$type=carousel$cols=3

Cerpen: Aku Berhenti di Dadamu-Karya: Anik Setia & Rian Egar

Aku tak melepas tanggannya. Aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa, mataku yang sering memandang sana sini kini berhenti di dadanya. (F...

Aku tak melepas tanggannya. Aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa, mataku yang sering memandang sana sini kini berhenti di dadanya. (Foto: Dok.Pribadi)

Wajah indah tak berbunga, mulut berduri tak berakar.

Itulah si pemilik hati yang kutemukan di Pulau Dewata pada 24 april 2017 tepatnya pukul 19:47 yang lalu.

Tak seperti wanita pada umumnya yang cantik dan indah dengan sifat pemula yang polos dan penuh dengan pura-pura. Sehari setelah kata I love you terlontar dari mulutku, si cerewet begitu biasa aku sebut namanya mulai melontarkan kalimat yang asing di telingaku.

Siapa dia? Tanyaku yang tak sempat sampai terdengar di telinganya yang akan merubah dia jadi serigala. Aku takut, iya aku sungguh takut.

Takut dengan kalimatnya yang galak itu. Dan sebenarnya sih, takut kehilangan dia. Ini hal yang aneh yang tak pantas aku abadikan.

Wanita ini harus kulepas dan dia harus minggat dari hatiku. Huffft, dialah pacarku yang datang dengan hal unik dan sedikit menjengkelkan. Kalimat ini yang selalu melayang-layang di otakku dan membuatku berdosa.

"Tetapi kami sudah jadian. Selamat pagi priaku, i love you." Chat BBM darinya di pagi buta.

Aku mencoba untuk tidak merespon karena aku takut dengan sifat cerewetnya. Mungkin  dengan caraku demikian, dia akan sadar dan sifat cerewetnya itu akan sedikit hilang dengan sendirinya.

"Kenapa diread? kalau tidak utk dibalas? Bla bla bla bla" Kembali pesan singkat wanita itu masuk ke BBM Ku.

Aku matikan data selulerku dan kembali dengan aktivitasku. Tak terlintas lagi tentang wanita itu di benakku. Setelah sekian lama hati ini tak berfungsi untuk mencintai dan sakit hati, tiba-tiba tanpa ku adakan rencana indah dan sejuta khalayan asmara, wanita yang bermulut duri itu seakan menetap dihatiku dan lambat laun otak kosongku kecampur dengan namanya yang tak pantas ku sebut.

Aaahhhhh gila.

Ku buang jauh-jauh rasa gila ini, dia wanita gila dan unik yang tak pantas untuk aku pertahankan. Sontak aku berbicara sendiri di depan cermin panjang di kamar kosku.

Setelah beberapa hari berlalu, aku tidak tahan dengan kalimat cerewetnya yang mengganggu hari indahku.

"Terima kasih waktu dan kalimatnya untuk beberapa hari ini ya wanita pemilik lesung pipi, maaf aku tidak bisa jatuh cinta," kalimat yang tidak terpikirkan olehku untuk mengakhiri kisah pacaran yang sadis dan tak beramanat itu.

Pesan terakhirku tak di balasnya hanya diread dan dia tak online lagi. Entah dia sakit hati atau merasakan kebahagiaan seperti yang aku rasakan, pikirku sejenak dan seakan ada rindu dan sesak di dada.

Kabar berita yang biasa penuh dengan status bawelnya pun tak ada satu lagi yang muncul. Mungkin dia kehabisan kalimat. Akun sosial media yang lainnya aku check. Kosong, tak ada satupun statusnya lagi.

Itu bukanlah hal yg mengganggu ketenanganku. Aku bahagia dan legah akhirnya tak ada lagi wanita bermulut duri itu.

"I want you, nothing else, just you."

Entah dia dapat dari mana kalimat bahasa Inggris itu, tapi begitulah dia memosting status di BBM yang kubaca  di suatu pagi.

Hufff, akhirnya wanita cerewet itu, punya pacar yang baru lagi.

Aku yang belum pernah jatuh cinta selalu selalu berpikir kalau mendapat pacar itu gampang. Tak terlintas lagi di otak dan hatiku tentang pacaran yang seumur kecambah itu.

Dini hari setelah aku pulang kerja, aku aku merebahkan tubuhku di kasur yang setia menyambut lelahku sembari aku mengambil ponselku, melakukan kebiasaanku.

Ku ambil ponsel kesayanganku dan mulai berpikir kalimat halus utk putuskan wanita bermulut duri itu.

"Terima kasih waktu dan kalimatnya utk beberapa hari ini ya wanita pemilik leaung pipi,maaf aku tidak bisa jatuh cinta." Begitulah kalimat yang tidak terpikirkan olehku untuk mengakhiri kisah pacaran dan tak beramanat itu.

"Terima kasih waktu dan kalimatnya uuntuk beberapa hari ini ya wanita pemilik lesung pipi, maaf aku tidak bisa jatuh cinta."

Begitulah kalimat yang tidak terpikirkan olehku untuk mengakhiri kisah pacaran yang sadis dan tak beramanat itu.

Entah aku keracunan apa, aku rindu wanita cerewet itu. Aku kembali membaca chatingan kami yangblm sempat aku hapus. Banyak sekali kalimat yang menyentuh dari sekian banyak kalimat cerewetnya itu.

Karna aku takut membacanya selama ini, sehingga aku tak tahu bagaimana dibalik mulut berdurinya itu. Aku galau, aku berharap dia kembali menchating aku. Aku menyesal dengan kalimat terakhirku yang tak pernah dia balas.

Hatiku terasa sakit dan sepi ketika aku melihat foto cantiknya yang dia posting di facebook.

Aku ingin menemui dia dan siap mendengar miliaran kalimatnya yang menusuk sampai di organ tubuh paling kecil.

Tepat tanggal 4 mei 2017 aku ditelpon dan disuruh pulang sama keluarga, karna ada kerinduan setelah berjauhan.

Hal yang selalu aku tunggu dari dulu selama setahun ditanah rantauan.

Hati yang sakit karena merindukan siwanita yang bermulut duri itu seakan tak aku perdulukan lagi.

Pagi itu aku bergegas ketempat kerja dan mengajukan surat resign dadakan. Banyak alasan yang meyakinkan pagi itu sampai aku berpamitan pulang serta perpisahan.

Di jam yang sama aku ketempat penjualan tiket dan aku membeli tiket untuk jadwal tanggal 6 Mei jam 06:00.

Perasaan bahagia tak sabar melepas rasa rindu dengan keluarga, semngatku mengalahkan kebiasaan malasku, 30 menit aku selesai mengemas semua barangku.

Aku lega dan tak sabar menunggu tanggal 6. Wanita bermulut duri itu kembali muncul dipikiranku dan seakan menggangu kebahagiaanku. Aku merindukan dia.

Aku berani untuk menelponnya untuk berpamitan.

"Haloo?" Suara yang menggambarkan seorang yang sangat baik dan cantik.

"Hallo, maaf ya mengganggu"
"Oh iya, tak apa-apa, ada hal penting apa ya?" Pertanyaannya seperti pertanyaan antara nasabah dan pegawai bank.

Niatku untuk berpamitan lewat HP batal, dan aku ingin menemuinya langsung.

"Boleh kita ketemuan hari ini atau besok? Aku ingin bicara sesuatu." Sambungku dengan rasa tak percaya diri.

"Oh iya boleh, besok jam 5 sore ya"

Sore itu matahari memancarkan sinarnya. Sungguh senja yang indah yang tidak pernah aku rasakan di tempat lain. Ini adalah suasana senja yang penuh dengan kehangatan.

Ada yang lain ketika aku memandang senja diwaktu itu. Senja di wajah wanita yang bermulut duri itu. Senyumannya yang khas dengan menonjolkan giginya yang gingsul dan pipi lesungnya serta rambutnya yang menyuntai di sebelah pipinya. Ada kesamaan senja hari itu dengan wajahnya.

Sedikit polesan make up di wajahnya. Dia memulai percakapan kami sore itu. Candanya yang membuat aku tertawa serta kalimat santunya yang membuat aku betah.

Aku jatuh cinta. Iya aku jatuh cinta.

Apa yang terpikirkan olehku selama ini ternyata tak wanita ini tak seburuk itu.

Rasa gelisahku semakin mendalam ketika setelah itu aku tak akan duduk berdwkatan seperti ini lagi.

Ayo kita pulang. Ajaknya tiba-tiba. Kenapa? Soalnya aku tidak bisa lama-lama,  aku masih ada keperluan lain.

Dari matanya aku melihat cinta yang besar dan berharap aku akan berikan satu lambang cinta untuknya.

Aku pegang tangannya, iya pertama kali aku menywntuh tangannya dengan rasa cinta. Aku merasakan tanggannya gemetar tapi dia berekspresi biasa.

"Aku mencintaimu. Aku merindukanmu". Dengan pandangan sejuk kematanya aku ungkapkan rasaku yang luar biasa itu.

Dia diam dan tersenyum, sampai dia lupa kalau menit itu harus pulang. Terima kasih. Aku mencintaimu dan membutuhkanmu.

Jawaban yang memuaskan hati dan duniaku.

Aku tak melepas tanggannya. Aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa, mataku yang sering memandang sana sini kini berhenti di dadanya.

Dadanya yang berisikan hati yang berbalut kasih dan cinta.

Pandanganku berhenti didadanya, dadanya yang anggun dan membuatku menetap.

Kami tak berkalimat, tapi sentuhan tangan dan pandangan itu seakan miliaran kalimat yang tak dimiliki penghuni bumi. Oh God dadanya indah, ingin sekali aku menetap.

Sayang, terima kasih, kita saling mencintai. Aku mengecup keningnya. Seakan malu dipandangi orang banyak. Dia tersenyum malu dan bahagia.

Aku tidak sanggup untuk berkata pamit, tetapi aku harus melakukannya.

Sayang, besok aku akan pulang. Ijinkan aku mentipkan hatiku dganmu disini.

Maaf aku tidak bisa melihat dan menemani perjuanganmu disini. Jaga hatimu dan  dirimu baik-baik.

Setitik air matanya mengalir di pipi kirinya. Tampaknya dia sedih dan tidak rela pergi.

Kenapa engkau membuatku jatuh cinta? Ketika engkau akan pergi?

Baiklah aku akan baik-baik saja.

Ketika engkau temukan yang terbaik dariku. Satu pintaku jangan kau lupakan aku.

Lakukan apa yang membuatmu bahagia. Pesanku, jaga hatimu. Jawabannya membuatku tak bisa menahan air mata yang tak pantas bagiku.

Aku kembali menggapai pipinya dan menciumnya. Terima kasih, first kiss. Bisiknya.

Sore itu menyaksikan perpisahan kami. Aku mengantarnya pulang. Tak ada kalimat lagi selain lambaian tangannya tanda perpisahan.

Dimalam yang sunyi aku terus memikirkan hatiku yang berhenti di dadanya.

