairah. Dan lengkungan gulungan ombak yang menepih pada bibir pantai adalah keindahan yang tiada tara. Sementara hatiku seperti karang. Tidak lebih dari pasir. Dan aku pasir itu sendiri. Yang sesekali dicuri oleh tasik yang mendesik ke kedalaman maha pekat. Lalu tasik yang sama membawaku beralih tempat kemana saja semaunya.

Mungkin ini yang kuanggap sebuah kekosongan rindu. Seperti pasir yang tak berdaya apa-apa ketika laut memanggilnya mengarungi samudera maha luas. Atau seperti karang yang tetap tangguh. Tak mengeluh apa-apa, ketika ganasnya ombak mendentum gemuruh. Dan ini kuanggap sebagai sebuah kesetiaan seperti yang kau tuliskan pada suratmu.

​​​​​**************
Mencintaimu kini hanyalah bayang-bayang yang resah. Rasa aman, gembira, bahagiamu di balik tembok biara adalah kehampaan untuk sebuah  rindu bagiku. Meski kau berkali-kali mengatakan terima kasihmu karena telah merelakanmu untuk menjadi putri pelayan altar untukku kelak, itu tak menjamin apa-apa. Di sini hanya sepi.

Memagut asaku tak tanggung-tanggung. Mengingatmu adalah nostalgia. Jika dulu kita sedekat rasa kepada asa, kini kita sedekat kenangan kepada luka. Mengingatmu adalah nostalgia. Jika dulu kita seramah kembang dan bunga, tapi sekarang kita seramah tasik yang menderu buas. Buihnya tak berarti apa-apa. Dan rinduku memang hanya nostalgia semata.

Kau dengan gembiranya berdecak kata “kita mempunyai jalan yang berbeda nana, urus saja jalan kita masing-masing. Aku bahagia dengan jalanku ini. Bolehkan?” Ketika diamku tak membahasakan apa-apa, kau malah mengejek mengumbar Tanya yang semakin mendesakku tak ampun-ampun.

Itukah caramu membahasakan diammu? Padahal bertahun sudah aku menggadai sepi. Memagut sembari mengingatmu:
Kini suaramu mendesing hening dari balik tembok biara, seakan membungkam sesisi sekitarnya ketika kunjungan paskah ini.

Aku tahu perbedaan pilihan hidup kita adalah caramu mengelak tentang janji yang lalu. Tentang suratmu yang kian usang. Tentang segala perasaan yang kini perlahan memcekikmu meski rasa pada  pilihanmu itu menunjukan kau bahagia. Apa itu benar? Membiara berarti membahagiakan? Jika ini benar estimasiku tentang membiara tidak berarti selalu bahagia adalah sebuah pembunuhan paling manis.

Dan aku menjadi teringat tentang sharing pengalaman dari teman-temanku yang sudah bertahun-tahun hidup membiara tapi toh keluar juga dengan alasan klise tidak bahagia dan merasa diri bahwa hidup membiara bukanlah penjamin seseorang bahagia. Atau realitas berpacaran dalam hidup membiara yang pernah saya mimpikan itu, benar-benar menunjukan bahwa membiara bukan semata mengelak dari kebutuhan dasar manusia atau yang ekstrimnya melawan kodrat sebagaimana yang pernah kudengar selama ini.

Melainkan sebuah hasil refleksi hidup untuk lebih menjalankan hidup ini hanyalah kumpulan pengalaman dan persinggahan semata. Karena itu singgah dibiara adalah pilihan dan mentaati segala aturan dan semua ketentuan didalamnya adalah kebutuhan yang mesti dihidupkan, dijiwai, disemangati, dan yang paling penting adalah benar-benar menghayati dan melaksanakannya dengan penuh gembira. Bukan melulu bahagia.

Oleh: Hams Hama
Mahasiswa STFK Ledalero, Anggota Komunitas Teater Tanya Retapiret

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahok,25,Aktivis,1,Alam,2,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,216,Asmat,4,Asusila,5,Badung,7,Bali,95,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,12,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,1,Berita,2,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,40,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Camilian,1,Cerpen,136,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,434,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,21,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,E-KTP,4,Editorial,38,Edukasi,1,Ekonomi,5,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,5,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,3,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,20,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,29,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,14,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,2,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,2,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,223,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,1,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,65,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,4,Kepemudaan,130,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,13,KNPI,2,Komodo,5,Komunikasi,1,Komunitas,5,Korban,1,Korupsi,57,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,47,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,40,Lakalantas,8,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,1,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,14,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,35,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,79,Manggarai Barat,1,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,Narkoba,5,Nasional,222,Natal,19,Ngada,1,Novanto,1,Novel,15,NTT,105,Nyepi,2,Olahraga,10,Opini,331,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,20,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,1,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,80,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,22,Peristiwa,791,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,2,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,59,Politikus,4,POLRI,6,Pristiwa,18,Prosa,1,PSK,1,Puisi,51,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,7,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,21,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,Somasi,1,Sosial,1,Sosok,3,Sospol,35,Start Up,1,Sumba,11,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,Tokoh,15,Tol Laut,1,Toleransi,2,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Kenangan, Memori Tentang Seorang Gadis Biara
Kenangan, Memori Tentang Seorang Gadis Biara
https://2.bp.blogspot.com/--U0sOXe82aY/WtlpbUpDGJI/AAAAAAAAAuc/54QzRYKgECw4sG_mSfoaAsq6mZNyPco1wCLcBGAs/s320/20180420_120748.png
https://2.bp.blogspot.com/--U0sOXe82aY/WtlpbUpDGJI/AAAAAAAAAuc/54QzRYKgECw4sG_mSfoaAsq6mZNyPco1wCLcBGAs/s72-c/20180420_120748.png
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/04/kenangan-memori-tentang-seorang-gadis.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/04/kenangan-memori-tentang-seorang-gadis.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy