Degradasi Kecerdasaan Moral Pemicu Lahirnya Kekerasan
Cari Berita

Degradasi Kecerdasaan Moral Pemicu Lahirnya Kekerasan

MARJIN NEWS
3 April 2018

Kecerdasaan moral menjadi basic untuk menilik dan menelusuri kekerasan yang kerap kali terjadi dalam remaja. Kecerdasaan moral dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membedakan tindakan yang benar dan salah.  (Foto: Dok.Pribadi)
​Fenomena kekerasan antar remaja menjadi salah satu masalah sosial yang selalu disoroti. Media massa tak henti-hentinya membahas masalah ini. Kekerasan yang terjadi dalam lingkup remaja menjadi sebuah perenungan yang patut direfleksi.

Merosotnya etika menjadi sebuah tantangan peradaban masa kini. Hal ini melahirkan sebuah pertanyaan bagi publik mengenai kajian masalah yang melatari belakangi masalah ini.Ini sebuah tantangan yang bagi masa depan bangsa, apalagi remaja adalah generasi bangsa, salah satu kunci kemajuan suatu bangsa.

​Salah satu tokoh psikologis terkenal Michele Borba melalui bukunya yang berjudul “Membangun Kecerdasaan Moral” melatar belakangi masalah sosial yang kini terjadi. Remaja tenggelam dalam dunianya sendiri, menyelami kehidupan dari sudut pandang masing-masing mengartikan semua tindakan adalah tindakan benar adanya.

Kekerasan bisa dibedakan menjadi dua yaitu kekerasan fisik dan kekerasan psikis. Kekerasan fisik mengarah pada sebuah tindakan yang melukai fisik seseorang, sedangkan kekerasan psikis lebih mengarah pada tindakan kekerasan bukan fisik lebih pada keekrasan psikis seseorang, seperti adanya diskriminasi seseorang seperti adanya diskriminasi budaya, ras, bahasa, dan kedudukan sosial yang bisa membuat moril seseorang terganggu.

Dua jenis kekerasan ini tak lazim lagi bagi dunia perkampusan. Contoh tindakan kekerasan secara fisik yaitu adanya sistem senioritas. Sistem ini menggambarkan senior adalah tuan dan junior adalah hamba. Junior harus taat pada senior dalam segala sitatusi meskipun senior adalah pihak yang salah tetapi akan mengnganggap diri benar.

Sistem ini membawa dampak buruk bagi perkembangan fisik dan psikis seseorang. Seseorang biasa tidak betah dalam meghadapi dunia perkuliahan karena takut selalu disalahkan,disiksa dan dipukul. Selain kekerasan fisik, kekerasan secara psikis juga membawa dampak terhadap perkembangan belajar dari seseorang mahasiswa.

​Menurut asumsi saya, kecerdasaan moral menjadi basic untuk menilik dan menelusuri kekerasan yang kerap kali terjadi dalam remaja. Kecerdasaan moral dapat diartikan sebagai kemampuan untuk membedakan tindakan yang benar dan salah.

Kecerdasan moral merupakan bagian dari manusia untuk mempertajam pedoman moral manusia dan memastikan bahwa tujuan, konsisten dengan pedoman moral sesuai dengan tatanan yang berlaku.

Kompetensi moral merupakan kemampuan untuk bertindak berdasarkan prinsip moral tersebut. Sedangkan kompetensi emosional merupakan kemampuan untuk mengatur emosi kita dan orang lain dalam situasi tuntutan moral.

Eksistensi manusia sebagai makhluk sosial dituntut untuk bisa menjalin interaksi dengan sesama, menjalin hubungan dengan sesama. Ini bahkan diakui oleh banyak ahli di bidang psikologi sebagai kebutuhan yang semestinya dapat dipenuhi dengan baik.

Secara eksistensi juga manusia sesungguhnya diciptakan oleh Tuhan tidak semata sebagai makhluk yang mempunyai kecerdasan intelektual, tetapi juga makhluk sosial dan makhluk yang bermoral.

​Jadilah sangatlah penting menanamkan kecerdasaan moral mulai dari anak-anak untuk membentuk karakter anak yang lebih baik. Kebiasaan untuk membangun kecerdasaan moral menjadikan anak tahu mana membedakan tindakan yang benar dan salah.

Saya yakin jika kecerdasan moral sudah biasa ditanamkan, tindakan kekerasan akan berkurang dengan sendirinya.

​Namun, akhir-akhir ini peran manusia sebagai makhluk yang
bermoral kurang diperhatikan, dengan ditandainya kenakalan remaja
yang muncul ke permukaan dengan sosok moral yang lebih variatif
dan memprihatinkan semua pihak.

Betapa anak-anak semakin
tenggelam dalam persoalan yang serius karena kurangnya pendidikan
moral yang diterimanya. Dengan naluri yang lemah, kontrol diri yang
rapuh, kepekaan moral yang kurang, dan keyakinan yang salah,
membuat anak-anak mengalami hambatan.

Meski penyebab merosotnya moralitas sangatlah komplek, terdapat fakta yang tidak
dapat dipungkiri seperti lingkungan moral tempat anak-anak
dibesarkan pada saat ini yang sangat meracuni kecerdasan moral
mereka.

Oleh: Angela Seriang
Mahasiswa Sanata Dharma
marjinnews.com dan Anggota KOPERASI Yogyakarta