$type=carousel$cols=3

Cerpen: Pada Sebuah Jalan-Karya Klarati Bunda Borgias

Dari hal yang aku temukan aku belajar menemukan alasan mengapa aku menemukannya. Sehingga terang itu bisa aku gunakan dalam penemuan yang ...

Dari hal yang aku temukan aku belajar menemukan alasan mengapa aku menemukannya. Sehingga terang itu bisa aku gunakan dalam penemuan yang mempertemukan aku dengan temuan itu. (Foto: Dok. Pribadi)
Mentari dengan segala kemewahan cahayanya adalah anugrah Pencipta yang sangat indah di muka bumi ini. Tak bisa dipungkiri, seandainya saja jika tak ada siang, dan yang ada hanyalah malam.

Aku merasa dunia ini pasti akan penuh.  Segala kemewahan dalam terangnya, akan lebih indah saat orang yang menikmati terang itu melakukan semua hal yang ingin ia lakukan di dalam terang itu sendiri.

Aku lebih suka menyairkan tentang senja dengan segala keemasan cahayanya. Entah kenapa saat ini aku lebih menjadikan segala sesuatu yang datangnya pada saat mentari muncul, yang mana di bawah kolong bumi penuh dengan gerakan yang tak bisa diberi nama. Untuk menemukan aku kepada sesuatu yang tak bisa aku temukan, dan dipertemukan oleh sebuah keadaan yang semakin membuat nalarku tak memahami semua yang mempertemukan dengan sesuatu itu.

Dari hal yang aku temukan aku belajar menemukan alasan mengapa aku menemukannya. Sehingga terang itu bisa aku gunakan dalam penemuan yang mempertemukan aku dengan temuan itu.

Dari setiap sesuatu yang aku bayangkan  ketika pertama kali menginjak di kota ini, semua yang aku pikirkan adalah sesuatu yang membuat aku terpukau, dan semua itu baik adanya. Namun ditempat ini mataku diijinkan untuk melihatkan dan merasakan lebih dalam seperti apa yang terjadi dalam bumi yang kupijak bersama sebuah mimpi dan suara yang tak bisa disuarakan karena ruang bebasku tak sebebas ikan di kolam dan jika dia menginjak daratan akan mati.

Entah mengapa aku sangat suka bercerita dengan orang yang tak bisa orang lain ajak, di kampus aku sering menghabiskan waktu ku untuk bercerita dengan penyapu jalan serta tukang kebun jika aku sempat melihat selama perkuliahan.

Dan dari mereka aku banyak menemukan arti kehidupan yang sesungguhnya, dan tak bisa aku hidangkan dengan kata-kata indah sesuai tuntutan sebuah karya, aku hanya ingin menceritakan yang sesungguhnya.

Aku  sangat menyukai ribuan koran yang tertumpuk di kantor fakultasku yang kadang tak ada bekas pertanda sudah dibaca. Juga pada ribuan buku di perpustakaan di Universitasku.

Dari sekian buku yang ada, aku selalu menemukan banyak hal tentang suara-suara keadilan serta pendapat-pendapat dengan diawali kata, "Apa, Bagaimana dan Mengapa".

Kurasa negaraku sudah dipenuhi oleh orang-orang pintar serta berakhlak. Aku rasa bahwa hanya aku dari sekian orang yang hadir disini bingung dengan kenyataan yang selalu mengganggu pikiranku.

Hingga setiap hariku tak bisa aku selesaikan satu pertanyaan meski aku tak terbilang murid yang pandai, tak seperti yang sedang kau tanggapi.

*******

Hallo, namaku Clara Pujol. Nama yang indah meski aku suka sekali menambahkan namaku dengan nama penulis terhebat di dunia. Meski aku mungkin tak akan bisa menjadi penulis sehebat seperti mereka, namun aku optimis aku bisa! Aminkan saja.

Saat ini aku sedang menjalani sebuah panggilan yang diberikan sang Pencipta, untuk menjadi salah satu mahasiswa schoolarship di sebuah kampus ternama di indonesia yang tak pernah aku impikan sebelumya.

Tuhan selalu memberikan kesempatan yang indah yang selalu meminta dalam nama-NYA. Maaf aku bukan sedang berkotbah, hanya ingin menyampaikan apa yang aku alami.

Aku merasa bahwa setiap roda kehidupan adalah sesuatu yang harus dijalani meski aku belum menggenggam kata sukses yang merupakan kata yang dipakai oleh setiap orang dalam mengejar mimpi.

Siang ini aku ingin sekali menghabiskan waktu yang tersisa di cafe terdekat, dimana merupakan pilihan yang tepat saat kepenatan dan pergumulan datang seperti udara yang tak berhenti pagi ini. Aku tak bisa menghadapi pagi ini, karena dia datang dengan sebuah keadaan yang setiap hari makanan diriku, dan segalanya membuat aku berhenti berjalan, aku ingin mati saja.

Hingga kuambil keputusan menyebrangi jalan dan memasuki coffe dengan kemurungan yang tak bisa dijadikan teman dengan secangkir moccalatte  kesukaanku. Biasanya jika aku berjalan atau nongkrong di Coffe ini aku selalu membawa laptop mungilku, hitung-hitung aku bisa sambil belajar, namun hari ini aku begitu kosong bahkan handphoneku sengaja kutinggalkan di kamar, hanya membawa selembar uang lima puluh ribuan.

Bumi yang kupijak sangat panas dan tak bisa dijadikan sebuah tempat untuk melabuhkan hati yan gersang, karena akan tambah gersang dan layu.

Meski kota negara, aku masih saja menemukan banyak hal yang tak bisa aku mengerti secara logika, hatiku menangis drama kehidupan yang penuh dengan keanehan.

Di pojok Coffe sepasang kekasih sedang bercanda dengan suara yang kencang, serta tak lama kemudian mereka menghadirkan pemandangan yang tak selayaknya dipandangkan ditempat ini.

Sesekali aku menutup mata, serta ingin keluar namun aku tak mungkin meninggalkan moccalatte dinginku terbuang begitu saja dengan harga setengah uang lima puluh ribuan yang kutabung dengan uang koin yang sering aku temukan di laudry room di dormku, dari anak-anak orang kaya yang membuang uang mereka  ditempat yang salah. Lupakan tentang mereka.

Aku ingin sekali mengusir sepasang  kekasih yang tak beretika itu dan ingin mengatakan dengan suara keras ke dalam nalar mereka bahwa mereka adalah manusia bukan binatang yang bisa melakukan apa saja kapanpun dan dimanapun, namun kita disini sama-sama sebagai konsumen dan setelah melihat dengan teliti aku mengklaim mereka, sedang mabuk berat karena memang Coffe ini juga merupakan pilihan orang-orang yang doyan dengan bir, dan tawaran yang menarik lainnya.

Se-jam aku menghabiskan waktuku disini, dan akhirnya orang itu pergi dengan meninggalkan gelas-gelas yang berantakan dan kurasa tempat ini harus mengubah namanya.

Bukan Coffe tapi Bar agar orang desa dan masih mengenal moral sepertiku tahu akan ada apa disana. Namun banyak cara manusia untuk mencari hidup, semau hal ditawarkan dengan terbalik dari apa yang ada sebenarnya.

Jakarta bagiku adalah sebuah kota dambaan, dan ketika aku mendapat kesempatan untuk melanjutkan studiku aku sangat bahagia, tanpa pernah berpikir seperti apa yang terjadi dalam hari-hariku.

Aku ingat kata mama, ”tak ada yang mudah." Ya, itu benar, itu pasti, dan kurasa jika aku mengutarakan pendapatku, dari seratus orang mungkin hanya tiga orang yang tidak menyetujuinya.

Setelah aku menghabiskan minumanku aku pulang menulusuri sebuah lorong jalan yang nantinya akan ke mall, namun aku bukan ke mall, mataku tertuju dengan seseorang yang sedang membungkuk diatara dua tiang pada bangunan tinggi itu, bajunya kumal dan sangat menjijikan.

Aku membayangkan betapa pahit kehidupannya, betapa panas itu meremukan tulangnya, serta topi yang  sudah tak tahu warna apa, serta palstik yang kosong yang digoyangkan oleh angin serta menempelkan  kedua tanganya dan wajahnya pas untuk dikatakan sangat dikasihani, sedih, murung-muram, segala yang malang ada dalam raut wajahnya, dan aku semakin tak kuat melihatnya.

