Berkualitas Bagus, Kopi Manggarai Timur Sabet 3 Kali Juara Nasional
Cari Berita

Berkualitas Bagus, Kopi Manggarai Timur Sabet 3 Kali Juara Nasional

MARJIN NEWS
20 April 2018

Kopi Manggarai berhasil menggeser peringkat kopi Jambi yang menyabet penghargaan pada tahun sebelumnya. (Foto Rio/Remi)
Denpasar, Marjinnews.com – Bangga, ketika disebut dari Manggarai Timur. Kebanggaan bertambah lagi jika disebut pecinta kopi. Tentunya Kopi Manggarai.

Jangan salah, ternyata Kopi manggarai seringkali kali mendulang juara dalam kompetisi kopi tingkat nasional.

Kopi jenis robusta dan arabika asal Manggarai tepatnya dari Congka Sae bagian timur ini pernah dinobatkan sebagai kopi terbaik Indonesia pada tahun 2015 silam.

Kopi Manggarai berhasil menggeser peringkat kopi Jambi yang menyabet penghargaan pada tahun sebelumnya.

Hal tersebut disampaikan Dekan Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra, Denpasar, Gede Sudana Jumat (20/4) di Denpasar.

Menurutnya, penetapan kopi Manggarai sebagai kopi terbaik Indonesia 2015 itu merupakan hasil kontes ketujuh kopi spesialti Indonesia yang berlangsung di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Kontes ini diselenggarakan tahunan oleh Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia, serta Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Jember dan di Jakarta pada kesempatan lain. Kompetisi ini digelar setiap tahun.

Keberhasilan kopi Manggarai dalam menjuarai kempetisi yang digelar itu karene kopi Manggarai mekiliki kualitas aroma dan rasa.

Seorang ahli kopi atau Gradere mengaku jika kopi asal Manggarai NTT miliki kualitas aroma dan rasa yang jau lebih bagus ketimbang dari daerah lain.

Menurut dia, harga kopi yang stabil, bahkan cenderung selalu naik, berpeluang lebih besar bagi petani di tengah menurunnya harga komoditas ekspor lainnya.

Harga robusta saat itu Rp 25 ribu per kilogram dan arabika Rp 60 ribu per kilogram. Namun permasalahan utama kopi Indonesia adalah produktivitas yang baru mencapai 800 kilogram per hektare.

Angka itu jauh dibandingkan dengan produktivitas kopi Vietnam yang mampu mencapai 2,3 ton per hektare dan Brazil yang telah mencapai 8 ton per hektare. “Pasar ekspor kekurangan 6 persen kopi Indonesia,” katanya.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Dwijendra, Denpasar ini menjelaskan bahwa saat dirinya mengenal Flores, awalnya hanya mengetahui hutan kopi. Kemudian secara pelan-pelan mengubah hutan kopi menjadi kebun kopi.

Menariknya, dalam perencanaanya dirinya akan mengubah kebun kopi menjadi taman kopi.

”Kalau sudah taman kopi maka industri wisata akan maju. Oleh karena itu, di daerah Flores sekarang banyak cafe. Di Labuan Bajo juga bikin (Cafe) karena pintu masuk pariwisata,” ujarnya.

Menariknya, kopi Manggarai ternyata telah mengantongi sertifikat “Fare Trade” atau perdagangan bebas. Dengan adanya sertifikat tersebut kopi Manggarai bebas mengekspor mencapai kirim itu 18 ton.

“Itu sudah mendapatkan premik (keuntungan) sekitar 90 juta dan itu langsung masuk ke rekeningnya Asnikom (Asosiasi Petani Kopi Manggarai).

Kopi Manggarai jenis arabika memperoleh akumulasi nilai 87.52, sedangkan jenis robusta memperoleh nilai 89.03. Kedua jenis kopi tersebut dikembangkan oleh kelompok petani yang diketuai John Sentis.

Di posisi kedua jenis arabika diraih oleh kopi petani asal Bandung dan juara ketiga asal Bondowoso. Sedangkan untuk jenis robusta, posisi kedua ditempati kopi asal Temanggung, Jawa Tengah, dan posisi terakhir diraih kopi Bengkulu.

Laporan: Saverinus Suryanto
Editor : Remigius Nahal