Cinta Pertama Bagian 2

"Saya tak pernah melihat pemandangan seindah ini," ungkap Yolanda yang kemudian berdiri dan merentangkan tangannya (Foto: istime...

"Saya tak pernah melihat pemandangan seindah ini," ungkap Yolanda yang kemudian berdiri dan merentangkan tangannya (Foto: istimewa) 
Tak jauh dari tempat motor matiknya diparkir, Daniel mengajak Yolanda duduk di sebuah bangku yang terbuat dari potongan kayu bekas. Yolanda begitu takjub ketika melihat pemandangan indah di depannya. Sebuah perbukitan juga jajaran bunga-bunga yang tengah bermekaran, namun ia masih tak habis pikir mengapa orang yang selama ini menjadi musuhnya dengan sukarela mengajaknya ke tempat seindah itu.

"Saya tak pernah melihat pemandangan seindah ini," ungkap Yolanda yang kemudian berdiri dan merentangkan tangannya.

 "Masih yah berlaku kata saya sama kamu setelah sekian lama tinggal di desa?" sindir Daniel. Sejak awal ia memang tidak begitu menyukai cara bicara Yolanda itu.

"Emm... Apa masalahnya? Selama ini saya rasa tak ada masalah dengan itu," Yolanda berbalik menatap Daniel yang masih duduk santai kemudian kembali menatap birunya langit.

"Ini kan di desa bukan di kota, yah... Tidak enak saja didengarnya."
"Iya deh, diusahain."
"Bagus."
"Mau berapa lama di sini?"
"Sampe matahari itu tenggelam." jawab Yolanda, menunjuk sinar terang di hadapannya.

Setelah hari mulai larut, Daniel mengantarkan Yolanda ke rumahnya. Sudah tidak ada lagi perdebatan, mereka saling melambaikan tangan dengan ramah.

Nampaknya di tempat itu mereka membicarakan banyak hal, sehingga mereka lebih terbuka satu sama lain.

Ada rasa yang tak biasa dirasakan oleh Yolanda. Pikirannya mengambang entah kemana, sampai-sampai dia lupa menyapa mamanya yang sedari tadi memperhatikan tingkah anehnya di meja makan.

"Yolan, kamu habis dari mana? Kenapa baru sampe," tanya sang mama yang seketika membuyarkan lamunannya.

"Oh, dari bukit sebelah Mah."
"Sama Daniel?"
"Kok Mama tahu?"
"Om Dedi yang bilang. Pas mau jemput kamu mobilnya mogok terus om Dedi juga bilang kamu pulangnya sama Daniel, ya sudah mama tidak begitu khawatir."
"Tahu dari mana Om Dedi?"
"Danielnya langsung yang bicara ke Om Dedi."
"Daniel?"
"Iya. Mama tuh sering denger cerita tentang Daniel, kata tetangga-tetangga dia itu anaknya baik, ramah, terus juga sabar merawat neneknya yang lagi sakit. Dari kecil katanya dia sudah ditinggalin orang tuanya dan diasuh oleh neneknya di sini."
"Orang tuanya meninggal?"
"Ish! Bukan. Tapi tinggal di luar negeri, kerja di sana."
"Oh, kirain."
"Sudah, sana mandi dulu! Bau matahari tau. Abis itu kita makan, mama udah masak masakan kesukaan kamu."
"Yo, Mama." dengan gaya anak kecil yang manja Yolanda berlalu menuju kamarnya.

Makan malam telah selesai. Yolanda dan mamanya kembali berbincang-bincang ringan. Masih di tempat yang sama, perbincangan yang tadi sempat terpotong pun dilanjutkan.

"Oh, iya Mah. Tadi Mama bilang neneknya Daniel sakit yah?"

"Iya, kata orang-orang, mama juga belum sempat jenguk. Oh, iya. Mama siapkan makanan yah nanti kamu yang antar sama Om Dedi ke rumahnya Daniel, sambil jenguk."

"O-ke,"

Pikirannya sedikit bimbang, sebenarnya. Antara pergi atau tidak, walaupun tadi mereka terlihat sudah tidak berdebat lagi, tetapi masih ada rasa takut kalau Daniel tidak akan menerima ia di rumahnya, bagaimana jika ia malah diusir? Karena mamanya terus memaksa, Yolanda pun menurutinya.

Tak perlu waktu lama, Yolanda sampai di depan rumah Daniel. Rumah dengan halaman luas yang dipenuhi bunga-bunga indah menyambutnya. Sekilas terlihat sepi, awalnya ia berpikir orang-orang rumah sedang ke luar, namun setelah menyusuri setiap sudut halaman, Yolanda melihat ada dua orang di bagian belakang, yang ternyata itu adalah Daniel dan neneknya. Ada hal yang tak biasa ia lihat dari Daniel, sehingga membuatnya tertarik untuk memperhatikan dari jauh.

Benar sekali, seperti orang-orang bilang tetang Daniel, dia tak sedikitpun risih merawat neneknya, memijit-mijit lembut, menyuapi neneknya makan dan minum, sampai bercerita tentang hal-hal lucu, sehingga membuat neneknya pun tertawa lepas.

Setelah melihat semua adegan yang menarik menurutnya, Yolanda sadar ia harus memberikan makanan yang ada di tangannya ke Daniel dan neneknya.

"Daniel!" Daniel seketika menoleh ke arah kanan ia melihat ada seorang gadis cantik berdiri di antara bunga-bunga.

"Yolanda. Kamu kenapa malam-malam ada di sini?" tak langsung menjawab pertanyaan, Yolanda dengan ramah menyapa neneknya.

"Aku mau jengukin Nenek sambil memberi makanan dari Mama buat kamu sama Nenek."
"Wah... Tolong sampaikan ke Mamanya, terimakasih dari kami." ucap nenek dengan mengusap lembut tangan Yolanda.
"Iya Nek, sama-sama."
"Oh, iya. Maaf sekali nih, kamu tak bisa lama-lama bicara sama Nenek, Ini sudah malam, Nenek harus istirahat,"
"Kamu tunggu di sini yah, aku mau antar Nenek ke kamar dulu. Nanti kita lanjutin bicaranya." lanjut Daniel.
"Iya, silakan."

Tak lama Daniel datang menemuinya di halaman depan rumah, setelah mangantar neneknya ke kamar. Mereka masih terlihat gugup sambil sesekali saling memandang. Entah kenapa, malam itu Yolanda terlihat begitu cantik dari biasanya. Walaupun begitu Daniel menyembunyikan kekagumannya itu dengan memalingkan wajahnya ke area-area lain.

Di malam itu Yolanda dan Daniel berbincang dengan gaya yang lebih santai. Mereka lebih banyak menceritakan tentang hal-hal yang ada di sekolah. Tidak ada yang spesial memang, tetapi dengan keakraban seperti itu sudah merupakan hal yang luar bisa setelah selama ini mereka tak pernah berhenti berdebat.

Di keesokan harinya Om Dedi kembali tak bisa menjemput Yolanda karena dia mendadak harus pulang ke kampungnya. Yolanda pun kembali diajak Daniel untuk pulang bersama.

Namun cuaca di hari itu tidak begitu mendukung untuk beraktifitas, akhirnya hujan pun turun dengan derasnya. Masih setengah perjalanan, alhasil mereka harus menepi sejenak di sebuah gubuk di pinggir jalan.

"Semoga hujannya cepat berhenti," ucap Yolanda dengan nada bergetar kedinginan. Daniel melihatnya, khawatir.

Tubuh Yolanda nampaknya belum terbiasa dengan cuaca seperti itu, ia begitu kedinginan, tubuhnya menggigil hebat, wajahnya sudah sangat pucat. Daniel yang melihat itu tak mau tinggal diam.

"Sini tangannya," kedua tangan Yolanda segera digenggamnya erat. Ia kemudian mendekatkan tangan itu ke area mulutnya untuk mendapatkan rasa hangat yang ditiup-tiupnya.

Hujan tak kunjung mereda, memaksakan untuk pulang pun hanya akan membuat kondisi Yolanda semakin buruk. Daniel sebisa mungkin membuat Yolanda tetap tersadar sembari menunggu Mama Yolanda menjemput.

Rasa khawatir dan perhatian yang ditunjukan Daniel membuat Yolanda merasa ada kekuatan lebih untuk bertahan, walaupun ia tahu sakitnya tak bisa lagi ditahan.

"Daniel," Yolanda menatapnya sendu, seolah ada yang ingin disampaikan padanya, namun ia tak mampu lagi untuk berbicara.

"Kamu yang kuat yah, aku ada di sini, dan sebentar lagi Mama kamu datang," Yolanda disandarkan ke tubuhnya kemudian ia memeluknya dari samping.

Tak berapa lama dari itu, mama Yolanda datang dengan mobilnya. Mereka segera membawa Yolanda ke puskesmas.