Kudekati bapak yang malang itu dan memulai membuka pembicaraan meski aku dipandang aneh oleh orang-orang yang melihatku. Kubiarkan tatapan kejijikan itu tertumpah kepadaku bukan kepada bapak yang ada dihadapanku. Aku bukan sedang berlagak seperti aktivis kehidupan yang kadang juga hanya ingin terkesan dimata sesama, tak setulus tokoh yang aku banggakan dalam hidupku (Tuhanku), namun aku bukan tuhan saat ini.

Aku berdiri dekatnya dan memcoba bertanya dengan sebuah pertanyaan yang munkin akan sangat menyakitkan atau tak tahulah. “Pak, Bapak sudah makan?" Dia dengan cepat menjawab pertanyaan itu, tidak seperti dugaanku.

”Belum nak”, suara itu lemah dan tak ada sebuah kekuatan untuk bertahan hari ini jika aku tak secepatnya memberikan makanan. Aku tak melanjutkan percakapan dengannya aku langsung mengambil langkah untuk memasuki warung kecil didepan coffe tadi dan membeli seporsi makanan yang pas dengan uang kembalianku tadi.

Aku membawa makanan itu dengan sangat gugup, walau untuk sebuah tujuan yang baik, aku sangat gugup untuk melakukan hal ini. Walaupun sebelumnya aku melakukan hal yang sama saat kunjungan ke kota tua kemarin saat liburan, dengan cerita yang berbeda.

Adakah sesuatu yang salah? Ataukah orang itu sedang merencanakan sesuatu, namun aku membuang semua pemikiran kotorku dan mempercepat langkahku dan ketika aku sampai ketempat dimana aku menyapanya tadi, namun wajah itu tak kutemukan.

Aku mencoba untuk  melihat sekeliling bangunan itu, tanpa sadar aku menyusuri untuk mencarinya, dan sekarang aku harus menyusuri sebuah lorong yang sangat berbau, jika aku berada setengah jam disana mungkin aku akan mati. Bau yang tak pernah kuhirup sebelumnya, dan sebuah bangunan kecil yang beratapkan karton dibelakang banguan itu, mungkin tempat kakus para pekerja, atau entahlah!

Dengan segala keberanian aku mencoba masuk sambil membawa bungkusan makanan yang kubeli, tempat ini sangat gelap dan tak ada suara, hanya hentakan kaki dan aku mencari sumber suara hentakan itu, ternyata aku sedang berada dibawah jembatan bangunan yang menghubungkan dengan bangunan yang sebelahnya, dan hentakan itu adalah para pengunjung, sera tempat ini adalah kolong jembatan yang dipenuhi oleh jiwa yang sedang lapar dengan kehidupan yang layak.

Aku tetap nekad mendekati bangunan kecil yang semakin dekat dan menawarkan beberapa suara yang asing di telingaku. Suara itu seperti cekikan pasangan kekasih yang kujumpai di coffe tadi, sedang apa mereka disana?

Apa mereka nyaman dengan bau ini? Aku semakin heran dengan tempat ini, lalu mencoba mendekati dengan hati-hati dan kuamati bangunan itu dengan saksama. Karton yang kulihat bukanlah yang sebenarnya dinding dari bangunan kecil itu, bangunan ini hanya dirangkai secara kasat untuk menutupi keberadaan yang sebenarnya.

Aku mengintip cela yang sedikit besar, dan kuperhatikan apa yang terjadi, dua orang pemuda sedang melayani atau sedang dilayani aku tak mengerti dan salah satunya ialah bapak yang tua yang ingin kuberi makanan tadi. Seluruh tubuhku gemetar, dan mencoba kuat untuk pulang dan lari.

Aku ingin menagis sekuat tenaga, menyesali maksut baikku yang menghancurkan hidupku. Dengan segala tenaga yang tersisa, aku mecoba lari dengan sekuat tenaga dan berhasil keluar dari lorong buta itu. Aku meberikan makananku kepada seorang penjaga toilet dekat mall itu. Aku tak bisa mengatakan sejauh mana perasaan hancur dan ketakutanku. Aku diam dan berkeringat serta kembali ke asrama dengan pertanyaan yang tak bisa aku jawab sendiri.

****

Hari yang sama, aku kembali ke kafe itu, meski aku dibekali sebuah pengalaman buruk sebelumnya, aku tak bisa meninggalkan rasa moccalatte kesukaanku, dan aku masih berada diposisi yang sama dan kali ini aku membawa laptop mungilku dengan selembar kertas untuk menuangkan beberapa ide sebagai persiapan UAS industri parawisata dimana setiap kami harus memberikan sebuah dekorasi dalam membuka usaha pastry.

Aku ingin menyelesaikan tugas yang satu ini ditempat ini, karena meskipun tentang indiistri yang dimana tanggapan hanya belajar membuat dan mengerti cara  pembuatan, namun hal yang tak bisa aku mengerti perhitungan cost bahan yang akan digunakan, jadi otak ku membutuhkan sebuah teman yang bisa menghilangkan beberapa pikiran jelek dan salah satunya solusi ialah moccalatte kesukaanku. Hemm, aku mungkin akan menjadi sebuah pengusaha minuman. Aminkan saja.

Pelayan yang gagah dengan  tataan rambut jaman now, menyodorkan secangkir minuman yang aku pesan dengan gaya yang sering aku tiru saat aku dalam sesi kelas pratek dan senyum itu seenak garnish yang cantik di gelas ini.

Aku sengaja memasang headsheet, untuk menghindari suara -suara yan menganggu kecuali lirikan lagu “DEWA, yang berjudul “Kangen” (saat aku menuliskan ini. Aku sedang kangen, hehhehe) dan aku memulai hariku dengan beberapa tugas yang deadline-nya hari ini.

Sehingga aku tak ingin satupun mengganggu hariku, tidak lagi ceritaku sebelumnya. Setelah dua jam berlalu, tugasku selesai, dan moccaku juga habis. Aku melepaskan headsheetku dan memperbaiki beberapa tulisan yang tercantum aplikasi wordku.

Aku sedikit terganggu saat mataku melihat ditempat yang sama sebelumnya, seseorang yang kusapa dengan sapaan bapak,dilorong ke maal sedang bercanda ria dengan seorang wanita setengah baya, yang dipenuhi hiasan tato yang tak jelas dengan tema apa dia menanamkan tato sebanyak itu, gelak tawa mereka sangat keras sebelumnya.

Aku hanya diam dan memperhatikan semua yang mereka lakukan.Dalam canda tawa yang mengalahkan suara music kafe ini, sang wanita itu membuka tangannya,dan tangan sanga bapak tadi menutup diatasnya, kupikir mereka sedang merasakan indahnya cinta atau perasaan dalam jatuh cinta yang keberapa kalinya, namun disela jemari yang kasar itu ada bungkusan kecil yang unik dan seperti tak mudah dilihat oleh orang lain, dan sang bapak itu memaikan perannya seperti sedang mengajak kekasih utuk saling mengenakan cincin, lucu, jika  saja mereka sedang meamikan sebuah peran dalam perfilman aku rasa mereka sangat berhasil.

Namun ini bukan film, ini nyata,dimana kau menemukan secara langsung apa yang dikatakan oleh penulis dan para pejuang kehidupan serta para penulis yang menyuarakan tentang situasi negara ini yang penuh dengan pelaku kejahatan.

Narkoba adalah satu topik yang  gencar dimana-dimana, dan menyatakan itu adalah sangat dilarang, serta protitusi,dan segala hal yang membuat negara ini noda, tak ada lagi nilai-nilai Ketuhanan untuk diaplikasikan, bahkan menjadi anomali dalam kehidupan manusia yang penuh dengan hasrat yang keji dan najis.

Manusia dengan segala yang dimilikinya tidak lagi dipandang berharga, semua yan ada yang seharusnya dijaga dijadikan taruhan dalam mencari kejayaan emosional dan napsu yang ingin menenangkan jiwa dalam sesaat, lalu megapa itu terjadi?

Mengapa  ada negaraku sekejam itu, yang hanya pandai memperdebatkan tentang PENCIPTA bahkan tak pernah berorasi tentang diri sendiri serta hakikat sebagai ciptaan. Aku bingung dengan  hal yang menyapaku di kota ini. Apakah mimpi atau aku sedang menonton sebuah film? Tidak.!

Aku diam tampa berkata,dan muak melihat mereka yang masih melantunkan suara yang sangat aku benci ditempat ini, di kafe ini. Minumanku tak senikmat sebelumnya, seakan porsi bahannya ada yang kurang atau berlebihan tak dapat aku lanjutkan untuk meneguknya, Aku benci pemandangan yang ada dihadapanku.

Dimana hal ini adalah bagian dari yang telah di perjuangkan. Dan ternyata masih tersisa dengan pratek yang tak diketahui oleh orang lain. Dan aku merasa sangat menyesal telah melihat yang tidak layak aku lihat di kota ini.

Terlalu banyak peran yang dimainkan oleh setiap orang,Kadang mereka menjadi yang ditatap paling malang dan sekejap mereka seperti raja yang sedang dilayani oleh permasurinya. Begitu kejam, layanan itu,seperti bunga yang selalu siap layu dalam tanah yang gersang? Tidakkah mereka ber-TUHAN?

Dimana hati mereka? Mengapa harus memilih jalan itu? Mengapa harus menjadikan setumpuk karton yang untuk menutupi kekejian dan kejahatan yang membuat anak cucu bumi ini hancur dan tak bermoral?

Namun aku sadar, kemarahanku adalah sebuah hal yang bodoh karena tak ada yang mendengar apa yang kutangisi. Aku takan bisa mngubah kehidupan orang-oran malang itu dengan secepat aku menetesakan air mataku.

Mungkinkah semua tahu akan apa yang kulihat, ataukah aku sudah dianggap kuno di kota ini. Dan dimana mreka yang selalu memberikan janji  untuk melindungi semua masyarakat dari jobless. Bukankah hal itu terjadi karenatak adanya pekerjaan.

Tak ada yang bisa menjawab, dan jika gelas dan laptopku bernyawa sepertiku pasti mereka memberikan alasan dan mengerti apa yan sedang aku tangisi. Namun mereka adalah benda bodoh yang mentapaku dengan sopan tampa suara, sedangkan aku semakin ingin bergerak menjadi bagian dari penemu jawaban dari apa yang telah kulihat di kota ini.

Kota penuh drama, kota yang menawarkan seribu kenikmatan yang bisa dilakuakn dengan segala cara.
Aku menangisi kota ini, hingga suara tawa kedua manusia berakal binatang itu pergi dan melangkah,dan kutahu mereka pasti kembali gubuk kenajisan itu.

Akupun mengikuti langkah mereka dan mengambil jalan pulang, dan berharap tangisanku takan terulang lagi hingga dibawah terang yang aku lalui kutemukan  semua yang menuju ke terang itu sendiri.

Oleh : Klarati Bunda Borgias
Mahasiswa UPH Jakarta

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahok,25,Aktivis,1,Alam,2,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,216,Asmat,4,Asusila,5,Badung,7,Bali,95,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,12,BBM,1,Bedah Buku,1,Bencana Alam,1,Berita,2,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,40,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Camilian,1,Cerpen,136,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,434,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,21,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,E-KTP,4,Editorial,38,Edukasi,1,Ekonomi,5,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,39,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,5,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,3,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,20,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,29,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,14,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,2,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,2,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,223,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,1,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,65,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,4,Kepemudaan,130,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,13,KNPI,2,Komodo,5,Komunikasi,1,Komunitas,5,Korban,1,Korupsi,57,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,47,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,40,Lakalantas,8,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,1,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,14,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,35,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,79,Manggarai Barat,1,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,Narkoba,5,Nasional,222,Natal,19,Ngada,1,Novanto,1,Novel,15,NTT,105,Nyepi,2,Olahraga,10,Opini,331,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,20,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,1,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,80,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,22,Peristiwa,791,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,2,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,59,Politikus,4,POLRI,6,Pristiwa,18,Prosa,1,PSK,1,Puisi,51,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,7,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,21,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,Somasi,1,Sosial,1,Sosok,3,Sospol,35,Start Up,1,Sumba,11,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,Tokoh,15,Tol Laut,1,Toleransi,2,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Cerpen: Pada Sebuah Jalan-Karya Klarati Bunda Borgias
Cerpen: Pada Sebuah Jalan-Karya Klarati Bunda Borgias
https://3.bp.blogspot.com/-cZnUB50Dx7w/WttMEcSAbDI/AAAAAAAAAyc/06M1J9caD_AKyitvUbPAxkAdXs520V6TgCLcBGAs/s320/20180421_223252.png
https://3.bp.blogspot.com/-cZnUB50Dx7w/WttMEcSAbDI/AAAAAAAAAyc/06M1J9caD_AKyitvUbPAxkAdXs520V6TgCLcBGAs/s72-c/20180421_223252.png
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/04/cerpen-pada-sebuah-jalan-karya-klarati_21.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/04/cerpen-pada-sebuah-jalan-karya-klarati_21.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy