Kembalikan Anak Kami
Cari Berita

Kembalikan Anak Kami

2 April 2018

"Kita butuh presiden yang jujur. Karena kalau tidak ada presiden yang jujur, penegakan HAM akan sulit" lanjutnya (Foto: Istimewa)
Editorial, marjinnews.com - Maria Catarina Sumarsih, wanita kelahiran 5 Mei 1952 ini tidak pernah berhenti berjuang bersama jutaan ibu di dunia yang kehilangan anaknya karena kekerasan yang dilakukan negara. Sumarsih adalah ibu dari Bernadus Realino Irawan atau Wawan, mahasiswa Universitas Atmajaya Jakarta yang tewas ditembak aparat dalam peristiwa Semanggi 13 November 1998.

Suatu kali, saat melakukan protes Sumarsih melempar tujuh butir telur puyuh ke arah pimpinan fraksi di DPR yang menyatakan bahwa penembakan di Semanggi dan Trisakti bukan sebuah pelanggaran HAM berat. "Saya melempar tujuh butir telur ke tujuh fraksi karena pembelaan HAM semakin lemah", cetus Sumarsih dilansir tabloid UTUSAN.

"Kita butuh presiden yang jujur. Karena kalau tidak ada presiden yang jujur, penegakan HAM akan sulit" lanjutnya.

Dia lantas bercerita bahwa telur puyuh itu dibelinya di kantin DPR, lembaga tempatnya bekerja. "Dari tujuh telur, tiga terlempar" katanya sambil menyebut pihak-pihak yang terkena lemparannya.
Pasca penembakan Wawan, istri Arif Priyadi dan ibu dua anak ini terus berjuang tiada henti. Setiap hari Kamis ia bersama Suciwati, istri almarhum Munir serta aktivis KontraS berdiri di Jalan Merdeka Barat di depan Istana Negara, dngan berpayung dan berpakaian hitam, untuk menggedor nurani presiden atas kasus anaknya dan segudang pelanggatan HAM yang tidak kunjung diakui dan dituntaskan pemerintah.

Aksi yang kemudian disebut Kamisan tersebut berawal dari diskusi bersama Jaringan Solidaritas Korban untuk Keadilan (JSKK) pada tahun 2007. Kemudian pada tahun 2011, ketika aksinya memasuki jumlah ke-200, aksi tersebut dihadiri lebih banyak simpatisan. Ia memang berharap aksi yang biasanya hanya dihadiri oleh puluhan orang itu akan mengundang lebih banyak orang untuk bergabung.

Berbagai kegiatan dilakukan Sumarsih menempatkannya sebagai pejuang HAM. Ia melakukan berbagai aksi seperti menemui anggota DPR, Komnas HAM, berorasi di sejumlah aksi, dan berbagi pengalaman di banyak pertemuan. Sumarsih juga memperjuangkan penegakan HAM dengan menulis buku berjudul HAM Dasar, HAM Reformasi, selain buku Panduan Sejarah untuk sekolah. Sebab menurutnya, jalur pendidikan merupakan bidang penting dalam menanamkan penghormatan pada nilai-nilai kemanusiaan.


Atas perjuangannya yang tidak kenal lelah, Sumarsih pernah dianugerahi Yap Thiam Hien Award pada tahun 2004 karena dinilai menjadi figur yang berhasil mengatasi kesedihan menjadi kesadaran akan nilai kemanusiaan. *)

Catatan: Dalam rangka memperingati 20 tahun reformasi, redaksi marjinnews.com menerima artikel berbentuk apa saja (Opini, Karya Sastra, Tokoh, dll.) terkait peristiwa 1998 dan evaluasi reformasi hingga sekarang ini. Artikel disertai data lengkap penulis beserta lampiran sumber jika berbentuk kajian ilmiah yang penting untuk diketahui publik. Artikel bisa dikirim ke email: marjinnews@gmail.com kapan saja. Salam, perubahan