Setelah sampai di puskesmas Yolanda mendapatkan perawatan. Dokter menyatakan Yolanda terkena Hipothermia, yaitu gangguan medis yang terjadi di dalam tubuh dimana terjadi penurunan temperatur disebabkan tekanan buruk dari luar, yaitu udara dingin disertai angin dan juga hujan. Dengan begitu, ia harus dirawat selama beberapa hari di puskesmas.

Dengan setia Daniel berada di samping Yolanda, walaupun sebenarnya ia harus pulang untuk menemani neneknya, tapi untuk malam ini saudaranyalah yang bertugas menemani neneknya sampai Daniel kembali ke rumah. Daniel tidak ingin meninggalkan Yolanda dalam keadaan seperti itu, sehingga dia meminta izin kepada orang tua Yolanda untuk menemaninya.

"Makasih, Daniel." ucap Yolanda yang masih dalam keadaan begitu lemah. Daniel membalasnya dengan anggukan kecil.

Oleh: Heribertus kandang
marjinnews.com Makassar

Baca Juga: Cinta Pertama Bagian 1

COMMENTS

Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Agraria,1,Ahmad Dhani,1,Ahok,25,Aktivis,3,Alam,3,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,230,Asmat,4,Asusila,5,Badung,9,bahasa,1,Bali,100,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,16,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,2,Berita,5,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,43,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Bupati Mabar,1,Camilian,1,Cerpen,144,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,453,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,23,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,DPRD,1,E-KTP,4,Editorial,41,Edukasi,1,Ekonomi,6,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,13,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,5,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,Gusti Dulla,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,24,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,45,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,4,Internasional,15,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,JK,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,3,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,3,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,244,KDRT,1,Keagamaan,7,kebakaran,4,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemahasiswaan,1,Kemanusiaan,68,kemenkominfo,1,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,5,Kepemudaan,143,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,15,Ketahanan Nasional,1,KNPI,2,Komodo,9,Komunikasi,1,Komunitas,5,Koperasi,1,Korban,1,Korupsi,58,KPK,13,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,56,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,42,Lakalantas,9,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,2,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,15,lombok,1,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,39,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,86,Manggarai Barat,8,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,4,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,musik,1,Narkoba,7,Nasional,240,Natal,19,Ngada,5,Novanto,1,Novel,15,NTT,117,Nyepi,2,Olahraga,12,Opini,344,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,24,Partai Politik,24,Paskah,4,pelajar,2,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,88,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,23,Perindo,1,Peristiwa,864,Peritiwa,2,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,pileg 2019,2,Pilgub,41,Pilkada,102,Pilpres 2019,22,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,23,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,81,Politikus,6,POLRI,6,PP PMKRI,1,Pristiwa,26,Prosa,1,PSK,1,Puisi,65,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Ratna Sarumpaet,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,2,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,10,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,23,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,3,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,situs pornografi,1,Somasi,1,Sosial,3,Sosial Politik,1,Sosok,3,Sospol,42,Start Up,1,Sumba,12,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,10,Tenun Manggarai,2,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,TNK,1,Tokoh,16,Tol Laut,1,Toleransi,2,Tour Jurnalistik,3,traveling,6,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Cinta Pertama Bagian 2
Cinta Pertama Bagian 2
https://1.bp.blogspot.com/-Zk9R_kIf7_Y/Ws9xA4tWMxI/AAAAAAAABHM/CIWVIReY0TEpsoT6GnJPq39IVmMJWJxOwCLcBGAs/s320/cinta%2Bpandangann%2Bpertama%2Bmarjinnews.jpg
https://1.bp.blogspot.com/-Zk9R_kIf7_Y/Ws9xA4tWMxI/AAAAAAAABHM/CIWVIReY0TEpsoT6GnJPq39IVmMJWJxOwCLcBGAs/s72-c/cinta%2Bpandangann%2Bpertama%2Bmarjinnews.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/04/cinta-pertama-bagian-2.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/04/cinta-pertama-bagian-2.html
true
971126874416220402
UTF-8
Loaded All Posts Not found any posts VIEW ALL Readmore Reply Cancel reply Delete By Home PAGES POSTS View All RECOMMENDED FOR YOU LABEL ARCHIVE SEARCH ALL POSTS Not found any post match with your request Back Home Sunday Monday Tuesday Wednesday Thursday Friday Saturday Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat January February March April May June July August September October November December Jan Feb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS PREMIUM CONTENT IS LOCKED STEP 1: Share. STEP 2: Click the link you shared to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy