Elanaory Jusa, (Sebuah Cerita Dari Tahun 2050)


Semua orang telah mendustai cinta itu sendiri. Memberikan sedikit pergeseran pada makna abstrak, menjadi sebuah makna yang mudah sekali dipermainkan. Untuk bincang cinta, aku rasa aku berhenti. (foto : Istimewa)

Setiap malam kamis, di tepi sebuah gubuk tua, aku selalu duduk menyaksikan bintang bercerita tentang malam, bulan mengais harap pada setiap cahaya yang memantul ke bumi. Aku selalu suka semua tentang alam. Malam kamis selalu jadi bagian terbaik dalam hidupku. Pasalnya, tidak ada yang bisa aku tangisi di malam kamis. Seisi rumah tidak lagi ribut. Ayah, ibu dan adikku tidak bertengkar lagi soal makanan.
Ayah telah mendapatkan pekerjaan baru. Katanya,”Kalian dapat bersekolah dimanapun kalian inginkan”. Aku menyambut hangat pernyataan ayah, yang tadinya pengangguran abadi, kini telah ditarik ke dalam sebuah pabrik menjadi satpam. Lumayan, pendapatan ayah tidak seberapa. Cukup untuk makan sekeluarga.
Ibuku lebih suka berada di rumah, mengasuh aku dan adikku. Bekerja di kantor atau menjadi seorang guru, bukanlah keahlian ibu. Bagaimana tidak, ibu harus pasrah putus sekolah di kelas tiga SD. Sebuah beban biaya membuatnya harus berdamai dengan kenyataan bahwa mimpi-mimpinya harus dikubur dalam-dalam.
Setiap malam, ibu selalu berusaha mengingatkanku tentang pentingnya sekolah. “Hidup kita boleh saja susah, namun kamu harus berpendidikan. Jika kamu tidak sekolah, kamu tak ada bedanya dengan ibu,” Begitu nasihat ibu sebelum aku tidur. Setiap malam, pesan yang sama selalu terdengar di kupingku.
Ketika ayah belum berkerja sebagai satpam di pabrik, aku dan adik perempuanku, selalu kesulitan membeli alat-alat sekolah, seperti sepatu, tas dan buku-buku pelajaran. Belum lagi, kami cukup kesulitan membeli beras untuk makan. Hidup memang menantangku terus-menerus. Rasanya berat menjadi miskin, namun menurutku, akan lebih berat lagi jika aku menyerah.
Selesai sekolah, aku selalu ke kebun, mencuci rumput milik tetangga kami, yang mayoritas adalah orang-orang berada sehingga memiliki banyak harta. Salah satu kebunnya diberikan pada ibu untuk dirawat. Aku, ibu dan adik selalu saja menghabiskan waktu di kebun jika kami tidak memiliki aktivitas seperti sekolah sore dan lain sebagainya. Kami hampir tak punya waktu bermain.
Ayah sendiri, lulusan serjana ekonomi, harus pasrah pada keadaan, dimana orang-orang hanya bisa memperkerjakan keluarga mereka saja di dalam birokrasi. Ayah sangat kesulitan mendapatkan pekerjaan setelah lulus dari perguruan tinggi. Sampai sekarang pun, ijazah ayahku hanya bisa dijadikan pajangan di dalam rumah, dan ayah harus berakhir di ruang penjaga.
Ayah juga tidak luput dalam menasihatiku. “Kalau engkau ingin sekolah sampai perguruan tinggi, belajarlah sungguh-sungguh, jangan biarkan ijazahmu di makan rayap suatu ketika,” Perkataan ayah seperti sebilah pedang yang menikam jauh ke dalam jantungku. Semua jadi sangat rumit di dalam keluarga kecil kami. Penuh nasihat, kemiskinan masih juga jadi tantangan terhebat.
Aku terus berjuang demi cita-citaku menjadi seorang penyair dan pemusik. Meskipun aku seorang wanita, namun tidak ada salahnya aku memilih jalan ini. Guruku pernah berkata pada kami, waktu itu aku masih duduk di kelas dua SMA. “Jangan takut menjadi apapun. Semua orang pantas untuk menjadi apapun.”
Perkataan guru di sekolah selalu jadi motivasi tersendiri bagiku. Aku rasa tidak ada yang perlu aku takutkan dalam hidup ini. Aku hanya perlu satu hal untuk bisa menjadi siapapun, dalam mewujudkan mimpi-mimpiku. Aku hanya perlu niat. Niat yang tulus dapat merubah apapun di muka bumi ini.
Persoalan mimpi memang cukup menyenangkan untuk dilakukan. Maka dari itu, setiap malam kamis, aku selalu meluangkan waktuku untuk berzikir di pinggir pantai, memandang bintang dan bulan, berbagi cerita dengan mereka melalui tulisan. Berpikir untuk tidak melakukannya, itu merupakan kesalahan. Aku perlu mencoba terus-menerus, hingga suatu saat, aku akan melakukannya dengan baik.
Jika aku sampai pada suatu ketika yang sering aku bicarakan, mungkin aku akan menangis sekejap di pangkuan ibuku, sebelum melangkah lebih jauh menuju mimpi-mimpiku. Tidak punya apa-apa, selalu melatihku untuk menjadi sesuatu. Melatih diriku agar tetap kuat, berkarya pada semua keterbatasan. Aku selalu suka bagian itu. Cerita-cerita kecil yang selalu menegurku kala aku sombong. Selalu mengarahkanku kala aku merasa hebat.