Oleh: Anik & Rian Egar

Komentar

loading...
Name

1 Tahun Berkarya,1,Agama,3,Ahok,25,Aktivis,1,Alam,2,Anak,8,Anak Muda,27,Anggaran,1,Antikorupsi,1,Aparatur Negara,1,Arjen Robben,1,Artikel,215,Asmat,4,Asusila,5,Badung,7,Bali,95,Bali Utara,2,Bandara Bali Utara,2,banjir,1,Bantuan CSR,1,Batam,12,BBM,1,Bencana Alam,1,Berita,2,Bhineka,2,BNI,1,Bola,2,bom,1,Bom Bunuh Diri,4,Borong,1,BPJS,1,Budaya,39,Buku,1,BUMN,1,Bung Karno,1,Bunuh Diri,3,Camilian,1,Cerpen,135,Chelsea Islan,1,Chiristian Rotok,1,Daerah,434,Daerah. Riau,1,Dana Desa,1,Demokrasi,21,Denpasar,11,Desa,2,Destinasi,1,Diaspora,2,Dilan,4,Dilan 1990,1,Donny Isman,1,DPR RI,2,E-KTP,4,Editorial,38,Edukasi,1,Ekonomi,5,Emi Nomleni,1,Ende,5,Entrepreneur,1,Feature,37,festival Komodo,2,Film,7,Filsafat,2,Fitur,1,Flobamora Cup,1,Flores,5,Focus Discussion,6,FPI,1,Gantung diri,2,Gaya,1,Gedged,1,Gempa,3,Gereja,4,Gereja Katolik,4,Gerindra,1,Gizi Buruk,1,GMKI,1,GMNI,1,Golkar,1,HAM,1,Hand Phone,1,Hari Buruh,2,hari buruh internasional,1,Hari Perempuan Internasional,2,Hiburan,20,HMPCK,1,Hoax,2,hukum,29,Human Trafficking,5,Idul Fitri,1,IJM,1,IKEMAS CUP,7,Imlek,2,Indonesia,2,Indonesian Idol,11,Inspirasi,3,Internasional,14,Internet,2,Investasi,1,Iriana Jokowi,1,Ivan Nestorman,1,IYC Jatim,1,Jabar,1,JAD,1,Jakarta,9,Jatim,3,Jawa Tengah,1,Jodoh,1,Jogyakarta,3,Jokowi,16,Jomblo,2,JRUK Sumba,2,jurnal Terbaru,1,jurnalistik,2,Kalimantan,5,Kampanye,2,Kampus,2,Kapolri,1,Kar. Ilmiah,4,Karanganyar,1,Karya Sastra,222,KDRT,1,Keagamaan,6,kebakaran,1,Kebangsaan,1,kebudayaan,2,Kecelakaan Lalu Lintas,2,Kediri,2,Kejadian. Jakarta,1,kejahatan,2,Kemanusiaan,65,Kemiskinan,2,kepala daerah,1,Kepemuaan,4,Kepemudaan,129,kepemudan,11,Kepri,1,kerohanian,2,Kesehatan,13,KNPI,1,Komodo,5,Komunikasi,1,Komunitas,5,Korban,1,Korupsi,57,KPK,12,KPU,1,Kreatif,1,Kriminal,47,Kritik Sastra,4,Kupang,23,Kuta,1,Labuan Bajo,40,Lakalantas,8,langka,1,Larantuka,1,Lebu Raya,1,Lembata,1,Lifestyle,8,Lingkungan Hidup,16,Literasi,14,LP Cipinang,1,Madiun,1,Mahasiswa,35,Makanan Khas,1,Makasar,6,Makassar,1,Malang,3,Manggarai,79,Manggarai Barat,1,Manggarai Timur,20,Marianus Sae,1,Marion Jola,10,Masalah Rokok,1,Masyarakat,1,Mataram,2,Maumere,6,Media,2,Media Sosial,3,Medsos,3,Mendikbud,3,Menkominfo,1,Motang Rua,1,Muda Petani,1,Munir,1,Narkoba,5,Nasional,222,Natal,19,Ngada,1,Novanto,1,Novel,15,NTT,105,Nyepi,2,Olahraga,10,Opini,329,Orang Muda,16,Otomotif,1,OTT,2,pacaran,6,Papua,21,Pariwisata,20,Partai Politik,23,Paskah,4,pelajar,1,Pembangunan,5,pemerkosaan,1,Pemilu,17,Pemuda,1,Pencurian,2,Pendidikan,80,penyanyi,1,Peradi,1,Perdamaian,1,Perempuan,22,Peristiwa,790,Peritiwa,1,Perlindungan Anak,2,Pers,3,Perzinahan,1,Piala Dunia,1,Piala Oscar,1,Pilgub,41,Pilkada,101,Pilpres 2019,2,PKRI,1,PKS,1,PMII,1,PMKRI,22,PMKRI Bogor,1,Pmkri Jogja,1,Poco Ranaka,1,Polisi,30,politik,59,Politikus,4,POLRI,6,Pristiwa,18,Prosa,1,PSK,1,Puisi,51,Puteri Indonesia,4,Radikalisme,1,Refleksi,16,reformasi,1,Regional,6,Religi,5,Remaja,1,Rensi Ambang,1,Riau,1,Ricuh,1,Risma,1,Rizieq Shihab,7,Rote Ndao,1,Ruteng,7,RUU,1,Sabu,1,Sail Komodo,1,Sajak,21,Sajam,1,Sam Aliano,1,Sastra,2,Sejarah,2,Sejarah Manggarai,1,Serial Story,1,Somasi,1,Sosial,1,Sosok,3,Sospol,35,Start Up,1,Sumba,11,Surabaya,32,Tahun Baru,9,Tahun Baru. Remigius Nahal,1,Tarakan,1,Tata Kota,1,Teknologi,9,Tenun Manggarai,1,Terorisme,16,Terorismes,4,TKI,4,TNI,1,Tokoh,14,Tol Laut,1,Toleransi,2,traveling,4,traveller,1,UNITRI-Malang,1,Unwira,1,UU MD3,7,Valentine,4,Viral,1,Wisuda,1,WNA,1,Yogyakarta,4,
ltr
item
Muda Membaca Dunia: Cerpen: Aku Berhenti di Dadamu-Karya: Anik Setia & Rian Egar
Cerpen: Aku Berhenti di Dadamu-Karya: Anik Setia & Rian Egar
https://3.bp.blogspot.com/-pVfY3-pYSTk/WuG3Fh7cJ1I/AAAAAAAAA9g/fiX49FERkesbst4ZgeWqHNt5kdcBjK_pgCLcBGAs/s320/20180426_192308.jpg
https://3.bp.blogspot.com/-pVfY3-pYSTk/WuG3Fh7cJ1I/AAAAAAAAA9g/fiX49FERkesbst4ZgeWqHNt5kdcBjK_pgCLcBGAs/s72-c/20180426_192308.jpg
Muda Membaca Dunia
http://www.marjinnews.com/2018/04/cerpen-aku-berhenti-di-dadamu-karya.html
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/
http://www.marjinnews.com/2018/04/cerpen-aku-berhenti-di-dadamu-karya.html
true
971126874416220402
UTF-8
Tampilkan Semua Artikel Belum Ada Tulisan Lihat Semua Selengkapnya Balas Batal Balas Hapus Penulis Home Halaman Tulisan Lihat Semua Rekomendasi LABEL Arsip CARI Semua Tulisan Tidak Ditemukan Back Home Minggu Senin Selasa Rabu Kamis Jumat Sabtu Mgu Sen Sel Rab Kam Jum Sab Januari Februari Maret April Mei Juni Juli Agustus September Oktober November Desember Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Aug Sep Okt Nov Des just now 1 minute ago $$1$$ minutes ago 1 hour ago $$1$$ hours ago Yesterday $$1$$ days ago $$1$$ weeks ago more than 5 weeks ago Followers Follow THIS CONTENT IS PREMIUM Please share to unlock Copy All Code Select All Code All codes were copied to your clipboard Can not copy the codes / texts, please press [CTRL]+[C] (or CMD+C with Mac) to copy