Kisahku Semalam, Cerpen Karya Yuliana Halima

Menu Atas

Cari Berita

Advertisement

Kisahku Semalam, Cerpen Karya Yuliana Halima

MARJIN NEWS
13 April 2018

Foto: dok.Pribadi

Pikiranku masih terpaut pada mimpi semalam. Hati ini seolah tak yakin dengan apa yang telah terjadi. Senang bercampur bimbang. Sebab, saya teringat dengat ucapan orang bahwa mimpi adalah bunga tidur.

Jika ini nyata, betapa senangnya diriku sebab dia yang empunya cinta datang menemaniku yang lagi rapuh membutuhkan belaian cinta dan penguatan.

Bulir-bulir kecil  keluar dari sela-sela bola mata. Membasahinya hingga tergenang. Tak mampu menampung lebih banyak, air mata membludak keluar mengalir deras. Betapa kokohnya diriku dalam mimpi, terbalik pada kenyataan yang sangat lemah berdiri pada pendirianku.

Aku yang masih mengikuti arah angin yang kadang tak tentu arah membawaku. Andai saja aku yang kuat pada mimpi adalah aku dalam kenyataan.

Pastinya aku mampu berjalan dengan tegap, walaupun angin besar menghadang yang kadang merayuku tuk mengikutinya. Dan dengan aku yang kuat pendirian akan mendapatkan nikmatnya kebahagiaan yang tak ternilai.

***

Aku terjebak pada suatu waktu. Dimana aku mulai merasa  sangat tidak adil ketika aku berada di masa itu. Dan ingin sekali rasanya diriku untuk keluar dari lingkaran waktu itu.

Pergulatan dalam pikiranku pun tak dapat kukendalikan. Setiap memori terasa semuanya saya rekam dengan sangat jelas, tak satupun yang saya lewati.

Setiap cerita yang ku dengar seakan membuatku terusik sehingga pikiranku jadi kacau. Terasa semua bisikan-bisikan cerita itu berusaha untuk meracuni pikiranku.

Perlahan aku merasa hati kecilku mulai terluka oleh cerita-cerita itu. Ingin sekali diriku memberontak. Dan mau mencabik-cabik setiap kali aku membayangkan setiap cerita itu secara detail.

Kenapa hal itu terjadi padaku? Aku ingin teriak tetapi mulutku tetap membungkam. Hanya air mata saja yang tidak bisa kukendalikan dan seolah-olah hanya dia yang bisa mengerti dengan apa yang ku rasakan ini.

Aku si Laila kecil merasa tidak berdaya untuk kembali menapaki setiap jalan itu. Aku merasa sangat rapuh.

Sampai pada akhirnya, seorang  malaikat mendatangiku. Mendengar setiap keluhan dan cerita itu. Aku memandandangi wajahnya yang berseri-seri.

Aku melihat aura wajahnya terpancar bagaikan fajar di pagi hari yang terasa lembut ketika menyentuh kulit.

Oleh karenanya, aliran pembuluh darah yang semula kaku kini mulai terasa mengalir seperti semula.

Aku merasakan pelukan darinya, begitu hangat. Sembari membisikkan kepadaku bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Lanjutnya, janganlah takut untuk terus melangkah, karena setiap jalan yang akan kamu lalui tidaklah sama. Percayalah dan yakinkan hati nuranimu.

Yakinlah bahwa Tuhan akan selalu ada, dia tidak akan pernah meninggalkanmu ketika kamu terjatuh. Karena setiap masalah yang kamu hadapi akan ada jalan keluar yang akan kamu temui.

Aku mengangguk, perlahan diriku memeluknya erat-erat. Air mata yang semula membanjiri pipiku kini terasa mulai mengering. Hati yang semula terasa panas kini mulai terasa sejuk. Dan aku pun tertidur dalam pelukan malaikat itu.

Terasa hangat dan nyaman, aku pun kembali memeluknya dengan sangat erat lagi, seakan tidak ingin melepasnya.

Aku merasa sangat lelap bersandar di bahunya. Seketika juga diriku kaget, merasa seperti ada sesuatu yang terpancar di depan mataku, begitu terang dan terlihat silau sekali.

Perlahan aku membuka kedua kelopak mataku. Cahaya apakah itu? Gumamku dalam hati. Tak berhenti kumengulang mengedipkan kedua mataku.

Ternyata, cahaya itu adalah cahaya sang surya yang sedang membangunkanku melalui celah-celah jendela kamar.

Aku pun terbangun sembari tak lupa tuk mengucapkan syukur dan terima kasih kepada Tuhan. Diriku yakin dia yang datang menghampiriku dan membisiku semalam dalam mimpiku adalah Tuhan ku.

Oleh: Yuliana Sulastri Halima
Mahasiswa Universitas Udayana Bali