Ketidakpunyaan selalu mengajakku berjuang untuk mendapatkan sesuatu. Aku selalu berteduh pada semua usaha untuk mendapatkannya. Aku selalu belajar dari setiap perjuangan. Mulai dari rebutan nasi di atas meja makan, sampai keringat ayah dan ibu yang mengendap di kening.
Semua pelajaran kecil itu mengajakku berkelana jauh di tempat lain, sebuah daerah yang asing bagiku. Namun mengenang masa lalu adalah sebuah kewajiban dalam perjalanan hidupku. Sebuah perjalanan yang memberiku sebuah muara yang sangat baik hari ini.
Kemudian, tentang cinta, aku selalu bosan membicarakan itu. Aku selalu saja gagal beberapa kali. Dan itu selalu membuatku tidak pernah suka membicarakan cinta yang sempit soal hubungan dua insan. Bagaimana tidak, isi dari bincang cinta, selalu saja seputar patah hati, galau lalu memutuskan untuk jatuh cinta lagi, apa tidak membosankan? Cinta jadi urusan yang sangat kerdil bobotnya untuk kita bicarakan.
Kalau tentang cinta, itu urusan perasaan. Seseorang akan dipertemukan dengan orang lain, dan orang lain akan memutuskan untuk hidup bersama orang lain lagi. Aku rasa cinta mungkin lebih baik tentang itu semata. Tidak perlu lagi dibumbuhi dengan berbagai tafsiran tentang kekeringan, kemunafikan dan lain sebagainya.
Semua orang telah mendustai cinta itu sendiri. Memberikan sedikit pergeseran pada makna abstrak, menjadi sebuah makna yang mudah sekali dipermainkan. Untuk bincang cinta, aku rasa aku berhenti. Aku tidak tertarik lagi berbicara tentang cinta yang statis. Kita perlu menghentikan urusan cinta sebentar dan aku akan mulai lagi dengan hidupku.
Setelah menyelesaikan studiku di kota Yogyakarta, aku memutuskan untuk kembali. Semua tentang daerahku telah berubah. Apartemen berdiri dimana-mana, hotel dan resort bertebaran di sepanjang pantai, jembatan yang menghubungkan dua buah pulau di daerahku telah berdiri kokoh. Entahlah, anehnya aku tidak melihat sebuah pemandangan yang lebih menarik di masa kecilku.
Semua tentang bintang, bulan dan cahaya-cahaya rama di ujung kaki langit, telah tertutup oleh tabiat asap pabrik yang memilih tidak tahu diri. Aku sedikit marah, namun apa yang harus aku lakukan? Menangis agar pemerintah memberiku keringanan menikmati alam, atau marah pada kelakuan generasi sebelum aku, yang dengan sadar mengusur segala kesunyian alam? Aku rasa tidak! Semua telah selesai dengan kebutuhan dan keinginan orang-orang.
Aku mampir sebentar di makam ayah dan ibu. Aku bercerita pada mereka tentang keadaan yang sedang aku alami hari ini. Meskipun hanya berbicara bersama nisan, aku yakin mereka akan mendengarkan apa yang aku katakan.
Aku tidak menemukan surga lagi di negeriku. Aku hanya menemukan sebuah penyakit yang mulai menyebar di tanahku. Orangtua yang dulunya bisa hidup hingga umur sampai 80 tahun, harus rela mati di usia 60 tahun karena ulah micin dan teman-temannya. Ada semacam pembunuhan terstruktur yang berusaha di desain dunia.
Sederhananya, masyarakat yang hidupnya tradisional, menghambat kemajuan zaman atau proses yang namanya moderenisasi. Pintarnya pemilik modal, berusaha menjawab kebutuhan masyarakat, lalu mengeksploitasi isi dalam tanah mereka. Memang benar, kecerdasan hanya memperhalus sebuah kelicikan.
Jika di generasi selanjutnya mengalami sebuah masa dimana, mereka tidak bisa menikmati indahnya pantai, tidak bisa menikmati indahnya alam ini, maka teman-teman mulailah melakukan sebuah aksi sosial yang bersifat tuntutan pada semua generasi sebelum kalian. Kalian harus mengutuk keras perbuatan mereka yang rakus tanpa mengingat kalian.
Mungkin itu pesan yang tepat untuk aku sampaikan pada kalian. Jangan pernah memberi rasa kasihan pada generasi sebelum kalian. Mereka begitu rakus akan semua yang tidak sepantasnya mereka renggut dari kalian. Mereka telah membawa mati semua yang ingin kalian saksikan, mereka telah menguras habis apa yang seharusnya dititipkan untuk kalian.
Berhentilah berdoa dan berharap saja. Aku juga pernah miskin seperti kalian. Aku berharap, kita perlu sebuah aksi besar-besaran, selain aksi protes, aksi damai dan lain sebagainya, kita perlu memberi sebuah nama untuk semua aksi itu menjadi aksi penyelamatan. Hari ini, di tahun 2050 ini, akan jadi saksi bahwa kita akan bersatu kembali dan memulai sejarah baru.

*****
Tepukatan tangan diantara puing-puing reruntuhan bangunan, mengiringi akhir cerita gadis itu. Sebuah kisah yang menginspirasi mereka. Terdengar suara teriakan dari orang-orang, “Jusa,,,,Jusa,,,Jusa,,,Jusa” sebuah semangat penyelamatan diseruhkan oleh ribuan orang.
Perempuan itu tersenyum dan turun dari mimbar batu. Secarik kertas yang digenggamnya, menjadi sebuah inspirasi baru bagi semangat yang sedang hidup dari perjuangan masa di hadapannya. Seorang anak kecil berusia sepuluh tahun menahan langkahnya.
“Aku menyukai bagian akhir ceritamu.”
Wanita itu tersenyum sambil menyentuh kepala gadis kecil itu. “Engkau pun mampu melakukannya. Engkau hanya perlu niat.”
“Siapa namamu?” Anak itu bertanya pada wanita yang baru saja mengusap rambutnya.
“Elanaory Jusa. Engkau bisa memanggilku Jusa.”
“Aku Joana. Senang berkenalan denganmu,” gadis itu berlalu meninggalkan Jusa. Wanita itu hanya memperhatikan langkah gadis itu sambil tersenyum.



Oleh : Toni Tokan
            Penulis Novel Maya, 2017.

COMMENTS

Name

Artikel,140,Bali,113,Batam,1,Bedah Buku,1,Ben Senang Galus,1,Bencana Alam,1,Berita,151,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,3,BPJS,1,Budaya,41,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,176,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,545,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Dari Kami,3,Demokrasi,22,Denpasar,18,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Donny Isman,1,DPR RI,4,E-KTP,4,Editorial,35,Ekonomi,5,Ekspresi,1,Ende,6,Entrepreneur,1,Feature,36,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,11,Focus Discussion,4,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,gaya hidup,4,Gedged,1,Gempa,6,Gereja,3,Gereja Katolik,3,Gerindra,1,GMKI,1,GMNI,4,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,1,Hiburan,26,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,60,Human Trafficking,4,IBT Expo,1,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,1,Indonesia,1,Indonesian Idol,8,Inspirasi,13,Internasional,16,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,5,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jawa Timur,1,JK,1,Jogyakarta,2,Jokowi,18,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,273,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,kecelakaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,2,Kemanusiaan,62,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,155,kepemudan,8,kerohanian,2,Kesehatan,8,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,60,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,51,Kritik Sastra,4,Kupang,24,Labuan Bajo,51,Lakalantas,9,Larantuka,1,Lembata,2,Lifestyle,6,Lingkungan Hidup,15,Literasi,14,lombok,1,LP Cipinang,1,Luar Negeri,4,Mahasiswa,42,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,4,Malang,3,Manggarai,113,Manggarai Barat,20,Manggarai Timur,24,Marianus Sae,1,Marion Jola,3,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,7,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,2,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Milenials,52,Motang Rua,1,Muda Petani,1,musik,1,Narkoba,8,Nasional,276,Natal,19,Ngada,7,Novanto,2,Novel,16,NTT,203,Nyepi,2,Olahraga,11,Opini,402,Orang Muda,15,Otomotif,1,OTT,2,Papua,15,Pariwisata,26,Partai Politik,25,Pasangan,16,Paskah,2,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,3,Pencurian,2,Pendidikan,89,Penerbangan,4,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,20,Perindo,1,Peristiwa,1039,Peritiwa,2,Pers,3,Perzinahan,1,Petani,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,1,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,23,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Pojok Redaksi,35,Polisi,25,politik,90,Politikus,6,POLRI,5,PP PMKRI,1,Pristiwa,31,Prosa,1,PSK,1,Puisi,85,Puteri Indonesia,2,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,4,Refleksi,15,reformasi,1,Regional,6,Religi,2,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Rindu,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,27,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,9,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sekilas Info,23,seleb,1,Selebritas,18,Sidoarjo,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,19,Sospol,39,Start Up,1,Suara Muda,48,Sumba,8,Surabaya,36,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,11,Tentang Mereka,44,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Togar Situmorang,7,Tokoh,17,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,1,traveling,9,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,2,Viral,3,Wisata,4,Wisuda,1,WNA,1,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Elanaory Jusa, (Sebuah Cerita Dari Tahun 2050)
Elanaory Jusa, (Sebuah Cerita Dari Tahun 2050)
https://3.bp.blogspot.com/-exy7bi8UtK8/Ws5QNeZMPOI/AAAAAAAAAH8/y1iZyvpopEMA7FB_rYXATGtLuLNeuc2QQCLcBGAs/s320/foto%2Buntuk%2Btulisan.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-exy7bi8UtK8/Ws5QNeZMPOI/AAAAAAAAAH8/y1iZyvpopEMA7FB_rYXATGtLuLNeuc2QQCLcBGAs/s72-c/foto%2Buntuk%2Btulisan.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/04/elanaory-jusa-sebuah-cerita-dari-tahun.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/04/elanaory-jusa-sebuah-cerita-dari-tahun.html
true
971126874416220402
UTF-8
POSTINGAN LAIN Not found any posts LAINNYA Selengkapnya Reply Cancel reply Delete Oleh Home PAGES Kiriman Baca Semua Rekomendasi untuk Anda LABEL ARCHIVE CARI Semua Kiriman Tidak Ditemukan Apa yang Anda Cari Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 menit yang lalu $$1$$ minutes ago 1 Jam yang lalu $$1$$ hours ago Kemarin $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Pengikut Ikuti THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy