Cerpen : Gadis Pemilik Saputangan yang Hilang
Cari Berita

Cerpen : Gadis Pemilik Saputangan yang Hilang

MARJIN NEWS
20 April 2018

Suara-suara orang mengaji di masjid sudah mulai terdengar. Sebentar lagi sudah mulai maghrib. Suara burung gereja pun berseliweran diatas atap bambu miliknya. (Foto: Istimewa)

Jarum jam sudah menunjukan pukul 17.00 Wit. Pria itu terlihat santai duduk diatas dipan bambu di beranda tua dengan ditemani secangkir kopi yang beraroma kenikmatan luar biasa, selain itu kopinya sengaja diramu untuk obat pelapas kantuk.

Sambil menengadah ke langit berwarna jingga, yang terlihat agak menghitam. Rupanya suasana sore sudah hampir malam,"bisiknya dalam hati."

Suara-suara orang mengaji di masjid sudah mulai terdengar. Sebentar lagi sudah mulai maghrib. Suara burung gereja pun berseliweran diatas atap bambu miliknya.

Ada sesuatu yang diingatnya, tentang kenangan di beberapa tahun silam.

Seorang wanita muda, cantik, berkebaya merah muda terlukis di benaknya. Tangannya mulai mencari-cari cangkir kopi agar segera menyeruput kopi pahit sehitam jelaga itu.

Karena belum puas memandang langit sore, pria itu terbayang kembali akan masa lalunya.
Tujuh tahun silam, pria itu masih terlihat sangat tampan dan gagah. Ketampanannya membuat seorang gadis cantik tertarik.

Bermula dari sebuah saputangan yang terdampar di sungai yang mulai keruh akibat kemarau melanda desa tersebut.
Gadis itu kehilangan saputangan itu saat sedang melintasi sekitar sungai. Pria itu pun dengan tidak sengaja menemukan kain rajutan persegi empat berwarna krim itu, dan menghantarkannya kembali kepada gadis yang baru melintas itu. Kerena itulah kedua insan itu mulai saling mengenal dan tanpa disadari terbangunlah galeri cinta yang terajut dalam jiwa keduanya.

Karena ingin selalu bersama ia pun melamar gadis itu, sia-sia,  gadis itu telah hilang, ia pergi entah kemana. Tiada salam perpisahan hanya saja sebuah surat yang terselip di batu pinggir sungai yang dititipkan gadis itu pada alam seolah-olah takut berjumpa dengan pria itu.

12 Maret 1998.

Kepada Kakanda yang tengah dirundung kehilangan yang dahsyat.
Kanda, bukan maksud hati tidak ingin duduk di pelaminan bersamamu. Bukan pula tidak ingin lagi merajut kasih sayang yang telah lama tumbuh dalam sanubari. Hanya saja satu kendalanya Kakanda, aku harus berlayar ke negeri seberang. Maaf Kakanda, aku tidak dapat memberi tahu alasannya. Jangan tunggu aku pulang, jangan sia-siakan hidupmu. Pinanglah gadis lain yang menyayangimu seperti aku menyayangimu.
Salam rindu tiada tara.

Arindha.

Hari terus berganti, tahun pun berlalu,  pria itu tetap saja tidak menikah. Tetap saja hidup membujang. Baginya tiada cinta selain gadis yang telah pergi itu.

Pria itu kembali menyeruput kopi pahitnya, masa lalunya sama pahitnya seperti kopi yang berada dalam cangkir bundar itu.

Kopi seakan penadah masa lalu kepahitan yang selalu diseruput olehnya. Kemudian masa lalu itu berliku-liku kembali dalam kepahitan hidupnya dan kepahitan itu ia racik dan ia muntahkan dalam secangkir kopi hitam.

Ia teringat akan sesuatu. Sebuah benda yang berisi helai-helai karya sastra baru. Novel yang selalu ia baca sebelum tidur. Pria itu mangambil benda itu dari rak yang penuh dengan debu. Ia kembali ke dipan dan mulai membuka lembaran pertama.

“Karena tuhan memiliki prinsip untuk setiap umat yang mencintai dan aku siap menjalani prinsip itu.”

Kata-kata indah itu menjadi pembuka awal dari isi novel tersebut. Di cover depan tertulis tegas sebuah judul novel yang menarik “Tuhan dan prinsip cintanya”

Sebuah nama penulis itu pun tergelar indah di sampul halaman depan, Arindha.
Sebuah nama yang singkat namun menggetarkan hati.

Pria itu kembali membaca dari helai awal, perlahan air matanya menetes jatuh tepat di sudut nomor halaman. Tangis akan gadis yang meninggalkannya tanpa alasan yang jelas dan tangis kegetiran menahun yang ditanggungnya karena hidup membujang.

Oleh: Edo Paju